Cinta pertama seharusnya indah.
Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.
Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.
Tapi di balik senyum mereka... ada darah.
15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.
Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.
Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.
Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.
Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."
Salah mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
BAB 28
BAYANGAN YANG BELUM SELESAI
Sore itu langit terlihat cerah.
Angin berembus pelan, menggoyangkan dedaunan pohon angsana yang sudah menjadi saksi pertemuan mereka selama beberapa bulan terakhir.
Layla turun lebih dulu dari mobil.
Tas kecil berisi buku gambar menggantung di bahunya, sementara tangan kanannya menggenggam sebuah pesawat kertas yang mulai kusut karena terlalu sering dimainkan.
"Papa, Raka belum datang ya?"
Ahber mengunci pintu mobil lalu menggeleng.
"Sepertinya belum."
Layla mengangguk pelan.
Ia tidak langsung berlari menuju ayunan seperti biasanya. Gadis kecil itu memilih duduk di bangku kayu sambil memperhatikan jalan masuk taman.
Beberapa menit berlalu.
Sebuah mobil berwarna putih akhirnya memasuki area parkir.
Mata Layla langsung berbinar.
"Itu!"
Pintu mobil terbuka.
Raka turun sambil membawa gulungan kertas besar.
Belum sempat Eskay menutup pintu mobil, Layla sudah berlari menghampiri.
"Raka!"
"Hai!"
Mereka saling tersenyum.
"Aku bawa sesuatu."
Raka mengangkat gulungan kertas itu tinggi-tinggi.
"Apa itu?"
"Rahasia."
Layla langsung memasang wajah kesal.
"Ih... pelit."
"Bukan pelit."
"Kalau sekarang dibuka, nanti nggak seru."
Layla akhirnya mendengus pelan.
"Ya sudah."
Melihat tingkah kedua anak itu, Ahber dan Eskay hanya saling menatap lalu tersenyum tipis.
"Anak-anak memang cepat akrab."
"Lebih cepat dari orang tuanya."
Ucapan Ahber membuat Eskay tertawa kecil.
"Iya juga."
Mereka berjalan menuju bangku langganan.
Layla dan Raka sudah lebih dulu menggelar buku gambar.
Namun hari itu mereka tidak langsung menggambar.
Raka membuka gulungan kertas yang sejak tadi disembunyikannya.
Sebuah peta.
Bukan peta sungguhan.
Melainkan gambar taman yang dibuat dengan krayon warna-warni.
"Ini apa?"
Layla memiringkan kepala.
"Peta petualangan."
"Petualangan?"
"Iya."
Raka menunjuk beberapa tanda silang di atas gambar.
"Nanti kita cari tempat-tempat ini."
Layla langsung bertepuk tangan.
"Asyik!"
Tak lama kemudian keduanya mulai berlari mengelilingi taman.
Kadang mereka berhenti di dekat pohon besar.
Kadang di dekat kolam kecil.
Kadang hanya karena menemukan batu yang bentuknya unik.
Ahber memperhatikan dari kejauhan.
Senyumnya perlahan muncul.
Sudah lama ia tidak melihat Layla seceria itu.
Eskay menuangkan teh hangat ke dalam dua gelas kertas.
"Nih."
Ahber menerimanya.
"Terima kasih."
Mereka kembali diam.
Namun kali ini tidak terasa canggung.
Keheningan di antara mereka justru terasa nyaman.
"Ber..."
"Hm?"
"Aku sering kepikiran."
"Soal apa?"
Eskay menatap ke arah dua anak yang sedang tertawa.
"Kalau dulu kita nggak berpisah..."
"...mungkin semuanya akan berbeda."
Ahber tidak langsung menjawab.
Tatapannya mengikuti Layla yang sedang mengejar Raka sambil tertawa.
"Mungkin."
"Tapi hidup nggak pernah kasih kesempatan buat ngulang."
Eskay mengangguk pelan.
"Iya."
"Tapi setidaknya..."
"...sekarang kita masih diberi kesempatan memperbaiki."
Belum sempat Ahber menjawab...
Suara benturan keras terdengar dari arah taman bermain.
Brak!
"Layla!"
Ahber langsung berdiri.
Di dekat perosotan, Layla terduduk sambil memegangi lututnya.
Raka berdiri di sampingnya dengan wajah panik.
"Aku nggak sengaja..."
Ahber berlari menghampiri.
"Lututnya sakit?"
Layla menggigit bibir bawahnya.
Air mata mulai menggenang.
"Sedikit..."
Eskay ikut berjongkok.
Untungnya hanya lecet kecil.
Ahber mengeluarkan tisu basah dari tas.
Dengan hati-hati ia membersihkan luka di lutut Layla.
"Perih?"
Layla mengangguk pelan.
"Iya..."
Raka menundukkan kepala.
"Maaf..."
"Aku tadi lari terlalu cepat."
Layla mengangkat wajahnya.
Lalu menggeleng.
"Bukan salah kamu."
"Aku juga ikut lari."
Ahber melirik Raka.
"Boleh bantu Papa?"
Raka langsung mengangguk.
"Boleh."
"Coba pegang botol antiseptiknya."
Raka segera membuka tutup botol dan menyerahkannya.
Beberapa menit kemudian luka kecil itu sudah dibersihkan.
Layla kembali tersenyum.
"Nggak sakit lagi."
"Yakin?"
"Iya."
Raka menghela napas lega.
"Tadi aku takut banget."
Layla malah tertawa.
"Aku kan kuat."
"Kata Papa, pahlawan boleh nangis."
"Tapi habis itu harus bangun lagi."
Ahber tersenyum mendengar kalimatnya sendiri diulang oleh Layla.
Di sisi lain, Eskay memandang Ahber beberapa saat.
Tatapan itu penuh rasa syukur.
Ahber benar-benar menjadi ayah yang hebat.
Sementara mereka kembali duduk di bangku...
Tanpa ada yang menyadari, seorang pria bertopi hitam berdiri di balik pohon yang cukup jauh dari mereka.
Tatapannya tidak lepas dari Layla.
Lalu perlahan berpindah kepada Ahber.
Pria itu mengeluarkan sebuah foto lama dari saku jaketnya.
Foto yang sama.
Foto empat sahabat lima belas tahun yang lalu.
Ia menatap Ahber cukup lama sebelum menyimpannya kembali.
"Belum selesai..."
gumamnya pelan.
"Sebentar lagi... kalian akan mengingat semuanya."
Pria itu berbalik.
Lalu menghilang di antara keramaian taman.
Sementara Ahber sama sekali tidak menyadari...
bahwa masa lalu yang selama ini ia anggap telah berakhir, perlahan mulai kembali menghampirinya.
BERSAMBUNG...
like + bunga biar semangat deh/Smile/