NovelToon NovelToon
TA'ARUF SETELAH TALAK

TA'ARUF SETELAH TALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Duyung Indahyani

Empat belas hari.
Hanya selama itu Ghazi Farhan dan Adzra Hanum saling mengenal sebelum akhirnya menikah melalui proses ta'aruf.
Siapa sangka, pernikahan yang awalnya dipenuhi ketenangan justru berakhir dengan satu talak setelah sepuluh bulan bersama.
Sejak hari itu, Adzra meyakini bahwa dirinya hanyalah perempuan yang pernah gagal menjadi istri.
Sementara Ghazi memilih memikul penyesalan yang bahkan tidak pernah berani ia jelaskan.
Sepuluh tahun berlalu.
Mereka sama-sama belum menikah.
Bukan karena belum ada yang datang, tetapi karena ada luka yang belum benar-benar selesai.
Ketika sakit sang ibu mempertemukan mereka kembali, Ghazi tidak meminta Adzra kembali menjadi istrinya.
Ia hanya meminta satu kesempatan.
"Bolehkah... kita mengulang empat belas hari itu?"
Namun, apakah ta'aruf kedua mampu menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh satu talak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perempuan yang Tidak Dicari

Pagi itu, Klinik Arafah Medika sudah dipenuhi pasien bahkan sebelum jam praktik resmi dimulai.

Di ruang tunggu, seorang ibu muda menggendong bayinya yang rewel. Seorang pria paruh baya duduk sambil memegangi lututnya yang nyeri, sementara beberapa pasien lain menunggu nomor antrean dipanggil.

Di balik meja administrasi, Rini sibuk memastikan berkas rekam medis tersusun sesuai urutan.

"Nomor dua belas, silakan ke ruang Dokter Adzra."

Suara Rini terdengar jelas di tengah riuh percakapan para pasien.

Di sisi lain klinik, dr. Nabila baru saja menyelesaikan pemeriksaan seorang pasien hipertensi. Sesekali ia membantu menjawab pertanyaan keluarga pasien yang masih bingung mengenai aturan konsumsi obat.

Pagi itu memang lebih padat dari biasanya.

Namun tidak seorang pun tampak terburu-buru.

Semua bekerja sebagaimana hari-hari sebelumnya.

***

Di sudut ruang tunggu, seorang perempuan paruh baya memperhatikan suasana itu dengan tenang.

Kerudung berwarna krem yang dikenakannya tampak sederhana. Tidak ada perhiasan mencolok. Tas kain kecil diletakkan di pangkuannya.

Tak seorang pun mengenalinya.

Ia pun memang tidak memperkenalkan diri.

Perempuan itu adalah ibu dr. Rayyan.

Pagi itu ia datang seorang diri untuk memeriksakan tekanan darah yang beberapa hari terakhir terasa kurang stabil. Rayyan sebenarnya sudah menawarkan untuk mengantarnya ke rumah sakit tempatnya bekerja.

Namun beliau menolak dengan halus.

"Sesekali Ibu ingin berobat sebagai pasien biasa."

Begitu alasannya.

Beliau memilih datang ke Klinik Arafah Medika setelah mendengar beberapa tetangganya bercerita tentang pelayanan di tempat itu.

Awalnya, ia hanya ingin memastikan apakah cerita itu benar.

Namun baru beberapa menit duduk menunggu, pandangannya beberapa kali tertuju pada seorang dokter berjilbab biru muda yang baru keluar dari ruang pemeriksaan.

"Rafa hebat sekali hari ini."

Adzra berjongkok hingga tinggi matanya sejajar dengan seorang anak laki-laki yang sejak tadi menangis ketakutan.

"Berarti boleh dapat hadiah?"

Bocah itu mengangguk pelan.

Adzra tersenyum, lalu mengambil sebuah stiker bergambar bulan sabit dari sakunya.

"Nah... ini buat Rafa."

Tangis anak itu perlahan reda.

Ibunya mengembuskan napas lega.

"Terima kasih banyak, Dok."

"Alhamdulillah. Semoga Rafa cepat sehat, ya."

Anak itu melambaikan tangan kecilnya sebelum keluar dari ruang pemeriksaan.

Perempuan paruh baya itu memperhatikan tanpa sadar ikut tersenyum.

Beberapa menit kemudian, seorang kakek memasuki ruang praktik dengan langkah yang agak tertatih.

Adzra tidak tergesa memulai pemeriksaan.

Ia justru membantu menarik kursi agar sang kakek lebih mudah duduk.

"Tidak usah buru-buru, Pak."

"Kita pelan-pelan saja."

Kalimat sederhana itu terdengar biasa.

Namun bagi seseorang yang memperhatikan dari kejauhan, ada ketulusan yang sulit dibuat-buat.

***

Menjelang pukul sebelas.

Seorang petugas kebersihan selesai mengepel lorong klinik.

Ketika berpapasan, Adzra berhenti sejenak.

"Terima kasih ya, Pak. Lantainya jadi lebih nyaman untuk pasien."

Petugas itu tampak sedikit canggung.

"Sama-sama, Dok."

Ucapan terima kasih itu hanya berlangsung beberapa detik.

Tetapi cukup membuat perempuan paruh baya tadi kembali menatap ke arah Adzra.

"Ia menghormati semua orang..."

Batinnya lirih.

"Bukan hanya mereka yang dianggap penting."

***

Tak lama kemudian, suasana di meja administrasi berubah sedikit tegang.

Seorang bapak tua tampak membuka dompet lusuhnya.

Uang pecahan kecil ia hitung berulang kali.

Wajahnya mulai gelisah.

"Maaf, Mbak..."

"Kurang sedikit."

Rini tersenyum ramah.

"Tidak apa-apa, Pak."

Namun sebelum percakapan berlanjut, Adzra yang kebetulan melintas berhenti.

Pandangannya hanya sebentar mengarah kepada Rini.

Tanpa membuat pasien itu merasa diperhatikan, Adzra mendekat.

Suaranya nyaris berbisik.

"Masukkan ke dana sosial."

Rini mengangguk paham.

"Baik, Dok."

Adzra kembali berjalan menuju ruang pemeriksaan seolah tidak terjadi apa-apa.

Sedangkan Rini melanjutkan administrasi seperti biasa.

"Sudah selesai ya, Pak."

Bapak tua itu tampak bingung.

"Tapi uang saya..."

"Sudah sesuai, Pak."

"Semoga lekas sehat."

Pria tua itu berkali-kali mengucapkan terima kasih sebelum pergi.

Tidak pernah tahu bahwa ada seseorang yang diam-diam menjaga harga dirinya.

Perempuan paruh baya yang menyaksikan semuanya hanya terdiam.

Tidak ada kamera.

Tidak ada pujian.

Tidak ada kalimat yang sengaja diperkeras agar orang lain mendengar.

"Perempuan ini..."

"Menolong tanpa membuat orang lain merasa ditolong."

Entah mengapa, dadanya terasa hangat.

***

"Nomor tiga puluh satu."

"Ibu, silakan masuk."

Rini mempersilakan perempuan paruh baya itu memasuki ruang praktik.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Adzra berdiri menyambutnya.

"Silakan duduk, Bu."

"Keluhannya apa?"

"Beberapa hari ini kepala terasa agak berat."

"Punya riwayat tekanan darah tinggi?"

"Iya."

Adzra mulai memeriksa dengan teliti.

Tekanan darah.

Riwayat obat.

Pola tidur.

Kebiasaan makan.

Tidak ada yang dilewatkan.

Setelah pemeriksaan selesai, Adzra menuliskan resep sederhana.

"Alhamdulillah belum ada yang mengkhawatirkan."

"Tapi tekanan darah Ibu memang sedikit naik."

"Nanti obatnya diminum sesuai aturan ya."

Perempuan itu mengangguk.

Lalu, entah mengapa, ia bertanya,

"Dokter..."

"Iya, Bu?"

"Setiap hari seramai ini?"

Adzra tersenyum kecil.

"Alhamdulillah."

"Ramai berarti banyak yang mempercayakan kesehatannya kepada kami."

Ia menutup map rekam medis di hadapannya.

"Tinggal kami yang harus menjaga kepercayaan itu."

Kalimat itu sederhana.

Namun terasa begitu tulus.

Perempuan paruh baya itu tersenyum.

"Semoga Allah menjaga niat baik Dokter."

Adzra membalas senyumnya.

"Aamiin."

"Mohon doanya juga ya, Bu."

Beliau mengangguk pelan sebelum berpamitan.

Saat keluar dari ruang praktik, langkahnya terasa lebih ringan dibanding ketika datang.

Bukan hanya karena tekanan darahnya telah diperiksa.

Melainkan karena hari itu ia melihat sendiri bahwa kebaikan masih dijalankan tanpa perlu dipertontonkan.

***

Sore harinya.

Di sebuah rumah yang teduh, aroma teh melati memenuhi ruang keluarga.

Rayyan baru saja pulang dari rumah sakit.

Ia meletakkan tas kerjanya di atas sofa.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Ibunya keluar dari dapur sambil membawa dua cangkir teh hangat.

"Wah..."

"Disambut begini, pasti ada maunya."

Rayyan terkekeh.

Ibunya hanya tersenyum tipis.

"Rayyan."

"Iya, Bu?"

"Menurutmu..."

"Perempuan seperti apa yang pantas menjadi pendamping seorang dokter?"

Rayyan menghela napas pelan.

"Ibu mulai lagi?"

"Kali ini Ibu serius."

Melihat raut wajah ibunya yang berubah lebih tenang, Rayyan ikut duduk.

"Ibu bertemu siapa?"

"Bukan siapa-siapa."

"Hanya seorang dokter."

Rayyan mengangkat alis.

"Dokter?"

"Iya."

"Ibu tadi kontrol kesehatan."

Rayyan mengangguk pelan.

"Lalu?"

Ibunya memandang keluar jendela beberapa saat.

"Kalau semua dokter menjaga pasien seperti dia..."

"...Ibu rasa banyak orang tidak lagi terlalu takut datang berobat."

Rayyan mulai penasaran.

"Namanya siapa?"

Ibunya menoleh.

"Adzra."

Rayyan membeku.

Beberapa detik.

Cukup lama hingga ibunya menyadari perubahan kecil di wajah putranya.

"Dokter Adzra Hanum?"

Ibunya mengangguk.

"Kamu kenal?"

Rayyan tersenyum tipis.

"Ya."

"Kami pernah beberapa kali bekerja sama."

Ibunya tidak bertanya lebih jauh.

Namun sebagai seorang ibu, beliau tidak mungkin melewatkan sorot mata putranya yang berubah sesaat ketika nama itu disebut.

***

Malam mulai turun.

Di dalam kamar, Rayyan belum juga mengganti pakaian kerjanya.

Ia justru berdiri di dekat jendela.

Pikirannya kembali pada beberapa bulan terakhir.

Saat pertama kali bertemu kembali dengan Adzra di rumah sakit.

Diskusi mereka dalam kegiatan bakti sosial.

Cara Adzra menyampaikan materi dengan tenang.

Dan bagaimana perempuan itu selalu memilih mendahulukan kepentingan pasien dibanding dirinya sendiri.

Rayyan tersenyum kecil.

Nyaris tak terdengar, ia bergumam,

"Ternyata..."

"Ibu melihat hal yang sama."

Ia tidak berani menyebutnya cinta.

Masih terlalu dini.

Namun untuk pertama kalinya, Rayyan mengakui bahwa kekagumannya kepada Adzra bukan lagi sekadar rasa hormat kepada seorang rekan seprofesi.

Di luar sana, tanpa ia sadari, takdir sedang mulai mempertemukan langkah-langkah yang kelak akan menguji banyak hati.

**Bersambung**

1
Elyanna
yuk update lagiiiii
Anonim
cerita cewek lemah lagi ? cewek gampang dibujuk lagi? ah kusooo
RahmaYesi
Cerita yang bagus. Semangat ya ...
Duyung Indahyani: hai kak rahma, terima kasih
total 1 replies
nunu
next lanjut kak ceritanya
Duyung Indahyani: thank sudah membaca kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!