Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5
Naura pindah ke rumah keluarga Pradipta keesokan paginya.
Barangnya hanya dua koper dan satu tas ransel.
Pak Jaya menjemputnya di gerbang cluster dengan mobil rumah. Ketika melihat jumlah barangnya, pria tua itu sempat terdiam.
"Hanya ini, Mbak?"
"Iya, Pak."
"Untuk tinggal sebulan?"
"Kalau kurang, saya bisa ambil lagi."
Pak Jaya tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya membantu mengangkat koper ke bagasi.
Naura menghargai itu.
Orang yang tahu kapan tidak bertanya biasanya lebih bijak daripada orang yang merasa semua cerita berhak dibuka.
Kamar Naura berada di sisi belakang rumah, dekat dapur dan ruang staf, tetapi tidak sempit. Ada tempat tidur single, lemari, meja kecil, kamar mandi dalam, dan jendela menghadap taman samping.
Di kehidupan sebelumnya, kamar ini lebih baik daripada kost terakhirnya.
Naura meletakkan koper, merapikan pakaian seperlunya, lalu keluar.
Pak Jaya sudah menunggu dengan buku catatan.
"Saya jelaskan rutinitas Bapak dan Ibu."
Naura mengeluarkan tablet kecil dan stylus. "Silakan, Pak."
Pak Jaya tampak puas.
Mereka mulai dari dapur, ruang makan, ruang obat, kamar Bu Marini dan Pak Aditya, taman belakang, hingga gudang perlengkapan. Naura mencatat semua: jam makan, pantangan, kebiasaan minum obat, menu favorit, jadwal fisioterapi ringan Pak Aditya, jam Bu Marini menonton drama, dan tanaman mana yang tidak boleh dipindahkan karena punya nilai sentimental.
"Bu Marini suka bicara," kata Pak Jaya pelan ketika mereka di lorong.
"Saya lihat begitu."
"Tapi kalau beliau tiba-tiba diam, jangan dipaksa. Biasanya sedang rindu cucu."
Naura berhenti menulis sebentar.
"Mas Arkan?"
Pak Jaya mengangguk. "Beliau sibuk. Bukan tidak sayang, tapi..."
Ia tidak menyelesaikan kalimat.
Naura memahami.
Ada orang yang mencintai dengan uang, fasilitas, dokter terbaik, rumah aman, dan sopir siap siaga. Tapi orang tua kadang hanya ingin didengarkan saat mengeluh tentang sambal terlalu pedas.
Pukul tujuh, Naura menyiapkan sarapan.
Ia tidak membuat menu rumit. Bubur ayam ringan dengan suwiran ayam kampung, telur rebus setengah matang untuk Pak Aditya sesuai rekomendasi dokter, tumis labu siam sedikit, buah potong, dan teh hangat.
Bu Marini datang ke ruang makan dengan walker ringan, didampingi Pak Jaya.
"Wah, wangi."
Pak Aditya menyusul sambil membawa koran.
"Jangan terlalu memuji dulu. Coba rasanya."
Bu Marini mencicipi bubur.
Ia berhenti bicara.
Pak Aditya melirik istrinya. "Kenapa?"
"Enak."
"Kamu selalu bilang begitu kalau ada orang baru."
"Tidak. Yang kemarin itu hambar seperti kardus."
Pak Jaya pura-pura batuk.
Naura menunduk menahan senyum.
Pak Aditya mencicipi. Wajahnya tetap datar, tetapi sendoknya bergerak lagi.
Itu cukup.
Naura mundur ke dapur kecil staf untuk makan bagiannya sendiri. Ia sudah menyiapkan porsi terpisah, bukan sisa. Bu Ratih selalu menekankan: pekerja yang lapar tidak bisa merawat orang lain dengan baik.
Baru dua suap, Bu Marini memanggil dari ruang makan.
"Naura!"
Naura segera keluar. "Ada yang kurang, Bu?"
"Kamu makan di mana?"
"Di dapur belakang, Bu."
"Kenapa tidak di sini?"
Naura tersenyum sopan. "Saya staf, Bu."
Bu Marini mengerutkan dahi. "Staf juga manusia."
Pak Aditya menurunkan koran. "Marini."
"Apa? Aku cuma tanya."
Naura menjawab dengan hati-hati. "Terima kasih, Bu. Tapi untuk awal, lebih baik saya mengikuti batas kerja dulu. Kalau Bapak dan Ibu membutuhkan saya, saya tetap dekat."
Bu Marini menatapnya lama. Lalu ia tersenyum.
"Kamu pintar menjaga jarak."
"Saya sedang belajar menjaga pekerjaan."
Pak Aditya berkata pelan, "Itu jawaban bagus."
Setelah sarapan, Naura memeriksa taman belakang. Benar kata Bu Marini, beberapa tanaman tampak hampir menyerah. Bukan mati, hanya tidak diperhatikan dengan benar. Tanah terlalu padat, beberapa pot tergenang, daun kering tidak dibersihkan.
Ia menggulung lengan baju dan mulai bekerja.
Bu Marini duduk di teras mengawasinya.
"Kamu tidak takut panas?"
"Takut, Bu. Tapi kalau tanamannya tidak diurus sekarang, nanti makin susah."
"Dulu aku suka berkebun."
"Sekarang masih bisa, Bu. Tinggal pelan-pelan."
Bu Marini diam.
Naura mengangkat pot kecil berisi melati yang akarnya sudah terlalu padat.
"Tanaman ini harus dipindah, Bu. Potnya terlalu sempit."
"Itu pemberian Arkan waktu dia SMP."
Naura berhenti.
Jadi ini salah satu tanaman yang tidak boleh sembarangan disentuh.
"Kalau begitu saya pindahkan ke pot lebih besar, tapi tanah lamanya tetap dibawa. Supaya tidak kaget."
Bu Marini memandang melati itu. "Tanaman juga bisa kaget?"
"Bisa. Kalau akarnya tiba-tiba berubah lingkungan, dia perlu waktu adaptasi."
Bu Marini tersenyum tipis. "Manusia juga begitu."
Naura mengangguk.
"Iya, Bu."
Mungkin Bu Marini sedang bicara tentang tanaman. Mungkin tentang cucunya. Mungkin tentang dirinya sendiri.
Atau tentang Naura yang baru saja mencabut dirinya dari hidup lama.
Menjelang siang, telepon rumah berbunyi. Pak Jaya mengangkat, lalu menghampiri Bu Marini.
"Mas Arkan akan mampir sebentar sore ini."
Bu Marini langsung duduk lebih tegak. "Benar?"
"Iya, Bu."
"Naura!" Bu Marini memanggil dengan suara terlalu cerah.
Naura yang sedang mencuci tangan menoleh. "Iya, Bu?"
"Sore nanti masak yang enak. Cucu saya pulang."
Pak Aditya mendengus dari balik koran. "Seolah presiden mau datang."
"Lebih penting dari presiden," balas Bu Marini.
Naura tersenyum. "Mas Arkan ada pantangan makanan?"
Bu Marini berpikir. "Dia makan apa saja, tapi tidak suka ribet. Kalau kerja, kadang lupa makan. Kalau di rumah, dia suka masakan yang ada kuahnya. Tapi dia tidak akan bilang."
"Baik."
Naura menyusun menu sederhana: soto ayam bening, perkedel kentang, tempe goreng, sambal kecil, nasi hangat, dan puding gula aren untuk penutup.
Ia memasak tanpa terburu-buru. Dapur besar itu mulai hidup. Aroma kaldu ayam, serai, daun jeruk, dan bawang goreng menyebar sampai ruang keluarga.
Pukul lima lewat tiga puluh, suara mobil masuk halaman.
Bu Marini langsung mematikan televisi.
Pak Aditya melipat koran dengan gerakan yang pura-pura santai.
Naura sedang menata meja ketika Pak Jaya berjalan ke pintu depan.
Beberapa detik kemudian, langkah sepatu terdengar.
Naura mengangkat kepala.
Laki-laki yang masuk lebih tinggi daripada yang ia ingat dari sekilas pandangan di depan gedung Mahardika. Kemeja putihnya rapi, jas hitam tergantung di lengan, wajahnya tegas dan dingin seperti orang yang tidak terbiasa tersenyum untuk menyenangkan siapa pun.
Arkan Pradipta.
Naura mengenalnya dari berita bisnis.
CEO Aruna Capital. Cucu tertua keluarga Pradipta. Salah satu investor yang dulu pernah mengejar proyek NewTech Robotics, proyek yang akhirnya dimenangkan Mahardika karena Naura bekerja nyaris tanpa tidur.
Di kehidupan lalu, ia hanya pernah melihat namanya di dokumen dan foto media.
Sekarang orangnya berdiri di ruang makan.
Bu Marini membuka tangan. "Arkan!"
Wajah dingin laki-laki itu melunak sedikit. Ia mendekat dan mencium tangan neneknya.
"Nek."
"Akhirnya pulang juga. Nenek kira kamu lupa jalan ke rumah ini."
"Saya baru meeting selesai."
"Meeting terus. Nanti kamu menikah dengan ruang meeting saja."
Pak Aditya tertawa pendek.
Arkan seperti sudah kebal. Ia menoleh, lalu pandangannya berhenti pada Naura.
Mata mereka bertemu.
Tidak lama.
Tapi cukup membuat udara di sekitar meja terasa berubah.
Bu Marini langsung bersemangat. "Ini Naura. Yang Nenek ceritakan."
Naura menunduk sopan. "Selamat sore, Pak Arkan."
Arkan mengangguk singkat.
"Naura."
Suaranya rendah. Dingin. Tidak kasar, hanya sangat hemat.
Bu Marini mencubit lengan cucunya. "Jawab yang benar. Jangan seperti orang menagih utang."
Arkan menatap neneknya. Ada sedikit ketidakberdayaan di wajahnya.
"Selamat sore, Mbak Naura."
Bu Marini puas. "Nah."
Naura menahan senyum. "Makan malam sudah siap. Bapak, Ibu, Pak Arkan bisa langsung duduk."
Arkan melirik meja.
"Soto?"
"Iya, Pak."
"Saya tidak makan banyak."
Bu Marini langsung memotong. "Dia selalu bilang begitu. Jangan percaya."
Naura hanya mengangguk.
Makan malam dimulai.
Awalnya suasana canggung. Arkan menjawab pertanyaan neneknya dengan kalimat pendek. Pak Aditya sesekali menyindir jadwalnya yang terlalu padat. Bu Marini mengeluh cucunya kurus, padahal tubuh laki-laki itu jelas tegap.
Naura berdiri agak jauh, siap jika dibutuhkan.
Arkan mencicipi soto.
Sendoknya berhenti sebentar.
Bu Marini langsung melihat. "Enak, kan?"
Arkan menatap mangkuknya.
"Lumayan."
"Lumayan itu artinya enak sekali kalau keluar dari mulut Arkan," kata Pak Aditya.
Bu Marini tertawa.
Naura menunduk.
Setelah makan, Arkan membantu membawa piringnya sendiri ke sisi meja.
Gerakannya kaku. Mungkin jarang melakukannya, tetapi setidaknya ia mencoba.
Naura maju. "Biar saya saja, Pak."
Arkan menarik tangannya terlalu cepat.
Siku jasnya menyenggol gelas.
Gelas itu jatuh.
Pecah.
Air menyebar di lantai.
Ruangan mendadak hening.
Arkan menatap pecahan kaca seperti benda itu baru saja mengkhianatinya.
Bu Marini menutup mulut.
Pak Aditya pura-pura batuk.
Naura mengambil langkah maju.
"Pak Arkan, mohon mundur sedikit. Kacanya tajam."
Arkan mundur setengah langkah.
Telinganya memerah.
Naura berjongkok, mengambil lap dan alat pembersih. Ia tidak tertawa. Tidak berkomentar. Tidak membuatnya semakin malu.
Tapi Bu Marini tidak sebaik itu.
"Arkan, kamu ini CEO atau ancaman untuk gelas?"
Wajah Arkan tetap dingin.
Sayangnya, telinganya semakin merah.
Naura menunduk lebih rendah.
Kali ini ia benar-benar harus menahan senyum.
Ia belum tahu, gelas pecah itu hanya permulaan.
Laki-laki sedingin Arkan Pradipta ternyata bisa kalah oleh hal-hal kecil di rumahnya sendiri.
jgn setengah 2 ya