Hukum tidak berpihak pada Anggita, jadi aku yang akan jadi hukumnya. Satu misi yang menjadi tujuanku hancurkan Arvin Teriaz. Aku Nabila Azzahra, topengku sekretaris, senjataku kode. Rencana sempurna begitu sempurna sampai Galen Teriaz, dokter yang membenci darahnya sendiri, mengulurkan tangan dalam misiku.
Apakah misi mereka berhasil dalam, menghancurkan seorang Arvin Teriaz ?
Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 DI MAKODAM
Hari Rabu pukul 05.30 pagi di rumah Galen, lampu rumah masih nyala semua. Tidak ada yang tidur, Pak Wijaya duduk di ruang tamu dengan seragam TNI lengkap dan sepatu PDL sudah mengkilap. Di meja ada 3 flashdisk, 1 map bukti asli, dan surat pengakuan bertanda tangan. Galen keluar dari kamar, dengan wajahnya pucat tapi rahangnya tegas. Sling di bahunya sudah dilepas, diganti perban elastis.
"Sudah siap, Nak?" Tanya Wijaya.
"Siap, yah" Jawab Galen sambil memberi hormat kecil.
Nabila keluar bawa 4 gelas kopi, dengan tangan gemetar.
"Minum dulu, biar kuat" Ucap Nabila
Anggita duduk di lantai, memeluk lutut.
"Bila... kalau kita nggak balik gimana?" Tanya Anggita
Wijaya berjalan ke Anggita, duduk jongkok di depannya. Sebagai Kolonel, tapi nadanya lembut.
"Kita prajurit, Git. Prajurit nggak takut mati, prajurit takut kalau rakyatnya nggak selamat" Ujar Wijaya, Anggita mengangguk pelan dan air matanya jatuh.
Jam 06.00, 2 mobil TNI hitam sudah menunggu di depan pagar dan 4 prajurit bersenjata lengkap. "Pengamanan dari Danrem, Pak" Lapor salah satu prajurit
*****
.Jam 07.45 di Makodam
Gerbang terbuka, barisan prajurit hormat. Di dalam aula, sudah ada 3 orang duduk yaitu Danrem - Brigjen usia 50 tahunan, 3 Wartawan Investigasi yang sudah disumpah untuk tidak mempublikasikan sebelum perintah. Galen, Wijaya, Nabila, Anggita, dan Adrian masuk.
"PERHATIAN!" Ucap Danrem
Semua berdiri, Wijaya maju 2 langkah memberi hormat.
"Lapor, Danrem! Kolonel Wijaya melaporkan diri atas keterlibatan dalam kasus C-12!"
Hening 3 detik, Danrem berjalan mendekat menatap mata Wijaya lama. Lalu...
BUK !
Tinju Danrem menghantam dada Wijaya, bukan mukul tapi itu tepukan prajurit.
"Kamu telat 15 tahun, Kolonel" Kata Danrem pelan
"Tapi lebih baik telat, dari pada tidak sama sekali" Lanjut Dandrem
Wijaya menunduk
"Siap menerima hukuman, Danrem" Jawab Wijaya
*****
Jam 08.10 di ruang interogasi tertutup, hanya ada mereka ber 5 orang, Adrian membuka koper. 200 halaman bukti dibentangkan di meja panjang. Kapolres mengusap wajah.
"Ya Tuhan... 20 pejabat, 3 hakim, 2 jenderal" Danrem memukul meja.
"Kotor! Ini mengotori seragam kita!" Lanjut Dandrem
Wijaya berdiri …
"Saya yang mulai, Danrem. Saya yang harus bertanggung jawab" Ucap Wijaya
Galen ikut berdiri
"Tidak ayah, saya anaknya, saya yang melanjutkan. Kalau ada yang harus dipenjara, penjara saya juga" Timpal Galen
Nabila maju
"Dan saya saksi” Ucap Nabila
“Saya korban yang selamat karena ada orang berani bicara" Ucap Anggita yang paling kecil tubuhnya tapi suaranya paling lantang
"Tolong... jangan ada Dinda, atau pun Anggita lain" Lanjut Anggita
Danrem diam lama, lalu menatap Galen.
"Kamu yakin? Sekali kita jalan, tidak ada mundur. Nama keluarga kamu akan jadi bahan berita 1 tahun" Tanya Galen menatap Nabila, Nabila mengangguk.
Lalu mereka menatap Anggita, Anggita mengangguk. Galen menatap Wijaya
"Siap, Danrem" Kata Galen.
"Kami tidak mundur" Lanjut Galen
*****
Jam 09.30, Danrem menekan tombol
"OPRASI BERSIH-BERSIH DIMULAI. KODE: GARUDA PUTIH"
10 menit kemudian, HP di meja berdering terus.
"Penangkapan dimulai, jenderal A ditahan di rumah"
"Hakim B diamankan di kantor"
"Pejuang C melarikan diri, sedang dikejar"
Wijaya menutup mata
"Akhirnya..." Gumam Wijaya
*****
Jam 11.00, Danrem berdiri
"Kolonel Wijaya karena pengakuan sukarela dan kerjasama, hukuman Anda ditangguhkan. Anda akan menjalani sidang kode etik, tapi mulai hari ini anda bebas dengan pengawasan" Ucap Danrem
Wijaya memberi hormat. Air matanya jatuh
"Terima kasih, Danrem" Ujar Wijaya
Danrem lalu menoleh ke Galen
"Dan kamu. Yayasan 'Untuk Anggita' akan kami jadikan yayasan binaan Kodam, biar tidak ada lagi yang berani sentuh" Lanjut Dandrem
Galen tidak bisa berkata-kata, dia hanya memeluk Nabila dan Anggita. Jam 13.00 di parkiran Makoda mereka keluar, matahari sudah muncul. Wijaya menatap langit, menghirup udara dalam-dalam.
"15 tahun, Nak. Baru hari ini aku hirup udara bebas beneran" Ucap Wijaya Galen merangkul bahu ayahnya
“Selamat datang pulang, ayah" Ujar Galen
Tiba-tiba HP Galen bunyi lagi, nomor tak dikenal yang isinya cuma 1 kalimat:
S {Kamu menang babak ini, tapi perang belum selesai}
Foto lampiran: Gudang kosong, di dinding tertulis cat merah: ‘C-12 HIDUP’
Wijaya langsung merengkuh Galen ke belakangnya, insting prajurit.
"Mereka masih ada, Nak," Bisik Wijaya
"Ini belum selesai" Ucap Nabila menggenggam tangan Galen erat.
"Kalau gitu kita habisin sampai akar-akarnya, ayah" Kata Galen
"Mulai hari ini, keluarga Wijaya lawan meski itu masih keluarga" Ucap Wijaya tersenyum, senyum pertama dalam 15 tahun.
"Siap, Anak ?" Tanya Wijaya