NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:378
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Anak Raja Vampir

"Ibu—Ibu, tolong keluar cepat! Ada orang yang terluka parah di teras, kakinya habis digigit oleh rahang monster Nessie!" teriak Moana dengan nada panik, suaranya bergaung memotong keheningan di depan bangunan toko suvenir milik keluarganya.

CKLEKK!

Pintu kayu ek rumah belakang mendadak terbuka dari dalam. Namun, bukannya Nerissa yang keluar terlebih dahulu, sesosok anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun dengan rambut pirang madu berombak dan sepasang mata biru safir yang khas mendadak menjulurkan kepalanya.

Anak itu mengenakan kemeja rami longgar khas pesisir dan sedang memegang sebuah kerang hias yang sedang dibersihkannya. Dialah Helios Marine, sepupu Moana yang sedang membantu menjaga toko suvenir pagi itu.

"Astaga, Moana! Kenapa kau berteriak seolah-olah seluruh pasang laut menghantam toko kita—tunggu, mahluk daratan apa yang kau bawa itu?" seru Helios Marine, matanya yang biru membelalak lebar saat menangkap siluet tubuh Justin yang pucat bersimbah darah di atas kursi rotan teras.

Tepat pada detik yang sama, sesosok wanita berparas teramat cantik dengan struktur rambut panjang bergelombang muncul dari balik punggung Helios. Wanita itu memancarkan aura keanggunan khas pesisir yang abadi. Dialah Nerissa Marine, ibu kandung Moana sekaligus bibi dari Helios.

"Ya Tuhan! Siapa gerangan anak yang kau bawa ini, Moana? Kenapa dia bisa menderita luka robek semengerikan ini?" tanya Nerissa Marine dengan raut wajah yang instan dirundung kecemasan mendalam seraya melangkah cepat menghampiri putrinya, mengabaikan Helios yang masih mematung kebingungan di ambang pintu.

"Aku juga belum mengetahui secara pasti siapa identitas dirinya, Ibu. Aku tidak sengaja menemukannya sudah terkapar lemas bersimbah darah di hamparan pasir pantai barat, tepat di dekat area luar gua sarang Nessie. Karena kondisinya kritis, aku langsung berinisiatif memapahnya ke sini," jelas Moana dengan deru napas yang masih memburu.

"Zat racun mahluk purba itu bisa mematikan jika terlambat ditangani. Kita harus bergerak cepat untuk mengobati infeksinya. Ibu akan segera mengambil ramuan obat dalam di dalam rumah. Helios, Moana, kalian berdua jaga dia di sini dan pastikan kesadaran anak ini tidak hilang!"

perintah Nerissa Marine tegas sebelum bergegas memasuki rongga rumah.

Helios Marine segera meletakkan kerang hiasnya di atas meja konter toko, lalu melangkah mendekati kursi rotan tempat Justin menyandarkan tubuh lemasnya.

Helios memutari kursi tersebut, mengamati Justin dari ujung rambut hitamnya hingga ujung kaki dengan tatapan menyelidik yang polos.

"Dia memendam aura yang aneh, Moana. Kulitnya pucat seperti ikan yang terlalu lama disimpan di dalam lemari es, tetapi dia bukan berasal dari ras lautan kita," komentar Helios tanpa saringan, khas anak-anak seumurannya.

"Helios, jaga bicaramu! Dia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa!" tegur Moana sembari menyapukan handuk basah ke pelipis Justin.

Justin yang mengumpulkan sisa kesadarannya perlahan membuka kelopak mata hitamnya. Alih-alih merespons ejekan Helios, pandangannya justru terkunci pada Moana yang terus merawatnya dengan telaten.

"Kau... kau ternyata memiliki paras yang teramat cantik," puji Justin secara tulus dari lubuk hatinya.

Moana tersenyum manis, lesung pipinya muncul sekilas sebelum dia menggelengkan kepala. "Sudah terlampau banyak petualang asing yang melontarkan pujian seperti itu padaku, tetapi di luar sana masih ada lebih banyak wanita yang jauh lebih cantik dariku, Justin. Lagipula, sudah menjadi hukum kodrat yang sewajarnya bagi garis keturunan klan Marine untuk memendam visual fisik yang menawan."

"Heh, mahluk daratan! Jangan coba-coret merayu sepupuku di depan tokoku ya!" potong Helios Marine sembari bersedekap dada, mencoba berlagak protektif layaknya seorang kakak laki-laki meskipun usianya sama dengan Moana.

Justin hanya bisa menganggukkan kepalanya secara perlahan, mengabaikan gerutu Helios. Namun, fokus indra penciuman supernatural milik Justin sudah merasakan adanya anomali yang berbeda dari sepasang sepupu di hadapannya; dia bisa mencium sebaris aroma khas yang teramat segar—aroma yang jelas-jelas bukan merupakan milik ras manusia fana biasa.

Sebagai sesama entitas makhluk imortal yang hidup di bawah hukum magis Bumi, Justin instan mengenali adanya jejak aliran energi sihir kuno lautan yang mengalir deras di dalam sirkulasi darah Moana maupun Helios.

"Apakah... apakah kalian berdua sebenarnya merupakan sesosok makhluk dari ras Mermaid?"

Panggilan kata ganti Justin kini secara natural telah bertransformasi menjadi lebih menghormati. "Dan... apakah koordinat tempatku terdampar saat ini berada di dalam wilayah Kota Blue Waves, tempat pemukiman yang menjadi mitos tempat tinggal para kaum Mermaid abadi?" tanya Justin dengan ekspresi wajah yang dipenuhi rasa penasaran yang masif.

Mendengar rentetan pertanyaan tak terduga tersebut lolos dari mulut seorang anak kecil, tubuh Moana dan Helios tersentak hebat secara bersamaan. Sepasang mata biru safir mereka membelalak lebar dan mulut mereka sedikit ternganga akibat didera rasa terkejut yang luar biasa.

"Bagaimana... bagaimana bisa kapasitas otak kecilmu mengetahui secara instan bahwa kami adalah Mermaid, Teman baru?" tanya Moana bingung.

"Dan dari mana kau bisa mengantongi pengetahuan rahasia tentang keberadaan geografi eksistensi Kota Blue Waves ini? Bahkan manusia fana tercerdas pun tidak bisa memetakan jalur karang tempat ini!" tambah Helios Marine dengan nada suara yang meninggi, menatap Justin dengan tingkat kecurigaan yang berlipat ganda.

"Tentu saja aku bisa mengetahuinya dengan sangat mudah, karena struktur tubuhku memendam identitas sebagai seorang Vampir," jawab Justin dengan nada suara yang teramat tenang dan stabil. "Ayah angkatku semasa di kastil daratan sering kali menceritakan dongeng sejarah mengenai tempat ini saat aku menjelang tidur. Beliau adalah seorang pemimpin tertinggi klan malam yang secara berkala sering mengadakan pertemuan politik faksi dengan para petinggi ras supernatural lain di Bumi, termasuk salah satunya menjalin diplomasi dengan pemimpin klan Mermaid penguasa kota air ini."

"Jadi... kau adalah putra kandung dari seorang Raja Vampir daratan?!" Moana terpekik kecil.

SWOOSHH!

Mendengar kata 'Vampir', Helios Marine secara spontan langsung menarik pergelangan tangan Moana, menyeret sepupunya itu untuk mengambil jarak mundur beberapa meter menjauh dari posisi Justin.

Helios merentangkan kedua tangannya di depan tubuh Moana, memasang sikap tubuh kewaspadaan tingkat tinggi seolah-olah Justin adalah seekor predator buas yang siap menerjang untuk merobek urat nadi mereka kapan saja.

"A-apa... apa kau memiliki niat jahat untuk menancapkan taringmu dan menghisap darah kami sekarang? Dengar ya, darah klan Marine itu mengandung sihir garam laut, rasanya pasti akan sangat pahit di lidah vampirmu!" ancam Helios gagap, mencoba terlihat garang di depan Moana meskipun tubuhnya sendiri sedikit gemetar.

Justin mengeluarkan suara terkekeh kecil melihat ekspresi wajah sepasang sepupu itu yang menurut penilaiannya terlihat teramat lucu dan ekspresif di bawah siraman cahaya pagi.

"Aku berani memberikan jaminan mutlak bahwa aku tidak akan pernah memiliki hasrat untuk menghisap darah dari tubuh kalian, Moana, Helios. Indra perasaku secara personal sama sekali tidak menyukai aroma darah kaum Mermaid, mahluk imortal lain, bahkan aku juga menolak untuk meminum darah ras manusia fana sekalipun. Jadi, kalian berdua tidak perlu membuang energi untuk merasa takut pada eksistensiku."

Tepat pada momen tawa Justin mereda, sebuah lengkingan suara dari arah dalam bangunan rumah kayu memecah atmosfer pembicaraan mereka bertiga.

"Moana, Helios! Cepat bantu papah anak itu untuk melangkah masuk ke dalam ruang tengah sekarang juga! Ibu sudah siap dengan seluruh peralatan untuk mengobati luka gigitannya!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!