NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: Ciuman Pertama

Tiga hari kemudian, langit di atas kampus BINUS berubah hitam hanya dalam hitungan menit.

Keira baru keluar dari gedung perkuliahan ketika petir menggelegar. Angin mengangkat ujung rambutnya, lalu hujan jatuh sekaligus, begitu deras sampai pelataran kampus seolah ditutup tirai putih.

Mahasiswa berlarian kembali ke bawah kanopi. Keira merogoh tas dan mengumpat pelan karena payung lipatnya tertinggal di apartemen.

Ia membuka aplikasi taksi online. Harga perjalanan melonjak tiga kali lipat dan tidak ada pengemudi yang menerima pesanan.

"Sempurna," gumamnya dengan suara yang masih sedikit serak.

Sebuah pesan masuk.

Reynard: Lihat ke kanan.

Keira mengangkat kepala. Di seberang jalan, di balik hujan yang mengaburkan pandangan, Reynard berdiri dengan payung hitam. Celana jinsnya sudah basah sampai lutut. Ia mengangkat sebelah tangan seolah menunggu orang yang terlambat datang ke janji.

Keira tidak bisa menahan senyum. Ia berlari menembus hujan menuju tepi jalan.

"Ngapain kamu di sini?"

Reynard menariknya ke bawah payung. "Menjemput orang yang pagi tadi bilang ramalan cuaca cuma menakut-nakuti."

"Kamu sengaja datang?"

"Aku lihat perkiraan hujan sejak siang. Kalau kuberi tahu, kamu pasti bilang bisa pulang sendiri."

"Memang bisa."

"Iya. Makanya sekarang berdiri di sini tanpa payung."

Keira hendak membalas, tetapi sebuah mobil melaju melewati genangan. Reynard cepat menarik pinggangnya, membuat cipratan air hanya mengenai punggungnya sendiri.

"Ayo," katanya. "Kalau menunggu reda, kita bisa menginap di kampus."

Mereka berlari menuju titik penjemputan. Payung itu cukup besar untuk satu orang, bukan dua orang yang sibuk saling mendorong agar pihak lain tidak kehujanan. Reynard terus memiringkannya ke arah Keira sampai bahu kirinya sendiri basah kuyup.

"Payungnya lurus, Rey. Kamu basah."

"Aku gampang kering."

"Memangnya kamu handuk?"

Reynard tertawa. "Pegang lenganku. Jalannya licin."

Keira melingkarkan tangan pada lengannya. Mereka berlari di antara genangan, menahan tawa setiap kali sepatu mereka memercikkan air ke celana sendiri. Saat taksi online akhirnya tiba, keduanya sudah terlalu basah untuk merasa tertolong.

Pendingin udara di mobil membuat Keira menggigil. Reynard melepas jaket tipisnya, tetapi Keira menolak karena pakaian itu sama basahnya.

"Nanti kamu sakit," ujar Reynard.

"Kamu juga."

"Aku lebih kuat."

"Sombong."

Namun ketika Keira bersin, raut wajah Reynard langsung berubah serius. Ia menurunkan suhu pendingin lewat pengemudi dan menggosok telapak tangan Keira di antara kedua tangannya sendiri. Gerakannya spontan, tanpa canggung, tetapi justru membuat Keira teringat tatapan diam mereka tiga malam lalu.

Ia menarik tangannya perlahan. Reynard tidak memaksa menahannya.

Sepanjang sisa perjalanan, hujan memukul jendela dan membiarkan ketegangan kecil duduk di antara mereka.

Lobi Apartemen Meranti Park ramai oleh penghuni yang baru pulang. Keira dan Reynard masuk sambil meninggalkan jejak air. Begitu melihat pantulan dirinya di dinding lift yang mengilap, Keira menahan napas.

Blus putihnya menempel pada kulit. Warna pakaian dalamnya terlihat samar di balik kain basah.

Pintu lift hampir menutup ketika tiga penghuni lain bergegas masuk. Dua laki-laki berdiri di belakang mereka, sementara seorang perempuan sibuk dengan ponselnya. Keira merapatkan tas ke dada, tetapi bagian belakang tubuhnya tetap terbuka.

Reynard memperhatikan perubahan wajahnya. Pandangannya turun sepersekian detik, lalu rahangnya mengeras.

Ia bergeser, menempatkan tubuhnya tepat di belakang Keira dan menutup pandangan orang lain. "Bajumu tembus pandang," bisiknya di dekat telinga. "Dekat ke aku."

Keira menegang. "Rey..."

"Jangan berbalik."

Lift berhenti di lantai tiga. Tidak ada yang keluar. Lantai delapan adalah lantai tertinggi dan perhentian terakhir. Angka digital bergerak lambat, sementara Keira bisa merasakan kehangatan dada Reynard meski dua lapis pakaian mereka dingin dan basah.

"Dingin?" bisik Reynard.

"Sedikit."

"Tanganmu gemetar."

"Karena AC."

Keira tahu jawaban itu hanya separuh benar. Tatapan dari belakang membuatnya tidak nyaman, tetapi berdiri di dalam perlindungan tubuh Reynard juga menciptakan kegugupan lain. Ia tidak pernah merasa laki-laki itu sebesar ini. Selama ini Reynard selalu menurunkan bahu ketika bicara dengannya, menekuk lutut saat ingin menyamakan tinggi, atau memasang wajah manja agar terlihat seperti adik kecil. Kini tubuhnya menjadi dinding yang rapat dan tegas.

Seorang penumpang bergerak hendak menekan tombol lantai. Siku orang itu nyaris mengenai Keira, dan Reynard menangkisnya dengan lengan tanpa membuat keributan.

"Maaf," kata penumpang itu.

"Nggak masalah," jawab Reynard datar.

Nada suaranya sopan, tetapi Keira bisa merasakan otot di belakangnya mengeras. Ia menoleh sedikit, ingin memastikan Reynard tidak marah. Gerakan itu justru membuat hidungnya hampir menyentuh rahang laki-laki tersebut.

"Jangan bergerak dulu," ujar Reynard semakin pelan.

Keira menurut. Untuk pertama kalinya, kepatuhan itu tidak terasa seperti mengikuti nasihat seorang adik. Rasanya seperti menyerahkan diri pada seseorang yang tahu persis bagaimana menjaganya, bahkan ketika dirinya sendiri terlalu malu untuk meminta.

Salah satu laki-laki di belakang melirik melalui pantulan dinding lift. Reynard langsung melepaskan jaketnya dan membentangkannya di depan Keira. Dalam satu gerakan, ia menyelimuti bahu dan tubuh Keira, lalu menariknya masuk ke pelukan.

"Pegang aku," katanya.

"Aku bisa jalan sendiri."

"Aku tahu. Tetap pegang."

Pintu lift terbuka di lantai lima. Orang-orang bergeser dan ruang menjadi sempit. Reynard melingkarkan satu lengan di pinggang Keira, telapak tangannya menahan sisi tubuhnya. Ketika ujung sepatu Keira tersangkut kaki orang lain, lengan itu terangkat kuat, membuat tubuh Keira nyaris tidak menyentuh lantai.

"Reynard!"

"Sebentar saja."

Ia setengah menggendong Keira, membiarkan kakinya sesekali menyentuh lantai saat lift kembali bergerak. Jaketnya menutup tubuh Keira dari bahu hingga paha. Dari balik lipatan kain, wajah Keira menempel dekat dada Reynard.

Detak jantung laki-laki itu sangat keras.

Keira semula mengira hanya dirinya yang gugup. Namun jantung di balik kaos basah itu berpacu sama tidak teraturnya. Ia bisa merasakan tarikan napas Reynard di atas kepalanya dan ketegangan otot lengannya yang menyangga pinggang.

"Lantai delapan," suara elektronik mengumumkan.

Reynard membawa Keira keluar tanpa memedulikan tatapan tiga orang di belakang mereka. Pintu lift tertutup. Koridor mendadak sunyi, hanya dipenuhi suara hujan dari jendela darurat.

"Turunkan aku," kata Keira, wajahnya panas.

Reynard menurut, tetapi tangannya tetap di pinggang Keira sampai kedua kaki perempuan itu benar-benar mantap. Jaket masih membungkus mereka berdua. Karena Keira refleks mencengkeram bagian depan kaosnya, jarak mereka tidak bertambah.

Reynard menatap jemari itu. "Ci Kei."

"Apa?"

"Kamu memeluk terlalu kencang."

Keira baru sadar kedua lengannya sudah melingkari pinggang Reynard. Ia hendak melepaskan diri, tetapi laki-laki itu menunduk mendekati telinganya.

"Kalau terus begini, aku bisa kehilangan kendali."

Suara Reynard rendah dan serak. Tidak ada nada bercanda sedikit pun.

Keira membeku. Tubuhnya seakan baru menyadari setiap titik yang bersentuhan. Lengan kuat di pinggangnya. Dada keras di bawah telapak tangannya. Napas hangat yang berlawanan dengan dinginnya pakaian basah.

Reynard melepaskan pelukan lebih dulu. Ia berbalik menuju pintu 8A, merogoh saku untuk mencari kunci akses. Jarinya yang biasanya tenang dua kali gagal menangkap kartu.

"Masuk ke unitku dulu," katanya tanpa menoleh. "Ambil handuk. Setelah itu kamu bisa pindah ke sebelah."

"Kenapa bukan unitku?"

"Karena kode pintumu butuh waktu, dan kamu sudah menggigil."

Kartu akses akhirnya berbunyi. Reynard membuka pintu, lalu memberi jalan. Keira melangkah masuk masih terbungkus jaketnya. Ketika ia hendak berbalik, sol sepatunya tergelincir di lantai foyer yang terkena tetesan air.

Reynard menangkapnya.

Punggung Keira menyentuh meja konsol di dekat pintu. Reynard berdiri di antara kedua kakinya, satu tangan menahan pinggang, satu lagi bertumpu di tepi meja agar berat tubuhnya tidak menimpa Keira.

Mereka sama-sama terdiam.

Air menetes dari ujung rambut Reynard ke pipi Keira. Kaos hitamnya melekat ketat pada bahu dan dada. Jarak mereka begitu dekat hingga Keira bisa melihat bulu matanya yang basah.

Reynard mengangkat tangan, seolah hendak menyeka tetesan di wajah Keira, tetapi berhenti di tengah jalan. "Aku ambilkan handuk."

Ia mencoba mundur. Keira tanpa sadar menahan ujung bajunya.

Reynard menatap tangan itu, lalu kembali menatap wajahnya. "Kalau kamu menahanku, aku nggak bisa pergi."

"Aku..." Keira tidak tahu apa yang ingin ia katakan.

Hujan di luar semakin keras. Sesekali cahaya petir memutihkan ruangan yang belum sempat dinyalakan lampunya. Dalam kilatan singkat itu, Keira melihat keraguan di wajah Reynard, sesuatu yang tidak pernah ditunjukkan laki-laki itu saat menghadapi masalah apa pun.

Ia bisa saja mendekat. Ia jelas menginginkannya. Namun Reynard tetap diam, memberi Keira ruang untuk memilih.

"Sakit?" tanya Reynard.

Keira menggeleng.

Seharusnya ia mundur. Seharusnya ia meminta handuk, mengganti pakaian, lalu meminum sesuatu yang hangat. Namun kulitnya terasa terlalu peka. Sindrom haus kulit yang biasanya hanya berupa kebutuhan ringan untuk disentuh muncul seperti gelombang panas, bercampur dengan semua perasaan yang sudah ia tekan berhari-hari.

Telapak tangannya bergerak sebelum akalnya sempat melarang.

Ia menyentuh dada Reynard.

Laki-laki itu menahan napas.

Jari Keira mengikuti garis otot yang terlihat di balik kain basah, turun sedikit ke perutnya. Sentuhan itu tidak kuat, tetapi tubuh Reynard langsung menegang seolah baru dialiri listrik.

"Ci Kei," panggilnya, kali ini seperti peringatan.

Keira menatap bibirnya. Suaranya keluar kecil, nyaris tenggelam oleh hujan.

"Aku mau..."

Pupil Reynard melebar. Tangan di pinggang Keira mencengkeram sedikit lebih kuat, tetapi ia tidak bergerak mendekat. Ia menunggu, menahan diri sampai urat di lehernya tampak jelas.

Keraguan terakhir Keira runtuh oleh kesabaran itu.

Ia mencengkeram kaos Reynard, berjinjit, dan menempelkan bibirnya pada bibir laki-laki tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!