Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Di dunia modern ini, uang dua miliar tidak ada artinya jika ia berhadapan dengan konglomerat rakus atau sindikat kejahatan bersenjata.
Ia butuh tameng yang kuat untuk menutupi bisnis lintas dunianya dari incaran pemerintah dan pihak berkuasa.
"Lalu apa penawaran Anda Nona Sasa? Saya yakin Anda mencegat saya di sini bukan cuma mau menakut-nakuti anak kecil."
Sasa kembali bersandar di kursinya dengan ekspresi sangat puas karena berhasil menekan mental pemuda di depannya.
"Jadikan Grup Farmasi Bintang sebagai pembeli tunggal untuk semua herbal pusaka yang kau temukan di masa depan."
Sasa menyilangkan kakinya yang jenjang dan menatap Raka dengan pandangan bisnis yang sedingin es.
"Sebagai gantinya, aku akan mengurus semua masalah keamananmu, pencucian uangmu, dan mencarikan gudang paling rahasia yang kau mau."
Raka mengusap dagunya pura-pura berpikir keras padahal dalam hati ia sangat kegirangan mendapat tawaran gratis dan super menguntungkan ini.
Dengan bantuan penuh kekuatan jaringan Sasa, ia tidak perlu repot memikirkan birokrasi dunia modern dan bisa fokus menjelajah dunia kuno saja.
"Itu penawaran yang lumayan bagus, tapi saya punya satu syarat mutlak yang tidak bisa diganggu gugat," ucap Raka memasang wajah serius.
"Sebutkan syaratmu," tantang Sasa mengangkat sebelah alisnya.
"Anda dilarang keras bertanya atau mencari tahu di mana lokasi pasti tempat saya mengambil barang-barang itu."
Raka menunjuk wajah Sasa dengan telunjuknya untuk menegaskan batasan privasinya yang sangat krusial.
"Kalau Anda ketahuan membuntuti saya lagi seperti yang dilakukan anak buah Anda kemarin, kesepakatan batal detik itu juga."
Mata Sasa sedikit membesar karena tidak menyangka Raka sadar kalau dirinya sedang diawasi ketat kemarin sore.
"Insting jalananmu cukup tajam juga ternyata, baiklah aku setuju dengan syarat sepelemu itu," putus Sasa tanpa ragu sedikit pun.
Sasa mengulurkan tangan kanannya yang halus ke seberang meja.
"Sepakat?" tanya Sasa meminta jabat tangan.
"Sepakat," jawab Raka menyambut jabatan tangan itu dengan genggaman yang mantap dan hangat.
Kulit tangan Sasa terasa sangat lembut, sangat kontras dengan tangan Raka yang sedikit kasar bekas kerja keras mengais rongsokan.
Mereka melepaskan jabatan tangan itu setelah beberapa detik dan Sasa langsung mengambil sebuah map dokumen cokelat dari dalam tasnya.
Bruk.
Sasa meletakkan map itu di hadapan Raka lalu membukanya perlahan.
"Ini adalah sertifikat kepemilikan sebuah gudang kosong di kawasan industri utara yang sudah kusiapkan sejak semalam."
Raka melihat dokumen itu dan melihat ada foto sebuah gudang besar berdinding beton tebal dengan halaman yang sangat luas.
"Gudang ini sudah atas namamu dan dilengkapi sistem keamanan tingkat tinggi tanpa kamera pemantau di bagian dalamnya," jelas Sasa bangga.
"Layanan yang sangat memuaskan Nona Sasa, saya sampai merinding melihat betapa cepatnya Anda membuang-buang uang," puji Raka tulus.
"Aku selalu bergerak cepat untuk mengamankan aset berhargaku, Raka."
Sasa berdiri dari kursinya bersiap untuk pergi meninggalkan kafe tersebut karena urusan bisnisnya sudah selesai.
"Aku tunggu kiriman herbal pusakamu selanjutnya bulan depan di kantorku," pesan Sasa sebelum membalikkan badannya.
"Tidak perlu menunggu bulan depan Nona Sasa, lusa saya akan datang membawa seratus batang ginseng tua untuk Anda," potong Raka santai.
Langkah Sasa terhenti mendadak seolah kakinya dipaku paksa ke lantai cafe tersebut.
Wanita arogan itu menoleh ke belakang dengan mulut sedikit terbuka dan mata membelalak syok.
"Kau bilang apa barusan? Seratus batang?" gagap Sasa yang biasanya selalu tenang kini benar-benar kehilangan wibawanya.
Ginseng seribu tahun satu batang saja sudah bisa mengguncangkan pasar herbal nasional, apalagi seratus batang.
"Iya seratus batang, siapkan saja uang tunai yang sangat banyak karena harganya pasti selangit," ejek Raka tersenyum menang melihat wajah syok Sasa.
"Kau benar-benar monster gila Raka Mahesa, aku akan menyiapkan brankas bank khusus untuk menyambut kedatanganmu lusa nanti," ucap Sasa menelan ludah paksa.
Sasa akhirnya berjalan cepat keluar dari cafe itu dengan langkah yang sedikit gontai karena kepalanya pusing memikirkan jumlah barang gila tersebut.
Raka mengambil map dokumen gudang itu lalu memasukkannya ke dalam tas selempangnya sambil tertawa pelan.
Ia memesan segelas es kopi lalu meminumnya perlahan sambil merenungkan langkah selanjutnya.
Tiga hari masa tunggu dari Karta di dunia kuno akan segera berakhir lusa pagi.
"Gue harus pergi cek gudang baru itu sekarang dan memindahkan titik kordinat gerbang gue ke sana," batin Raka merencanakan.
Sistem gerbang Dewa Naga memungkinkan Raka membuka celah di mana saja, tapi untuk keamanan skala besar memindahkan barang ia butuh markas tertutup.
Raka berjalan keluar cafe dan memesan taksi online menuju kawasan industri utara sesuai alamat di dokumen.
Satu jam perjalanan membelah kemacetan ibu kota akhirnya membawa Raka ke depan sebuah gerbang besi hitam yang sangat tinggi.
Taksi itu pergi meninggalkan Raka sendirian di depan kompleks gudang yang tampak sangat sepi dan tidak terurus dari luar.
Ceklek.
Raka menggunakan kunci akses dari dalam map untuk membuka gembok gerbang besi raksasa tersebut.
Ia berjalan masuk dan menutup gerbangnya kembali rapat-rapat dari dalam agar tidak ada orang lewat yang bisa mengintip.
Gudang ini benar-benar sempurna, luasnya hampir setara setengah lapangan bola dan tertutup rapat oleh dinding tebal.
"Di sini gue bisa bawa keluar barang ton-tonan tanpa ada tetangga julid yang nanya-nanya," tawa Raka menggema di dalam gudang kosong itu.
Raka memanggil layar sistemnya dan sebuah layar biru transparan melayang di udara.
"Setel lokasi ini sebagai titik utama pintu gerbang dunia."
[Kordinat Utama Dunia Fana berhasil diperbarui]
Layar sistem merespon perintah Raka dengan memunculkan notifikasi teks berwarna hijau terang.
Raka mengangguk puas lalu duduk bersila di atas lantai beton gudang yang berdebu itu.
Waktunya berburu seratus ginseng di dunia kuno tinggal menghitung hari saja.
Ia harus memastikan Karta benar-benar menepati janjinya karena posisi tawarnya di depan Sasa saat ini sangat bergantung pada barang tersebut.
"Kuharap bapak tua itu dan anaknya tidak mati dimakan macan saat nyari ginseng pesananku," doa Raka memandang langit-langit seng gudang.