NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15 - Akad Tanpa Panggung

Jumat pagi, Nadia bangun sebelum subuh.

Rumah Sari masih gelap. Rani tidur meringkuk, satu kakinya keluar dari selimut. Sari sudah duduk di dapur, menghangatkan air dan menyiapkan teh. Di meja kecil, ada kebaya putih sederhana yang dipinjamkan Tante Mira, sudah disetrika rapi semalam.

Nadia berdiri di pintu dapur.

"Mbak belum tidur?"

"Tidur. Sebentar."

"Sebentar itu berapa?"

Sari tersenyum.

"Mungkin lima menit. Sama seperti kamu malam itu."

Nadia duduk di dekatnya.

Untuk beberapa saat mereka hanya mendengar air mendidih.

Sari berkata pelan, "Ibu pasti senang kalau melihatmu hari ini."

Ibu kandung mereka.

Nama yang jarang disebut di rumah Pak Darto karena Bu Ratna selalu membuat suasana menjadi tidak nyaman setiap kali bayangannya muncul.

Nadia menatap kebaya putih.

"Mbak masih ingat wajah Ibu?"

"Sedikit. Senyumnya. Bau minyak rambutnya. Cara dia mengikat rambutmu."

Nadia tidak ingat banyak. Ia terlalu kecil. Yang ia punya hanya foto pudar dan rasa kehilangan yang tidak pernah diberi tempat.

Sari menggenggam tangannya.

"Hari ini kamu tidak sendirian."

"Aku tahu."

"Kalau di KUA nanti ada yang bicara macam-macam..."

"Aku jawab."

Sari tertawa kecil.

"Aku tahu."

Pukul tujuh, Tante Mira datang bersama seorang perias sederhana. Tidak ada make-up tebal. Nadia hanya memakai bedak tipis, lipstik lembut, dan kerudung putih. Ketika ia melihat cermin, ia hampir tidak mengenali dirinya.

Bukan karena riasan.

Karena matanya hidup.

Di kehidupan lalu, pada hari akad dengan Arman, ia tersenyum karena disuruh. Hari ini ia tidak tersenyum lebar, tapi wajahnya miliknya sendiri.

Joko mengantar mereka ke KUA dengan motor dan mobil pinjaman tetangga. Raka sudah menunggu di sana bersama Pak Hendra, Tante Mira, dan beberapa kerabat. Bu Lilis datang juga, wajahnya kaku tapi rapi. Arman tidak terlihat. Bella juga tidak.

Bagus.

Nadia tidak membutuhkan penonton yang berharap ia tersandung.

Pak Darto tiba tak lama kemudian. Ia memakai batik cokelat lama. Wajahnya tampak lebih tua dari biasanya. Ketika melihat Nadia, matanya memerah.

"Kamu cantik, Nak."

Nadia menatapnya.

Kalimat itu sederhana. Terlambat, tapi sederhana.

"Terima kasih, Pak."

Bu Ratna datang di belakang Pak Darto bersama Eyang Marni. Bella ternyata ikut, duduk di motor ojek lain. Wajahnya pucat, tapi pakaiannya rapi. Mungkin ia tidak tahan melewatkan hari ketika Nadia menjadi sesuatu yang tidak ia inginkan: lebih tinggi.

Sari langsung tegang.

Nadia justru tenang.

KUA bukan rumah Pak Darto. Di sini ada petugas, saksi, penghulu. Drama tetap mungkin terjadi, tapi panggungnya tidak sepenuhnya milik Bu Ratna.

Raka mendekati Nadia.

"Kamu baik-baik saja?"

"Iya."

"Kalau tidak nyaman dengan mereka..."

"Aku nyaman dengan diriku. Itu cukup."

Raka menatapnya, lalu mengangguk.

Prosesi dimulai.

Ruang akad sederhana. Karpet hijau, meja panjang, kursi plastik, kipas angin di pojok. Penghulu memeriksa dokumen. Pak Darto duduk sebagai wali. Raka duduk tegak di depan meja. Nadia di samping, sedikit di belakang sesuai aturan ruangan.

Penghulu menjelaskan singkat tentang pernikahan, tanggung jawab, hak dan kewajiban. Nadia mendengarkan dengan setengah hati, bukan karena tidak penting, tapi karena dadanya berdetak terlalu keras.

Ketika ijab kabul dimulai, ruangan hening.

Pak Darto memegang tangan Raka.

Suaranya bergetar.

"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Raka Wiratmaja bin almarhum Surya Wiratmaja, dengan anak kandung saya, Nadia Safira binti Darto, dengan mahar seperangkat alat salat dan uang tunai..."

Nadia mendengar nominalnya disebut jelas.

Haknya.

Bukan milik Eyang.

Bukan milik Bu Ratna.

Bukan sesuatu yang bisa hilang di lemari.

Raka menjawab dalam satu tarikan napas.

"Saya terima nikah dan kawinnya Nadia Safira binti Darto dengan mahar tersebut tunai."

"Sah?"

"Sah."

"Sah."

Suara itu menyebar di ruangan.

Sari menangis tanpa suara. Tante Mira tersenyum. Pak Hendra menghela napas lega. Bu Lilis menatap lantai. Pak Darto mengusap mata. Bu Ratna diam, wajahnya sulit dibaca. Bella menggenggam ujung kerudung sampai buku jarinya memutih.

Nadia menunduk.

Sah.

Satu kata itu memotong tali yang mengikatnya pada malam lamaran Arman.

Raka menoleh kepadanya. Untuk pertama kalinya setelah ijab, ia memanggil dengan suara pelan.

"Nadia."

Nadia mengangkat wajah.

Ia tidak tahu kenapa matanya panas.

Raka tersenyum, kecil tapi nyata.

"Mulai sekarang, kalau ada yang mencoba mengambil hakmu, bilang pada saya. Kalau kamu ingin menghadapinya sendiri, saya berdiri di belakangmu."

Penghulu yang sedang merapikan berkas tersenyum.

Sari menangis makin keras.

Nadia menarik napas.

"Baik, Mas."

Setelah doa selesai, mereka menandatangani buku nikah. Nadia memegang buku itu berdampingan dengan buku tabungan di tasnya. Dua benda kecil. Dua bukti bahwa hidupnya mulai ditulis atas namanya sendiri.

Masalah muncul saat sesi foto keluarga.

Eyang Marni tiba-tiba berkata, "Bella, berdiri di samping Nadia. Bagaimanapun kalian saudara."

Nadia menatap neneknya.

Bella tampak ragu, tapi Bu Ratna mendorongnya lembut.

"Iya, Nak. Foto keluarga."

Sari langsung tidak suka.

"Bu, ini foto akad Nadia dan Mas Raka."

Eyang Marni mendengus.

"Apa salahnya adik ikut? Jangan pelit kebahagiaan."

Nadia hampir tertawa.

Pelit kebahagiaan.

Ada orang yang mengambil calon suami orang, lalu masih ingin ikut berdiri di foto bahagia korban.

Raka berkata tenang, "Untuk foto keluarga inti saya dan Nadia dulu."

Eyang Marni menatapnya.

"Raka, kami keluarga Nadia."

"Saya tahu. Karena itu nanti ada giliran."

Nada Raka sopan, tapi tidak bisa dibantah.

Fotografer memanggil mereka. Foto pertama hanya Nadia dan Raka. Ketika Raka berdiri di sebelahnya, Nadia menyadari tangannya sedikit gemetar. Raka tidak menggenggam tanpa izin. Ia hanya bertanya pelan.

"Boleh?"

Nadia mengulurkan tangan.

Baru setelah itu Raka menggenggamnya.

Klik.

Lampu kamera menyala.

Bella melihat dari samping.

Arman tidak hadir, tapi bayangannya seperti berdiri di antara rasa iri Bella. Ia membayangkan akadnya nanti. Apakah Arman akan menggenggam tangannya seperti itu? Apakah ia akan bertanya boleh? Atau hanya berdiri dengan wajah kesal karena dipaksa?

Bella mengusir pikiran itu.

Setelah foto selesai, Pak Hendra mengajak semua ke rumahnya untuk syukuran kecil. Nadia sebenarnya ingin langsung ke rumah kecil Raka, tapi menghormati rencana yang sudah dibuat.

Di halaman KUA, Bu Lilis mendekatinya.

"Nadia."

Nadia berhenti.

"Ya, Bu."

Bu Lilis melihat sekeliling, lalu berkata kaku, "Sekarang kamu istri Raka. Saya harap kamu tahu diri. Jangan membuat dia lelah."

Sari yang berdiri di belakang langsung ingin maju, tapi Nadia menahan.

"Bu, saya akan menjaga Mas Raka sebagai suami saya. Tapi saya tidak akan menerima kalau setiap batuknya dijadikan alasan untuk menyalahkan saya."

Bu Lilis terdiam.

Nadia melanjutkan, "Kalau Ibu benar-benar sayang Mas Raka, bantu dia hidup. Jangan hanya bantu dia takut."

Wajah Bu Lilis berubah.

Raka muncul di samping Nadia.

"Ada apa?"

Bu Lilis memalingkan wajah.

"Tidak ada."

Nadia menatap Raka.

"Ibu memberi nasihat."

Raka melihat ekspresi keduanya, tapi tidak memperpanjang.

"Kita berangkat?"

"Iya."

Saat mereka berjalan ke mobil, Bella tiba-tiba memanggil.

"Kak Nadia."

Nadia menoleh.

Bella berdiri beberapa langkah jauhnya.

"Selamat."

Suaranya lembut. Terlalu lembut.

Nadia tersenyum.

"Terima kasih, Bella."

Bella menggigit bibir.

"Semoga bahagia."

Nadia menatapnya lama.

"Aku juga mendoakanmu segera menikah dengan Mas Arman."

Wajah Bella memucat.

Bagi orang lain, itu terdengar seperti balasan sopan.

Bagi Bella, itu terdengar seperti vonis.

Nadia masuk mobil bersama Raka.

Ketika pintu tertutup, ia mengembuskan napas panjang.

Raka menoleh.

"Lega?"

Nadia melihat buku nikah di pangkuannya.

"Lebih dari lega."

"Apa?"

Ia menatap jalan di depan.

"Rasanya seperti keluar dari ruangan yang terbakar sebelum atapnya runtuh."

Raka tidak bertanya ruangan mana.

Ia hanya berkata, "Kalau begitu jangan menoleh terlalu lama."

Mobil bergerak meninggalkan KUA.

Di belakang, Bella masih berdiri di halaman, menatap mobil itu menjauh.

Nadia tidak melihatnya lagi.

Hari ini, untuk pertama kalinya, ia memilih tidak menoleh.

Di pangkuannya, buku nikah terasa hangat terkena telapak tangan. Nadia menunduk sebentar, membaca namanya berdampingan dengan nama Raka. Tidak ada suara Eyang Marni di sana. Tidak ada nama Arman. Tidak ada Bella. Hanya keputusan yang akhirnya ia ucapkan sendiri.

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!