Raisa Adiratna akhirnya menyerah akan pernikahannya, karena selalu mendapatkan KDRT dari sang suami---Dion Raharja. Dion seorang Pengacara kondang terkenal, di jodohkan atas desakan orangtuanya. Ada satu alasan kuat kenapa Dion membenci istrinya, sampai Dion mengancam jika sampai Raisa hamil maka tak segan Dion akan mengaborsi kandungan itu. Raisa yang mendengar itu ketakutan, wanita yang sudah menjadi yatim piatu itu terpaksa meminta cerai dari Dion karena dirinya hanya memiliki anak di kandungannya, tanpa di ketahui oleh Dion jika Raisa sedang hamil muda. Setelah bertahan di bawah hinaan Dion dan teman-temannya termasuk gundik suaminya---Chelsea. Chelsea seorang wanita yang bekerja sebagai LC di sebuah club. Setelah berhasil menceraikan Raisa, Pria itu menikahi gundiknya. Namun Karma dibayar konstan Dion mengalami kecelakaan yang membuatnya mandul hingga Chelsea meninggalkannya. Dion berusaha mencari mantan istrinya demi mendapatkan maaf, lalu apakah Dion sadar sudah punya anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Cahaya matahari masuk menyelinap melalui jendela utama kamar mewah di kediaman keluarga Raharja.
Pagi ini tak tenang karena rupanya sikap Dion sudah berubah terhadap istrinya---Raisa, dan marah-marah pagi ini.
Mungkin setelah skandal memuakkan semalam karena kedatangan Chelsea, yang marah-marah dan mengamuk---membuat para tetangga membicarakan Dion.
"Kamu nggak usah megang barang-barang saya," ucapnya dengan dingin.
Raisa mengerutkan keningnya, dirinya sama sekali tak mengerti---kenapa sang suami bersikap seperti awal pernikahan mereka.
"Mas...bukannya kamu minta aku menyetrika kemeja kamu dan---" ucapan Raisa di hentikan oleh Dion.
"Sudah diam kamu!" teriak Dion.
Hal yang membuat Raisa terkesiap, kali ini Raisa terdiam ketakutan.
Di dalam kamar yang luas itu.
Raisa berdiri dengan tubuh gemetar, tubuhnya mengenakan gaun warna biru muda dengan model lengan mengembang atau Puff Sleeves.
Sementara, Dion pagi ini mengenakan kemeja warna hijau lumut dan celana hitam formal, terlihat Dion bersikap berubah pada Raisa pagi ini.
"Mas...kalo ada masalah cerita jangan begini," kata Raisa dengan air mata terurai.
Dion berjalan mendekati Raisa membuat, wanita itu mundur beberapa langkah.
"Kamu masalah saya," sahutnya dengan nada marah.
Raisa menggelengkan kepalanya dengan sisa keberanian yang dimilikinya, Raisa melangkah mendekati sang suami.
"Mas...," ucap Raisa dengan lirih.
Saat Raisa mau mendekati suaminya, Dion langsung bereaksi dengan mengangkat telapak tangan kanannya ke arah sang istri.
"Jangan bicara lagi," ujar Dion dengan mengangkat tangan kanannya.
Seolah Dion yakin dengan keputusannya untuk menceraikan istrinya ini, matanya terlihat menatap tajam ke arah Raisa.
"Jangan mendekat," suara Dion terdengar datar namun tajam, memotong jarak di antara mereka secara brutal.
"Bagi saya kamu itu sekedar istri sampai ibu saya wafat," lanjut Dion.
Dion seolah tak menginginkan istrinya,
"Mas... setelah yang terjadi semalam, apa kamu benar-benar tak mau ngomong ama aku?" bisik Raisa, suaranya pecah.
"Semalam Mbak Chelsea ngomong apa sih? Sampai kamu jadi begini?" tanya Raisa dengan isak tangis.
Dion yang mendengar itu hanya mendengus sinis, sebuah tawa hambar yang menghina keluar dari bibirnya.
"Bicara apa? tentang status pernikahan kita?" ucapnya.
Raisa menurunkan kelopak matanya, lalu menggelengkan kepalanya.
"Dengar baik-baik Raisa Adiratna, jangan berharap aku akan menganggapmu sebagai istri karena saya hanya anggap kamu tak lebih dari sekedar pemuas nafsu!" desisnya menatap sang istri.
Lalu Dion maju sedikit dengan aura intimidasi yang kuat, Raisa hanya menunduk berusaha menyembunyikan air matanya.
"Oh ya...yang kemarin saya cuman butuh kamu sebagai pajangan yang bisa di pamerkan hanya demi nama baik saya," lanjutnya sebelum pergi meninggalkan istrinya.
Kepergian Dion membuat air mata Raisa berlomba-lomba jatuh membasahi pipinya, kata-kata itu menghantam Raisa dengan keras lebih dari tamparan yang selalu mendarat di pipinya.
Hatinya sudah hancur berkeping-keping mendengar pengakuan yang terlontar dari bibir suaminya, suami yang harusnya menjadi pelindung dan menjaganya.
Kini malah menyakitinya, bahkan selalu memukulnya.
"Ya allah apa ini akhir dari pernikahan hamba...jika hamba bercerai dari Mas Dion, hamba akan menjadi janda muda tanpa siapapun," keluh Raisa kepada yang mahakuasa.
Beberapa jam telah berlalu.
Raisa memaksakan diri untuk mengunjungi makam ibu mertuanya yang masih basah, wanita ini mengunjungi makam ibu mertuanya hanya untuk menenangkan diri.
Wanita dengan mengenakan gaun biru muda itu, merasa perlu berpamitan dan mohon kekuatan dari pusara ibu mertua yang selama ini selalu membelanya.
Meski, Nyonya Raharja tahu jika Raisa bukan anak kandungnya---namun ibu mertuanya lebih membela Raisa daripada Dion.
"Mah...Raisa pamit ya, kalo misalnya Raisa udah nggak jadi istri Mas Dion, Raisa akan selalu mengunjungi makam mama," ucap Raisa tangannya memegang nisan itu.
Langkah kaki Raisa terasa berat saat berjalan menyusuri jalan setapak semen di antara nisan-nisan keramik itu.
Sinar matahari membakar kulitnya yang berwarna kuning langsat.
Saat kakinya melangkah keluar makam, tiba-tiba pandangannya kabur dan kepalanya terasa berputar.
Raisa mencoba berpegangan pada sebuah pohon kamboja, namun seketika tubuhnya ambruk di jalan setapak itu.
"Ya ampun! Bu Raisa!" ucap penjaga makam segera berlari.
"Tolong! Ada yang pingsan! Ini Bu Raisa, menantu keluarga Raharja!" lanjutnya dengan teriakan panik dan histeris.
Segera orang-orang berlarian mendekat, mencoba memberikan pertolongan pertama----sebelum salah satu peziarah menelepon ambulance untuk membawa Raisa pergi.
Di Rumah Sakit Harapan Bunda.
Raisa tersadar membuka matanya dengan kepala berat.
Aroma antiseptik yang tajam menyambut kesadarannya, lalu menemukan dirinya berbaring di atas brankar rumah sakit.
Dokter poli umum segera melakukan pemeriksaan, lalu saat menyadari kejanggalan pada Raisa.
Dokter poli umum segera memindahkan Raisa untuk di periksa oleh Dokter Obgyn.
Dokter Hassan Razzak---Dokter spesialis saraf segera akan memberikan tes itu kepada Raisa.
Kini pria berwajah Arab itu, duduk di samping Raisa.
"Kamu kenal wanita ini?" tanya rekan dokter obgyn.
"Temen saya," jawab Dokter Hassan singkat.
"Oh, pantesan akrab banget," jawabnya.
Raisa sadar dan di sampingnya, ada Dokter Hassan yang mengenakan jas putih menatapnya dengan senyuman.
"Anda sudah sadar, Bu Raisa?" tanya Hassan dengan nada lembut.
Raisa hanya membalas tersenyum dan nampak tak menunjukkan keterkejutan apapun.
"Saya... saya di rumah sakit? Apa yang terjadi, Dok?" tanya Raisa mencoba duduk sambil memegang kepalanya yang berdenyut nyeri.
Hassan mengangguk, lalu mengambil sebuah amplop putih dan memberikannya pada Raisa.
Tangan Dokter Hassan menyerahkan sebuah selembar kertas hasil laboratorium kepada Raisa.
"Anda mengalami sinkop akibat stres berat dan kelelahan fisik yang ekstrem, ada alasan lain mengapa tubuh Anda bereaksi sekuat itu terhadap tekanan."
Tangan Raisa gemetar saat menerima kertas itu, matanya tertuju pada baris hasil pemeriksaan yang tercetak tebal.
"Apa?!" ucap Raisa.
Jenis Pemeriksaan: Tes Kehamilan Beta-HCG (Darah) Result: POSITIF (Hamil).
"Hamil?" lanjutnya.
Dunia terasa berhenti berputar, Raisa hatinya menjadi tak tenang---takut Dion jika mengetahuinya maka akan di gugurkan.
Raisa teringat ancaman Dion, perihal keinginan Nyonya Raharja memiliki cucu.
"Kalo kamu hamil anak saya! Tak akan segan saya gugurkan anak kamu! Karena saya nggak sudi punya anak dari kamu!" ucap Dion yang membuat bayangan mengerikan di pikirannya.
"Selamat, Bu Raisa. Anda sedang mengandung. Usianya baru beberapa minggu," ucap Hassan.
"Ya allah, bantulah hamba...hamba hanya memiliki anak ini saja. Tolong ya allah berikan jalan untuk hamba menyelamatkan anak hamba," batin Raisa dalam doanya.
Raisa meremas kertas hasil pemeriksaan itu di dadanya, air mata kembali jatuh membasahi pipinya.
Di tengah duka kehilangan ibu mertua dan kehinaan yang dilontarkan Dion pagi tadi, Tuhan justru menitipkan sebuah nyawa.
Sebuah nyawa yang kini terikat pada pria yang baru saja menyatakan bahwa ia hanyalah sebuah objek pemuas.
*
*
*
*
Sukses selalu Raisa,semoga baby membawa hoky setiap langkah usamu
Di tempat kita kalau menghadiri persidangan nikah cerai di pejabat agama pakaian mesti sopan menutup aurat,bertudung .Ah lain negara lain peraturannya.