NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Andinirhein

Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Hwi Sol.

Beberapa kali aku melirik layar ponsel.

Sudah tiga puluh menit berlalu.

Namun, Eun Dam belum juga datang.

"Kenapa lama sekali...?" gumamku pelan.

Aku mencoba menghubunginya.

Nada sambung terdengar beberapa kali, tetapi tak kunjung diangkat.

Saat itulah, dari arah jalan raya terdengar suara riuh.

Orang-orang berlarian menuju satu titik sambil berteriak panik.

"Eoh... ada apa?"

Entah mengapa, jantungku mendadak berdegup lebih cepat.

Perasaan tidak enak tiba-tiba memenuhi dadaku.

Tanpa berpikir panjang, aku ikut berlari mengikuti kerumunan orang-orang itu.

Tanganku masih menggenggam ponsel yang terus mencoba menghubungi nomor Eun Dam.

Semakin dekat...

Suara sirene mulai terdengar di kejauhan.

Lalu...

Aku membeku.

Di tengah jalan yang dipenuhi pecahan kaca dan serpihan kendaraan, kulihat bercak darah memenuhi aspal.

Tak jauh dari sana tergeletak sebuah buket mawar merah muda yang telah hancur.

Kelopaknya berserakan tertiup angin.

Beberapa meter di depannya...

Seorang pria terbaring tak berdaya.

Tubuhku gemetar.

Tidak...

Jangan...

Tolong jangan...

Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel dari arah tubuh pria itu.

Nada deringnya...

Sama persis dengan nada sambung yang sejak tadi kudengar.

Saat itulah aku menyadari kenyataan yang begitu kejam.

"E-Eun Dam..."

Lututku melemas.

Air mataku langsung jatuh tanpa bisa kutahan.

Aku berlari menghampirinya.

"Eun Dam!"

Tanganku gemetar saat mencoba menyentuh wajahnya yang dipenuhi luka.

"Bangun... tolong bangun..."

Tak lama kemudian, ambulans datang.

Para petugas medis segera memberikan pertolongan pertama sebelum membawanya ke rumah sakit.

Aku ikut naik ke dalam ambulans.

Sepanjang perjalanan, aku hanya bisa memanjatkan doa tanpa henti.

"Tuhan..."

"Tolong selamatkan dia..."

"Cukup..."

"Cukup orang tuaku saja yang Kau ambil."

"Aku tidak sanggup kehilangan orang yang kusayangi lagi..."

Trauma tiga tahun lalu kembali menghantuiku.

Pemandangan ini...

Suara sirene ini...

Bau rumah sakit ini...

Semuanya mengingatkanku pada hari ketika Appa dan Eomma pergi untuk selamanya.

Aku memejamkan mata.

Tubuhku terus gemetar.

Sementara itu...

Di rumah.

Hwi Sol kembali duduk di kamarnya.

Sebuah buku harian hitam terbuka di atas meja.

Ia baru saja menuliskan beberapa kalimat ketika matanya melirik jam dinding.

Pukul sebelas malam.

Keningnya langsung berkerut.

"Seolhwa belum pulang..."

Ia segera meraih ponselnya dan menghubungi nomor adiknya.

Panggilan itu langsung tersambung.

Namun...

Yang terdengar justru suara isak tangis.

"O-Oppa..."

Hati Hwi Sol seketika mencelos.

"Seolhwa? Kamu kenapa?"

"E-Eun Dam..."

"Dia kecelakaan..."

Kalimat itu membuat wajah Hwi Sol berubah pucat.

"Di rumah sakit..."

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Hwi Sol langsung mengambil kunci mobilnya dan bergegas keluar rumah.

Sekitar dua puluh menit kemudian...

"O-Oppa..."

Begitu melihat Hwi Sol datang, aku langsung berlari dan memeluknya erat.

Tangisku kembali pecah.

"Aku takut..."

"Aku takut kehilangannya..."

Hwi Sol mengusap punggungku perlahan.

"Tenang ya..."

"Eun Dam pasti baik-baik saja."

Meski berusaha terdengar tenang, sebenarnya ia juga ikut cemas.

Lima jam kemudian...

Lampu di ruang operasi akhirnya padam.

Dokter bersama beberapa perawat keluar dari ruangan.

Aku dan Hwi Sol langsung berdiri menghampiri mereka.

"Dokter... bagaimana keadaannya?"

Dokter melepaskan masker yang dikenakannya.

"Operasinya berjalan dengan baik."

Aku langsung mengembuskan napas lega.

"Pasien berhasil kami selamatkan."

Air mataku kembali mengalir.

Namun kali ini...

Bukan karena takut.

Melainkan karena lega.

"Hanya saja..."

Dokter melanjutkan penjelasannya.

"Pasien mengalami cedera cukup serius pada kaki kirinya."

"Untuk sementara waktu ia tidak boleh melakukan aktivitas berat."

"Masa pemulihannya mungkin akan memakan waktu beberapa bulan."

Kalimat terakhir itu membuatku kembali terdiam.

Sebagai atlet...

Aku tahu betapa berat kenyataan itu bagi Eun Dam.

Setelah dipindahkan ke ruang rawat inap, aku dan Hwi Sol masuk ke dalam kamar.

Dadaku kembali sesak melihat kondisi Eun Dam.

Kepalanya diperban.

Beberapa luka memar menghiasi wajah dan lengannya.

Tangan kirinya dipasangi infus.

"S-Seolhwa...?"

Suara lirih itu membuatku menoleh.

"E-Eun Dam..."

Aku mencoba tersenyum.

Namun air mataku kembali jatuh lebih dulu.

"Kamu..."

Aku bahkan tidak mampu menyelesaikan kalimatku.

Eun Dam tersenyum pelan.

"Aku tidak apa-apa..."

"Sudah ya..."

"Jangan menangis lagi."

Ia ingin mengusap air mataku.

Namun tubuhnya belum mampu digerakkan dengan leluasa.

"Apa kamu tahu..."

Aku menggigit bibirku.

"...betapa takutnya aku kehilanganmu?"

Suasana kamar mendadak hening.

Lalu...

Eun Dam tertawa kecil.

"Kalau kamu terus menangis seperti itu..."

"...aku malah jadi merasa lebih sakit."

Hwi Sol yang berdiri di sampingku ikut tersenyum tipis.

Aku langsung mengusap air mataku sambil merengut.

"Ishh..."

"Kalian berdua menyebalkan."

Mendengar itu, keduanya justru tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu terjadi...

Suasana di ruangan terasa sedikit lebih hangat.

Namun, kehangatan itu tidak berlangsung lama.

Beberapa menit kemudian, senyum di wajah Eun Dam perlahan menghilang. Tatapannya turun pada kaki kirinya yang masih tertutup selimut putih.

Aku menyadari perubahan ekspresinya.

"Eun Dam..." panggilku pelan.

Ia tidak langsung menjawab.

Tangannya mengepal kecil di atas ranjang.

"Seolhwa..."

"Ya?"

"Kalau nanti..." Ia berhenti sejenak, seolah sulit mengucapkan kalimat berikutnya.

"Kalau nanti aku tidak bisa kembali bermain seperti dulu..."

Dadaku langsung terasa sesak.

"Eun Dam..."

Sebagai atlet, aku tahu betapa besar arti olahraga baginya. Itu bukan hanya pekerjaan. Bukan hanya sebuah hobi.

Itu adalah bagian dari hidupnya.

"Aku takut."

Suara Eun Dam terdengar begitu pelan.

"Aku takut kehilangan satu-satunya hal yang membuatku merasa aku punya tujuan."

Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

Lalu, tanpa sadar, aku menggenggam tangannya.

"Kamu salah."

Eun Dam menatapku.

"Kamu bukan hanya seorang atlet."

"Kamu adalah Eun Dam."

"Kamu adalah orang yang membuatku percaya kalau masih ada orang baik di dunia ini."

Aku menarik napas panjang.

"Kalau sekarang kamu harus berhenti sebentar untuk pulih..."

"Ya sudah."

"Berhenti sebentar bukan berarti menyerah."

Hwi Sol yang sejak tadi diam akhirnya berjalan mendekat.

"Eun Dam."

Pria itu menatapnya dengan tatapan serius.

"Jangan pernah berpikir hidupmu hanya berharga ketika kamu bisa memenangkan sesuatu."

Eun Dam menatap Hwi Sol.

"Kamu masih punya banyak hal yang bisa kamu lakukan."

"Dan selama proses itu..."

"Kami akan tetap berada di sampingmu."

Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.

Hanya suara mesin monitor yang terdengar memenuhi ruangan.

Eun Dam menundukkan kepala.

Lalu, perlahan, ia tersenyum.

"Terima kasih."

"Karena sudah datang."

"Karena sudah tetap di sini."

Aku tersenyum kecil.

"Memangnya kamu pikir kami akan meninggalkanmu?"

Eun Dam tertawa pelan.

"Entahlah."

"Kadang aku merasa terlalu merepotkan orang lain."

Mendengar itu, aku langsung menggeleng.

"Jangan pernah berpikir seperti itu."

"Kamu bukan beban."

"Kamu keluarga."

Kalimat itu membuat Eun Dam terdiam.

Matanya terlihat berkaca-kaca.

Sementara itu, di sudut ruangan...

Hwi Sol hanya diam memperhatikan mereka.

Melihat Seolhwa tersenyum kembali setelah sekian lama membuat hatinya terasa sedikit lega meski cemburu ada di dalam hatinya.

"Ah ya, aku lupa. Aku belum mengabari keluargamu. Aku juga tidak tahu kontak mereka, Eun Dam," kataku.

"Tidak perlu mengabari mereka, Seolhwa. Aku tidak ingin membuat orang tuaku khawatir. Lagi pula aku akan sembuh dalam beberapa bulan," jawab Eun Dam sambil menatapku dengan senyuman manisnya.

Di sela-sela obrolan kami, terdengar suara perut lapar Hwi Sol Oppa.

Dan aku memutuskan untuk membeli makanan di sekitar rumah sakit.

Awalnya Hwi Sol Oppa yang ingin membelinya, tetapi aku menolak.

Aku juga sengaja ingin memberi mereka waktu untuk berbicara dan mengenal satu sama lain lebih dekat.

"Terima kasih, H-Hyung, sudah datang," ucap Eun Dam ragu-ragu.

"Aku datang karena Seolhwa meneleponku. Dan kau, apa benar kau baik-baik saja? Apa ada bagian tubuh yang masih sakit?" tanya Hwi Sol Oppa.

"I-Iya, aku baik-baik saja, Hyung," sahut Eun Dam.

"Ah ya... aku minta maaf atas kejadian di rumahku," kata Hwi Sol Oppa lagi.

"Tidak apa-apa, Hyung. Aku mengerti. Sebagai seorang kakak, aku juga pasti akan melakukan apa pun untuk melindungi adik perempuanku satu-satunya.

Tapi Hyung...

Soal perasaanku pada Seolhwa, aku tidak pernah main-main.

Aku juga bukan bermaksud hanya sekadar memacarinya.

Aku ingin menjalin hubungan yang serius dengannya, Hyung.

Dan juga, terima kasih karena sudah menyetujui hubungan kami," balas Eun Dam penuh keyakinan.

"Aku harap kau bisa menepati omonganmu. Dan aku tidak peduli siapa pun kau. Kalau kau menyakiti Seolhwaku, akan kucari kau sampai ke ujung dunia," ujar Hwi Sol.

Di sisi lain, sebenarnya aku menguping pembicaraan mereka dari balik pintu.

Dan aku sangat senang mengetahui bahwa Eun Dam juga memiliki perasaan yang sama padaku.

Terlebih lagi, Hwi Sol Oppa akhirnya menerima kedekatan kami.

---

Hari ini tepat satu minggu Eun Dam dirawat di rumah sakit.

Dan hari ini pula ia diizinkan pulang ke rumah.

Aku menjemputnya dengan taksi.

Sesampainya di rumah Eun Dam, aku melihat sekeliling kamarnya.

Beberapa bingkai foto terpajang rapi di meja bersama piala-piala kejuaraan yang berhasil ia raih.

Terdapat pula sabuk dari warna putih hingga hitam yang sengaja dipajang di belakang pintu kamarnya.

"Maaf ya, kamarku berantakan." ucap Eun Dam malu-malu.

"Tidak kok. Menurutku, untuk kamar pria muda yang masih sendiri, ini sudah cukup rapi," balasku sambil tersenyum.

"Mmm... kamu benar tidak apa-apa pulang naik taksi, Seolhwa?" tanyanya.

"Tidak masalah bagiku, Eun Dam. Yasudah, aku pulang dulu ya. Oppa pasti sudah menungguku," balasku.

"Terima kasih, Seolhwa. Terima kasih karena sudah ada untukku di saat susah dan sakitku," sahutnya dengan tatapan tulus.

"Terima kasih juga, Eun Dam. Terima kasih karena sudah bertahan," jawabku penuh haru.

Mata kami saling menatap satu sama lain.

Kali ini lebih dari enam detik.

Lebih dalam.

Bahkan lebih berkesan dari sebelumnya.

Seolah tubuhku menahanku untuk pergi dari sana.

Namun, imajinasiku menyuruhku pulang karena aku takut diomeli Oppa lagi kalau pulang terlambat.

---

Sesampainya di rumah...

"Oppaaaa! Aku pulang!" teriakku ceria.

Namun, tidak ada sahutan sama sekali dari Hwi Sol Oppa.

Biasanya ia selalu menungguku di ruang TV sampai aku pulang.

Tapi hari ini aku tidak melihatnya.

"Eoh, di mana Oppa? Apa dia di kamarnya yaa?" tanyaku pada diri sendiri.

Aku pun bergegas menuju kamar Hwi Sol Oppa.

Namun, ia juga tidak ada di sana.

Setelah kuingat-ingat, sudah lama sekali aku tidak masuk ke kamar Oppa.

Padahal kamar kami hanya berbeda satu lantai.

Kamarnya selalu rapi dan wangi.

Benar-benar mencerminkan pemiliknya.

Namun, mataku tertuju pada sebuah ruangan yang sejak dulu tidak pernah diizinkannya untuk kumasuki.

Entah ruangan apa itu.

Tetapi rasa penasaranku semakin besar.

Aku ingin membukanya.

Sayangnya, ruangan itu selalu terkunci.

Oppa menggunakan smart door lock.

Jika ingin membukanya, aku harus memasukkan kata sandi.

Masalahnya, aku bahkan tidak tahu kata sandinya.

Aku mulai mencoba tanggal ulang tahun Oppa, Eomma, dan Appa.

Semuanya gagal.

Terakhir, aku mencoba memasukkan tanggal lahirku.

Pintunya langsung terbuka.

Aku pun terkejut.

Ternyata kata sandi yang digunakan Oppa adalah tanggal lahirku.

Namun, aku jauh lebih terkejut ketika melihat isi ruangan rahasia itu.

Mataku membesar seketika.

Tubuhku kaku untuk bergerak.

Dan otakku membeku untuk berpikir.

"A-Apa ini semua?" tanyaku dalam hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!