Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VIII - Basah
Tiga hari berlalu sejak Kirana berjalan keluar dari kantor Radit dengan mata sembap. Tiga hari itu terasa aneh, seolah dunia berpura-pura semuanya baik-baik saja. Ia tetap sibuk di kantornya, tetap tersenyum ke rekan kerja, tetap menandatangani laporan meski matanya cuma menyapu kalimat-kalimatnya sekilas. Malam-malamnya diisi kunjungan bolak-balik ke rumah sakit, memastikan pemulihan ibunya berjalan sesuai jadwal, lalu pulang ke apartemen yang terasa lebih sunyi dari biasanya. Setiap kali layar ponselnya menyala, ada sepersekian detik ia berharap itu Radit, sebelum buru-buru menepis harapan konyol itu dari kepalanya.
Nadia sudah dua kali menanyakan apakah ia baik-baik saja, dan dua kali pula Kirana menjawab dengan senyuman kebohongan.
Kabar dari sekretariat Cakra Investindo datang menjelang senja, meminta salinan revisi dari beberapa dokumen yang harus diserahkan langsung. Itu berarti kembali ke gedung Wibowo Group, tempat yang mulai terasa seperti medan perang tersendiri baginya.
"Lu yakin nggak mau gua yang anter aja dokumennya?" Nadia menawarkan, melihat wajah sahabatnya yang masih terlihat lelah. "Lu bisa istirahat di sini."
"Nggak apa-apa, Nad. Ini cuma nganter dokumen. Lima menit juga selesai." Kirana meraih mapnya. Toh, kemungkinan besar Radit sedang rapat, atau di luar kota, atau di mana pun yang ia tidak mau tahu.
...****************...
Ia memarkir mobilnya di basement, menyelipkan map dokumen di bawah lengan, melangkah cepat menuju lift sambil menghitung dalam hati berapa lama ia harus berada di gedung itu. Naik ke lantai administrasi, serahkan dokumen, tanda tangan bukti terima, turun lagi. Tidak perlu lewat lantai 42 sama sekali.
Rencana itu berjalan sesuai keinginannya. Hanya saja, Ketika ia sudah selesai dengan segala urusannya dan ingin segera meninggalkan Gedung itu, lampu di sekelilingnya berkedip, lalu padam.
"Yah," gumamnya, menatap layar ponsel yang kehilangan sinyal di ruang bawah tanah itu. Ia meraba dinding, mencoba mengingat arah menuju mobilnya di tengah kegelapan yang cuma diterangi cahaya darurat redup dari langit-langit.
Suara langkah kaki lain membuatnya berhenti.
"Kirana?"
Suara itu dalam, sedikit serak, familiar dengan cara yang membuat jantungnya berdegup kencang. Ia berbalik. Dalam remang cahaya darurat, siluet Radit berdiri beberapa meter darinya, jas kerja yang ia kenakan masih rapi meski dasinya sudah longgar.
"Listriknya padam," katanya, mengisi keheningan canggung di antara mereka.
"Seluruh gedung. Satpam bilang PLN lagi perbaikan, mungkin baru nyala sejam lagi." Radit melangkah mendekat, cukup dekat hingga Kirana bisa mencium aroma parfumnya yang sama seperti tujuh tahun lalu — aroma kayu cendana bercampur sitrus yang membuat indra penciuman Kirana dimanjakan dengan wanginya. "Pintu darurat juga kekunci. Aku udah coba."
"Jadi kita kejebak di sini."
"Sepertinya gitu."
Hening lagi, cuma suara hujan, menciptakan gemuruh yang hampir menenggelamkan detak jantung Kirana yang terdengar begitu keras di telinganya sendiri.
Radit akhirnya duduk di anak tangga terdekat, memberi isyarat agar Kirana duduk juga. Untuk sesaat ia ingin menolak, ingin tetap berdiri dengan jarak aman, tapi kakinya sudah lelah, dan ada bagian dari dirinya yang ingin duduk di sana, di sebelahnya, seperti dulu.
Ia duduk, menjaga jarak beberapa senti.
Dari luar, suara hujan yang menghantam aspal parkiran terdengar jelas lewat celah ventilasi. Bau tanah basah dan logam menguar di udara, mengingatkan Kirana pada sore-sore hujan semasa kuliah, ketika ia dan Radit berlarian mencari tempat berteduh yang sama.
"Kirana." Radit memulai, suaranya nyaris tenggelam suara hujan. "Soal kemarin —"
"Aku nggak mau bahas itu lagi kalau kamu cuma bakal bilang 'nggak sesederhana itu' lagi." Kirana memotong, matanya menatap lurus ke kegelapan, tidak berani menoleh.
Radit terdiam cukup lama. Ketika akhirnya bicara lagi, ada sesuatu yang berbeda dalam suaranya. Lebih rapuh, lebih jujur dari yang pernah Kirana dengar sejak mereka bertemu kembali.
"Aku tahu aku punya utang penjelasan sama kamu. Aku cuma... belum siap ngasih tau semuanya. Bukan karena aku nggak percaya sama kamu, Kirana. Justru sebaliknya."
Kirana menoleh, terkejut oleh nada suaranya. Dalam cahaya temaram, ia bisa melihat wajah Radit, garis rahangnya tegas, tapi matanya menyimpan sesuatu yang jauh lebih lembut, lebih terluka.
"Kalau kamu percaya sama aku," Kirana berkata pelan, "kenapa masih ada yang kamu sembunyiin?"
"Karena kebenarannya bisa menghancurkan lebih banyak orang dari yang kamu bayangin. Termasuk kamu." Radit menghela napas panjang, menunduk, kedua tangannya bertaut di antara lututnya. "Ayahku telepon ayahmu malam itu, tujuh tahun lalu. Aku denger sebagian percakapannya, nggak sengaja. Terus setelah itu... semuanya berubah."
Jantung Kirana berdegup lebih cepat. Akhirnya, sepotong kebenaran yang selama ini ia cari. "Berubah gimana? Ngomong apa ayah kamu?"
Radit menatapnya, dan untuk sesaat Kirana pikir ia akan dapat jawaban. Tapi kemudian Radit menggeleng pelan, seperti sedang berperang dengan dirinya sendiri.
"Aku nggak bisa, Kirana. Belum. Bukan malam ini." Suaranya nyaris memohon. "Tapi aku janji, ini bukan karena aku nggak peduli. Ini justru karena aku terlalu peduli buat biarin kamu ikut keseret ke dalam semua masalah ini, sebelum aku bener-bener yakin bisa ngelindungin kamu."
"Aku bukan anak kecil yang butuh dilindungin, Radit." Suaranya bergetar, ada keinginan untuk dipercaya sepenuhnya, bukan dijaga dari kejauhan.
"Aku tahu." Radit menatapnya lama, begitu lama hingga Kirana merasa waktu berhenti di ruang gelap itu. "Itu salah satu hal yang bikin aku dulu jatuh cinta sama kamu. Kamu nggak pernah butuh siapa pun buat ngelindungin kamu. Tapi aku tetep pengen buat lindungin kamu. Bahkan setelah tujuh tahun, bahkan setelah semua kesalahan yang aku buat."
Kata-kata itu menggantung di udara, bercampur suara hujan yang tak kunjung reda. Sesuatu yang selama ini ia kunci rapat-rapat menemukan celah untuk keluar. Ia sudah lupa rasanya didengarkan seperti ini oleh seseorang yang benar-benar mengenal dirinya, bukan cuma versi Kirana yang tegas dan tak tergoyahkan yang biasa ia tunjukkan pada dunia.
"Kamu nggak boleh bilang gitu," bisiknya, lebih ke diri sendiri daripada ke Radit. "Nggak setelah semua yang terjadi. Nggak waktu kamu bakal tunangan sama Valerie."
Sesuatu berubah di wajah Radit mendengar nama itu, sekilas rasa bersalah yang tak bisa ia sembunyikan. "Itu perjanjian bisnis, Kirana. Kamu tahu itu."
"Tapi itu tetap akan terjadi, kan? Itu akan jadi kenyataan."
"Yang nyata," suaranya nyaris tak terdengar di antara gemuruh hujan, "adalah aku nggak pernah bener-bener berhenti mikirin kamu. Bahkan di hari pertunanganku sekalipun."
Kirana menatapnya, napasnya tercekat. Ia tahu seharusnya ia segera berdiri, menjauh, mengingat semua alasan kenapa dekat sama Radit lagi adalah kesalahan besar. Tapi tubuhnya diam, matanya tidak bisa lepas dari tatapan Radit yang begitu dalam, begitu jujur untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali.
"Radit, kenapa waktu itu kamu pergi?" Pertanyaan yang sudah ia simpan tujuh tahun akhirnya keluar begitu saja, di tengah kegelapan dan hujan yang jadi saksi.
Radit tidak langsung mengelak seperti biasanya. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar diam, mempertimbangkan jawabannya dengan sungguh-sungguh, matanya tak lepas dari wajah Kirana seolah mencari keberanian di sana.
"Karena aku pikir itu satu-satunya cara buat ngelindungin kamu," katanya akhirnya, suaranya pelan. "Dan karena aku terlalu pengecut buat ngehadapin semua ini bareng kamu."
Pengakuan itu... Bukan jawaban dari yang sebenarnya terjadi, ia tahu itu.
"Kamu tahu, tujuh tahun ini aku selalu mikir aku yang salah," Kirana berkata pelan. "Aku ngulang-ngulang setiap percakapan kita, nyari-nyari, kira-kira di mana aku bikin kesalahan sampai kamu pergi. Butuh waktu lama buat aku sadar, mungkin bukan aku yang salah."
"Kamu nggak pernah salah, Kirana." Suara Radit tercekat. "Nggak sedikit pun. Kesalahannya semua ada di aku... aku yang terlalu takut buat ngelawan, aku yang milih diam daripada ngasih tahu kamu apa yang sebenernya terjadi."
"Kenapa kamu nggak pernah coba hubungin aku lagi? Bahkan cuma buat bilang maaf?"
"Karena setiap kali aku coba nulis pesan, aku selalu mikir… apa hak aku buat muncul lagi di hidup kamu setelah semua yang aku buat. Aku takut kamu bakal makin kecewa liat aku."
"Jadi kamu milih diem tujuh tahun, daripada ngasih aku kesempatan buat marah, atau maafin kamu, atau apa pun itu?"
Radit tidak menjawab, hanya menunduk, dan dalam diamnya itu, Kirana menemukan jawaban yang lebih jujur daripada kata-kata yang bisa ia ucapkan.
Tanpa sadar, tangan Radit bergerak, menggenggam tangan Kirana yang ada di antara mereka itu. Genggamannya ragu di awal, seolah menunggu Kirana menarik tangannya kembali.
Tapi Kirana tidak menariknya.
Jemari mereka bertaut dalam gelap, terasa hangat di tengah dinginnya udara basement yang lembap, dan untuk sesaat, mereka merasa bahwa tidak pernah ada jarak yang memisahkan mereka selama tujuh tahun belakangan.
Di luar, hujan masih turun tanpa henti. Dan entah kenapa, Kirana berharap listrik tidak segera menyala kembali.
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
para musuh 💪💪