Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14 | Batas yang Dilanggar (++)
Ceklek!
Pintu terbuka. Orion melangkah masuk dengan santai, dikawal oleh dua petugas keamanan di belakangnya. Hari ini, ia tidak lagi memakai pakaian pasien, melainkan kaus hitam polos dan celana panjang longgar yang membuatnya terlihat lebih segar. Rambut hitamnya yang biasanya berantakan kini tersisir sedikit rapi, mengekspos dahinya dan sepasang mata abu-abu yang langsung mengunci sosok Luna di balik meja kerja.
"Selamat siang, Orion. Silakan duduk," ucap Luna seprofesional mungkin. Suaranya terdengar tenang, meskipun dalam hati ia kembali memasang tameng pertahanan yang kuat. "Kalian berdua bisa tunggu di luar," perintah Luna pada kedua petugas keamanan.
"Tapi, Dokter–"
"Tidak apa-apa. Saya aman." Luna tersenyum tipis untuk meyakinkan mereka. Begitu kedua petugas itu membungkuk patuh dan menutup pintu dari luar, keheningan yang familier langsung menyergap ruangan itu.
Orion tidak langsung duduk. Ia melangkah perlahan mengelilingi ruangan Luna, menyentuh dedaunan dari tanaman hias, mengamati buku-buku tebal tentang psikopatologi di rak, sebelum akhirnya tatapannya jatuh pada sofa panjang di tengah ruangan.
Bukannya duduk di kursi tunggal yang biasanya disediakan untuk pasien di seberang meja Luna, Orion justru berjalan menuju sofa coklat susu tersebut. Ia menjatuhkan tubuh tingginya di sana, lalu menepuk ruang kosong di sebelahnya dengan santai. "Kemarilah, Nanae. Duduk di sini."
Luna menghentikan jemarinya yang semula hendak membuka map berkas medis Orion. Ia menghela napas pelan, berusaha tidak terpancing. "Orion, posisi duduk standar untuk terapi adalah saling berhadapan. Kursi di depan meja saya sudah–"
"Aku tidak mau berbicara dengan meja kayu besar yang membatasi kita," potong Orion cepat. Ia menyandarkan punggungnya, merentangkan satu tangannya di sepanjang sandaran sofa, sementara matanya menatap Luna penuh tuntutan. "Dan aku tidak mau menceritakan apa pun jika kamu duduk sejauh itu. Kemari, atau sesi hari ini akan sia-sia seperti enam rumah sakit sebelumnya."
Luna mengepalkan tangannya di bawah meja. Taktik manipulasi klasik, batinnya. Orion sengaja menciptakan kondisi di mana ia memegang kendali. Namun, Luna ingat saran Maya semalam. “Orion itu tipe yang harus kamu dekati perlahan. Kalau kamu terlalu kaku menarik batas, dia akan menutup diri atau malah berbuat nekat.”
Luna memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Ia menutup map berkas itu, bangkit berdiri, dan melangkah mendekati sofa.
Ketika Luna duduk di sofa yang sama, ia sengaja menyisakan jarak sekitar satu meter di antara mereka. Namun, Orion tampaknya tidak puas dengan jarak aman tersebut. Tanpa diduga, pria itu menggeser tubuhnya mendekat, memangkas jarak yang baru saja dibuat Luna hingga lengan mereka hampir bersentuhan. Aroma maskulin yang bercampur dengan sisa sabun antiseptik rumah sakit dari tubuh Orion seketika menyerbu indra penciuman Luna.
"Orion, batas fisik," tegur Luna tegas, mencoba menahan diri agar tidak refleks bergeser menjauh.
"Aku cuma mau dekat dengan psikiaterku. Bukankah terapi membutuhkan rasa percaya?" sahut Orion dengan nada suara yang begitu rendah dan lembut, kontras dengan tatapan matanya yang sangat intens. Ia memiringkan kepalanya, menatap profil samping wajah Luna yang tampak tegang.
"Kamu tegang sekali, Nanae. Jantungmu... berdetak cepat lagi seperti kemarin?"
Luna langsung menoleh, menatap lurus ke dalam manik mata abu-abu yang hanya berjarak beberapa puluh sentimeter darinya. "Saya tegang karena pasien saya sedang mencoba melanggar batas profesional medis."
Orion terkekeh rendah. Suara tawanya yang serak terdengar begitu dekat di telinga Luna, membuat bulu kuduknya meremang halus.
"Aku tidak peduli dengan batas medis itu," bisik Orion. Ia perlahan menurunkan tangannya dari sandaran sofa, lalu dengan gerakan yang sangat berani, jemari panjangnya bergerak menyentuh ujung jubah putih Luna yang tergeletak di atas sofa, memainkannya perlahan. "Aku hanya peduli padamu. Kamu tau? Seminggu ini terasa seperti neraka karena aku tidak bisa melihatmu setiap hari."
Luna menarik napas perlahan, mencoba mengabaikan sentuhan tangan Orion pada ujung jubahnya. Ia harus merebut kembali kendali sesi ini. "Kalau begitu, mari kita buat minggu-minggu berikutnya lebih mudah," ujar Luna, suaranya kembali datar dan terkontrol. "Ceritakan pada saya, Orion. Kenapa kamu begitu benci dengan rumah sakit-rumah sakit sebelumnya? Apa yang mereka lakukan sampai kamu menolak semua terapi mereka?"
Orion terdiam sejenak. Jemarinya berhenti memainkan jubah Luna. Tatapan matanya yang semula dipenuhi binar geli perlahan meredup, menyisakan kekosongan yang begitu gelap dan dingin, sebuah kilasan dari trauma mendalam yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat dari dunia.
"Mereka tidak melihatku sebagai manusia, Nanae," ucap Orion, suaranya mendadak terdengar sangat sunyi, nyaris tanpa emosi. "Mereka hanya melihatku sebagai subjek yang harus disembuhkan, mesin rusak yang harus diperbaiki dengan obat-obatan sampai otakku mati rasa."
Pria itu perlahan mengalihkan pandangannya dari jubah Luna, menatap lurus ke dalam mata cokelat wanita di sampingnya.
"Tapi saat aku melihatmu pertama kali di sini... kamu tidak menatapku dengan pandangan takut atau jijik. Dan lusa kemarin malam, saat aku sekarat, kamu merawatku dengan tanganmu sendiri." Orion mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, hingga Luna bisa merasakan hangat napasnya di pipinya.
"Hanya kamu, Nanae. Hanya kamu yang boleh menyembuhkanku... atau menghancurkanku sekalian."
Napas Luna seketika tercekat. Kata-kata Orion barusan mengambang di udara, menyisakan keheningan yang teramat pekat dan intim di antara mereka. Jarak satu meter yang sempat coba Luna pertahankan kini terkikis habis. Sisi tubuh mereka saling bersentuhan hangat, dan Luna bisa merasakan dada Orion yang naik turun secara teratur seiring dengan helaan napas pria itu yang terasa kian mendekat.
"Orion, kembali ke posisimu–"
Belum sempat Luna menyelesaikan kalimatnya, jemari panjang Orion yang semula memainkan ujung jubah putihnya kini bergerak naik. Dengan gerakan yang terlampau lambat namun sarat akan dominasi yang tak terbantahkan, telapak tangan pria itu yang hangat menangkup sisi wajah Luna, lalu ibu jarinya mengusap lembut tulang pipinya.
Luna membeku. Sentuhan itu seperti menyetrum seluruh saraf di tubuhnya, mengunci suaranya di tenggorokan.
"Aku sudah bilang, kan, Nanae?" bisik Orion, suaranya kini terdengar sangat serak dan dalam. "Aku tidak suka kamu menarik batas di antara kita."
Orion memiringkan kepalanya. Sepasang mata abu-abu gelap itu perlahan turun dari mata Luna, menatap bibirnya yang sedikit terbuka, sebelum akhirnya tatapan itu jatuh pada ceruk leher Luna yang terekspos karena kerah kemeja birunya yang sedikit longgar. Di sana, denyut nadi Luna berdetak sangat cepat, sebuah bukti tak terbantahkan dari kepanikan sekaligus debaran yang coba ia sembunyikan.
"Di sini..." gumam Orion lirih. "Detak jantungmu terdengar sangat jelas di sini."
Sebelum Luna sempat memproses apa yang akan terjadi, Orion menundukkan kepalanya. Sentuhan bibir Orion yang hangat dan sedikit basah mendarat lembut tepat di atas denyut nadi di leher Luna.
Tubuh Luna mendadak kaku sempurna. Rasa hangat yang menjalar dari bibir Orion seketika meledak, mengirimkan gelombang kejut yang membuat seluruh tubuhnya meremang hebat. Embusan napas panas pria itu menyapu kulit lehernya yang sensitif saat Orion menyesap perlahan area kulit di sana, memberikan kecupan-kecupan kecil yang menuntut namun terasa begitu memabukkan.
"O-Orion... hentikan..." lirih Luna, suaranya bergetar hebat. Kedua tangannya yang lemas refleks naik, mencoba mendorong dada bidang Orion. Namun, alih-alih menjauh, dorongan lemah Luna justru membuat Orion semakin merapatkan tubuh mereka.
Satu tangan Orion yang bebas kini merayap ke pinggang Luna, menarik tubuh wanita itu hingga tidak ada lagi jarak yang tersisa di antara mereka. Orion memejamkan matanya, menenggelamkan wajahnya lebih dalam pada ceruk leher Luna, menghirup aroma vanila bercampur antiseptik yang kini telah menjadi candu barunya.
"Kamu wangi sekali, Nanae," bisik Orion tepat di permukaan kulit leher Luna, sebelum kembali mengecupnya dengan lebih dalam, seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya. "Milikku. Hanya milikku."
Sensasi bibir Orion yang bergesekan dengan kulitnya membuat Luna hampir kehilangan seluruh akal sehatnya. Sebagai seorang dokter dan psikiater, otaknya berteriak bahwa ini adalah kesalahan fatal. Sebuah pelanggaran kode etik paling berat yang bisa menghancurkan kariernya seketika. Namun sebagai seorang wanita, kehangatan dan intensitas yang diberikan Orion membuat pertahanannya runtuh berantakan.
Dengan sisa-sisa kekuatan dan akal sehat yang ia miliki, Luna mencengkeram kerah kaus hitam Orion, lalu menariknya dengan sentakan yang cukup kuat hingga pria itu terpaksa menjauhkan wajahnya dari leher Luna.
Napas Luna memburu, wajahnya merona merah padam, dan dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Ia menatap Orion dengan mata cokelatnya yang kini tampak berkaca-kaca karena kombinasi rasa takut, canggung, dan sensasi aneh yang baru saja ia rasakan.
Sementara itu, Orion menatap Luna dari jarak dekat. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat puas. Matanya yang sayu namun tajam berkilat penuh kemenangan saat melihat tanda kemerahan tipis yang samar mulai terbentuk di leher putih wanita itu.
"Marahlah padaku, Nanae," tantang Orion lembut, jemarinya masih betah mengusap sisa napasnya di leher Luna. "Atau... hukum aku sekalian. Aku tidak akan keberatan."
Mata cokelat Luna yang semula menatap tajam kini mulai digenangi air mata. Setitik air bening perlahan lolos dari sudut matanya, bergulir melewati pipinya yang merona merah padam, lalu jatuh tepat di punggung tangan Orion yang masih menangkup wajahnya.
Air mata itu terasa hangat, namun bagi Orion, efeknya seperti hantaman air es yang membekukan seluruh gerakannya. Senyum kepuasan di bibir Orion perlahan memudar. Binar kemenangan di mata abu-abunya lenyap seketika, digantikan oleh gurat keterkejutan yang nyata. Ia menatap tetesan air mata di punggung tangannya, lalu beralih menatap wajah Luna yang kini bergetar menahan tangis.
Luna tidak berteriak. Ia juga tidak memaki. Ia hanya menundukkan kepala sedalam-dalamnya, menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik telapak tangannya sendiri. Bahunya yang biasa tegak kini berguncang kecil, mengeluarkan isak tangis tertahan yang terdengar sangat pilu di keheningan ruangan itu.
"Na... Nanae?" panggilan Orion terdengar tidak seyakin sebelumnya. Ada nada panik yang jarang sekali atau bahkan tidak pernah terdengar dari suaranya yang biasa tenang dan penuh kuasa.
Jemari panjang Orion yang tadinya begitu lancang mencengkeram pinggang Luna perlahan mengendur. Ia menarik tangannya kembali, merasa sangat asing dengan sensasi tidak berdaya yang tiba-tiba menyerang dadanya hanya karena melihat air mata wanita di hadapannya.
"Kamu... nangis?" tanya Orion lirih. Ia mencoba kembali menyentuh bahu Luna, namun Luna dengan cepat menepisnya kasar.
"Jangan sentuh saya!" bisik Luna, suaranya serak dan bergetar hebat karena tangis yang ia tahan di tenggorokan.