NovelToon NovelToon
Secangkir Kopi Tanpa Gula

Secangkir Kopi Tanpa Gula

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Atik's

Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Siang harinya Raka mengajak Rizki makan siang. Dia ingin bicara serius. Rizki datang agak terlambat karena ada pasien yang harus ditangani segera.

“Maaf telat, tadi ada keperluan mendadak,” ujar Rizki sambil mengatur napas.

“Tidak apa‑apa, aku paham. Sebagai dokter memang harus siap kapan saja. Minum dulu,” kata Raka sambil menyodorkan air minum.

Sambil makan, Raka akhirnya bercerita soal kejadian semalam saat dia mabuk.

“Kamu yang mengantar aku pulang semalam kan?”

“Iya, kenapa?”

“Karena mabuk, aku melakukan hal yang sangat fatal,” ujar Raka dengan suara berat.

“Hal apa?” tanya Rizki penasaran.

“Aku… menodai Laras semalam,” jawabnya terbata‑bata.

“Hanya itu? Dia kan istri sah kamu, wajar saja. Kenapa sampai terlihat sangat gelisah begitu?”

“Aku tidak mencintainya, awalnya malah berencana supaya dia tidak betah lalu pergi sendiri. Tapi sekarang aku merasa sangat bersalah… ternyata dia masih gadis, dan akulah yang pertama kali unboxing,” ujar Raka pelan.

“Kamu ini aneh sekali. Apa kurangnya Laras? Kalau dibandingkan dengan Rara, Laras jauh lebih baik, cantik, muda, pintar, baik hati, dan berasal dari keluarga yang baik. Kenapa kamu masih saja mengejar orang yang salah?” nasihat Rizki tegas.

“Jadi menurutmu Rara tidak cocok untukku?” nada bicara Raka mulai naik.

“Kalau dia benar‑benar baik, dia tidak akan kabur tepat sebelum hari pernikahan. Dia pengecut, kenapa kamu masih berharap padanya?” jawab Rizki semakin tegas.

“Katanya dia belum siap menikah, makanya dia pergi,” bantah Raka.

“Gunakan otakmu, Raka. Jangan percaya alasan itu. Bisa saja dia kabur bersama orang lain. Gunakan akal sehat, jangan hanya mengandalkan perasaan. Lebih baik lupakan Rara dan mulai membuka hati untuk istrimu. Dia wanita yang jauh lebih berharga dan bisa membuatmu bahagia,” ujar Rizki sambil menepuk bahu sahabatnya.

Raka hanya diam saja namun mulai berpikir dalam hati. Mungkin benar kata Rizki, sudah saatnya dia berubah dan mulai menghargai Laras.

Rizki kemudian pamit karena jam istirahat sudah habis. “Ingat kata‑kataku, jangan sampai baru sadar saat semuanya sudah terlambat,” pesannya sebelum pergi.

*****

Sore harinya Laras pulang dari rumah mertua. Dia belajar hal‑hal rumah tangga supaya bisa menjadi istri yang baik. Sesampainya di rumah dia menyimpan makanan yang dibawa lalu bersiap mandi karena tahu sebentar lagi Raka akan pulang.

Raka sengaja pulang lebih awal karena pikirannya terus terganggu oleh nasihat Rizki. Saat masuk ke kamar, dia kaget mendengar suara air gemericik dari kamar mandi. Melihat barang‑barang Laras sudah ada di sana semua, dia tahu gadis itu benar‑benar menepati janjinya.

Dia duduk di sofa sambil menunggu. Sekitar sepuluh menit kemudian pintu terbuka. Laras keluar hanya dibalut handuk, belum menyadari ada orang lain di dalam kamar. Dia mulai mengeringkan rambut dengan santai, sementara Raka hanya diam dan menelan ludah karena pemandangan itu membuatnya sulit menahan diri.

Raka duduk diam. Di hati ia mulai berpikir.

“Benar kata Rizki. Kenapa aku selalu mengabaikan Laras? Bukankah dulu dia yang menyelamatkan nama keluargaku? Seharusnya aku mulai menghargainya,” pikirnya pelan.

Sementara itu Laras sedang mengeringkan rambut. Baru saat menoleh, ia kaget melihat Raka sudah ada di sana.

“Astaga, Kak Raka… sejak kapan ada di sini?” tanyanya sambil menutup badan dengan handuk.

“Sejak kamu masuk kamar mandi. Aku sudah menunggu dari tadi,” jawab Raka tenang.

“Kenapa tidak bilang? Keluar dulu ya, aku mau ganti baju,” kata Laras sambil memalingkan wajah karena malu.

“Tenang saja. Ini kan kamarku, jadi boleh ada disini. Lagipula kita suami istri, tidak perlu sungkan. Semalam semuanya sudah terjadi kan?” ujar Raka sambil tersenyum sedikit menggoda.

Wajah Laras langsung merah padam. Ia segera mengambil baju dan masuk kembali ke kamar mandi untuk memakainya. Meski benar, rasa malu tetap ada.

“Ternyata seru juga menggodanya. Mulai sekarang dia benar‑benar istriku,” batin Raka.

Ia membuka sedikit kancing baju karena gerah. Tak lama kemudian berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.

Pintu terbuka perlahan.

“Aduh, bikin kaget saja. Kenapa berdiri tepat di depan?” tanya Laras sambil memegang dada.

“Menunggu kamu. Aku juga mau mandi, panas sekali di luar. Sudah siap makan malam? Aku sudah lapar,” kata Raka.

“Baiklah, silakan mandi dulu. Nanti aku siapkan makanan,” jawabnya cepat.

Di tempat lain, Rara berbicara pada David.

“Kapan aku bisa keluar dari persembunyian ini?”

“Tunggu sampai rencanaku selesai,” jawab David tenang.

“Aku tidak mau begini terus. Aku ingin berdiri di sampingmu secara terang‑terangan. Kenapa tidak ceraikan saja istrimu?” tanya Rara.

“Nanti akan kupikirkan… kalau kamu sudah mengandung anakku,” jawab David.

“Baik, tapi ingat janji itu. Kalau aku sudah hamil, kamu harus berpisah. Kalau tidak, aku akan buka semua rahasia kita,” ujarnya tegas.

David hanya tersenyum sambil mengelus rambutnya. Di dalam hati ia merasa puas karena Rara sudah masuk ke rencananya. Nanti begitu anak itu lahir, wanita itu akan disingkirkan kembali.

1
helena
lanjuttt thor😍
Atik's: baik kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!