Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?
Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?
"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.
____
"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.
Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.
____
"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.
"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.
-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --
Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Kondisi Ujian Hari Kedua di kelas Lyra dan Rian
Hari kedua ujian semester di SMA Bangsa Bangkit membawa atmosfer yang jauh lebih mencekam.
Setelah melewati ketegangan Bahasa Indonesia dan Agama di hari pertama, kini para siswa harus berhadapan dengan dua raksasa akademik yang paling ditakuti, yaitu Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
_________________
Pukul 07.15 WIB, suasana di dalam kelas X-3 terasa sangat kontras dengan hari biasanya.
Tidak ada lagi suara riuh siswa yang membahas game online atau bergosip tentang tren media sosial terbaru.
Jarak antar meja sejauh satu meter membuat ruangan terasa lebih luas sekaligus lebih dingin.
Pendingin ruangan yang menderu pelan seolah ikut menambah ketegangan yang menyelimuti setiap sudut kelas.
Lyra duduk di bangku nomor 28 di pojok belakang.
Tatapan matanya lurus menghadap buku catatan bergaris penuh dengan coretan rumus fungsi kuadrat, matriks, trigonometri, hingga hukum-hukum Newton.
Jari-jarinya yang memegang pensil 2B tampak sedikit gemetar.
Ia berulang kali memejamkan mata, merapalkan rumus matematika dalam hati seperti sedang membaca mantra perlindungan agar tidak lupa saat lembar soal dibagikan nanti.
"Ly, mending ditaruh aja bukunya. Daripada makin panik dan rumusnya malah kecampur di kepala," sebuah suara berat mengejutkannya.
Rian sudah berdiri di samping mejanya.
Pemuda itu duduk di bangku nomor 14, beberapa baris di depan Lyra.
Berbeda dengan Lyra yang tampak sangat tertekan, Rian terlihat lebih tenang, walau gurat hitam di bawah matanya tidak bisa berbohong bahwa ia juga begadang semalam demi menguasai bab Fisika.
"Aku takut banget, Ran," bisik Lyra, suaranya agak serak karena cemas.
"Semalam aku ketiduran pas baru setengah jalan belajar rumus gaya gesek dan konfigurasi elektron. Kalau nanti soalnya divariasiin dan beda jauh sama contoh di buku gimana?"
kriet...
Rian menarik kursi kosong di dekat meja Lyra, mendudukinya sebentar sambil menatap sahabatnya itu dengan yakin.
"Kamu ingat gak latihan kita hari Sabtu lalu di perpustakaan? Kuncinya bukan menghafal seluruh variasi soal, tapi paham konsep dasarnya. Kalau konsepnya kamu pegang, dibolak-balik kayak gimana pun pasti bakal ketemu jalannya. Tenang, kamu pasti bisa."
Lyra menarik napas dalam-dalam dan mengangguk pelan.
Kehadiran Rian yang selalu logis dan tenang sedikit banyak berhasil mengikis kabut kepanikan yang sempat menguasai pikirannya sejak bangun tidur pagi ini.
____________________
kriiiiiiingg.......
Tepat pukul 07.30 WIB, bel sekolah berbunyi dengan nada yang panjang dan tegas, memotong semua obrolan singkat di dalam kelas.
klik...
Tap-tap
Pintu X-3 terbuka, dan langkah kaki yang berat terdengar memasuki ruangan.
Pengawas sesi pertama mereka adalah Pak Tio, guru Matematika yang terkenal dengan julukan "Penggaris Besi" karena kedisplinannya yang tanpa kompromi.
Pak Tio membawa map plastik tebal berisi lembaran soal yang masih disegel rapat.
"Selamat pagi semuanya. Taruh semua tas, buku, dan catatan di depan kelas sekarang. Tidak ada gawai, tidak ada kertas coretan dari luar. Yang tertangkap tangan membawa catatan sekecil apa pun, lembar jawabannya langsung saya ambil dan diberi nilai nol," kata Pak Tio dengan nada suara yang datar namun menusuk.
Seluruh siswa di kelas X-3 langsung bergerak serentak tanpa bersuara.
Dimas, yang terkenal usil dan duduk di barisan depan, mendesah sangat keras.
Tap.. tap..
Ia berjalan dengan lesu mengumpulkan tasnya ke depan, memandang papan tulis seolah-olah itu adalah hari terakhirnya di sekolah.
Pak Tio mulai membagikan Lembar Jawaban Komputer (LJK) dan naskah soal Matematika.
Ketika kertas soal mendarat di meja Lyra, aroma kertas baru dan tinta cetak langsung menyeruak, membawa sensasi mulas yang instan ke perutnya.
Lyra membalik kertas tersebut dengan hati-hati.
Mata Lyra langsung tertuju pada soal nomor satu: menentukan akar-akar persamaan kuadrat dengan metode matriks yang dikombinasikan dengan fungsi komposisi.
Soal itu jauh lebih rumit daripada soal-soal latihan di buku paket mereka.
Di barisannya, Rian sudah mulai bergerak cepat.
Rian langsung menuliskan coretan-coretan angka di kertas buram yang disediakan sekolah dengan ritme yang konstan dan percaya diri.
__________________
Suasana kelas X-3 berubah menjadi medan pertempuran yang sunyi.
Tap.. tap.. tap...
Hanya ada suara gesekan pensil pada kertas, ketukan sepatu Pak Tio yang berjalan perlahan mengitari lorong bangku, dan sesekali suara desahan frustrasi dari beberapa murid.
Di barisan tengah, Dewi tampak memegangi kepalanya dengan kedua tangan, menatap kosong ke arah lembar soal nomor lima belas tentang logika matematika yang menjebak.
Sementara itu, Gio terlihat sibuk menghapus coretannya sampai kertas buramnya hampir bolong karena salah memasukkan angka di awal rumus.
Lyra mencoba mengingat saran Rian.
Ia memejamkan mata tiga detik, meminum seteguk air, lalu mulai mengerjakan soal dari nomor yang dirasanya paling mudah terlebih dahulu.
Perlahan tapi pasti, logika berpikirnya mulai berjalan.
Jemarinya mulai lancar menggoreskan pensil, mengurai angka demi angka hingga menemukan jawaban yang pas pada pilihan ganda.
__________________
Waktu sisa lima belas menit.
"Periksa kembali pembulatan lingkaran pada LJK kalian, jangan sampai ada yang keluar garis atau kurang hitam," suara Pak Tio memecah keheningan pada pukul 08.45 WIB.
Mendengar hal itu, beberapa siswa di bagian belakang mulai panik.
Dimas tampak menghitamkan LJK-nya dengan gerakan yang sangat terburu-buru, kemungkinan besar ia sedang menggunakan teknik
"Keberuntungan kancing baju" alias menebak sisa soal yang belum diisi.
Sementara itu, Rian dan Lyra memanfaatkan waktu kritis tersebut untuk meneliti ulang hasil hitungan mereka masing-masing.
__________________
Setelah istirahat singkat selama tiga puluh menit yang diisi dengan diskusi kilat penuh penyesalan tentang jawaban Matematika di koridor luar.
Para siswa kembali masuk ke kelas X-3 untuk sesi kedua: IPA (Fisika dan Kimia dasar).
Kali ini, pengawas mereka berganti menjadi Bu Ratna, guru Kimia yang ramah namun memiliki mata yang sangat jeli melihat pergerakan tangan siswa yang mencurigakan.
Begitu soal IPA dibagikan, tantangan baru pun dimulai.
Jika Matematika menuntut ketelitian berhitung, soal IPA kali ini menuntut analisis logika yang mendalam terhadap fenomena alam dan reaksi zat.
Rian membuka lembar soal Fisika dan langsung berhadapan dengan grafik hubungan antara kecepatan dan waktu pada gerak lurus berubah beraturan (GLBB).
Ia tersenyum tipis, topik ini adalah salah satu makanan sehari-harinya saat belajar kelompok.
Dengan cekatan, ia menerapkan rumus gerak untuk memecahkan soal cerita tentang mobil yang mengerem mendadak sebelum menabrak pembatas jalan.
Namun, tantangan sesungguhnya ada di bagian soal Kimia di lembar berikutnya.
Soal mengenai konfigurasi elektron dan hukum-hukum dasar kimia membuat sebagian besar anak di kelas X-3 mengerutkan kening berjamaah.
Di bangku belakang, Lyra sempat mengalami kesulitan hebat saat membaca soal nomor dua puluh dua yang menanyakan tentang massa zat yang dihasilkan dari reaksi antara gas hidrogen dan oksigen.
Ia sempat lupa konversi dari mol ke gram.
Lyra melirik ke depan, melihat punggung Rian yang tegak dan fokus bekerja tanpa henti.
Mengingat kembali diskusi mereka di perpustakaan sekolah beberapa hari lalu, Lyra mencoba menenangkan detak jantungnya.
Deg.. deg.. deg...
“Ingat hukum kekekalan massa, Ly. Massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama,” suara Rian seolah terngiang kembali di telinganya.
Seketika, titik terang muncul di kepala Lyra. Ia langsung menuliskan persamaan reaksinya, menyetarakan koefisiennya, dan menghitung langkah demi langkah dengan hati-hati.
Kegembiraan kecil meletup di dadanya saat angka hasil hitungannya cocok dengan salah satu pilihan huruf di lembar soal.
Di sudut lain kelas, atmosfer ketegangan masih terasa pekat hingga menit-menit terakhir.
Fajar tampak berulang kali menghela napas panjang sambil menatap langit-langit kelas, sementara Bu Ratna tetap mengawasi dari meja guru dengan pandangan yang teduh namun waspada, memastikan tidak ada siswa yang mencoba menoleh ke kanan atau ke kiri.
_________________
Kriiiiiiingg......
Pukul 11.00 WIB, bel panjang tanda berakhirnya ujian hari kedua akhirnya berbunyi dari pusat informasi sekolah.
Suara helaan napas lega yang serentak terdengar seperti paduan suara kebahagiaan di dalam kelas X-3.
"Silakan letakkan pensil dan alat tulis kalian di atas meja. Lembar jawaban akan saya ambil dari baris paling belakang," perintah Bu Ratna dengan senyuman hangat yang menenangkan.
Lyra meletakkan pensilnya dengan tangan yang terasa lemas namun penuh kelegaan.
Beban berat yang menggelayuti pundaknya sejak pagi hari seolah menguap begitu saja bersama angin siang.
Rian segera berbalik badan setelah mengumpulkan lembar jawabannya, memberikan senyuman lebar kepada Lyra.
"Gimana? Aman semuanya, Ly?" tanya Rian sambil meregangkan tangannya yang pegal.
"Aman! Makasih banyak ya, Ran. Rumus hukum kekekalan massa yang kamu ingatin waktu itu beneran keluar di soal Kimia tadi. Kalau gak, aku pasti udah pasrah," jawab Lyra dengan mata yang kembali berbinar ceria.
Dari barisan depan, Dimas berjalan menghampiri meja mereka sambil merangkul tas ranselnya yang sudah siap dipakai pulang.
"Gila, soal Fisika tadi bikin otak gue berasa dikocok blender. Tapi untunglah hari kedua yang horor ini udah lewat!" ucapnya terbahak, yang langsung disambut tawa oleh Rian dan Lyra.
Ketegangan ujian hari kedua di kelas X-3 akhirnya mencair.
Tap.. tap..
Mereka bertiga kemudian berjalan keluar kelas bersama murid-murid lainnya, menikmati embusan angin siang di koridor sekolah dan siap mengistirahatkan pikiran sebelum harus kembali bertempur di ujian hari ketiga besok.
Bersambung~~~
Semoga suka gess!! 🤗
Jangan Lupa follow akun ini, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉
Instagram: @dinndaayu_64
Wattpad: @dinda.glow
See you~~