Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Akhir di Ujung Laras
Benda kecil di tangan Andra memancarkan lampu LED merah yang berkedip pelan.
Cahaya kecil itu tampak begitu kontras dengan suasana malam yang gelap gulita.
Di dalam warung yang mulai berantakan, ketegangan mendadak mencapai puncaknya.
Rian yang melihat benda itu seketika menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu yang rusak.
Senyuman sinis yang tadinya menghiasi wajah pria berjas rapi itu mendadak membeku.
Ia tahu betul apa arti tombol kecil di tangan mantan bosnya itu.
"Jangan bergerak atau kita semua hancur bersama di sini," ucap Andra dengan suara datar.
Suaranya terdengar sangat dingin dan tanpa ada keraguan sedikit pun.
Alat genggam di tangan Andra bukanlah remote biasa.
Itu adalah pengendali jarak jauh untuk jaringan bahan peledak berstandar militer.
Jaringan kabel peledak itu sudah diam-diam ia pasang di seluruh penjuru fondasi bangunan.
Ia memasangnya sejak hari pertama ia memutuskan untuk bersembunyi di tempat itu.
Bagi seorang mantan penguasa korporasi besar, kewaspadaan adalah napas kedua.
Puluhan anak buah Rian yang tadinya berdiri gagah kini mulai saling berpandangan.
Rasa cemas yang nyata mulai menyelimuti wajah para preman bayaran tersebut.
Niat mereka untuk menerobos masuk seketika ciut begitu mendengar ancaman mematikan itu.
Keringat dingin mulai bercucuran membasahi pelipis mereka.
"Kau sudah gila, Andra?!" teriak Rian dengan nada panik.
Ia tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya lagi di balik topeng arogansinya.
Suara pria sedikit bergetar, mencerminkan ketakutan akan kematian di depan mata.
"Aku cuma sedang membersihkan sampah-sampah kotor yang mengotori halaman rumahku," balas Andra.
Nadanya terdengar tenang namun menusuk tajam ke ulu hati.
Kirana berdiri tepat di belakang punggung suaminya sambil menarik napas dalam-dalam.
Wanita itu meremas ujung jaket Andra dengan kedua tangannya yang gemetar.
Ia sama sekali tidak menyangka dengan apa yang disaksikannya malam ini.
Di balik kesederhanaan hidup mereka selama ini, Andra sudah menyiapkan langkah antisipasi.
Semua itu dilakukan demi keselamatan mereka berdua dari ancaman luar.
Suasana di dalam warung kecil itu mendadak sunyi mencekam.
Tidak ada suara lain selain deru angin malam yang berembus pelan.
Angin itu melewati dinding-dinding kayu yang berlubang akibat hantaman tadi.
Rian mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Giginya bergemutuk menahan amarah yang luar biasa besar.
Ia merasa berada di atas angin tapi justru berbalik menjadi tawanan.
Ia datang dengan persiapan matang dan membawa pasukan bayaran terbaik.
Namun dalam hitungan menit, posisinya justru jungkir balik menjadi orang tertuduh.
"Turunkan senjata kalian sekarang juga!" perintah Rian dengan suara parau kepada anak buahnya.
Para pengawal bayaran itu tidak butuh waktu lama untuk berpikir dua kali.
Mereka secara serentak menurunkan senjata api mereka perlahan ke lantai semen yang kotor.
Nyawa mereka jauh lebih berharga daripada harus mati sia-sia demi membela bos egois.
Andra melangkah maju perlahan melewati serpihan kayu yang berserakan.
Tangan kanannya tetap siaga mengarahkan remote ke arah Rian.
"Sekarang, lepaskan jaketmu dan berlutut di hadapanku," perintah Andra penuh wibawa mutlak.
Rian menelan ludahnya dengan susah payah.
Ia merasakan harga dirinya hancur berkeping-keping malam ini.
Semua itu terjadi di hadapan orang yang paling ia benci di dunia.
Dengan gerakan lambat dan penuh keterpaksaan, ia perlahan melepas jas mewahnya.
Ia menjatuhkannya begitu saja ke lantai kotor.
Pria licik itu perlahan melipat lututnya di hadapan mantan bos.
Ia bertekuk lutut tepat di hadapan orang yang selama ini ia khianati dari belakang.
"Kau kalah telak, Rian," bisik Andra tepat di depan telinga pria itu.
Andra berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan menghunus tajam.
Sebelum Rian sempat melontarkan kata-kata pembelaan atau ancaman terakhirnya, sebuah gerakan terjadi.
Andra melayangkan satu pukulan telak ke arah rahang.
Bugh!
Suara hantaman keras menggema di dalam ruangan sempit itu.
Rian langsung tersungkur pingsan tak sadarkan diri di atas lantai keramik yang dingin.
Ia jatuh tanpa sempat melakukan perlawanan sedikit pun.
Anak buah Rian yang melihat pimpinannya tumbang semakin ketakutan.
Mereka memilih mundur menempel ke dinding sambil menunduk.
Andra perlahan menarik napas panjang untuk meredakan emosinya.
Ia kemudian menoleh ke belakang untuk memastikan kondisi istrinya tercinta.
Ia menatap wajah Kirana yang masih tampak pucat.
Namun, raut wajah itu mulai memancarkan secercah rasa lega.
"Semuanya sudah aman, Kir. Jangan takut," kata Andra dengan nada suara sangat lembut.
Ia merangkul pundak sang istri untuk memberikan kehangatan.
Namun, tepat di saat situasi mulai terkendali, sebuah kejanggalan mendadak terjadi.
Suara sirine mobil kepolisian tiba-tiba meraung-raung memecah kesunyian malam.
Suara bising itu memekakkan telinga dari arah jalan utama.
Wiu... wiu... wiu...!
Cahaya lampu strobo berwarna merah dan biru mendadak menyorot terang.
Cahaya itu menembus celah-celah dinding warung yang rusak berat.
Andra mengerutkan keningnya dalam-dalam.
Ia menyadari ada satu hal janggal yang terlewat dari perhitungannya sejak awal.
Rian yang sebelumnya terkapar pingsan di lantai tiba-tiba mengerang pelan.
Pria licik itu membuka matanya perlahan dengan sisa kesadaran.
Ia menyeringai penuh darah sambil tertawa kecil di tengah kondisi lemas.
"Kau pikir... aku datang sendirian ke sini, Andra...?" bisik Rian lemah.
Suaranya menyisakan ancaman mematikan di balik seringai menyeramkan itu.
Andra menatap tajam ke arah Rian yang masih tersenyum sinis di lantai.
Sisa-sisa kesadaran pria licik itu rupanya masih digunakan untuk menebar teror.
Suara sirine mobil polisi di luar sana semakin mendekat dan berdengung nyaring.
Cahaya lampu strobo merah biru berputar semakin cepat menembus dinding kayu yang berlubang.
"Kamu terlalu percaya diri, Rian," ujar Andra dengan suara datar tanpa gentar.
Rian mencoba mengangkat dagunya meski napasnya tersengal-sengal menahan sakit.
"Aparat penegak hukum yang datang ini bukan anak buahku yang bisa kamu suap..."
"...mereka adalah satuan khusus resmi dari kota," lanjut Rian dengan tawa tertahan.
"Dan mereka punya surat perintah untuk langsung melenyapkan mu di tempat."
Mendengar ucapan itu, tangan Kirana yang memegang ujung jaket Andra kembali mencengkeram erat.
Kecemasan yang sempat mereda kini mendadak menghantam dada wanita itu lagi.
"Mas... bagaimana ini? Kalau polisi yang datang, kita bisa terjebak," bisik Kirana panik.
Andra menoleh sekilas, lalu mengusap lembut punggung tangan istrinya.
"Tenanglah, Kir. Biar aku yang urus semuanya dari sini," ucap Andra menenangkan.
Di luar warung, derap sepatu lars panjang bergemutuk memenuhi halaman sempit.
Puluhan personel kepolisian bersenjata lengkap kini telah mengepung bangunan tersebut.
"Keluar sekarang juga! Anda sudah dikepung!" teriak seorang perwira dari balik pengeras suara.
Suara bentakan itu memecah keheningan malam dan menggetarkan kaca-kaca jendela.
Andra tidak langsung merespons panggilan dari luar.
Ia malah melangkah perlahan mendekati meja kasir tempat remot pengendali peledak berada.
Jari telunjuknya siap menekan tombol pengaman terakhir jika situasi benar-benar buntu.
Namun, ia juga tahu menggunakan bahan peledak di tengah kota akan membahayakan Kirana.
Ia harus mencari jalan keluar lain tanpa harus mengorbankan keselamatan istrinya.
"Pilihanmu cuma menyerah atau mati tertembak, Andra!" teriak Rian lagi dari lantai.
Andra melirik tajam ke arah Rian, lalu mendengus pelan penuh penghinaan.
"Kamu benar-benar tidak tahu siapa yang sedang kamu hadapi, Rian," ucap Andra dingin.
Pria itu kemudian membungkuk dan menarik kerah baju Rian dengan satu tangan.
Ia mengangkat tubuh Rian yang lemas dengan mudahnya bak sehelai bulu.
Rian terkesiap kaget karena tidak menyangka Andra masih memiliki tenaga sebesar itu.
"Jadikan dia tameng hidup kalau mereka berani macam-macam," batin Andra bersiap.