NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Janda / Menikahi tentara
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14: Diam-diam Ada yang Menjaga

Aku, Bram, menyerahkan uang kepada Adi sebelum matahari terbit.

"Susu formula dua kaleng. Oralit. Bawa Nala ke bidan kalau Mbah Wagiyem mengizinkan. Jangan pakai seragam."

"Kalau Mbak Laras tanya saya ke mana?"

"Kamu cuti."

"Kalau dia tanya cuti ke mana?"

"Adi."

"Siap. Berhenti bertanya."

Ia mengendarai motor pribadinya keluar gerbang. Aku kembali ke kantor dan mencoba membaca laporan latihan, tetapi setiap satu jam mataku berpindah ke telepon.

Menjelang siang, pesan masuk.

`Sudah sampai. Nala kurus, tapi sadar dan mau minum. Bidan sedang periksa.`

Foto berikutnya memperlihatkan bayi perempuan di atas tikar. Mata Nala besar, lengannya kurus, tetapi ia mencengkeram jari Adi dengan kuat. Di belakangnya, Mbah Wagiyem bersandar pada dinding.

Adi menelepon beberapa menit kemudian agar laporannya tidak salah dipahami.

"Bidan bilang beratnya di bawah target, Komandan, tapi belum perlu dirawat. Tetangga bergantian bantu. Masalahnya susu sering diencerkan supaya awet."

Rahangku mengeras. "Jelaskan takaran yang benar. Jangan menyalahkan Mbah."

"Sudah. Saya tulis di tutup kaleng. Saya juga minta Bu RT cek dua kali sehari."

"Bayar jasanya?"

"Dia menolak. Katanya almarhum Wahyu pernah bantu suaminya waktu banjir."

Aku memandang daftar personel gugur di dinding kantor. Kebaikan seorang prajurit masih menjaga anaknya setelah ia tiada. Namun itu tidak cukup untuk menjamin susu tersedia setiap hari.

"Minta nomor rekening warung terdekat. Pembelian susu dicatat, jangan serahkan uang tunai tanpa bukti."

"Siap."

"Dan kirim foto resep obat Mbah ke klinik kita untuk dicek kesesuaiannya."

Aku tidak ingin bantuan terburu-buru menciptakan masalah baru. Semua yang menyangkut bayi dan lansia harus jelas siapa yang memeriksa, apa yang diberikan, dan kapan dievaluasi.

Aku memperbesar foto itu.

Ada sesuatu pada bentuk mata Nala yang mengingatkanku pada Laras. Tegas bahkan saat tubuhnya kecil.

`Bidan bilang diare membaik. Perlu cairan, susu teratur, dan pantau berat. Obat Mbah juga hampir habis.`

Aku mengirim uang tambahan untuk obat, lalu meminta Adi membeli bahan makanan yang mudah diolah tetangga.

Semua itu bisa dimasukkan sebagai dukungan keluarga prajurit gugur, tetapi prosesnya membutuhkan berkas. Nala membutuhkan susu hari ini. Aku memilih membayar sendiri dan meminta Hendra tetap memproses hak mereka secara resmi.

Menolong diam-diam tidak boleh menjadi alasan membiarkan sistem lambat.

Sore hari, Hendra menemui Laras di dapur. Aku melihat dari jauh saat ia menyerahkan surat penugasan resmi sebagai pelatih teknis dapur dengan honor per sesi.

Sebelum surat itu diterbitkan, aku menghapus satu kalimat yang menyebut Laras sebagai `staf gizi`. Ia tidak punya sertifikasi untuk gelar itu. Sebagai gantinya, tugas ditulis spesifik: teknik pengolahan, standardisasi resep, pengendalian porsi, dan pemanfaatan bahan.

"Kalau nanti kemampuannya bertambah, revisi kontrak," kataku kepada Hendra. "Jangan beri gelar kosong hanya karena hasilnya bagus."

"Siap. Honor dari anggaran pelatihan?"

"Iya. Tarif yang sama dengan pelatih keterampilan lain."

Aku tidak mau Laras dibayar lebih karena dekat denganku, juga tidak sudi ia dibayar kurang karena janda tanpa ijazah tinggi. Pekerjaannya punya nilai yang bisa dihitung.

Laras membacanya dua kali. "Nama jabatan ini nggak membuat orang mengira saya ahli gizi, kan?"

"Tidak," jawab Hendra. "Batas tugasnya tertulis. Untuk menu medis tetap klinik."

Ia baru menandatangani setelah membaca seluruh halaman. Aku hampir tersenyum.

***

Aku, Laras, merasa ada yang berbeda pada Adi ketika ia kembali menjelang magrib. Celananya terkena debu merah dan bagian belakang motornya diikat keranjang kosong.

"Cuti ke mana?"

Ia berhenti seperti baru menabrak tembok. "Keliling."

"Keliling sampai sepatumu kena tanah Sumberejo?"

Warna tanah dari kampungku khas. Adi menatap sepatunya, lalu ke arah kantor Bram.

"Saya..."

"Kamu lihat Nala?"

Ia menyerah. "Iya, Mbak."

Ember di tanganku jatuh. "Bagaimana dia?"

Adi menceritakan semuanya sekaligus: Nala kurus, diare membaik, bidan sudah memeriksa, susu dan oralit ditinggalkan, obat Mbah dibeli. Setiap kalimat membuat napasku patah antara lega dan tangis.

Ia menunjukkan foto di telepon. Aku memperbesar wajah Nala sampai gambarnya pecah menjadi kotak-kotak. Pipi putriku lebih cekung daripada saat kutinggal. Namun matanya menatap kamera dengan marah, dan satu tangannya mencengkeram jari Adi.

"Dia menangis?"

"Waktu diperiksa. Setelah minum, dia tidur."

"Mbah bagaimana?"

"Masih lemah, tapi bisa duduk. Tetangga Bu RT janji datang pagi dan sore. Ini nomor warung. Susu berikutnya bisa dipesan tanpa menunggu mobil logistik."

Aku memegang telepon dengan kedua tangan. Untuk pertama kali, jarak dua puluh kilometer itu memiliki jembatan: nomor warung, catatan bidan, dan orang yang bisa dihubungi.

"Kirim fotonya ke saya. Semua nota juga."

"Siap, Mbak."

Air mataku jatuh ke layar sebelum foto itu sempat terkirim.

"Siapa yang menyuruhmu?"

Adi menutup mulut terlambat.

Aku sudah tahu.

"Pak Danyon bayar semua?"

"Mbak, saya dilarang bilang."

"Tapi sudah bilang."

"Karena Mbak pintar lihat tanah."

Aku menatap kantor di seberang lapangan. Bram berdiri di jendela lantai satu, lalu tirai bergerak menutup.

Malamnya ia datang seperti tidak terjadi apa-apa. Di tangannya ada termometer baru untuk Sena.

"Ada kabar dari Nala?" tanyanya.

"Ada. Dari orang yang cutinya sangat produktif."

Bram melirik pintu, mungkin mencari Adi untuk dihukum.

"Terima kasih," kataku. "Tapi saya akan mengganti uangnya sedikit-sedikit."

"Nggak perlu."

"Saya perlu. Supaya saya nggak merasa hidup dari belas kasihan."

"Itu bukan belas kasihan."

"Lalu apa?"

Ia terdiam.

Sena mengoceh di antara kami. Bram membungkuk membetulkan selimutnya, menghindari mataku.

"Tanggung jawab," katanya.

"Nala bukan tanggung jawab Bapak."

"Dia anak prajurit saya yang gugur."

Jawaban resmi lagi. Namun aku melihat urat di lehernya menegang.

"Kalau benar hanya tanggung jawab dinas, kenapa uangnya dari dompet Bapak?"

"Proses bantuan resmi belum selesai."

"Dan kalau prosesnya sudah selesai?"

"Kebutuhan hari ini tetap nggak bisa menunggu."

Aku terdiam. Bram tidak menjanjikan akan menyelesaikan seluruh hidupku. Ia hanya melihat kebutuhan yang ada di depan mata dan memastikan seorang bayi tidak menunggu birokrasi. Justru kesederhanaan alasan itu membuat pertahananku rapuh.

Aku tidak mendesak. "Baik. Saya tetap catat sebagai utang pribadi."

"Keras kepala."

"Bapak juga."

Malam semakin sunyi. Sambil melipat popok, aku menyanyikan lagu lama. Bram yang hendak pergi berhenti di pintu.

"Lanjutkan," katanya.

"Bapak mau dengar?"

"Sena tenang kalau kamu bernyanyi."

Sena sudah tidur.

Aku tidak membongkar kebohongan kecil itu. Aku menyelesaikan lagu sampai bait terakhir. Bram berdiri membelakangiku, tetapi ia tidak pergi.

Setelahnya, ia hanya berkata, "Suaramu bagus."

Lalu langkahnya menjauh.

Aku memegang foto Nala yang dikirim Adi. Putriku memang kurus, tetapi matanya hidup. Di samping foto ada nota susu, obat, dan makanan, semuanya dibayar Bram.

Lelaki itu memperbaiki lampu tanpa mengaku, memperkuat pintu tanpa diminta, lalu menempuh dua puluh kilometer melalui orang lain agar anakku bisa minum.

Bagaimana mungkin aku terus berpura-pura tidak melihat seseorang sedang menjagaku?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!