NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14 - Usaha yang Retak

Hendra baru sadar masalahnya lebih besar ketika tiga pemasok menolak mengirim barang di hari yang sama.

"Pak, maaf. Tagihan lama belum dibayar. Bos kami minta pembayaran dulu."

"Kita sudah kerja sama bertahun-tahun," kata Hendra, menahan marah.

"Betul, Pak. Justru karena itu kami sudah memberi kelonggaran terlalu lama."

Telepon pertama selesai dengan kepala panas.

Telepon kedua lebih buruk.

Pemasok beras meminta pelunasan.

Telepon ketiga membuat Hendra hampir melempar ponsel.

"Kami dengar ada masalah legal di perusahaan Bapak. Untuk sementara pengiriman kami tahan."

Hendra berdiri di ruang kantornya yang dulu terasa luas. Kini ruangan itu seperti mengecil. Di luar, staf berjalan pelan, saling berbisik. Beberapa toko cabang melaporkan stok kosong. Satu ruko di Bekasi menunggak sewa.

Semua terjadi terlalu cepat.

Atau mungkin sudah lama terjadi, hanya Ratna yang selama ini menambal lubang-lubang kecil sebelum ia melihatnya.

Hendra menepis pikiran itu.

Tidak.

Ini gara-gara Ratna.

Gugatan itu membuat pihak luar panik. Pengacara Ratna mulai menanyakan aset. Auditor mungkin mengendus aliran dana. Clara juga terus menelepon, menangis soal apartemen yang katanya terancam.

Ponselnya berbunyi lagi.

Clara.

Hendra memejamkan mata sebelum menjawab.

"Apa lagi?"

Suara Clara langsung pecah.

"Mas, tadi ada orang datang ke resepsionis apartemen. Mereka tanya soal unitku. Aku takut."

"Siapa?"

"Aku tidak tahu. Katanya dari pengelola. Tapi Mas, kalau apartemen ini disita bagaimana? Aku dan Alif tinggal di mana?"

"Tidak akan disita."

"Mas yakin?"

Hendra tidak menjawab.

Clara menangis makin keras.

"Mas, aku ikut kamu bertahun-tahun. Aku tidak pernah menuntut banyak."

Hendra hampir tertawa karena kalimat itu.

Tidak menuntut banyak?

Apartemen. Mobil. Uang bulanan. Sekolah internasional. Liburan. Semua itu apa?

Namun ia menahan diri. Clara masih memegang banyak hal. Ia tahu vendor mana yang fiktif. Ia tahu rekening mana yang dipakai. Ia tahu terlalu banyak.

"Tenang. Aku urus."

"Bagaimana? Mbak Ratna sekarang dibantu Arga Wijaya. Mas tahu orang itu siapa. Aku tidak mau melawan keluarga Wijaya."

Nama Arga membuat dada Hendra panas.

"Jangan sebut dia."

"Tapi kenyataannya dia ada di belakang Mbak Ratna!"

"Ratna masih istriku."

"Istri yang menggugatmu."

Hendra menutup telepon.

Ia mengusap wajah kasar.

Di meja, foto lama keluarganya masih terpajang. Hendra, Ratna, Raka saat wisuda. Ratna di foto itu memakai kebaya sederhana, tersenyum bangga. Hendra ingat hari itu. Ratna bangun dari jam tiga pagi memasak untuk keluarga besar. Setelah acara selesai, ia masih mencuci piring sampai malam.

Hendra dulu menganggap itu wajar.

Sekarang, entah kenapa, foto itu terasa menuduh.

Pintu diketuk.

Raka masuk.

"Pa, cabang Cibubur ribut. Stok minyak kosong. Supplier minta bayar."

"Aku tahu."

"Kita harus apa?"

Hendra menatap anaknya. Raka bekerja di perusahaan, tapi selama ini lebih banyak memakai jabatan daripada bekerja. Kalau ada masalah, ia selalu mencari Hendra atau Ratna. Ratna untuk urusan kecil. Hendra untuk urusan besar.

Kini Hendra sendiri tidak punya pegangan.

"Cari supplier pengganti."

"Aku sudah coba. Mereka minta pembayaran di depan."

"Ya bayar."

Raka terdiam.

"Dana operasional tidak cukup."

Hendra menatapnya tajam.

"Kamu pikir aku tidak tahu?"

Raka mundur sedikit.

"Pa, jangan marah. Aku cuma..."

"Kamu cuma apa? Selama ini kamu di perusahaan buat apa?"

Wajah Raka memerah.

"Pa, jangan lampiaskan ke aku."

Hendra hendak membalas, tapi ponselnya berbunyi lagi.

Nomor Siska.

Ia tidak ingin menjawab, tapi Raka menatapnya. Akhirnya ia menerima.

"Pak Hendra, saya Siska, kuasa hukum Bu Ratna. Kami ingin menjadwalkan pertemuan awal terkait mediasi dan daftar aset. Surat resmi sudah kami kirim."

Hendra menggenggam ponsel lebih kuat.

"Saya tidak akan membahas aset dengan Anda."

"Itu hak Bapak. Namun proses tetap berjalan."

"Suruh Ratna bicara langsung dengan saya."

"Bu Ratna meminta semua komunikasi melalui kuasa hukum."

"Dia istri saya!"

"Status itu sedang diproses di pengadilan, Pak."

Hendra menutup telepon.

Raka berdiri kaku.

"Pa..."

"Keluar."

"Tapi cabang..."

"Aku bilang keluar!"

Raka keluar dengan wajah tersinggung.

Di luar ruangan, beberapa staf langsung pura-pura sibuk.

Hendra duduk kembali. Kepalanya berdenyut.

Ia membuka galeri ponsel. Tanpa sadar, jarinya berhenti pada foto yang dikirim seseorang dari acara kantor Wijaya Group. Ratna terlihat di sana, berdiri di belakang meja registrasi, memakai blus navy, tersenyum pada seorang tamu.

Ia tampak berbeda.

Lebih rapi. Lebih tenang.

Lebih jauh.

Hendra memperbesar foto itu. Di sisi kanan, Arga Wijaya tampak lewat di belakangnya. Tidak menyentuh. Tidak bicara. Tapi cukup dekat untuk membuat dada Hendra panas.

Ratna bekerja di sana.

Benar-benar bekerja.

Bukan menunggu pulang.

Hendra meletakkan ponsel dengan kasar.

Di saat yang sama, Clara mengirim pesan.

"Mas, Alif tanya kapan Papa pulang."

Tak lama kemudian, Mama Sulastri mengirim pesan suara.

"Hendra, Ratna keterlaluan. Mama tidak mau makan kalau dia belum minta maaf."

Lalu Raka.

"Pa, Maya bilang dia mau tinggal sementara di rumah ibunya kalau Mama Ratna tidak pulang. Aku pusing."

Semua orang menariknya.

Semua orang minta diselamatkan.

Hendra tiba-tiba menyadari sesuatu yang tidak ingin ia akui.

Dulu semua suara itu tidak sampai padanya karena Ratna yang menahannya lebih dulu.

Sekarang Ratna menyingkir.

Dan seluruh rumah, seluruh usaha, seluruh kebohongannya, menimpa kepalanya sendiri.

Hendra membuka kontak Ratna.

Ia mengetik lama.

"Kita perlu bertemu. Aku mau bicara baik-baik."

Pesan itu terkirim.

Tidak dibalas.

Setelah sepuluh menit, hanya satu pesan masuk.

Dari Siska.

"Pak Hendra, semua permintaan pertemuan dengan Bu Ratna mohon melalui kami."

Hendra menatap layar.

Untuk pertama kalinya, ia merasa Ratna benar-benar tidak lagi berada dalam jangkauannya.

Sementara itu, di apartemen Clara, suasana tidak lebih baik.

Clara duduk di sofa putih, menatap daftar tagihan yang dikirim pengelola gedung. Biasanya ia hanya meneruskan pada Hendra. Biasanya uang datang. Biasanya hidupnya rapi.

Hari ini Hendra hanya membalas singkat.

"Tunda dulu."

Clara menggigit kuku.

Alif keluar dari kamar dengan seragam sekolah.

"Ma, Papa jemput nanti?"

Clara memaksakan senyum.

"Papa sibuk, Sayang."

"Papa selalu sibuk sekarang."

Kalimat polos itu membuat Clara menegang. Ia memeluk anaknya, tapi matanya menatap apartemen luas yang tiba-tiba terasa tidak aman.

Selama ini ia berpikir Ratna adalah perempuan tua yang mudah disingkirkan. Istri sah yang terlalu sabar. Penghalang yang akan mundur jika diberi tekanan.

Ternyata Ratna tidak mundur.

Dan jika Ratna terus maju, semua yang Clara kira miliknya bisa ikut ditarik.

Clara mengambil ponsel dan membuka kontak seorang notaris yang pernah dikenalkan Hendra.

Ia tidak lagi yakin bisa mengandalkan cinta.

Ia harus menyelamatkan bagiannya sendiri.

Malam itu Clara menemui notaris secara diam-diam. Ia membawa beberapa dokumen yang pernah Hendra simpan di apartemen, termasuk fotokopi perjanjian pembelian mobil dan bukti transfer uang bulanan.

Notaris itu membaca sambil mengerutkan dahi.

"Ibu Clara, posisi Ibu lemah kalau semua sumber dana berasal dari usaha Pak Hendra yang sedang disengketakan."

Clara menggenggam tasnya.

"Tapi Mas Hendra bilang ini hadiah."

"Hadiah pun bisa dipersoalkan kalau uangnya termasuk harta bersama dan diberikan tanpa persetujuan istri sah."

Istri sah.

Dua kata itu membuat Clara panas.

Selama bertahun-tahun ia membenci status itu karena dimiliki Ratna. Ia merasa Ratna hanya menang kertas. Namun sekarang, di hadapan dokumen hukum, kertas itu justru berdiri seperti tembok.

"Jadi saya harus bagaimana?"

Notaris itu menatapnya hati-hati.

"Pastikan Pak Hendra bertanggung jawab tertulis. Jangan hanya percaya janji."

Clara keluar dengan wajah gelap.

Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada diri sendiri apakah Hendra benar-benar bisa menyelamatkannya.

Di sisi lain kota, Hendra menerima pesan dari Clara berisi foto dokumen yang ia bawa ke notaris.

"Mas, aku butuh kepastian tertulis."

Hendra membaca pesan itu dengan wajah mengeras.

Dulu Clara selalu meminta dengan suara manja. Sekarang kalimatnya berubah menjadi tuntutan. Ratna menuntut haknya lewat pengacara. Clara menuntut jaminan lewat notaris. Mama Sulastri menuntut pelayanan. Raka menuntut solusi.

Semua perempuan dalam hidupnya, dengan cara berbeda, sedang menagih sesuatu.

Dan Hendra tidak siap membayar semuanya.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!