Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.
Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.
Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.
Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.
Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Azan Yang Tidak Bersuara
Mata itu hitam semua.
Tidak ada putihnya. Tidak ada iris. Hanya hitam pekat seperti lubang, mengintip dari celah pintu kamarku yang terbuka sejengkal.
Aku membeku di ruang tengah. Lampu petromaks di tanganku bergoyang. Bayangan di dinding ikut bergoyang liar.
"Siapa?" suaraku parau. Tidak ada jawaban.
Jejak kaki basah kecil itu masih jelas di lantai kayu. Dari pintu belakang yang tadi aku kunci, menuju ke kamar itu. Jejaknya bukan seperti jejak manusia. Jari-jarinya terlalu panjang. Dan setiap jejak meninggalkan air hitam yang berbau anyir.
Anak kecil bermata hitam itu masih mengintip ku. Lalu, perlahan... pintu itu terbuka lebih lebar. Kriettt...
Kosong. Tidak ada siapa-siapa di dalam kamar.
Hanya ranjang kayuku waktu kecil yang masih rapi. Selimut dilipat. Bantal ditegakkan. Dan di atas bantal itu, ada sesuatu.
Boneka kayu kecil. Baru dan masih basah.
Aku ingat boneka itu. Kakek yang buatkan untukku waktu aku umur 6 tahun sebelum aku dibawa ibu merantau ke Surabaya. Boneka itu hilang 22 tahun lalu.
Kenapa sekarang ada di sini, di atas bantal? Batinku.
Aku tidak berani masuk. Aku tutup pintu kamar itu keras-keras, aku ganjal dengan kursi. Nafasku ngos-ngosan, keringat dingin mengucur meski udara di rumah itu dinginnya menusuk tulang. Aku lihat jam dinding menunjukkan jam 19.11 dan di luar dusun Krajan sudah mati total, Tidak ada suara. Bahkan suara jangkrik yang tadi keras, sekarang menghilang.
Hening yang tidak wajar. Hening yang memekakkan telinga.
Aku paksa diri masuk dapur, ambil nasi yang masih mengepul tadi, aku butuh tenaga, aku pikir kalau aku makan, aku akan lebih tenang. Logikaku sebagai anak kota yang merantau 10 tahun. Aku pun sendok nasi itu. Dingin,baru aku sentuh nasi itu langsung dingin menjadi es, mengepulnya hilang. Ikan asin di piring berubah menjadi belatung-belatung kecil yang bergerak. Kopi hitam berubah menjadi air comberan hitam pekat dengan rambut melayang-layang di dalamnya. Aku pun lempar piring itu dan piringnya pecah berantakan.
"SETAN! SIAPA DI RUMAH INI?!" aku berteriak.
Dan saat aku teriak, dari dalam masjid tua di luar, azan berkumandang lagi.
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Padahal ini jam 7 malam, bukan waktu azan.
Tapi kali ini suaranya beda. Lebih dekat. Seolah muadzinnya berdiri tepat di belakangku, berbisik di telingaku.
Aku lari ke teras, buka jendela depan. Masjid tua itu gelap. Pintunya masih digembok rantai besar yang berkarat. Tidak mungkin ada orang di dalam.
Tapi dari celah papan kayu masjid yang lapuk, ada cahaya. Cahaya putih lembut. Seperti cahaya lampu petromaks, tapi warnanya putih bersih, bukan kuning.
Dan aku melihat bayangan. Ratusan bayangan orang sholat di dalam masjid itu. Gerakannya serempak. Rukuk, sujud.
Aku gosokkan mataku, aku pikir aku halusinasi karena lelah di bus selama 12 jam.
Tapi bayangan itu nyata. Dan suara azan itu masih ada.
Karena penasaran dan takut bercampur jadi satu, aku ambil senter dan petromaks, aku turun dari rumah. Aku harus lihat. Kakek pernah bilang, "Kalau kowe krungu azan jam telu bengi, ojo metu. Ojo jawab."
Tapi ini bukan jam tiga pagi. Ini jam tujuh malam.
Tanah halaman becek. Kabut dari Alas Purwo semakin tebal. Setiap langkah, senter ku seperti tertelan kabut.
Semakin dekat ke masjid, suara azan semakin keras. Merdu sekali. Sampai membuat mataku berkaca-kaca. Tenang, Damai. Berbeda dengan teror di rumah.
Aku sampai di depan masjid. Rantai gemboknya masih ada. Tapi pintunya terbuka sedikit. Padahal tadi dari jauh tertutup.
Cahaya putih itu keluar dari celah itu.
"Assalamualaikum?" aku panggil, tapi aku bodoh. Suaraku bergetar.
Azan pun berhenti.
Suasana hening.
Lalu dari dalam, terdengar jawaban. Bukan dari manusia.
"Waalaikumsalam, Arga. Akhirnya kamu pulang..."ucap suara tersebut.
Suara lelaki tua, tenang, dan dalam. Sama persis dengan suara muadzin tadi.
Pintu masjid terbuka sendiri. "Kriettt..."
Dan apa yang aku lihat di dalam membuat lututku lemas.
Masjid itu tidak kosong dan lapuk seperti dari luar.
Di dalam, lantainya bersih mengkilap. Tidak ada karpet, tapi lantainya bercahaya. Cahaya putih seperti karpet dari cahaya. Dinding kayu lapuk dari luar, dari dalam menjadi dinding marmer putih bersih yang memantulkan cahaya.
Dan di dalamnya, ada ratusan orang. Semuanya memakai jubah putih bersih, sorban putih, wajah mereka bercahaya tapi tidak terlihat jelas. Mereka sedang duduk bersila menghadap kiblat. Semua menatapku.
Di depan, dekat mihrab, berdiri satu sosok yang paling tinggi. Jubahnya putih, wajahnya teduh, janggutnya putih, matanya seperti mata manusia tapi memancarkan cahaya. Dia tersenyum padaku.
"Kamu sudah dengar azan kami selama dua kali, Arga. Berarti darah penjaga masih mengalir di tubuhmu..."ucap suara tersebut.
Aku tidak bisa bicara. Lidahku kelu.
"Siapa... siapa kalian? tanyaku.
"Kami adalah yang menjaga perjanjian kakekmu. Kami adalah Jin Islam. Sudah 300 tahun kami sholat di masjid ini, menjaga segel di pohon beringin itu agar tidak terbuka."
Jin Islam..."batinku.
Kata itu seperti petir di kepalaku. Kakek dulu sering cerita sebelum tidur, tapi aku anggap dongeng. Jin yang sholat, jin yang puasa, jin yang menjaga kampung. Ternyata benar adanya.
"Kakekmu, Mbah Suro, adalah jembatan, Manusia yang bisa melihat kami. Manusia yang memberi kami izin tinggal di tanah ini. Sekarang dia sudah tidak ada. Dan kamu adalah keturunan satu-satunya yang pulang..."ucap orang yang berbicara denganku.
Sosok itu berjalan mendekat. Setiap langkahnya, lantai cahaya itu beriak seperti air.
"Namaku Malik. Aku Ustadz mereka...."ucap Malik.
Malik mengulurkan tangan, dari hutan belakang masjid, dari arah Alas Purwo, terdengar suara lain.
Bukan azan.
Tapi jeritan. Jeritan perempuan melengking panjang, bercampur suara ribuan monyet menjerit. Angin kencang tiba-tiba datang, membawa bau bangkai dan anyir darah yang sangat busuk.
Cahaya di dalam masjid berkedip-kedip.
Semua Jin Islam yang duduk tadi langsung berdiri. Wajah teduh mereka berubah tegang.
Malik langsung menatap ke arah hutan. Matanya menyala.
"Dia bangun. Banaspati bangun. Gara-gara kamu pulang, segelnya retak..."ucap Malik.
Dari kegelapan hutan Alas Purwo, di balik kabut tebal, aku melihatnya.
Ribuan mata merah. Kecil-kecil, besar-besar, menyala di antara pohon-pohon. Mengintip ke arah masjid. Ke arahku.
Suara azan tadi, ternyata bukan memanggilku untuk sholat.
Tapi untuk memperingatkanku.
Karena malam ini, azan yang tidak bersuara itu adalah tanda perang akan dimulai.
Dan aku, yang baru pulang 3 jam, sudah berada di tengah-tengahnya.