Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu yang berlebihan
Sesuai yang sudah disepakati, hari ini jadwal Jingga dan Arin melakukan survei lokasi bersama Dave.
Sejak pagi, mereka sudah bersiap dengan perlengkapan kerja dan berangkat menuju lokasi proyek.
Dave sudah menunggu di depan pintu masuk area proyek, mengenakan kemeja polos dengan map di tangan.
“Hei, kalian tepat waktu juga,” sapanya sambil tersenyum.
Jingga membalas dengan anggukan, “Tentu dong, ini kan bagian penting dari pekerjaan kita.”
Sementara Arin ikut menimpali,
“Iya, jangan kira kita cuma bisa nostalgia SMA aja, Dave.” Dave terkekeh,
“Tenang, hari ini kita fokus kerja dulu. Nostalgia bisa nanti lagi.”
Mereka pun mulai berjalan berkeliling lokasi. Dave menjelaskan detail teknis di lapangan dengan cukup rinci, sesekali menunjuk titik-titik penting. Jingga mendengarkan dengan serius sambil mencatat, sementara Arin tak lupa mengambil beberapa foto untuk laporan.
Meski begitu, ada momen kecil di mana tawa tetap pecah ketika Dave tanpa sengaja mengingatkan mereka pada hal-hal lucu saat dulu di sekolah. Suasana jadi lebih ringan, membuat survei tidak terasa terlalu kaku.
Di sela-sela itu, ponsel Arin bergetar. Ada panggilan masuk. Ia cepat-cepat menggeser layar dan menempelkan ponsel ke telinga, berjalan agak menjauh agar tidak mencolok.
“Halo…?” suara Arin terdengar pelan.
Di seberang, suara familiar menyapanya.
“Lagi di mana?” tanya Roy dengan nada santai tapi terdengar hangat.
Arin refleks tersenyum kecil, untung posisinya membelakangi Jingga dan Dave.
“Sedang survei proyek… bareng tim. Kamu kenapa?” jawabnya pura-pura datar, padahal jantungnya berdebar kencang.
“Cuma mau memastikan kamu baik-baik aja. Jangan lupa makan siang nanti, ya.” Roy singkat.
Arin menggigit bibirnya, menahan senyum. “Iya, siap, Komandan.”
Obrolan tak lama, tapi cukup membuat Arin kembali melangkah dengan hati berbunga.
Arin kembali bergabung bersama Jingga dan Dave setelah menyelesaikan panggilan singkatnya. Namun wajahnya masih menyisakan senyum kecil yang sulit ia sembunyikan.
Dave, yang cukup jeli memperhatikan perubahan ekspresi, langsung menggodanya, “Eh, Rin… kok senyum-senyum sendiri? Lagi jatuh cinta, ya?”
Arin spontan tersedak kecil, “Hah? Apa sih, nggak jelas.”
Ia cepat-cepat menunduk pura-pura fokus pada catatan di tangannya, padahal pipinya sudah memerah.
Jingga ikut menimpali dengan nada penasaran, “Hmm… bener juga kata Dave. Dari tadi gue lihat lo kayak lagi nahan senyum.”
“Ya ampun, kalian jangan sembarangan nuduh deh. Tadi cuma baca chat grup kerjaan, lucu aja,” kilah Arin buru-buru, berusaha menutupi.
Dave hanya tertawa, menggeleng, “Alasan klasik tuh. Biasanya kalau orang senyum-senyum sendiri, pasti ada yang spesial.”
Jingga menatap Arin curiga, tapi memilih tidak memperpanjang. Ia hanya menepuk bahu sahabatnya itu sambil berkata, “Ya udah deh, kalau emang ada sesuatu nanti juga lo cerita sendiri. Gue tunggu pengakuannya.”
Arin hanya tersenyum kikuk, menunduk, sambil dalam hati berkata: Untung bukan ketahuan siapa yang nelpon tadi…
Tak lama salah satu tim Dave menghampiri mereka.
“Mbak Arin, boleh minta tolong sebentar? Kita perlu foto dokumentasi di titik ujung sana untuk laporan.”
Arin mengangguk, “Oh iya, tentu. Ayo kita ke sana.”
Ia pun beranjak, meninggalkan Jingga dan Dave yang masih berdiskusi soal teknis lapangan.
Begitu Arin pergi, suasana jadi lebih tenang. Dave melirik ke arah Jingga sambil tersenyum tipis.
“Eh, Ji… rasanya aneh banget ya, setelah sekian lama, kita bisa kerja bareng lagi. Dulu ketemu cuma di kelas, sekarang malah urus proyek gede begini.”
Jingga ikut tersenyum, “Iya, gue juga nggak nyangka. Hidup kadang muterin orang-orang lama ke sekitar kita lagi, ya.”
Dave mengangguk, tatapannya penuh nostalgia.
“Jujur, gue seneng banget bisa ketemu kalian lagi. Apalagi lo, Ji… lo nggak banyak berubah, masih sama kayak dulu.”
Jingga tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana, “Halah, masih sama apanya? Udah jelas beda, udah kerja, udah punya tunangan juga.”
Dave terdiam sejenak, lalu hanya tersenyum. “Iya sih… tapi tetap aja, rasanya kayak balik ke masa-masa SMA.”
Obrolan Jingga dan Dave terpotong ketika salah satu arsitek menghampiri mereka untuk menjelaskan mengenai detail proyek. Di sela-sela penjelasan itu, seperti biasa Levin kembali melakukan videocall kepada Jingga.
Jingga langsung mengangkat, tapi hanya sempat berkata singkat, “Nanti aku telpon lagi ya, Vin,” sebelum buru-buru menutupnya.
Namun sayangnya, dalam layar singkat itu, Levin sempat melihat jelas—Jingga berdiri cukup dekat dengan Dave.
Mendadak dadanya panas. “Halo… hallo, Jingga! Kenapa mati?!” Levin menggerutu kesal, tangannya mengepal. “Apa-apaan pria itu? Kenapa mereka sedekat itu… arrrghh! Apa yang mereka lakukan?!” pikirannya berlarian ke arah yang tak-takut ia bayangkan.
Dengan nada tinggi ia berteriak,
“Roooyyyy!!!”
Roy yang sedang sibuk dengan dokumen langsung panik, “I-iya tuan, ada apa?”
“Kamu punya nomor Arin?!” Levin menatap tajam, matanya merah karena emosi.
Roy menelan ludah, bingung. “Kenapa, tuan?”
“Jawab saja! Punya atau tidak?!”
“Iya, ada…” jawab Roy gugup, makin tak mengerti.
“Telpon dia. Sekarang juga!”
“Tapi tuan—”
“Roooyyyyy!!!” Levin membentak, membuat ruangan seakan bergetar. Roy pun akhirnya patuh, segera menghubungi Arin.
---
“Hallo? Iya Roy, kenapa?” suara Arin terdengar ceria, tak menyadari apa-apa.
Namun di seberang, justru Levin yang langsung menyambar dengan nada terburu-buru.
“Arin! Jingga kemana? Dia lagi sama siapa?!”
Arin sempat terdiam, lalu menjawab polos, “Jingga lagi sama Dave. Tadi aku kebetulan disuruh tim buat foto dokumentasi, jadi agak menjauh…”
Levin langsung naik pitam, “Arin!! Kenapa kamu tinggalkan dia sendirian dengan pria itu?!”
“Hah? Maksudnya apa, Tuan Levin?” Arin benar-benar kebingungan dengan tuduhan itu.
“Cepat hampiri Jingga sekarang juga! Aku mau tahu apa yang sedang mereka lakukan! Video call aku sekarang!”
---
Dengan terburu-buru, Arin menuruti. Ia menyalakan videocall dan mengarahkan kamera. Terlihat jelas Jingga, Dave, dan beberapa tim lain sedang berdiri bersama, membicarakan sesuatu. Memang jaraknya berdekatan, tapi sangat wajar karena sedang berdiskusi.
Levin menatap layar itu dengan napas memburu. Namun setelah beberapa detik, amarahnya pelan-pelan mereda. Ia akhirnya sadar—kecurigaannya berlebihan.
“Kenapa, Vin?” tanya Arin hati-hati.
Levin tidak menjawab, hanya langsung memutus panggilan. Wajahnya berubah datar, menyembunyikan rasa malu. Ia menyodorkan ponsel Roy kembali tanpa sepatah kata.
Roy hanya menghela napas panjang, lalu bergumam lirih sambil me nggeleng pelan,
“Haah… Anda terlalu berlebihan, Tuan.”
Sebelum Roy benar-benar meninggalkan ruang kerjanya, suara Levin terdengar menahan gengsi.
“Roy…” panggilnya pelan tapi penuh tekanan.
Roy berbalik, “Iya, Tuan?”
Levin menegakkan tubuhnya, berusaha terlihat tenang padahal wajahnya masih memerah karena malu. “Jangan pernah biarkan Jingga tau apa yang baru saja terjadi barusan. Mengerti?” ucapnya sok tegas, matanya menghindar.
Roy menahan senyum, menunduk sopan. “Iya, Tuan.”
Levin menambahkan cepat, “Dan… jangan lupa kasih tau Arin juga. Biar dia jaga mulutnya.”
Roy mengangguk. “Baik, Tuan.”
Begitu Roy keluar, Levin menutup wajahnya dengan tangan sambil bergumam lirih,
“Astaga… kenapa aku bisa sekonyol itu.”
Begitu keluar dari ruangan Levin, Roy langsung menghela napas panjang. Ia mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Arin.
Di seberang sana, suara Arin terdengar riang. “Halo, ada apa, Roy?”
Roy sempat terdiam sejenak, menahan tawa yang hampir pecah saat mengingat wajah Levin tadi. “Arin… ada pesan dari Tuan Levin.”
“Pesan apa?” Arin heran.
Roy berdeham, mencoba menirukan nada tegas Levin. “Jangan sekali-kali kamu ceritakan apa yang terjadi tadi pada Nona Jingga. Katanya… wajib dirahasiakan.”
Arin spontan terkekeh. “Astaga, jadi segitunya? Sampai segitu takutnya ketahuan ya?”
Roy tak bisa menahan tawa kecil. “Kurang lebih begitu. Jadi tolong, jangan sampai Nona Jingga curiga.”
“Baik, Komandan,” sahut Arin sambil masih menahan geli. “Tapi serius deh, Levin kalau udah soal Jingga bener-bener kayak anak kecil ya.”
Roy tersenyum samar, “Iya, makanya kita harus sering-sering jaga rahasia dia.”
Arin menutup telpon dengan tawa kecil yang masih tersisa, sementara Roy menggeleng pelan, merasa percakapan barusan cukup menghiburnya setelah drama singkat Levin tadi.
Arin kembali menghampiri Jingga dengan langkah sedikit terburu. Ia masih memegang ponselnya yang baru saja diputus Levin. Jantungnya berdebar, bukan karena obrolan barusan tapi karena takut Jingga curiga.
“Rin, kok kamu lama banget?” tanya Jingga sambil menoleh. “Tadi katanya cuma foto sebentar.”
Arin tersenyum canggung, berusaha menutupi. “Eh iya… tadi ada yang nanyain file juga, jadi sekalian aku bantuin.”
“Ohh gitu…” Jingga mengangguk, tak menaruh curiga sedikitpun. Ia lalu kembali fokus mendengarkan penjelasan arsitek di samping Dave.
Arin diam, mencoba menyamarkan rasa gugupnya. Dalam hati ia bergumam, “Ya ampun, Tuan Levin bisa-bisanya bikin aku jadi mata-mata dadakan. Gimana kalau Jingga tahu? Bisa gawat banget ini…”
Survei lokasi akhirnya selesai sore itu. Tim Dave berpamitan satu per satu, begitu juga Dave sendiri setelah memastikan semuanya berjalan lancar. Jingga dan Arin pun kembali ke hotel untuk beristirahat.