Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Suara tangisan Master Kenji menggema menyedihkan di tengah arena Kolam Lahar Maut yang panas.
Pria plontos itu bersujud berkali-kali memohon ampun kepada Tuan Besar Surya.
"Bawa sampah tidak berguna ini keluar dari pandanganku sekarang juga!" bentak Surya dengan wajah merah padam menahan malu."
Dia telah mencoreng nama besar Asosiasi Nasional, eksekusi dia sesuai aturan turnamen!" perintahnya tanpa belas kasihan.
Dua pengawal raksasa langsung menyeret tubuh lemas Master Kenji menjauh dari arena.
Dor.
Satu suara tembakan nyaring terdengar dari lorong gelap mengakhiri riwayat naga kedua tersebut.
Tujuh naga tersisa yang tadinya sangat sombong kini menelan ludah dengan tubuh bergetar ketakutan.
Tuan Besar Surya menggebrak meja baja di depannya hingga penyok ke dalam.
Brak.
"Aku sudah muak dengan permainan anak kecil dan ronde pemanasan yang membuang waktu ini!" teriak Surya menatap tajam ke arah Gibran.
"Kita lewati semua sisa ronde yang ada dan langsung masuk ke babak pamungkas malam ini juga!" lanjutnya dengan suara menggelegar.
Ratusan mafia elit dan penonton langsung menahan napas mendengar keputusan gila dari sang ketua asosiasi.
Babak pamungkas berarti pertaruhan nyawa dan seluruh harta kekayaan tanpa ada jalan mundur sedikit pun.
Gibran berjalan santai kembali ke sisi Aurel dan mengambil koper logam dari tangan wanita cantik tersebut. "Ini yang aku tunggu-tunggu sejak tadi Tuan Surya, mari kita selesaikan urusan ini sebelum tengah malam," ucap Gibran dengan senyum tenang.
Klik.
Gibran membuka koper logam itu dan meletakkan dua buah batu pusaka ke atas meja lelang utama di tengah arena.
Sring.
Cahaya putih suci dari Giok Salju Surgawi dan pendaran galaksi dari Giok Ungu Bintang Jatuh langsung menyilaukan mata semua orang.
"Y-ya Tuhan, mataku tidak buta kan? Itu benar-benar Giok Ungu Bintang Jatuh yang sudah dipoles sempurna!" jerit seorang konglomerat Eropa. "Hanya kaisar langit yang pantas memiliki dua pusaka dewa itu secara bersamaan!" sahut bos mafia lainnya menangis terharu.
Mata Tuan Besar Surya langsung memerah dipenuhi oleh keserakahan absolut yang membutakan akal sehatnya.
Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari kilauan ungu yang magis tersebut.
"Bagus sekali Gibran, kau benar-benar merawat harta masa depanku dengan sangat baik," puji Surya menjilat bibirnya yang kering.
Surya memerintahkan asistennya untuk membawa sebuah peti emas ke atas meja yang sama.
"Di dalam peti ini terdapat sertifikat kepemilikan total Asosiasi Giok Nasional beserta seluruh wilayah kekuasaannya di negara ini."
"Aku mempertaruhkan semua itu ditambah kepalaku sendiri untuk melawan dua pusakamu malam ini!" deklarasi Surya dengan suara serak.
Gibran menyilangkan tangannya di dada dan menatap Surya dengan tatapan meremehkan. "Tawaran yang cukup adil untuk orang tua bau tanah sepertimu."
"Lalu apa batu ujian yang akan kita gunakan untuk Pelelangan Nyawa ini?" tanya Gibran langsung ke inti acara. Surya tersenyum licik dan menekan sebuah tombol remot di tangannya.
Ting.
Lantai di tengah arena perlahan terbuka dan memunculkan sebuah pilar kaca anti peluru dari bawah tanah.
Di dalam pilar kaca itu, terdapat sebongkah batu seukuran bola basket yang berwarna merah darah pekat dan berdenyut pelan seperti jantung hidup.
Dug dug.
"Ini adalah Batu Jantung Naga Kaisar, pusaka rahasia Asosiasi Nasional yang belum pernah bisa dinilai oleh ahli mana pun selama lima puluh tahun."
"Tugas kita adalah menebak secara akurat apa isi inti dari batu ini dan berapa nilai aslinya di pasar dunia," tantang Surya dengan percaya diri.
Siapa pun yang tebakannya paling melenceng harus menyerahkan nyawanya di hadapan eksekutor malam ini juga.
Tujuh naga yang tersisa langsung memucat melihat batu tersebut karena benda itu terkenal memiliki kutukan yang bisa membuat penilainya gila.
Aurel menarik lengan jas Gibran dengan raut wajah sangat cemas. "Gibran, batu itu terlihat sangat tidak wajar, berhati-hatilah saat menggunakan matamu," bisik Aurel memperingatkan.
Gibran hanya membelai lembut punggung tangan Aurel untuk menenangkannya.
"Tenang saja Nona Aurel, aku sudah melihat isi perut batu kotor itu bahkan sebelum pilar kacanya naik sepenuhnya," balas Gibran santai.
Sistem Mata Sakti Raja Giok sudah berdengung nyaring di dalam kepala Gibran membedah rahasia batu merah tersebut. [Pemindaian tingkat dewa selesai.]
[Kualitas: Fosil Darah Hewan Purba yang terkontaminasi parasit radiasi tingkat tinggi.]
[Nilai taksiran dasar: Negatif. Benda ini bukan giok, melainkan bom biologis beracun.]
Gibran menahan tawanya melihat kebodohan Tuan Besar Surya yang memuja bom beracun sebagai pusaka legendaris.
"Silakan Tuan Surya, sebagai tuan rumah yang sebentar lagi akan mati, aku persilakan kau menebak lebih dulu," tantang Gibran mempersilakan musuhnya masuk ke liang lahat.
Surya mendengus sombong dan melangkah maju mendekati pilar kaca tersebut.
"Batu Jantung Naga Kaisar ini seratus persen berisi Giok Darah Murni tingkat dewa yang sempurna."
"Nilai aslinya di pasar lelang dunia pasti menembus angka lima triliun rupiah!" teriak Surya dengan suara menggema penuh kemenangan.
Para elit mafia langsung bertepuk tangan riuh mendukung tebakan fantastis dari sang ketua asosiasi tersebut.
Prok prok prok.
Gibran hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat kebodohan massal di depannya.
"Lima triliun untuk sarang parasit purba beracun yang akan membunuhmu jika kau membelahnya?" ucap Gibran memecah euforia mereka.
"Batu itu tidak berharga satu rupiah pun Tuan Surya, karena itu hanyalah fosil darah busuk yang terkontaminasi radiasi mematikan," deklarasi Gibran dengan suara mutlak.
Suasana arena mendadak hening seketika mendengar tebakan ekstrem yang saling bertolak belakang tersebut.