Asisten Duda CEO Tajir Melintir
Grizella Madeline Dealova, seorang anak magang yang ambisius dan berani, tidak pernah menyangka akan terlibat dengan Galaxy Adelion Wesley, CEO kaya raya yang dingin dan terluka karena pengkhianatan masa lalu.
Pertemuan mereka dipenuhi pertengkaran, tetapi perlahan rasa benci berubah menjadi ketertarikan. Saat Galaxy memintanya menjadi asisten pribadi dan tinggal bersamanya, keduanya mulai menghadapi perasaan yang tidak bisa mereka hindari.
Namun, ketika cinta mulai tumbuh, mantan istri Galaxy kembali membawa rahasia lama yang mengancam hubungan mereka.
Akankah Grizella menjadi alasan Galaxy kembali percaya pada cinta, atau justru menjadi luka baru dalam hidup sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
nama di dalam berkas
Suara alarm masih menggema di seluruh ruang arsip bawah tanah.
Rak-rak besi terus bergeser, menutup setiap lorong yang sebelumnya terbuka.
Komandan Ethan Ward memberi aba-aba.
"Semua bergerak!"
"Jangan terpencar!"
Aaron segera membantu Elena, sementara Vanessa mengamankan map cokelat yang baru saja diberikan Aurelius.
Galaxy menggenggam tangan Grizella erat.
"Aku tidak akan melepaskanmu."
Grizella mengangguk.
"Saya juga."
Mereka berhasil keluar dari ruang arsip beberapa detik sebelum pintu baja menutup rapat.
Brak!
Getaran hebat membuat debu berjatuhan dari langit-langit.
Alexander mengembuskan napas lega.
"Kita berhasil."
Namun wajah Galaxy tetap serius.
Pikirannya masih tertuju pada isi map yang dibawa Aurelius.
Sesampainya di hotel, seluruh rombongan berkumpul di ruang rapat pribadi.
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Map cokelat itu tergeletak di tengah meja.
Galaxy memandang semua orang.
"Apa pun yang ada di dalam berkas ini..."
"Mungkin akan mengubah hidup kita."
Nathaniel mengangguk pelan.
"Bukalah."
Galaxy membuka halaman terakhir yang sebelumnya belum sempat dibaca.
Ruangan kembali sunyi.
Dokumen itu menjelaskan kronologi kematian ayah Galaxy secara rinci.
Tidak ada kecelakaan.
Mobil yang dikendarainya telah disabotase beberapa jam sebelum berangkat.
Di halaman berikutnya terdapat daftar nama orang-orang yang mengetahui rencana tersebut.
Sebagian besar telah meninggal.
Namun satu nama masih diberi tanda aktif.
Nama itu disamarkan.
Hanya terdiri dari dua huruf.
"A.W."
Aaron segera membuka laptop.
"Saya akan mencari semua orang dengan inisial itu."
Beberapa menit berlalu.
Puluhan nama muncul.
Namun hanya satu yang pernah memiliki hubungan langsung dengan keluarga Wesley.
Arthur Bennett.
Semua orang saling berpandangan.
Grizella langsung teringat pria tua yang menyambut mereka saat tiba di London.
"Pengacara itu..."
Galaxy mengangguk.
"Dia berbohong."
Nathaniel menundukkan kepala.
"Kalau benar Arthur terlibat..."
"Berarti pengkhianatan itu sudah berlangsung lebih dari dua puluh tahun."
Belum sempat mereka menyusun rencana, ponsel Ethan berdering.
Ia mengangkat telepon itu.
Wajahnya berubah tegang.
"Apa?"
"Di mana?"
Beberapa detik kemudian ia memutus sambungan.
Galaxy menatapnya.
"Ada apa?"
Ethan menarik napas panjang.
"Arthur Bennett menghilang."
"Rumahnya kosong."
"Semua dokumen dibakar."
Galaxy mengepalkan tangan.
"Kita terlambat."
Saat itu juga, Aaron menerima email tanpa pengirim.
Hanya ada satu lampiran.
Sebuah rekaman video berdurasi tiga puluh detik.
Galaxy memutarnya.
Di layar terlihat Arthur Bennett.
Wajahnya penuh luka.
Ia menatap kamera dengan napas terengah.
"Galaxy..."
"Kalau kau melihat rekaman ini..."
"...berarti mereka sudah menemukanku."
Arthur menoleh ke belakang seolah seseorang sedang mendekat.
Dengan sisa tenaganya ia berkata,
"Jangan percaya..."
Video mendadak terputus.
Layar berubah hitam.
Di bawahnya muncul satu pesan singkat.
"Kalian selalu terlambat satu langkah."
Seluruh ruangan kembali diliputi keheningan.
Galaxy perlahan menutup laptop.
Tatapannya berubah semakin tajam.
Permainan Aurelius baru saja dimulai.
Suasana ruang rapat hotel menjadi semakin tegang.
Pesan terakhir dari rekaman Arthur masih terbayang di pikiran mereka.
"Kalian selalu terlambat satu langkah."
Galaxy berdiri perlahan.
Tidak ada kepanikan di wajahnya.
Hanya ketenangan yang semakin tajam.
"Mulai sekarang..."
"Kita berhenti mengikuti permainan mereka."
Aaron menatapnya.
"Maksud Anda?"
Galaxy melihat seluruh dokumen di meja.
"Kita buat mereka yang mengikuti kita."
Nathaniel memperhatikan Galaxy dengan tatapan serius.
"Aku mengerti kenapa ayahmu mempercayaimu."
Galaxy menoleh.
"Anda mengenal ayah saya?"
Nathaniel mengangguk.
"Lebih dari yang kau bayangkan."
"Dia bukan hanya seorang pebisnis."
"Dia adalah seseorang yang mencoba menghentikan perang kekuasaan sebelum semuanya terlambat."
Galaxy terdiam.
Selama ini ia hanya mengenal ayahnya dari cerita orang lain.
Sebagai CEO hebat.
Sebagai pemimpin keluarga.
Namun perlahan ia mulai menyadari...
Ada bagian besar dari masa lalu ayahnya yang sengaja disembunyikan.
Grizella menghampiri meja.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Galaxy menatapnya.
"Kita mencari Arthur."
"Dan kita mencari tahu siapa yang berada di balik inisial A.W."
Vanessa mengangguk.
"Aku akan memeriksa jaringan hukum lama keluarga Wesley."
Aaron menambahkan,
"Aku akan melacak semua aktivitas digital Arthur sebelum menghilang."
Ethan berdiri.
"Pasukanku akan mencari lokasi terakhirnya."
Sementara semua orang mulai bekerja...
Galaxy berjalan menuju balkon hotel.
London terlihat indah dari kejauhan.
Namun baginya, kota itu kini seperti papan catur besar.
Setiap orang bisa menjadi pemain.
Atau hanya bidak.
Grizella menyusulnya.
"Anda menyalahkan diri sendiri?"
Galaxy diam beberapa saat.
"Lagi-lagi seseorang terluka karena konflik keluargaku."
Grizella menggeleng.
"Jangan katakan begitu."
"Anda tidak memilih dilahirkan dalam semua masalah ini."
Galaxy menatapnya.
"Kau selalu bisa membuatku melihat sesuatu dari sisi lain."
Grizella tersenyum kecil.
"Karena seseorang harus mengingatkan Anda bahwa Anda bukan hanya seorang CEO."
Tiba-tiba suara notifikasi terdengar dari ponsel Galaxy.
Sebuah pesan masuk.
Tidak ada nomor pengirim.
Hanya sebuah foto.
Foto lama keluarga Wesley.
Namun ada satu bagian yang membuat Galaxy membeku.
Di belakang foto itu tertulis tanggal.
Tanggal yang sama dengan hari kematian ayahnya.
Di bawahnya terdapat kalimat:
"Kebenaran ada di tempat semuanya dimulai."
Nathaniel yang melihat foto itu langsung berubah ekspresi.
"Mustahil."
Galaxy menoleh.
"Apa?"
Nathaniel menunjuk bagian belakang foto.
"Itu adalah tempat pertemuan pertama Project Raven."
"Tempat yang seharusnya sudah dihancurkan."
"Di mana?"
tanya Ethan.
Nathaniel menjawab pelan.
"Di sebuah pulau kecil di Skotlandia."
Aaron segera membuka peta.
"Jika pesan ini benar..."
"Berarti seseorang ingin kita pergi ke sana."
Galaxy mengambil keputusan.
"Kita berangkat malam ini."
Namun Nathaniel tiba-tiba berkata,
"Tunggu."
Semua menoleh.
"Jika orang yang mengirim pesan ini adalah orang yang sama..."
"Maka dia bukan hanya tahu tentang masa lalu."
"Dia tahu semua langkah kita sebelum kita melakukannya."
Di tempat lain...
Seseorang berdiri di depan jendela besar sebuah gedung tua.
Arthur Bennett berada di sana.
Ternyata ia masih hidup.
Di hadapannya berdiri Aurelius Blackwood.
Arthur menundukkan kepala.
"Galaxy telah menemukan petunjuk berikutnya."
Aurelius tersenyum.
"Bagus."
"Lalu bagaimana reaksinya?"
Arthur menjawab,
"Sama seperti yang Anda prediksi."
Aurelius melihat foto Galaxy dan Grizella.
"Dia memiliki hati ayahnya."
"Itulah kelemahannya."
Ia berhenti sejenak.
"Lihat saja..."
"Apakah hati itu akan menyelamatkannya..."
"Atau menghancurkannya."
Malam semakin larut.
Jet pribadi Wesley Corporation kembali bersiap di bandara London.
Tujuan mereka kali ini bukan untuk bisnis.
Bukan untuk menghadiri rapat.
Melainkan menuju tempat yang menyimpan rahasia terbesar keluarga Wesley.
Sebuah pulau kecil di Skotlandia.
Tempat lahirnya Project Raven.
Di dalam pesawat, suasana terasa lebih tenang daripada sebelumnya.
Namun semua orang menyadari satu hal.
Perjalanan ini mungkin akan membuka kebenaran yang selama puluhan tahun disembunyikan.
Galaxy duduk sambil membaca kembali dokumen lama milik ayahnya.
Grizella duduk di sebelahnya.
"Masih mencari sesuatu?"
Galaxy mengangguk.
"Aku merasa ada bagian yang hilang."
"Ayahku meninggalkan banyak petunjuk."
"Tapi tidak pernah memberi jawaban langsung."
Grizella melihat dokumen itu.
"Mungkin karena dia ingin Anda menemukan jawabannya sendiri."
Galaxy menatapnya.
"Kau selalu percaya pada orang lain lebih mudah daripada dirimu sendiri."
Grizella tersenyum kecil.
"Dan Anda selalu meragukan diri sendiri meskipun semua orang percaya pada Anda."
Untuk sesaat...
Keduanya hanya saling tersenyum.
Beberapa jam kemudian, pesawat tiba di sebuah pulau terpencil.
Udara dingin langsung menyambut mereka.
Di kejauhan berdiri sebuah bangunan batu tua yang hampir tertutup tanaman liar.
Nathaniel menatap bangunan itu dengan wajah penuh kenangan.
"Tempat ini..."
"Sudah lama sekali."
Ethan bertanya,
"Ini benar markas pertama Project Raven?"
Nathaniel mengangguk.
"Ya."
"Di sinilah tiga orang bermimpi mengubah dunia."
Ia berhenti sejenak.
"Dan di sinilah mimpi itu mulai hancur."
Mereka memasuki bangunan tua tersebut.
Tidak ada penjaga.
Tidak ada jebakan yang terlihat.
Namun justru itu membuat Galaxy semakin waspada.
"Tempat ini terlalu mudah dimasuki."
kata Aaron.
Nathaniel menjawab pelan,
"Karena pemiliknya tidak takut ada yang datang."
"Mereka memang ingin kita menemukan sesuatu."
Di ruang utama, mereka menemukan meja kayu tua.
Di atasnya terdapat tiga benda.
Sebuah pena.
Sebuah cincin.
Dan sebuah buku catatan.
Galaxy mengambil buku tersebut.
Di sampulnya tertulis:
PROJECT RAVEN – CATATAN PENDIRI
Tangannya perlahan membuka halaman pertama.
Tulisan tangan ayahnya terlihat jelas.
"Jika suatu hari anakku menemukan buku ini..."
"Berarti aku gagal menjelaskan semuanya saat masih hidup."
Galaxy terdiam.
Ia terus membaca.
Isi buku itu menjelaskan awal mula Project Raven.
Tentang tiga sahabat yang ingin menciptakan sistem untuk melindungi dunia bisnis dari para penguasa yang menyalahgunakan kekuasaan.
Namun halaman berikutnya membuat semua orang terkejut.
Ada sebuah nama yang dicoret.
Nama seseorang yang awalnya menjadi anggota keempat Project Raven.
Nama itu hampir tidak terlihat.
Namun masih bisa dibaca.
Aurelius Blackwood.
Vanessa menatap halaman tersebut.
"Jadi Aurelius bukan orang luar."
Nathaniel mengangguk pelan.
"Dia adalah bagian dari kami."
Galaxy membalik halaman terakhir.
Di sana hanya terdapat satu kalimat.
Ditulis dengan tinta merah.
"Jangan mencari pengkhianat di luar lingkaranmu."
"Karena pengkhianat pertama selalu berasal dari orang yang paling dipercaya."
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari luar ruangan.
Semua langsung bersiap.
Pintu tua terbuka perlahan.
Namun yang muncul bukan pasukan musuh.
Melainkan Arthur Bennett.
Wajahnya terlihat lelah.
Ia berjalan masuk dengan tangan terangkat.
"Aku datang untuk membantu kalian."
Galaxy menatapnya tajam.
"Kenapa kami harus percaya?"
Arthur menundukkan kepala.
"Karena aku tahu siapa yang membunuh ayahmu."
Ruangan langsung membeku.
Galaxy melangkah mendekat.
"Siapa?"
Arthur mengangkat wajahnya.
Dengan suara pelan ia berkata,
"Orang yang paling dekat dengannya."
Sebelum sempat menyebut nama...
Lampu seluruh bangunan tiba-tiba padam.
Lalu terdengar suara tembakan dari luar.
Dor!
Arthur terjatuh.
Semua orang panik.
Galaxy segera menangkap tubuhnya.
Dan di tengah kegelapan...
Sebuah suara terdengar melalui pengeras suara tua.
"Aku sudah memperingatkan kalian."
"Jangan membuka pintu masa lalu."
Suara itu...
Milik Aurelius.