Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."
Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Beberapa jam setelah menyombongkan diri dan melempar uang lima juta di meja makan rumahnya, Ardi sudah berada di kantor pusat perusahaannya. Suasana kantor tampak sibuk seperti biasa, namun di dalam ruangan kerja sang direktur utama, suasananya jauh lebih intim. Tyas—yang kini resmi memegang posisi sebagai 'konsultan khusus' hasil rekayasa Ardi—hampir tidak pernah berjarak lebih dari satu meter dari pria itu.
"Di, ini berkas laporan yang kamu minta tadi. Sudah aku rapikan," ucap Tyas dengan suara manja yang lembut. Dia sengaja membungkuk sedikit di samping kursi kerja Ardi, membiarkan aroma parfumnya yang manis memenuhi indra penciuman pria itu.
"Wah, cepat sekali, Tyas. Kamu memang bisa diandalkan," sahut Ardi. Matanya sama sekali tidak fokus pada berkas, melainkan pada senyuman Tyas yang menggoda.
Tyas tersenyum manis, lalu dengan gerakan alami mengulurkan tangan untuk merapikan kerah kemeja necis Ardi yang sedikit miring—setelan jas yang sama yang dipakainya saat meremehkan Sarah tadi pagi. "Tentu saja. Aku kan tidak mau melihat kamu kelelahan. Oh ya, ini aku sekalian buatkan teh chamomile hangat. Kamu tadi pagi di rumah pasti pusing menghadapi urusan rumah tangga mu ."
Perhatian-perhatian kecil seperti itu membuat ego Ardi yang sudah besar menjadi semakin melambung tinggi. Dia merasa seperti raja yang dilayani dengan sempurna. Dalam hatinya, Ardi merutuk dan kembali membandingkan Tyas dengan istrinya. Lihat ini, pikir Ardi jemawa. Tyas bukan cuma cantik dan modis, tapi dia paham bisnis, paham caraku bekerja, dan tahu bagaimana memperlakukan pria sukses. Tidak seperti Sarah yang otaknya sudah tumpul karena cuma tahu urusan dapur.
Ardi benar-benar merasa di atas angin. Dia merasa keputusannya membawa Tyas masuk ke dalam lingkaran bisnisnya adalah langkah yang genius. Pria itu sama sekali tidak sadar bahwa setiap gerak-gerik mereka di dalam ruangan itu sedang dipantau oleh salah satu kepala divisi, yang diam-diam merupakan orang kepercayaan Sarah.
Malam harinya, alibi rapat kerja dengan investor luar kota yang sudah disiapkan Ardi sejak pagi akhirnya dieksekusi. Alih-alih pergi ke luar kota, mobil Ardi justru membelah jalanan kota menuju sebuah hotel butik mewah di kawasan elit.
Di dalam kamar suite bertarif jutaan rupiah per malam, Ardi dan Tyas melepaskan semua kedok profesional mereka. Di bawah temaram lampu kamar, keduanya memadu kasih, merayakan apa yang mereka sebut sebagai "kemenangan dan kebebasan". Ardi merasa hidupnya telah sempurna: uang miliaran di tangan, perusahaan yang dirasa aman, dan wanita idaman di pelukannya.
"Di, setelah proyek ini Berhasil, kamu benar-benar akan menceraikan wanita rumahan itu, kan?" bisik Tyas manja di dada Ardi setelah percintaan mereka usai.
"Tentu saja, Sayang. Kamu tenang saja. Begitu semua aset atas namaku beres, aku akan mendepaknya. Dia tidak punya hak apa-apa atas kesuksesanku," jawab Ardi dengan nada sombong, mengecup kening Tyas.
Ardi tersenyum puas menatap langit-langit kamar hotel. Dia membayangkan masa depan indahnya bersama Tyas tanpa tahu bahwa beberapa lantai di bawah mereka, sebuah mobil hitam terparkir tenang. Di dalamnya, seorang informan bayaran baru saja mengirimkan foto plat mobil Ardi dan detail nomor kamar hotel mereka langsung ke ponsel kedua milik Sarah.
Di rumahnya yang sepi, Sarah melihat foto-foto itu dengan tatapan dingin tanpa air mata sedikit pun. Sudut bibirnya justru terangkat, membentuk seulas senyum penuh arti. Baginya, malam ini adalah awal dari permainan yang sesungguhnya. Sarah sengaja belum ingin meruntuhkan dunia Ardi.Dia ingin membiarkan suaminya itu terus berdansa dalam ilusi kemenangan, membiarkannya menghabiskan lebih banyak uang, dan merasa menjadi pria paling genius di dunia. Sarah memiliki segudang rencana matang yang sudah dia susun rapi, dan dia akan memastikan kejatuhan Ardi nanti terjadi dari tempat yang paling tinggi, hingga pria itu tidak akan pernah bisa bangkit lagi.