NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 SINAR SANG MATAHARI YANG SEMAKIN REDUP

Tujuh hari telah berlalu...

Sejak sore yang basah oleh air mata dan pengakuan di Ruang Budaya itu.

Satu minggu kalender yang seharusnya bisa menjadi jembatan baru bagi dua jiwa yang sempat bersitegang.

Bagi Asmara Putri, momen ketika ia mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tangan pemuda itu, dan membiarkan Wira meluapkan kerapuhannya tanpa penghakiman, adalah sebuah titik balik.

Asmara mengira...

Runtuhnya dinding pertahanan Wira sore itu akan melahirkan sebuah hubungan pertemanan yang wajar. Ia mengira Wira akan kembali menjadi pemuda yang ceria, mungkin dengan sedikit sisa-sisa kejahilannya, namun dengan hati yang lebih terbuka untuk menerima Jogja, dan mungkin... menerima keberadaan Asmara sebagai seorang teman.

Namun...

Yang terjadi justru melenceng jauh dari segala prediksi dan logika sang gadis keraton.

Alih-alih mencair dan menghangat, sebuah perasaan yang amat janggal, aneh, dan menyesakkan perlahan-lahan mulai merayap naik, mencengkeram dada Asmara setiap kali matanya menangkap sosok Wira Aji Pratama.

Perubahan itu terjadi begitu cepat, dalam kurun waktu satu minggu ini. Terasa lebih cepat dari dua minggu sebelumnya.

Wira memang berubah seratus delapan puluh derajat.

Pemuda itu tidak pernah lagi memancing keributan.

Tidak ada lagi kemeja yang dikeluarkan dari celana, tidak ada lagi dasi yang dilonggarkan seperti preman pasar, dan tidak ada lagi suara sepatu yang sengaja diseret-seret di sepanjang koridor.

Wira datang ke sekolah tepat waktu, duduk dengan tenang, dan mengikuti pelajaran tanpa satu pun gerutuan.

Akan tetapi...

Bukan kepatuhan itu yang mengganggu pikiran Asmara.

Yang membuat hati gadis itu terasa seolah diremas perlahan adalah sikap Wira terhadap dirinya.

.....

.....

Pagi itu...

Di dalam kelas XI IPS 2...

Jam kosong karena guru Sejarah sedang rapat dinas memberi kebebasan bagi para murid untuk bersantai.

Suasana kelas cukup riuh. Beberapa siswa laki-laki berkumpul di deretan meja belakang, bermain tebak-tebakan dan tertawa lepas.

Di antara kerumunan itu, duduklah Wira.

Asmara, yang sedang pura-pura membaca buku catatannya di barisan ketiga, diam-diam mencuri pandang ke arah belakang.

Ia melihat Danang, sang ketua kelas, sekarang sudah berani menepuk bahu Wira sambil menceritakan sebuah lelucon garing.

Wira merespons tepukan itu dengan sebuah tawa pelan. Tawa yang normal.

Wira kemudian membalas ucapan Danang dengan nada yang santai, menggunakan bahasa Indonesia yang baik, tanpa menyelipkan kata "lo-gue" yang arogan, apalagi nada meremehkan.

Wira benar-benar membaur sekarang.

Sang pemberontak dari Bogor itu kini terlihat seperti murid SMA Budi Bangsa pada umumnya.

Ia diterima oleh teman-temannya. Ia tidak lagi ditakuti, melainkan diajak mengobrol layaknya kawan biasa. Para siswi yang dulu hanya berani melirik Wira dari jauh, kini sesekali berani menyapanya, yang selalu dibalas Wira dengan anggukan sopan dan senyum tipis.

Semuanya tampak sempurna.

Sebuah keberhasilan asimilasi (penyatuan) yang luar biasa.

Namun, di sanalah letak ironi yang menyiksa batin Asmara.

Kehangatan, senyum sopan, dan sikap bersahabat itu Wira berikan kepada semua orang, kecuali...

Kecuali kepada Asmara.

Setiap kali Wira kembali ke tempat duduknya di sebelah Asmara, suhu di sekitar meja mereka seolah turun hingga ke titik beku.

Wira tidak pernah lagi memulai percakapan.

Tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan memprovokasi.

Tidak ada lagi aksi menggeser meja atau mengetuk-ngetuk pulpen untuk mengganggu konsentrasi Asmara.

Wira hanya duduk, membuka bukunya, dan menatap ke depan dalam diam.

Sangat, sangat diam.

.....

.....

Pernah suatu pagi, Asmara mencoba memecah kebekuan itu.

Ia melihat pulpen Wira terjatuh ke lantai dan menggelinding ke dekat sepatunya.

Asmara memungutnya, lalu menyodorkannya ke arah Wira dengan sebuah senyuman ramah, berharap pemuda itu akan membalas senyumnya, atau setidaknya melontarkan komentar ringan seperti biasa.

"Ini pulpennya, Mas Wira," ucap Asmara saat itu.

Wira menghentikan catatannya. Ia tidak menoleh sepenuhnya untuk menatap mata Asmara.

Tangannya terulur menerima pulpen itu dengan gerakan yang sangat kaku, menjaga jarak agar jari mereka tidak bersentuhan sedikit pun.

"Terima kasih, Asmara," jawab Wira.

Suaranya datar, tanpa emosi, tanpa penekanan.

Sangat sopan, namun terasa sangat "jauh".

Setelah mengucapkan itu, Wira langsung mengalihkan pandangannya kembali ke papan tulis, membangun sebuah dinding beton tak kasat mata yang seketika menutup akses Asmara untuk berbicara lebih lanjut.

Bukan hanya itu...

Asmara menyadari bahwa Wira kini memanggilnya 'Asmara', bukan lagi 'Ra' seperti saat Wira mencoba berkompromi dengannya tempo hari.

Wira membuang semua panggilan akrab, membuang semua sikap begajulan, dan menggantinya dengan sebuah formalitas yang terasa sangat hampa.

.....

.....

Asmara menelan ludah setelah melamun, menarik pandangannya dari meja belakang dan kembali menatap buku catatannya yang halamannya tidak berpindah sejak tadi.

Perasaan janggal di dadanya kini menemukan namanya.

Itu...

Adalah...

RASA KEHILANGAN.

Asmara merasa Wira sedang menghukumnya.

Bukan dengan cara berteriak atau membuat masalah, melainkan dengan memberikan cermin berukuran raksasa di hadapan gadis itu.

Wira kini memperlakukan Asmara dengan cara yang persis sama, seperti Asmara memperlakukan Wira di awal masa hukuman pemuda itu.

Dingin.

Berjarak.

Profesional.

Menganggap lawan bicaranya hanyalah udara kosong atau bagian dari inventaris kelas.

Asmara menyentuh dadanya yang terasa berdenyut ngilu.

Ia baru menyadari betapa menyakitkannya diabaikan oleh seseorang yang kehadirannya mulai kita harapkan.

Saat Asmara melakukan hal itu kepada Wira tiga minggu lalu, ia melakukannya dengan dalih 'mendidik' dan menjaga profesionalisme tugas.

Ia pikir, bersikap sedingin es adalah cara terbaik untuk memadamkan ego api liar Wira.

Tapi kini, setelah merasakan sendiri senjata es itu diarahkan padanya, Asmara menyadari betapa kejamnya metode tersebut.

Ia telah berhasil membunuh sikap arogan Wira?

Iya...

Tapi sebagai bayarannya, ia juga membunuh "Sang Matahari".

Pemuda yang dulu bersinar terang, meski panas dan membakar, kini telah redup.

Wira bergerak seperti bayangan—ada bentuknya, patuh pada aturan cahaya, namun tidak memiliki kehangatan sama sekali.

"Apakah ini yang Mas Wira rasakan saat aku mendiamkannya tempo hari?" batin Asmara pedih.

"Rasa sepi yang ditolak oleh keheningan?" batin Asmara semakin perih.

Bel masuk berbunyi, membuyarkan lamunan Asmara.

Wira berjalan kembali ke tempat duduknya.

Ia menarik kursinya tanpa suara, duduk, dan langsung membuka buku pelajaran Geografi tanpa menoleh sedikit pun ke arah Asmara yang duduk hanya sejengkal di sebelah kirinya.

Garis rahang pemuda itu terlihat tegas, bibirnya terkatup rapat.

Profil sampingnya terlihat begitu sempurna sebagai seorang murid teladan, namun bagi Asmara...

Itu adalah profil dari sebuah jiwa yang telah menyerah.

.....

.....

Waktu terus merayap hingga matahari mulai tergelincir ke ufuk barat.

Beberapa hari lagi, tepat di akhir minggu ini, masa hukuman sosial Wira selama satu bulan penuh di Ruang Budaya akan resmi berakhir.

Sore itu...

Jam pelajaran telah usai sejak satu jam yang lalu.

Asmara sedang berjalan menyusuri koridor dari arah ruang OSIS menuju paviliun belakang. Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya. Di tangan kanannya, ia menenteng sebuah kantong plastik bening berukuran kecil.

Di dalam kantong plastik itu, terdapat dua bungkus mika kecil berisi kue klepon. Kue tradisional berwarna hijau cerah berbalut parutan kelapa putih, dengan gula merah cair yang tersembunyi di dalamnya.

Asmara sengaja mampir ke kantin yang nyaris tutup tadi untuk membelinya.

Ini bukan sekadar camilan sore.

Di dalam hati Asmara, ada sebuah dorongan yang sangat kuat untuk memperbaiki keadaan.

Ia ingin menggunakan sisa hari hukuman Wira yang ditemani pengawasannya bersama dirinya, untuk meruntuhkan kembali tembok yang terlanjur menjulang di antara mereka.

Ia ingin mengapresiasi perubahan perilaku Wira selama tiga minggu terakhir. Ia ingin menunjukkan bahwa Wira dihargai, bukan hanya sebagai murid yang patuh, tapi juga sebagai seorang manusia.

Dan mungkin...

Hanya mungkin...

Manisnya gula merah di dalam klepon ini bisa mencairkan kedinginan di dalam dada Wira yang membiarkannya membeku.

Sesampainya di depan pintu kayu jati Ruang Budaya, Asmara menarik napas dalam-dalam, menyiapkan senyum terbaiknya.

Ia mendorong pintu itu perlahan.

Udara beraroma kapur barus menyambutnya.

Di sudut ruangan, dekat dengan rak buku bagian C, Wira sedang bekerja.

Pemuda itu memegang lap microfiber, membersihkan sela-sela rak kayu yang sudah sangat bersih karena setiap hari dilapnya berulang kali. Kemeja putihnya hari ini sangat bersih, tidak ada robekan, tidak ada kancing yang dibiarkan terbuka.

Mendengar suara pintu terbuka, Wira menghentikan gerakannya. Ia memutar tubuhnya menghadap pintu.

"Maaf, saya sudah hampir selesai menyapu dan mengelap rak. Lantai juga sudah dipel di bagian tengah. Tinggal menunggu kamu mengeceknya," lapor Wira dengan suara yang sangat datar dan formal.

Wira bahkan tidak menggunakan kata sapaan selamat sore!

Asmara melangkah masuk, menyembunyikan rasa perih yang kembali menusuk dadanya akibat sapaan kaku tersebut.

Ia berjalan menuju meja administrasinya, meletakkan papan clipboardnya, lalu meletakkan dua bungkus mika kue klepon itu di atas meja.

"Tidak apa-apa, Mas Wira. Pekerjaan Mas belakangan ini selalu bersih sempurna, saya tidak perlu mengeceknya terlalu detail lagi," balas Asmara dengan nada yang sengaja dibuat lebih hangat, mencoba memancing interaksi.

Wira hanya mengangguk kaku.

"Terima kasih. Kalau begitu, saya akan selesaikan bagian ujung rak ini, lalu saya pamit pulang." ucap Wira.

Pemuda itu berbalik, berniat kembali melanjutkan pekerjaannya dan menutup percakapan.

"Mas Wira, tunggu sebentar!" panggil Asmara cepat, sebelum pintu komunikasi itu kembali terkunci.

Wira menghentikan gerakannya, namun tidak langsung berbalik. Punggungnya yang tegap terlihat kaku.

"Ada apa lagi, Asmara? Ada instruksi tugas tambahan dari Pak Anton?" tanya Wira.

Penyebutan namanya tanpa sapaan apa pun, diucapkan dengan nada sebegitu kakunya, kembali menampar hati Asmara.

Namun gadis itu menolak untuk menyerah hari ini.

Ia memegang bungkusan kue klepon itu, lalu melangkah mendekati Wira, memangkas jarak yang memisahkan mereka.

Asmara berhenti di samping Wira. Ia menyodorkan salah satu bungkus mika kue tradisional itu ke hadapan pemuda tersebut.

"Saya tadi mampir ke kantin, kebetulan Ibu kantin masih punya sisa kue klepon," ucap Asmara, suaranya mengalun lembut, dihiasi senyum tulus yang memancarkan kehangatan sejati.

"Ini... Satu untuk Mas Wira..."

Wira akhirnya memutar wajahnya.

Mata elangnya menatap bungkusan mika transparan berisi kue hijau berbalut kelapa itu.

Namun, tidak ada binar ketertarikan di matanya.

Ekspresinya tetap datar.

"Untuk saya? Dalam rangka apa?" tanya Wira.

Suaranya terdengar sangat berhati-hati, seolah kue di tangan Asmara adalah sebuah jebakan yang mematikan.

"Dalam rangka apresiasi, Mas..." jawab Asmara tulus.

Ia menatap langsung ke dalam mata Wira, berusaha mencari sisa-sisa pemuda pemberontak yang dulu pernah berani menatapnya dengan penuh gairah amarah.

"Saya perhatikan, selama tiga minggu ini, Mas Wira berubah dengan sangat luar biasa. Mas tidak lagi berbuat onar di kelas, Mas sangat rajin menyelesaikan tugas di sini tanpa mengeluh, dan tadi siang... saya melihat Mas untuk kesekian kalinya, dengan sabar mengantre di kedai soto dan bahkan membantu membawakan nampan soto milik Pak Min menuju meja siswa lain."

Asmara mengambil jeda sejenak, menghela napas pelan.

"Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih, Mas... Dan saya ingin mengapresiasi kerja keras Mas untuk menyesuaikan diri dengan kota ini... Mas membuktikan bahwa Mas bisa menjadi pribadi yang sangat baik... Jadi, tolong terima kue ini sebagai hadiah kecil dari saya..."

Sebuah pidato yang manis.

Sebuah pengakuan yang tulus.

Tiga minggu yang lalu, jika Asmara memberikan pujian seperti ini, Wira mungkin akan menyeringai congkak, membusungkan dadanya, dan melontarkan komentar sok jagoan yang menggoda Asmara.

Namun Wira yang berdiri di hadapan Asmara hari ini...

Adalah Wira yang telah dipaksa bungkam oleh kepatuhan.

Wira memandangi kue klepon di tangan Asmara cukup lama.

Lalu, perlahan, ia mengangkat wajahnya, mempertemukan pandangannya dengan mata teduh sang gadis.

"Terima kasih atas pujiannya, Asmara," jawab Wira akhirnya.

Suara Wira begitu dingin...

Begitu hampa...

Seolah dicetak dari sebuah mesin otomatis yang tidak memiliki ruh.

Wira tidak tersenyum. Ujung bibirnya sama sekali tidak tertarik.

"Tapi kamu tidak perlu repot-repot membelikan saya apa pun," lanjut Wira dengan intonasi yang mematikan setiap harapan di hati Asmara.

"Semua yang saya lakukan di kelas, di kantin, maupun di ruangan ini, hanyalah bentuk kepatuhan saya pada aturan. Saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai siswa yang sedang dihukum. Tidak ada yang spesial dari itu, sehingga tidak perlu ada apresiasi yang berlebihan."

Asmara tertegun.

Tangannya yang menyodorkan kue itu terasa kaku.

"Mas... saya ikhlas memberikannya. Ini cuma kue—"

"Saya hargai niat baik kamu," potong Wira cepat, menolak halus namun sangat tegas.

Pemuda itu mundur satu langkah, menciptakan jarak fisik untuk mempertegas jarak emosional mereka.

"Tapi saya sudah kenyang. Dan saya juga harus segera menyelesaikan rak ini agar saya bisa pulang tepat waktu dan tidak merepotkan kamu sebagai pengawas lebih lama lagi."

Wira menundukkan kepalanya sekilas—sebuah gestur hormat yang sangat kaku—lalu memutar tubuhnya dan kembali mengelap rak kayu jati yang sebenarnya sudah tak berdebu itu.

Penolakan itu terjadi tanpa suara keras, tanpa bantingan barang, tanpa makian.

Namun efeknya menghancurkan hati Asmara berkeping-keping.

Tangan Asmara yang memegang kue klepon perlahan turun ke sisi tubuhnya. Ia berdiri mematung menatap punggung Wira.

Pemuda itu benar-benar telah membalikkan keadaan.

Wira menggunakan kata-kata baku, menggunakan kesopanan yang absolut, dan menggunakan kepatuhan pada aturan sebagai perisai besi untuk mengisolasi dirinya dari jangkauan Asmara.

Wira telah menjelma menjadi perwujudan dari kedinginan profesional yang dulu Asmara tunjukkan kepadanya.

Di dalam dada Asmara, rasa sesak itu membesar hingga mendesak saluran napasnya.

Mata gadis keraton itu memanas.

Ia baru menyadari sebuah kebenaran pahit yang tak tertahankan.

Ia memang berhasil memenangkan pertarungan ego ini.

Ia berhasil menaklukkan sang preman begajulan dari Bogor.

Ia berhasil membantu mengubah Wira menjadi murid yang sangat patuh, sopan, dan disiplin tanpa perlu menggunakan kekerasan fisik.

Namun dalam kemenangan itu, Asmara justru sudah kalah dengan sangat telak.

Kemenangan ini merampas tawa pemuda itu.

Kemenangan ini merampas kejujuran yang meluap-luap dari mata Wira.

Asmara berhasil mendisiplinkan sang pemberontak, tapi ia kehilangan manusia di baliknya.

"Sang Matahari" itu benar-benar telah redup, terhalang oleh gerhana yang diciptakan oleh dinding es bernama kepatuhan buta, menyisakan Wira sebagai cangkang kosong yang bergerak dalam diam.

Sore itu, di tengah heningnya Ruang Budaya, Asmara berbalik dan berjalan pelan kembali ke mejanya.

Ia meletakkan kue klepon itu di sudut meja dengan tangan yang sedikit bergetar.

Gula merah di dalam kue tradisional itu mungkin sangat manis.

Namun, saat ini...

Seluruh dunia Asmara terasa tertelan oleh kepahitan yang tak memiliki penawar.

1
Kesya Ohilitean
aku senang sekali kerana novel mau membantu aku untuk mehilakan sertes
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Kesya... 😍😍😍

Semoga Kakak selalu sehat, ya... Selalu bahagia juga buat Kak Kesya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!