NovelToon NovelToon
Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22.Mencari.

Malam telah merayap jauh melintasi langit Kerajaan Ye Lu, menyelimuti kediaman Keluarga Zhang dengan keheningan yang pekat dan dingin. Di kamar yang sederhana di sayap belakang bangunan, tempat Pangeran Li Yun dari Negeri Tang Liang diizinkan tinggal — sekaligus dikurung — cahaya lampu minyak sudah padam sepenuhnya. Hanya remang cahaya bulan yang menyelinap melalui celah jendela, menciptakan bayang-bayang panjang di lantai batu yang dingin.

Di dalam kegelapan itu, Li Yun terbaring tak tenang. Matanya terpejam, namun kesadarannya belum sepenuhnya tertidur. Setiap kali ia hendak terlelap, bayangan wajah Li Hua kembali muncul — senyumnya yang tulus, tatapannya yang hangat, suara lembutnya saat memanggil namanya. Hati kecilnya terasa sesak, seakan ada sesuatu yang menekan terus-menerus, memberitahunya bahwa gadis itu sedang dalam bahaya yang nyata.

Tiba-tiba, suara gesekan halus terdengar di jendela — begitu pelan, seakan angin yang menyentuh dedaunan, namun telinga Li Yun yang terlatih sejak kecil menangkapnya seketika. Ia membuka mata, napasnya tertahan. Tanpa bergerak tiba-tiba, ia bangkit perlahan, melangkah tanpa suara menuju pintu kamar.

"Siapa di luar?" tanyanya rendah, suaranya hanya cukup terdengar di balik kayu pintu.

"Kami, Pangeran," jawab suara samar, penuh rasa hormat namun mendesak. "Kami membawa kabar."

Li Yun segera membuka pintu sedikit, menampakkan celah tempat sosok berbalut jubah gelap meluncur masuk tanpa suara, seakan bayangan itu sendiri. Prajurit itu berlutut di lantai, menunduk dalam, kedua tangan mengepal di dada sebagai tanda penghormatan tertinggi.

"Bangunlah," ucap Li Yun pelan, menutup pintu kembali dengan hati-hati. "Kau menemukan sesuatu?"

Prajurit itu mengangkat wajahnya, matanya berkilau di bawah cahaya remang. "Ya, Pangeran. Kami melacak jejak kereta yang membawa Nona Kedua pergi dari kediaman sore tadi. Kami tahu ke mana dia dibawa."

Li Yun menegang seketika, jantungnya berdegup kencang. "Katakan. Ke mana mereka membawanya?"

Prajurit itu menelan ludah, suaranya sedikit bergetar. "Mereka membawanya ke kawasan selatan kota, Pangeran. Ke sebuah rumah hiburan... rumah bordil yang dikelola oleh wanita bernama Nyonya Li. Nona Li Hua dijual ke sana."

Dentuman!

Tangan Li Yun menepis meja di sampingnya sekuat tenaga, kayu itu bergetar hebat, benda-benda kecil di atasnya jatuh berderai ke lantai. Wajahnya yang biasanya tenang kini berubah kelam, matanya menyala dengan amarah yang membakar dari dalam.

"Berani mereka..." geramnya rendah, namun suaranya penuh ancaman yang mengerikan. "Siapa yang berani menjual Li Hua seperti barang yang tak bernilai? Katakan padaku — rumah mana persisnya? Di mana tempat itu?"

"Itulah masalahnya, Pangeran," prajurit itu menunduk lebih dalam. "Penjualnya tidak datang sendiri. Semua dilakukan melalui perantara yang wajahnya tertutup. Kami tahu tujuannya ke tempat Nyonya Li, namun kami tidak bisa memastikan kamar atau posisi tepat Nona di dalam sana."

Li Yun melangkah mundur, menekan kemarahan yang meluap-luap agar tidak meledak sekarang juga. Ia tidak bisa hanya berdiri diam menunggu kabar. Setiap detik yang berlalu, Li Hua sendirian di tempat asing, di tempat yang berbahaya.

"Kalian bersiaplah," ucapnya tegas, berbalik meraih pakaian gantungan di sandaran kursi. "Aku ikut dengan kalian."

"Pangeran?" prajurit itu mendongak terkejut. "Tidak boleh! Jika Pangeran terlihat..."

"Aku tidak akan tinggal di sini menunggu sementara dia dalam bahaya!" potong Li Yun tajam, namun suaranya segera melembut karena tekadnya tak tergoyahkan. "Kau tidak perlu mengingatkanku akan risikonya. Aku tahu lebih baik dari siapa pun. Tapi Li Hua pernah memperlakukanku bukan sebagai tawanan, melainkan sebagai manusia. Sekarang giliranku."

Prajurit itu terdiam, lalu mengangguk pelan, menerima keputusan tuannya. "Baik, Pangeran. Kami akan menunggu di luar."

Sosok itu lenyap kembali ke kegelapan, meninggalkan Li Yun sendirian yang bergerak cepat — mengenakan pakaian berwarna gelap, mengikat rambutnya rapi ke belakang, menyelipkan pisau kecil di pinggang sebagai perlindungan terakhir. Sebelum pergi, ia teringat seseorang yang harus ia beri tahu.

Ia melangkah keluar kamar, menyusuri lorong yang sunyi, menuju ruang tempat Qiao'er biasanya beristirahat. Gadis itu keluar seketika saat mendengar langkah kaki, matanya membelalak terkejut melihat Li Yun sudah berpakaian lengkap, siap berangkat.

"Pangeran? Ke mana Pangeran mau pergi kemana?" bisik Qiao'er, menutup mulutnya agar tidak berteriak.

"Aku akan menemukan Li Hua," jawab Li Yun singkat namun tegas. "Dengarkan aku, Qiao'er — saat aku pergi, katakan pada siapa pun yang bertanya bahwa aku jatuh sakit. Penyakit yang menular. Aku mengunci pintuku dan tidak boleh diganggu siapa pun sampai aku kembali. Jangan biarkan mereka tahu aku keluar."

Qiao'er menatapnya cemas, tangannya meremas ujung bajunya. "Tapi Pangeran... berbahaya sekali di luar sana! Bagaimana jika ada yang mengenali Pangeran?"

"Aku akan berhati-hati," Li Yun meletakkan tangan di bahu gadis itu, menatapnya tulus. "Kau percaya padaku, bukan?"

"Percaya, tentu saja percaya..." Qiao'er mengangguk, air mata mulai menggenang. "Tolong... bawalah Nona pulang dengan selamat. Jangan biarkan terjadi apa-apa dengan nona."

"Aku berjanji," ucap Li Yun lembut namun teguh. Ia menarik topeng kain hitam yang menutupi separuh wajahnya, lalu mengikatnya erat. "Jaga tempat ini baik-baik. Aku akan kembali secepatnya."

Dengan satu tarikan napas, ia melompat — ringan, seakan tak memiliki berat — melompati pagar tinggi kediaman Keluarga Zhang, menghilang di antara kegelapan malam bersama para prajurit bayangannya.

Sementara itu, di rumah hiburan milik Nyonya Li, Li Hua terbaring di tempat tidur yang empuk namun matanya tak kunjung terpejam tenang. Kelelahan menyergap seluruh tubuhnya, namun pikirannya terus berputar tanpa henti. Akhirnya, kelelahan mengalahkannya, dan ia tertidur — namun tidur itu bukan kedamaian, melainkan gerbang menuju mimpi yang mengerikan.

Ia berdiri di ruangan yang asing — ruangan pengantin, dihiasi kain merah yang berkilauan namun terasa dingin. Di hadapannya berdiri sosok yang ia kenal, sosok yang selama ini ia jadi alasan akhir hidupnya: Li Yun. Namun tatapan pria itu berbeda — dingin, tajam, penuh kebencian yang tak terhapuskan.

"Li Yun..." panggilnya pelan, merasa cemas. "Apa yang terjadi? Mengapa kau menatapku begitu?"

Li Yun melangkah maju, tangannya memegang pedang panjang yang berkilau mematikan. "Keluargamu sudah aku habisi. Semua orang di kediaman itu tak bernapas lagi. Sekarang tinggal kau, Nona Kedua Keluarga Zhang."

Darah seakan membeku di tubuh Li Hua. Ia mundur selangkah, tak percaya pada apa yang didengarnya. "Tidak... tidak mungkin... Kau tidak akan melakukan itu. Aku tidak pernah menyiksamu, aku tidak pernah menyakitimu..."

"Memang kau berbeda dari mereka," jawab Li Yun dingin, langkahnya tak terhenti. "Tapi kau diam. Kau membiarkan semuanya terjadi. Kau tahu aku tawanan, kau tahu mereka memperlakukanku buruk, dan kau tetap tinggal tenang di sana. Keheninganmu itu sendiri adalah dosa."

"Itu tidak benar! Aku mencoba—"

"Cukup!" potong Li Yun, suaranya menggelegar. "Jangan salahkan aku. Salahkan darah yang mengalir di tubuhmu. Kau adalah Keluarga Zhang, dan itulah hukumanmu."

Li Hua mundur terus hingga punggungnya menabrak dinding. Kakinya gemetar hebat. "Li Yun... aku ini istri kakak mu... kakak iparmu..."

"Aku lupa memberitahu kalau suaminya sudah tiada," jawabnya dingin. "Dan kau akan menyusulnya."

Pedang itu terhunus, melesat cepat menembus udara, dan menembus dada Li Hua. Rasa sakit yang tajam membakar seluruh tubuhnya, darah menyembur dari mulutnya, napasnya terputus. Ia menatap pria itu dengan mata yang memburam, ingin memanggil namanya sekali lagi, namun tak ada suara yang keluar.

"Li Yun!"

Li Hua terbangun dengan napas tersengal, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, jantungnya berdegup kencang seakan hendak melompat keluar dari dada. Ia menatap sekeliling — kamar yang asing, tempat tidur yang empuk, cahaya remang lampu minyak. Sendirian. Hanya dirinya.

Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, namun rasa sakit di dadanya seakan masih terasa nyata.

"Gila..." bisiknya pelan, menyeka keringat di keningnya dengan tangan gemetar. "Itu hanya mimpi... hanya mimpi..."

Namun di kedalaman hatinya, ia tahu — mimpi itu bukan sekadar khayalan tidur. Itulah akhir yang tertulis dalam buku yang ia baca. Itulah takdir yang menantinya jika ia tidak berhasil mengubahnya maka akhir hidupnya sudah jelas.

"Aku tidak mau mati..." gumamnya, mencengkeram selimut erat-erat. "Aku tidak mau mati seperti itu. Dan aku tidak mau Li Yun menjadi seperti itu... menjadi Raja Iblis yang menghancurkan segalanya."

Ia duduk tegak, menatap jendela yang mulai memerah oleh cahaya fajar. "Bagaimana caranya? Bagaimana aku bisa mengubah takdir ini? Bagaimana menaklukkan hati seseorang yang penuh luka dan kebencian?"

Pikirannya berputar cepat. Ia tidak bisa lari dari kenyataan. Ia tidak bisa memaksa orang mengubah pandangan hanya dengan kata-kata. Ia harus bertindak. Ia harus membuktikan bahwa tidak semua orang Keluarga Zhang sama. Bahwa ia berbeda. Bahwa ia bisa mengubah nasib.

Matahari akhirnya terbit, menyinari atap-atap kota Ye Lu dengan cahaya keemasan yang hangat. Di rumah hiburan milik Nyonya Li, kesibukan pagi sudah dimulai. Suara langkah kaki, percakapan, dan suara benda-benda yang disusun terdengar dari setiap sudut bangunan. Li Hua bangkit, mencuci wajahnya, dan berjalan keluar kamar — tidak dengan wajah takut dan bingung seperti kemarin, melainkan dengan tatapan yang lebih teguh, lebih tenang, lebih bertekad.

"Li Hua!" panggil Nyonya Li dari bawah, menaiki tangga perlahan. "Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu pagi ini?"

"Baik, Nyonya," jawabnya tersenyum tipis namun tulus. "Siap bekerja."

Mereka berkeliling tempat itu bersama-sama. Li Hua memberikan arahan satu per satu — cara menata lentera agar cahayanya jatuh indah di panggung, cara menyusun meja agar tamu merasa nyaman, cara memadukan pakaian penari agar terlihat anggun namun tetap sopan. Para gadis penari berlatih gerakan baru yang diajarkan Li Hua — gerakan yang mengalir lembut, penuh perasaan, bukan sekadar menggoda. Para pemusik memainkan nada yang berbeda, lebih hidup, lebih menyentuh hati.

"Indah sekali..." gumam Nyonya Li sambil memperhatikan dari pinggir aula. "Sejak kapan kau memahami hal-hal seperti ini, Li Hua?"

Li Hua tersenyum samar. "Aku hanya melihat apa yang kurang, Nyonya. Dan mencoba melengkapinya."

Mereka berjalan menuju ruangan tempat pakaian-pakaian disimpan. Di sana, Li Hua memeriksa setiap gaun, memilih kain yang tepat, menyarankan perubahan potongan agar lebih menyesuaikan bentuk tubuh tanpa kehilangan kesopanan.

"Yang ini..." ia mengambil selembar kain sutra berwarna biru lembut. "Bisa dibuat lebih pas di pinggang, tapi biarkan bagian bawahnya mengalir bebas. Saat menari, ia akan terlihat seperti air yang bergerak."

Nyonya Li mengangguk kagum. "Kau benar-benar mengubah tempat ini, Nak. Semua orang tampak lebih bersemangat, lebih hidup. Sejak kau datang, suasana di sini berubah total."

Li Hua menunduk, meraba kain di tangannya. "Ini baru permulaan, Nyonya. Jika malam ini berhasil, tempat ini akan dikenal bukan hanya karena hiburannya, tapi karena keindahannya."

Namun di balik senyumnya, pikirannya tetap tertuju pada satu hal — takdir. Ia tahu, bekerja keras di sini hanyalah satu langkah. Langkah yang sesungguhnya masih menantinya. Ia harus kembali. Ia harus berhadapan dengan semua orang. Dan ia harus mengubah hati seseorang yang ditakdirkan menjadi Raja Iblis.

Di kejauhan, Li yun sudah datang dengan topeng di wajahnya bersama enam prajurit bayangannya yang membaur bersama warga sekitar.

Satu persatu mereka mendatangi tempat hiburan di Ye lu, tapi perjalanan pencarian mereka masih panjang.

​

1
lin sya
msih menunggu li hua membalas shi yin krn dijual dirmh bordil sayangnya li hua cerdas, tp beruntung li yun perduli smpai nyari kemana mana, klo li hua balik kkluarganya bikin shi yin dijual juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!