Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 : AJAKAN TRAKTIR
Sejak kejadian Bu Ratna, Bintang tidak bisa tidur. Bukan karena cemburu buta. Tapi karena ada yang janggal. Angkasa, suaminya yang selalu ia ketahui kemana saja, dengan siapa dan ngapain, tapi kenapa lagi-lagi harus bohong demi Damar. Suaminya yang paling jujur soal makanan, kenapa harus bohong soal bakmi?
Malam, saat mereka berdua sudah di tempat tidur.
"Sa ... tadi bu ada mampir ke rumah. Habis arisan di Blok C." Cerita Bintang yang pura-pura mau ngobrol dan mau tidur juga.
"Oh, lama?"
"Gak kami cuma ngobrol di teras aja."
""Ngobrolin apa?" Telisik Angkasa.
"Biasalah, bilang kalo rumah kita sepi karena kita gak punya anak." terang Bintang. Hanya sekedar memberi informasi, tidak untuk mendengar pendapat Angkasa juga.
Cup, kening Bintang di kecup Angkasa. Lama.
Kerasa sayangnya tuh, tulus banget.
"Yang sabar ya, Tang." Manis dan sesayang itu memang Angkasa ini pada Bintang. Tapi bohongnya juga mulai gak ada obat.
Kecupan Angkasa membuat Bintang malas membahas tentang Bumi yang buka warung Bakmi. Bisa jadi moodnya rusak malam ini. PR Bintang sekarang harus cepat hamil, bukan bikin ribut sama Angkasa.
Hari baru datang lagi, bersamaan dengan semangat baru. Semalan dia memang berdamai, tapi entah pagi ini. Tiba-tiba saja saat di kantor Bintang punya ide. Ide seorang Bintang yang friendly tapi liciknya juga jalan.
"Mbak Jingga, Pa Dirut?" tanyanya setelah makan siang melihat suaminya sudah tidak ada lagi di ruangannya.
"Kayaknya cek gudang bu." Jingga buru-buru melihat jadwal Angkasa. Gak ada janji temu dengan klien manapun.
Dengan cepat Jingga mengetik di ponselnya.
"Kassa, loe di mana sih? Bintang kemarin curhat, kalo kamu sekarang sering ngilang dari kantor. Minta tolong aku liat jadwalmu. Kosong ini. Kujawab gimana?" itu isi chat Jingga sebagai mantan bukan sebagai asisten Bintang.
"Oh ... oke. Ku susul dulu." Ujar Bintang. Bukan kangen juga bukan cemburu, hanya memastikan kalau suaminya sungguh ada di gudang kantor, bukankah di sana juga ada Mentari, jangan lengah kan, jangan kasih celah.
Bintang sudah ke gudang. Seluruh isi gudang juga sudah ia jelajahi. Tapi tidak menemukan Angkasa.
Yang terlihat, pegawai dan sebagian ada anak magang di sana.
"Mentari." panggilnya.
"Iya bu Bintang." Mentari masih takut ketemu Bintang.
"Tadi pak Angkasa ke sini?" tanyanya dengan tatapan tidak bersahabat.
"Tidak ada Bu atau mungkin saya tidak melihat." Jawab Mentari jujur. Bintang mengangguk, lalu kembali ke ruangannya.
Di sana Jingga masih harap-harap cemas menunggu Angkasa membalas chatnya.
"Mbak Jingga! sore nanti setelah Anak-anak magang dan pegawai bagian gudang udah selesai, kita makan bakmi yuk." Belum sempat duduk di kursinya, Bintang sudah bicara pada Jingga.
"Makan Bakmi?" ulang Jingga.
"Iya, ada kenalanku baru buka warung Bakmi Jawa. Sebagai teman kita wajib bantu, siapa tau rasanya memang enak dan cocok." Diperjalanan dari gudang keruangannya, Bintang sudah stalking. Bener, Bumi memang sempat posting promo jualan Bakminya. Disana tentu sudah lengkap dengan alamatnya.
BAKMI BUMI JAWA
"Bu Bintang memang baik." Jawab Jingga dengan senyuman lebar.
"Tolong mbak yang kasih pengumuman untuk mereka ya. Tenang, semua saya yang traktir." Seru Bintang dengan mata berbinar. Pintar sekali Bintang menyimpan kemelut di hatinya.
"Baik siap." Jingga buru-buru mengetik pengumuman dalam grup Gudang.
Saat dia mengetik, terlihat chatnya di balas Angkasa.
"Gua lagi makan, di luar." jawab Angkasa singkat.
"Luar mana? Bintang juga bilang akhir-akhir ini lu jarang makan di rumah. Lu lagi nyembunyiin apa dari Bintang?" Ketik Jingga lagi.
Tidak di balas.
"Gimana Mbak? Udah di kasih pengumumannya?" tanya Bintang.
"Udah ... udah Bu. Responnya macem-macem nih. Yang pasti semua suka dan siap." Baca Jingga yang buru-buru masuk ke kolom grup gudang.
"Kassa ... ku bilang ya. Lu jangan kecewa in Bintang. Dia orang baik, jangan bohongin dia, apapun itu. Oke! Sore ini kami sama anak-anak gudang mau makan bareng Bintang nih, di Bakmi Bumi Jawa jalan Diponegoro. Sesedih itu dia karena jarang makan bareng kamu, sampai kami semua akan di traktirnya." Ketik Jingga panjang.
"Kek kesepian gitu, istri lu."
Mata Angkasa hampir keluar membaca isi pesan yang baru di kirim Jingga.
Bersambung ...
Gimana readers?
Kita buat Angkasa ketangkap basah gak niih?
Udah senin niih.
Votenya jan lupa
Terima kasih
bagus Tang......biarkan angkasa merasakan kesendiriaannya tanpa bintang......masihkah Bintang diperlukan atau semakin bebas dengan para wanitanya......
siapa tahu.....mah kamu awal kehamilan.....bulan depan ga datang tuh tamu bulanan mu......