NovelToon NovelToon
Membatasi Rasa

Membatasi Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:986
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?

Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.

Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senandung Fajar dan Tangis Pertama

Lorong rumah sakit bersalin di sepertiga malam itu terasa sunyi dan dingin. Bau antiseptik yang khas berbaur dengan ketegangan yang menyelimuti ruang tunggu di depan kamar bersalin nomor tiga. Rayyan berjalan mondar-mandir tanpa henti, kedua tangannya saling meremas, sesekali ia menempelkan telapak tangannya ke dinding kaca, mencoba mendengarkan suara dari dalam ruangan yang kedap itu. Baju kokonya agak kusut, dan gurat kelelahan bercampur cemas tercetak sangat jelas di wajahnya.

Di kursi tunggu, Umi Zaza dan Abi Zaza duduk tenang sembari memutar butiran tasbih di jarinya, bibirnya tak henti melafalkan doa keselamatan untuk sang putri. Tidak lama kemudian, Pak Dafril dan Bu Dafril tiba dengan langkah tergesa-gesa dari kawasan Ijen, langsung menghampiri Rayyan yang tampak linglung.

"Bagaimana, Rayyan? Zaza sudah pembukaan berapa?" tanya Bu Dafril cemas, merangkul pundak anak laki-lakinya.

"Tadi perawat bilang sudah pembukaan delapan, Ma. Tapi Zaza di dalam sedang berjuang. Aku... aku diminta keluar sebentar tadi karena dokter sedang menyiapkan tindakan induksi alami agar bayinya cepat turun," jawab Rayyan, suaranya parau dan bergetar.

Tepat saat kalimat itu selesai, pintu ruang bersalin terbuka. Seorang bidan senior keluar dengan terburu-buru. "Bapak Rayyan? Ibunya sudah pembukaan lengkap. Silakan masuk untuk mendampingi, Pak. Bimbing istrinya dengan baik ya."

Rayyan tidak membuang waktu. Ia mengangguk cepat pada orang tua dan ibu mertuanya, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang bernuansa hangat namun sarat akan perjuangan hidup dan mati itu.

Di atas ranjang bersalin, Zaza berbaring dengan rambut yang sedikit basah oleh keringat. Wajahnya yang biasa teduh kini tampak memerah menahan dorongan rasa sakit yang luar biasa. Napasnya memburu pendek-pendek. Begitu melihat Rayyan masuk, setitik air mata langsung meluncur dari sudut mata Zaza. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar.

Rayyan langsung menyambut tangan itu, menggenggamnya dengan kedua belah tangannya yang hangat, lalu berlutut di samping ranjang. Ia mengecup kening Zaza berkali-kali dengan penuh takzim. "Aku di sini, Sayang. Aku di sini. Maafkan aku... terima kasih sudah bertahan sejauh ini."

"Mas... sakit sekali..." bisik Zaza di sela helaan napasnya yang berat. Kontraksi hebat kembali datang, meremas seluruh tubuhnya.

Dokter kandungan yang berada di ujung ranjang memberikan aba-aba dengan tenang namun tegas. "Ayo, Bu Zaza. Tarik napas dalam-dalam dari hidung... tahan di dada, lalu dorong sekuat tenaga ke bawah ya. Jangan bersuara agar tenaganya tidak habis di leher. Satu... dua... mulai, Bu."

Zaza mencengkeram erat tangan Rayyan. Ia memejamkan mata, mengerahkan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya dari ujung kaki hingga ubun-ubun untuk mendorong kehidupan baru keluar ke dunia. Urat-urat di leher dan pelipisnya menegang.

"Astagfirullah... Lailahaillallah..." Rayyan berbisik tepat di telinga Zaza, suaranya bergetar menahan tangis yang ikut meledak melihat perjuangan istrinya. "Zikir, Za... sebut nama Allah. Kamu bisa, Sayang. Sedikit lagi..."

Perjuangan itu berlangsung selama beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam bagi Rayyan. Setiap kali Zaza kehabisan napas dan terkulai lemas di atas bantal, Rayyan akan menyuapkan beberapa tetes air zam-zam ke bibir istrinya, membisikkan kata-kata penguat tentang bagaimana mereka telah melewati badai fitnah masa lalu, dan bagaimana suci serta indahnya hadiah yang sedang mereka jemput saat ini.

"Sedikit lagi, Bu Zaza! Rambut bayinya sudah terlihat sangat jelas. Satu dorongan kuat lagi saat mulasnya datang!" seru dokter memberikan semangat.

Zaza membuka matanya, menatap lurus ke dalam netra Rayyan. Di dalam tatapan itu, ada keyakinan spiritual yang sangat kuat. Zaza menarik napas panjang untuk terakhir kalinya, menggenggam tangan Rayyan hingga buku-buku jarinya memutih, dan mengeluarkan seluruh daya yang tersisa dalam tubuhnya.

"Dorong, Za! Terus, Sayang! Terus!" pekik Rayyan ikut menuntun.

Tepat bersamaan dengan gema azan subuh yang lamat-lamat mulai berkumandang dari pengeras suara masjid di luar rumah sakit, sebuah keajaiban besar terjadi di dalam ruangan itu.

Oeeekk... Oeeekk... Oeeekkk...

Suara tangisan bayi yang cempreng, nyaring, dan begitu bersih seketika memecah ketegangan ruangan. Suara itu menggema, berbaur dengan senandung fajar yang indah. Dokter dengan cekatan mengangkat seorang bayi kecil yang berkulit kemerahan, menyelimutinya dengan kain putih bersih, lalu meletakkannya di atas dada Zaza untuk proses inisiasi menyusui dini.

Rayyan seketika menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Zaza, tangisnya pecah sejadi-jadinya. Air mata haru dan syukur yang luar biasa membasahi pundak istrinya. Ia memeluk Zaza dan anak mereka yang baru lahir dengan penuh kehati-hatian.

"Alhamdulillah... alhamdulillah, Ya Allah... Anak kita sudah lahir, Za. Dia laki-laki yang sehat dan tampan," bisik Rayyan di sela isak tangisnya.

Zaza yang kelelahan luar biasa hanya bisa tersenyum sangat tulus, air mata bahagianya mengalir tanpa henti membasahi pipi. Ia menatap bayi mungil yang merayap mencari puting susunya di atas dadanya. Rasa sakit yang tak terperi beberapa menit lalu seketika sirna, menguap tak berbekas digantikan oleh rasa damai yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Rayyan perlahan menegakkan tubuhnya. Dengan tangan yang masih bergetar hebat karena haru, ia mendekatkan wajahnya ke telinga kanan bayi kecilnya yang mulai tenang. Dengan suara baritonnya yang merdu dan penuh penghayatan, Rayyan mulai melantunkan kalimat azan, menyambut kehadiran sang tunas baru di bawah langit fajar yang mulai menyingsing.

Di luar jendela, semburat warna emas matahari terbit perlahan mengusir pekatnya malam. Perjalanan sunyi Penyulam Aksara dalam menjaga batasan rasa, keteguhan batin saat diterjang badai fitnah keji, kini telah dibayar tunai oleh langit. Tangis pertama di ambang fajar itu menjadi tanda, bahwa di atas hamparan sajadah syukur yang mereka bentangkan bersama, sebuah lembaran baru yang jauh lebih indah dan berkah telah resmi dimulai.

1
Nurul
mending ta'aruf saja, Zaza
Nurul
mulai terbayang, cepat beristighfar
Xlyzy
kalau merasa ga pantas seharusnya harus bisa merubah diri agar pantas untuk nya
Xlyzy
Dilema si ini jadi nya mau nolak gimana sama orang tua
Xlyzy
Tapi ga harus di jodohin jugak sih cukup kenalkan mereka dulu kalau mereka saling suka baru nikahkan mereka
Cimol krispy
padahal temenan aja nggak di larang loh za
Sarifah_Aini97: bukan mahram kak
total 1 replies
Cimol krispy
jadi dari tadi kamu bikin heboh koridor karna nyariin Zaza ya rayyan
Miu.Nuha
barangkali jodohny ya itu rayyan
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
Miu.Nuha
makanya...
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
Filan
doanya pakai gue /Facepalm/
Sarifah_Aini97: Wkwk iya nih, biar doanya terasa lebih akrab dan personal langsung ke pencipta-Nya 🤣
total 1 replies
Filan
susah sih ya, kalau dia masih belom bisa sholat. gimana bisa jadi imam?
Filan
langsung sholat malam aja nih... sholat wajibnya gimana, Ray? /Chuckle/
Filan
menghindar nih ceritanya
Filan
skateboard apa udah jadi bagian dirinya? 😅
Aquarius97 🕊️
bagus Rayyan.. awalnya berubah karena Zaza, tapi lama2 dari hati yaa

. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe
Three Flowers
semoga doa Rayyan terkabul, karena dia sudah meminta dengan jalan yang benar
Three Flowers: okay kakak
total 2 replies
Three Flowers
Rayyan dapat hidayah sejak bertemu Zaza
Three Flowers
bau-bau mau dijodohkan, apalagi calonnya baru lulus dari luar negeri
Three Flowers
seperti dikejar hantu, ya😅
Mega Siregar
hindari siapa tuh, za🤭?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!