Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.
Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.
Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.
Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAKTI BUTA SUAMIKU
Pagi hari berikutnya bergulir dengan suasana yang jauh berbeda di dalam rumah kontrakan sekat tripleks itu. Tidak ada aroma kopi yang mengepul untuk Bagas, tidak ada kepanikan mencari kemeja yang belum disetrika, dan tidak ada lagi kecemasan yang biasa menggelayuti dada Adinda. Rumah itu terasa hening, namun keheningan kali ini adalah ketenangan sebelum babak baru kehidupan dimulai.
Dimas berdiri di depan cermin kecil yang retak di sudut kamar sekatnya, merapikan kerah kemeja kasualnya. Hari ini, ia terpaksa tidak berangkat sekolah. Sebuah surat izin bermaterai yang menyatakan ada urusan keluarga mendesak sudah dititipkan kepada teman sekelasnya kemarin sore. Dimas tidak merasa menyesal sedikit pun harus melewatkan pelajaran hari ini. Baginya, mendampingi sang ibu menghirup udara kebebasan dan berdiri sebagai pelindung adalah pelajaran hidup yang jauh lebih penting dari apa pun yang tertulis di buku sekolahnya saat ini.
"Sudah siap, Dimas?" suara Adinda terdengar dari luar sekat.
Dimas menoleh dan mendapati ibunya sudah tampil rapi dengan gamis katun gelap dan jilbab instan yang bersih. Di tangan Adinda, tas jinjing rajut berwarna kusam yang menyimpan seluruh dokumen penting serta buku agenda mika biru sudah tergenggam erat.
"Sudah, Bu. Mari kita berangkat," jawab Dimas mantap, mengambil alih tas rajut tersebut dari tangan ibunya untuk ia bawa.
Perjalanan menuju pusat kota terasa begitu cepat menggunakan angkutan umum. Pukul sembilan pagi tepat, sesuai dengan jadwal yang diatur oleh Mas Danu, mereka berdua sudah melangkah masuk ke dalam gedung ruko modern tempat kantor hukum Pak Baskoro berada. Hawa sejuk dari pendingin ruangan dan nuansa kayu formal di dalam kantor tersebut sempat membuat Adinda meremas jemarinya sendiri, namun genggaman erat dari Dimas di lengannya langsung mengembalikan keteguhan hatinya.
Pertemuan dengan Pak Baskoro berjalan dengan sangat lancar. Pria paruh baya bertubuh tegap dan berkacamata perak itu menyambut mereka dengan kehangatan seorang profesional yang tulus. Selama hampir dua jam, Pak Baskoro memeriksa satu per satu dokumen nikah, akta kelahiran, dan yang paling utama lembar demi lembar catatan bolpoin merah di dalam buku agenda mika biru milik Adinda.
"Bu Adinda, catatan keuangan yang Anda buat selama bertahun-tahun ini adalah senjata paling mematikan di persidangan nanti," ucap Pak Baskoro dengan senyum kepuasan yang tertoreh di wajah tegasnya. "Dalam hukum pernikahan, penyelewengan ekonomi dan kegagalan memberikan nafkah wajib secara terus-menerus adalah alasan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat untuk mengabulkan perceraian. Dengan bukti ini, posisi kita di depan majelis hakim sudah seratus persen aman secara absolut."
Pak Baskoro juga sempat menatap Dimas dan menanyakan kemantapan hatinya. Dengan suara lantang tanpa keraguan, Dimas menyatakan kesediaannya untuk menjadi saksi hidup atas seluruh perlakuan buruk abahnya. Pak Baskoro menjelaskan bahwa di usia Dimas yang sudah beranjak remaja, hak asuh akan jatuh mutlak ke tangan Adinda karena anak memiliki hak penuh untuk memilih ikut bersama ibunya.
Setelah menandatangani surat kuasa pendaftaran gugatan, Pak Baskoro memberikan satu saran krusial sebelum mereka pulang. "Bu Adinda, demi kenyamanan mental Anda dan Dimas selama proses sidang berjalan, saya sarankan Anda berdua segera keluar dari rumah kontrakan itu hari ini juga. Jangan tunggu sampai suami Anda pulang dan menyadari apa yang sedang terjadi. Amankan diri Anda di tempat baru agar dia tidak bisa melakukan intimidasi secara psikologis."
Saran dari Pak Baskoro itulah yang kini membawa Adinda dan Dimas kembali berdiri di tengah ruang tengah rumah kontrakan mereka pada pukul satu siang. Matahari siang kembali bersinar terik, menembus celah-celah ventilasi dan memanaskan atap seng, namun hati kedua manusia di dalam rumah itu sudah sedingin es yang membeku.
"Kita ndak punya banyak waktu, Dimas. Abahmu mungkin masih di rumah nenekmu siang ini, tapi kita ndak tahu kapan dia atau keluarganya akan datang ke sini untuk mencari perkara," ujar Adinda, suaranya terdengar bergegas namun teratur.
"Iya, Bu. Kita bawa yang penting-penting saja. Barang-barang besar dan perabotan katering biar nanti diurus sama orang-orang suruhan Pakde Danu," sahut Dimas.
Kemasan pun dimulai. Proses yang selama ini Adinda bayangkan akan sangat berat dan penuh drama, nyatanya terasa begitu ringkas ketika hati sudah tidak lagi memiliki keterikatan. Mereka tidak sedang merapikan rumah; mereka sedang menghapus jejak kaki mereka dari tempat yang penuh dengan kenangan pahit ini.
Adinda masuk ke dalam kamarnya. Ia membuka lemari pakaian kayu yang engselnya berderit panjang. Pakaian-pakaian miliknya dipilah dengan cepat. Ia hanya mengambil baju-baju harian yang biasa ia gunakan untuk bekerja dan beberapa pasang pakaian rapi untuk keperluan keluar rumah. Semua baju itu dimasukkan ke dalam sebuah tas travel besar yang ritsletingnya sudah agak macet.
Saat menarik sehelai jilbab dari gantungan, selembar kain batik usang jatuh ke lantai tanah yang dilapisi semen tipis. Adinda memungut kain itu. Itu adalah kain batik yang ia bawa dari kampung halaman saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini sebagai istri sah Bagas belasan tahun lalu. Dulu, kain itu penuh dengan harapan akan masa depan rumah tangga yang sakinah. Kini, kain itu sudah pudar warnanya, sama seperti cintanya yang sudah lama mati dan mengering untuk Bagas. Tanpa ragu, Adinda melemparkan kain itu ke tumpukan baju-baju yang ditinggalkan. Ia tidak ingin membawa satu pun barang yang berbau masa lalu bersama pria itu.
Sementara itu, di sekat sebelah, Dimas bergerak tidak kalah cepat. Buku-buku sekolahnya dimasukkan ke dalam kardus bekas mi instan yang ia dapatkan dari dapur. Pakaian seragam putih-birunya dilipat dengan rapi di bagian paling atas agar tidak lecek. Dimas memandangi kamar sempitnya yang selama ini menjadi saksi bisu saat ia harus menutup telinga rapat-rapat dengan bantal setiap kali mendengar suara bentakan ayahnya menembus dinding tripleks di tengah malam.
Dimas mengangkat kardus itu keluar ke ruang tengah. "Bu, pakaian dan buku-buku Dimas sudah beres semua. Cuma jadi satu kardus dan satu tas ransel."
Adinda keluar dari kamar sembari menyeret tas travel besarnya. Wajahnya berkeringat, namun matanya memancarkan kelegaan yang luar biasa. "Ibu juga sudah selesai, Nak. Lauk pauk dan sisa bahan katering yang masih bagus di dapur sudah Ibu kemas dalam kantong plastik besar untuk kita bawa ke rumah kontrakan baru kita nanti."
Ya, rumah kontrakan baru. Mas Danu tidak main-main dengan janjinya. Kemarin sore, setelah menutup telepon, kakaknya itu langsung mengirimkan uang yang lebih dari cukup lewat transfer untuk menyewa sebuah rumah kecil yang layak di dekat area pasar induk tempat yang jauh lebih strategis untuk usaha katering Adinda dan jauh dari jangkauan Bagas. Rekan bisnis Mas Danu di kota ini bahkan sudah membantu mengurus pembayarannya pagi-pagi sekali, sehingga kunci rumah baru itu sudah berada di dalam dompet Adinda sekarang.
Sebelum benar-benar melangkah keluar, Adinda berjalan mengitari rumah kontrakan itu untuk terakhir kalinya. Ia memastikan semua keran air di kamar mandi sudah ditutup rapat dan tabung gas di dapur sudah dilepas regulatornya demi keamanan. Ruangan-ruangan yang dulunya terasa penuh dengan tekanan emosional, kini tampak meluas dan kosong.
Adinda menatap kasur busa tanpa sprei di lantai, meja makan kayu yang sudah bersih, dan dinding-dinding tripleks yang kusam. Di rumah inilah ia menghabiskan masa mudanya dengan cucuran keringat dan air mata, melayani suami yang menganggapnya tak lebih dari pembantu tanpa bayaran yang bisa dimaki kapan saja. Di tempat ini pula, Bagas selalu melarikan diri ke rumah orang tuanya setiap kali egonya terluka karena tidak bisa menundukkan ketegasan istrinya. Rumah ini telah menjadi saksi bisu kehancuran sebuah komitmen, sekaligus menjadi tempat lahirnya keberanian baru dalam diri Adinda.
Dimas sudah menuntun sepedanya keluar ke teras depan, meletakkan kardus bukunya di keranjang depan dan mengikat tas travel ibunya di boncengan belakang dengan tali karet.
Adinda melangkah keluar melewati ambang pintu. Ia membalikkan badan, memandangi daun pintu tripleks yang kemarin siang ia gunakan untuk bersandar setelah mengusir Bagas. Dengan gerakan yang pasti, Adinda menarik pintu itu hingga tertutup rapat.
Brak.
Suara pintu yang menutup itu terdengar seperti sebuah ketukan palu hakim yang mengakhiri sebuah penderitaan panjang. Adinda memutar kunci pagar besi kecil di depan teras, lalu memasukkan anak kuncinya ke dalam tas rajut. Ia tidak akan meninggalkan kunci itu di bawah keset atau menitipkannya ke tetangga. Biarlah Bagas nanti kelimpungan mencari cara untuk masuk ke dalam rumah yang sudah kosong melompong ini saat pria itu pulang dari rumah ibunya.
"Mari, Bu. Angkotnya sudah kelihatan di ujung gang," ajak Dimas, membuyarkan lamunan ibunya.
Adinda tersenyum, menatap putranya yang berdiri tegap di samping sepeda remajanya. Matahari sore mulai menggelincir ke barat, memayungi langkah kaki mereka yang bergerak meninggalkan gang sempit itu tanpa ada rasa rindu atau penyesalan sedikit pun yang tertinggal. Mereka berjalan menuju jalan raya dengan kepala tegak, siap menyongsong kehidupan baru yang bersih dari bayang-bayang keegoisan Bagas.