NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:373
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Kristal Merah yang Jatuh di Danau

"Emm... bagaimana kalau kita memanggilnya White? White Crystal. Kurasa nama itu sangat cocok karena rambutnya seputih salju dan dia terlahir dari kristal ajaib di hutan. Bagaimana menurutmu?" Sarah menaik-turunkan alisnya, meminta persetujuan suaminya.

Lucas tersenyum lebar, mengangguk mantap. "Nama yang sangat indah dan unik. Kalau begitu, aku berangkat dulu, Sarah!"

Lucas bergegas keluar dari rumah. Tak lama kemudian, deru suara motor tuanya terdengar membelah keheningan bukit Arcania, melaju kencang menuju Kota Luminara yang berjarak cukup jauh demi memborong segala kebutuhan bayi mereka.

Sementara itu, di dalam kamar, Sarah mencoba menenangkan White yang kembali merengek kecil. Meskipun ini adalah pengalaman pertamanya merawat seorang bayi, anehnya gerakan tubuh Sarah tampak begitu cekatan dan naluriah, layaknya seorang ibu yang sudah berpengalaman bertahun-tahun.

"Cup, cup, cup... Tenang ya, Sayang. Mulai sekarang Ibu akan selalu ada untuk menjagamu, Nak," bisik Sarah lembut seraya mengelus dahi mungil White.

Sentuhan penuh kasih itu ternyata sangat ampuh; tangisan White perlahan mereda, digantikan oleh suara lenguhan kecil yang menggemaskan sebelum akhirnya ia terlelap kembali.

Sarah terdiam sejenak, memandangi wajah mungil yang tenang itu dengan saksama. Namun, di tengah keheningan itu, sebuah perasaan asing mendadak merayap di benaknya.

Kenapa suasana ini rasanya tidak asing? Aku merasa pernah menggendong bayi di tengah situasi mencekam sebelumnya... tapi di mana? batinnya bertanya-tanya, dahinya berkerut dalam.

Ada kilasan memori semu yang samar—seolah-olah dia pernah berada di bawah bayang-bayang ketakutan yang hebat. Perasaan itu begitu nyata hingga membuat dada Sarah mendadak sesak.

Sarah segera menggelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha menyadarkan diri dari lamunan aneh tersebut. "Apa yang sedang kupikirkan? Itu tidak mungkin. Jelas-jelas aku belum pernah hamil atau memiliki anak sebelumnya."

Sarah kembali tersenyum manis, merapatkan kain selimut rajut miliknya untuk membungkus tubuh White agar tetap hangat di dalam dekapannya.

"Ya Tuhan, aku berharap anak ini adalah pertanda baik bagi keluarga kami. Semoga dia membawa warna baru yang indah."

Kini, bayi mungil yang mereka namai White itu telah terlelap dengan sangat damai di pelukan Sarah.

Tanpa pernah disadari oleh siapa pun di Bumi, bayi itu adalah putri dari klan bangsawan tertinggi dari dimensi luar—Planet Diamond—yang berhasil selamat melintasi robekan ruang dan waktu.

Namun, takdir tidak membiarkan perjalanan itu berjalan sempurna. Di saat White mendarat dengan selamat di pelukan sepasang petani di Arcania, sang pelindung—Alan—telah terlempar oleh arus dimensi ke belahan kota yang berbeda.

****

Jauh dari ketenangan perkebunan Arcania, di bagian utara wilayah yang sama, berdirilah Kota Luminara. Kota ini didominasi oleh arsitektur kuno dan hutan-hutan berkabut kelabu yang pekat.

Di jantung hutan berkabut tersebut, berdiri sebuah kastil megah berstruktur batu hitam yang memancarkan aura kuno dan dingin.

Tepat di area danau buatan yang luas di halaman belakang kastil, ruang udara mendadak berputar gila. Langit yang semula gelap oleh kabut tipis tiba-tiba robek, memunculkan distorsi spasial yang mengerikan.

Bukan tubuh telanjang yang jatuh, melainkan sebuah objek masif. Bongkahan batu bulat besar sewarna darah—sebuah kristal merah menyala—terlempar keluar dari pusat robekan dimensi, jatuh bebas dari ketinggian belasan meter menabrak permukaan air.

Hantaman batu kristal merah raksasa itu menciptakan ledakan hidrolik yang teramat dahsyat di dalam danau. Benturan keras tersebut memicu gelombang ombak raksasa yang menggulung liar ke tepi daratan, merusak seluruh ekosistem teratai yang tumbuh di permukaannya.

Tekanan energi magis dari benturan itu seketika membuat cangkang kristal merah tersebut retak hebat dan meledak di dalam air, melepaskan gelombang kejut murni yang menghalau air danau hingga memunculkan dasar kolam sesaat.

Di dalam pecahan kristal merah yang hancur itulah, tubuh Alan terlindung dari benturan fatal, meski bocah berambut putih itu langsung tenggelam ke dasar kolam dalam kondisi pingsan akibat kelelahan sihir.

Di saat yang sama, di atas balkon lantai dua kastil yang menghadap langsung ke arah danau, seorang anak laki-laki berambut hitam pekat dengan mata senada sedang asyik menyusun balok kayu bersama pengasuhnya. Anak itu bernama Justin.

Justin memiliki usia yang sama dengan Alan, namun takdir hidupnya tidak kalah misterius. Dia adalah anak angkat dari pemilik kastil megah ini, setelah ditemukan telantar di tengah hutan oleh penjaga kastil bertahun-tahun lalu.

Meskipun terlahir sebagai manusia biasa, sang pemilik kastil telah melakukan sesuatu padanya—mengubah esensi tubuh Justin menjadi makhluk yang sama dengan dirinya.

Suara hantaman masif dari arah danau seketika merobek keheningan sore itu. Getaran kekuatannya bahkan sampai menggetarkan pilar-pilar batu balkon, menjatuhkan balok-balok kayu mainan milik sang tuan muda.

"AAAAAA!"

Justin berteriak kencang, refleks menjatuhkan sisa mainannya dan menutup kedua telinganya dengan rapat.

Tubuh kecilnya gemetar hebat ketakutan akibat dentuman yang meremukkan kesunyian tersebut.

Dengan gerakan cepat, bocah berambut hitam itu melompat ke dalam pangkuan pengasuhnya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita paruh baya tersebut.

"Justin, jangan takut! Tenanglah, Nak, Aku di sini... aku akan selalu melindungimu," ucap Lily, sang pengasuh, dengan nada menenangkan sembari mendekap erat tubuh Justin dan mengelus punggungnya berulang kali untuk meredakan histeria sang tuan muda.

Sementara itu, situasi di lantai bawah kastil berubah menjadi kepanikan massal. Puluhan penjaga berzirah hitam, baik yang berjaga di koridor dalam maupun pos luar, berlarian secepat kilat dengan senjata terhunus menuju ke tepi danau, mengira ada serangan faksi musuh atau jatuhnya meteor sihir.

Di tengah kegaduhan para penjaga, langkah kaki yang berat namun penuh wibawa terdengar melangkah keluar dari pintu utama kastil. Sosok pria bertubuh jangkung dengan jubah beludru kelam melangkah mendekati tepi danau yang airnya masih bergolak kemerahan akibat sisa energi kristal yang hancur.

Jacob Salvatore. Sang pemilik kastil sekaligus pemimpin tertinggi yang ditakuti di wilayah Luminara, berdiri tegak dengan mata tajam yang berkilat di balik bayangan kabut.

"Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Laporkan padaku sekarang!" perintah Jacob, suara beratnya yang bariton bergaung penuh otoritas, seketika membungkam bisik-bisik panik para bawahannya.

"Kami tidak tahu, Yang Mulia. Tadi secara mendadak terdengar gemuruh ledakan dahsyat yang getarannya bersumber dari dalam jantung danau ini," lapor salah seorang penjaga berzirah hitam, suaranya terdengar kaku namun penuh ketakutan.

Sang Raja, Jacob, mengerutkan dahinya yang tegas. Gurat-gurat kebingungan tampak jelas di wajahnya yang seolah dipahat dari batu pualam kaku.

Pria abadi itu mengalihkan tatapan matanya yang sedingin es ke arah permukaan danau buatan di belakang kastil.

Pusaran air yang beberapa saat lalu bergejolak hebat, menggulung liar hingga menghancurkan tanaman air, kini perlahan-lahan mulai memudar dan menyusut menjadi ketenangan yang sunyi.

Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama. Dari kegelapan dasar kolam yang terdalam, sebuah pendaran cahaya kemerahan mendadak muncul.

Air danau itu yang sangat jernih layaknya kaca membuat siluet dari objek berkilau di bawah sana terlihat begitu nyata, memancarkan gelombang energi yang terasa asing di kulit mati para vampir.

"Cahaya apa itu? Mengapa ada distorsi energi yang sekuat itu di dasar danau milikku?" gumam Jacob, sepasang matanya menyipit penuh selidik.

"Saya juga belum bisa memastikannya, Yang Mulia. Haruskah kita mengutus tim untuk mengevakuasi objek tersebut?" tanya Gustav, pria bertubuh tegap yang menjadi tangan kanan sekaligus orang kepercayaan tertinggi Jacob selama berabad-abad.

"Kau benar, Gustav. Kita harus memastikan benda apa yang berani mengusik ketenangan Luminara."

Atas perintah dari Jacob, dua penjaga berzirah hitam segera melompat ke dalam air tanpa menimbulkan riak yang berarti.

Mereka menyelam semakin dalam menembus kegelapan danau tanpa raut ketakutan sedikit pun. Sebagai bangsa Vampir, organ tubuh mereka telah berhenti berfungsi sejak lama; paru-paru mereka tidak lagi membutuhkan oksigen, dan tubuh abadi mereka tidak lagi digerakkan oleh detak jantung.

Bagi makhluk supernatural yang hidup di dalam bayang-bayang malam seperti mereka, mati tenggelam hanyalah sebuah konsep konyol yang mustahil terjadi.

Hanya butuh waktu kurang dari dua menit bagi para pencari tersebut untuk kembali naik ke permukaan. Dengan kekuatan fisik mereka yang berada di atas rata-rata manusia, kedua penjaga itu berhasil menggotong sebuah objek masif ke daratan.

Benda itu diletakkan dengan hati-hati di atas hamparan rumput basah di tepi danau, tepat di bawah ujung jubah beludru kelam sang Raja.

Bentuknya bulat lonjong sempurna, menyerupai sebutir telur purba berukuran masif dengan tekstur luar berupa bongkahan batu kristal berwarna merah membara.

Objek itu seolah berdenyut, memancarkan sisa-sisa hawa panas yang langsung menguapkan embun di sekitarnya.

"Mengapa struktur luarnya menyerupai kristal murni, tetapi memiliki bentuk seperti telur makhluk hidup?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!