NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:760
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21- Hubungan resmi

Lanjut...

Sementara Alena dan Bara sibuk membersihkan bagian dalam toko, di seberang jalan, sebuah mobil sedan hitam mewah berkaca gelap perlahan menurunkan kaca jendela belakangnya beberapa sentimeter.

Di dalam mobil itu, duduk seorang pemuda dengan pakaian bermerek dari ujung kepala hingga kaki. Dialah Mico. Lalu di sampingnya, sang ibu tiri, wanita paruh baya dengan tatapan mata sedingin es yang bernama Sofia, sedang menyesap rokok elektriknya dengan gusar.

"Sialan! Dari mana si bodoh itu mendapatkan uang tiga miliar tunai dalam sekejap?!" umpat Mico sambil memukul kemudi dengan kesal.

Sofia mengembuskan asap rokoknya perlahan, namun matanya yang tajam menatap ke arah dalam toko bunga dan memperhatikan interaksi hangat antara Bara dan Alena dari kejauhan.

"Uang itu pasti hasil dari tabungan rahasia yang ditinggalkan mendiang ibunya," desis Sofia. "Tapi yang membuatku heran adalah wanita itu. Kenapa Bara sampai rela membuang uang sebanyak itu hanya untuk melindungi sebuah toko bunga murahan dan pemiliknya?"

"Apa Ibu pikir mereka benar-benar pacaran?" tanya Mico, seraya menoleh pada ibunya.

"Jika benar begitu, berarti kita sudah menemukan kelemahan terbesar Bara," senyum licik perlahan terukir di wajah Sofia yang berlapis riasan tebal. "Anak itu selalu tampak tidak punya kelemahan. Dia dingin dan tidak peduli pada harta. Tapi sekarang... dia menyerahkan kelemahannya sendiri di atas piring perak kepada kita."

Sementara itu di dalam toko, Alena tiba-tiba merasakan firasat aneh. Bulu kuduknya meremang sesaat lalu ia menghentikan gerakan sapunya dan menoleh ke arah luar jendela kaca yang retak.

Naluri terlatihnya sebagai mantan orang dunia bawah berbisik bahwa ada sepasang mata yang baru saja mengawasinya.

"Nona Alena? Ada apa?" tanya Bara, yang menyadari perubahan ekspresi Alena, lalu menghentikan aktivitasnya menumpuk vas-vas yang masih utuh.

Alena pun segera menguasai dirinya dan tersenyum tenang. "Tidak apa-apa, Bara. Hanya sedikit lelah."

Bara kemudian berjalan mendekat, lalu dengan lembut mengambil alih gagang sapu dari tangan Alena. "Kalau begitu, silakan istirahat. Biar saya yang menyelesaikan sisanya. Ini perintah dari... pendamping Anda," ucap Bara setengah berbisik, dengan rona merah yang menghiasi pipinya.

Alena tertegun sejenak, lalu tawa renyahnya pun pecah. Sikap Bara yang terkadang kaku namun sangat perhatian membuat hatinya terasa hangat.

"Baiklah, Tuan Pelindung. Aku akan membuatkan kita teh hangat di belakang," jawab Alena sambil melangkah menuju dapur kecil di bagian belakang toko.

(Hmmm... Apa hubungan mereka akan semulus yang di bayangkan? Kita tunggu saja di episode berikutnya ya ...)

____

_______

Satu minggu telah berlalu sejak badai sore yang menghancurkan Alena’s Floral Boutique. Berkat kerja keras Bara yang membantu, toko bunga itu pun kini telah berdiri kembali dengan wajah baru yang jauh lebih menawan.

Dinding kaca yang sempat retak telah diganti, rak-rak kayu diganti dengan desain minimalis yang elegan, dan aroma segar dari ratusan bunga potong kembali memenuhi ruangan.

Seiring dengan pulihnya toko tersebut, hubungan antara Alena dan Bara pun memasuki babak baru.

Status sebagai sepasang kekasih kini tidak lagi sekadar strategi di atas kertas. Meski awalnya canggung, perlahan tapi pasti, kedekatan mereka tumbuh menjadi sesuatu yang alami dan manis.

Siang itu, matahari bersinar cerah. Toko sedang dalam jam senggang setelah lonjakan pesanan di pagi hari. Alena duduk di dekat meja kasir dan sibuk merangkai beberapa tangkai mawar putih dan baby's breath untuk pajangan di etalase depan.

Sementara itu, Bara berdiri tidak jauh darinya, sedang menyemprotkan air ke daun-daun tanaman monstera yang baru. Sesekali, Bara mencuri pandang dan mendengar detak jantungnya sendiri setiap kali melirik ke arah Alena.

Hingga tiba-tiba...

"Aww!"

Sebuah pekikan kecil lolos dari bibir Alena. Ia refleks menarik jari telunjuknya d setitik darah merah pekat pun muncul di ujung kulitnya yang putih. Rupanya, ia kurang fokus dan jarinya tertusuk duri mawar yang cukup tajam.

Set.

Belum sempat Alena mencari tisu, botol semprotan yang dipegang Bara sudah diletakkan begitu saja. Pria itu lalu melangkah lebar dengan raut wajah panik.

Dalam sekejap, ia sudah berada di depan Alena dan meraih pergelangan tangan wanita itu dengan sangat hati-hati.

"Nona Alena! Anda terluka?" tanya Bara, suaranya terdengar cemas, bahkan berlebihan untuk ukuran luka gores kecil Alena.

Alena pun terkekeh pelan saat melihat reaksi Bara. "Bara, ini hanya tusukan duri kecil. Aku bukan tergores pedang."

Namun Bara tidak peduli dengan gurauan Alena. Dengan telaten, ia mengambil kotak p3k kecil yang sudah ia siapkan di bawah meja kasir.

Ia lalu membersihkan titik darah di jari Alena dengan kapas antiseptik secara perlahan, seolah sedang memegang barang porselen yang sangat rapuh.

"Tetap saja harus diobati, Nona. Kulit Anda bisa infeksi," gumam Bara serius sambil menempelkan plester bergambar kartun lucu yang entah sejak kapan ia beli ke jari Alena.

Saat Bara sibuk menempelkan plester, Alena memanfaatkan momen itu untuk menatap wajah kekasihnya dari jarak dekat. Hidungnya yang mancung, rahangnya yang tegas, dan tatapan matanya yang selalu fokus pada keselamatan Alena.

"Bara," panggil Alena lembut.

"Ya, Nona?" Bara mendongak, dan seketika pandangan mereka bertemu dengan jarak wajah mereka yang hanya berkisar dua puluh senti.

"Kita sudah seminggu berpacaran, kan?" ucap Alena sambil tersenyum tipis dengan mata yang berbinar. "Bisa tidak, mulai sekarang kamu berhenti memanggilku 'Nona'? Terdengar seperti aku ini majikanmu."

Bara seketika membeku. Semburat merah muda pun kembali merayap di pipi dan ujung telinganya.

"Ekhem!" Ia berdehem pelan dan mencoba menetralkan kegugupannya, lalu melepaskan tangan Alena dengan sopan setelah memastikan plester terpasang sempurna.

"Lalu... saya harus memanggil Anda apa?" tanya Bara, agak canggung.

"Panggil saja 'Alena'. Tanpa embel-embel," jawab Alena.

"Glek!."

Bara menelan ludah dan mencoba melatih lidahnya. "A... Alena."

Mendengar namanya disebut oleh Bara dengan nada selembut itu, kini giliran jantung Alena yang berdesir aneh. Ia lalu memalingkan wajahnya ke arah buket bunga untuk menyembunyikan senyumnya yang melebar. "Nah, begitu lebih baik."

**

Meskipun status mereka sudah berubah, Bara tetaplah Bara. Pria itu selalu memegang teguh batas kesopanan yang tinggi. Ia tidak pernah lancang mengambil kesempatan, bersikap kurang ajar, atau melakukan kontak fisik yang berlebihan.

Setiap sentuhan yang ia berikan selalu didasari oleh rasa hormat yang mendalam untuk melindungi, bukan untuk menguasai.

(Hmm... Laki-laki idaman kayaknya 🥰)

Sore harinya, saat hujan gerimis mulai membasahi jalanan, mereka duduk bersama di kursi sudut toko sambil menikmati dua cangkir teh kamomil hangat yang dibuat Alena.

"Bara, apa orang-orang di rumahmu sudah tau hubungan kita?" tanya Alena, memulai percakapan yang sedikit lebih serius sambil memandangi uap tehnya.

Bara meletakkan cangkirnya perlahan. "Mico sempat menyuruh beberapa orang untuk berkeliaran di sekitar sini beberapa hari lalu. Tapi Anda tidak perlu khawatir, Al—Alena. Saya pastikan mereka tidak akan pernah bisa menyentuh toko ini lagi. Ataupun menyentuhmu."

Alena menatap Bara dan merasakan ketulusan yang murni dari setiap kata yang diucapkan pria itu.

Bagi seorang wanita yang pernah hidup di dunia mafia yang penuh dengan pengkhianatan dan kepalsuan, ketulusan Bara adalah kemewahan terbesar yang pernah ia miliki setelah kepergian Marco.

"Dan untuk hubungan kita, entah mereka akan tau atau tidak, saya tidak peduli. Jika tiba saatnya, saya akan langsung membawamu ke rumah dan menemui ayahku," lanjut Bara.

Setelah beberapa detik, Alena mengulurkan tangannya di atas meja, lalu dengan lembut menyentuh punggung tangan Bara. Sentuhan kecil itu membuat Bara sedikit tersentak, namun ia tidak menarik tangannya.

Sebaliknya, Bara perlahan membalikkan telapak tangannya dan membiarkan jemari Alena bertaut di sela-sela jarinya dengan genggaman yang hangat dan menenangkan.

"Aku tau, Bara. Aku memercayaimu."

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!