Raymond yang dulunya penduduk bumi, mendapati dirinya bereinkarnasi menjadi Rock Lee di anime Naruto. Dalam kepanikannya menerima kenyataan, tiba-tiba dia membalikkan cheat yang dulu dia buat saat main game mobil sewaktu di bumi. Regenerasi tak terbatas dan kebal terhadap ilusi genjutsu. Uchiha Madara: Sialan apakah dia masih manusia. Penulis : hallo semua, saya ingin bersenang-senang membuat novel fanfic ini, selamat membaca..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billy Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Evaluasi di Kedai Dango
Hutan Kematian perlahan tertinggal di belakang seiring dengan selesainya penyerahan peti logistik di pos perbatasan. Tiga ninja pelarian yang pingsan telah diikat menggunakan tali kawat khusus ninja dan diseret oleh Might Guy dengan ekspresi seolah dia baru saja memenangkan lotre besar. Di sepanjang jalan kembali ke pusat desa Konoha, keheningan yang canggung menyelimuti ketiga Genin.
Tenten berulang kali melirik Lee, lalu beralih menatap Neji yang berjalan dengan wajah sekaku papan triplek. Di antara mereka bertiga, Tenten adalah yang paling gemas ingin membuka suara, tetapi atmosfer dingin dari Neji menahan lidahnya.
"Lee," Tenten akhirnya tidak tahan lagi saat mereka mulai memasuki gerbang utama desa. Dia melompat kecil agar bisa berjalan sejajar di sisi kanan Lee. "Bagaimana bisa kamu tidak terpengaruh sama sekali oleh kabut ungu itu? Maksudku, itu teknik chuunin pelarian! Aku bahkan sempat menahan napas dari jarak jauh karena baunya yang menyengat sampai ke sini."
Lee menoleh, menatap Tenten dengan wajah polos yang dibuat-buat serapi mungkin. "Entahlah, Tenten. Mungkin karena sebelum misi aku memakan bawang putih terlalu banyak saat sarapan? Atau mungkin tubuhku refleks menolaknya karena aku terus memikirkan menu makan siang?"
"Jawaban macam apa itu?!" Tenten menepuk jidatnya sendiri, ekspresinya antara kesal dan geli. "Bawang putih tidak bisa menetralkan racun tingkat chuunin, bodoh! Kamu hampir membuat jantungku copot tahu!"
Di depan mereka, Neji menghentikan langkahnya secara mendadak. Dia berbalik, membuat rambut hitam panjangnya yang terikat bergoyang pelan ditiup angin sore. Matanya yang putih susu menatap Lee dengan intensitas yang tajam, seolah-olah dia sedang berusaha mengaktifkan Byakugan-nya secara pasif untuk menembus isi kepala Lee.
"Bawang putih atau bukan, apa yang kamu lakukan di hutan tadi bukan sekadar keberuntungan, Lee," kata Neji, suaranya terdengar berat dan penuh selidik. "Kabut itu memiliki sifat memanipulasi chakra di otak. Tanpa pelatihan pelepasan Genjutsu (Kai) yang matang, seorang spesialis Taijutsu murni seharusnya langsung kehilangan keseimbangan. Tapi aliran chakramu bahkan tidak goyah satu milidetik pun. Bagaimana kamu menjelaskannya?"
Lee menatap balik Neji tanpa ada keraguan. Jiwa Reymond di dalam tubuh ini sudah mulai terbiasa dengan tekanan mental dari orang-orang hebat di dunia ninja. Dia tersenyum tipis, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Neji, kamu selalu bicara tentang takdir dan batasan. Pernahkah kamu berpikir bahwa batasan yang kamu lihat pada diriku hanyalah batasan yang kamu ciptakan sendiri di dalam kepalamu?"
Neji mengernyitkan alisnya, urat di sekitar pelipisnya hampir menonjol karena rasa tersinggung yang tertahan. "Apa katamu?"
"Berhenti di sana, murid-muridku yang manis!" Guy tiba-tiba muncul di antara mereka, merangkul pundak Neji dan Lee sekaligus dengan kekuatan yang cukup untuk meremukkan tulang rusuk beruang. "Pertukaran argumen di masa muda adalah hal yang bagus, tapi perut yang lapar adalah musuh utama dari semangat membara! Mari kita lakukan evaluasi misi hari ini di Kedai Dango kesukaan kalian! Aku yang bayar!"
Mendengar kata "aku yang bayar," ekspresi cemberut Tenten langsung berubah menjadi binar-binar bahagia. "Wah, benarkah Guru Guy? Kalau begitu aku mau pesan lima tusuk dango rasa teh hijau!"
"Tentu saja! Bahkan sepuluh tusuk pun akan gurumu ini kabulkan!" Guy tertawa lebar, memimpin jalan menuju distrik makanan.
Kedai dango sore itu tidak terlalu ramai. Mereka berempat duduk di meja kayu panjang yang terletak di area luar kedai, di bawah naungan payung kain merah besar. Aroma manis dari tepung beras yang dibakar dan saus karamel kecap asin menguar di udara, sedikit menenangkan saraf-saraf mereka yang tegang setelah pertempuran pertama.
Guy meletakkan tiga nampan penuh dango di atas meja. Dia menatap ketiga muridnya dengan pandangan yang mendadak berubah menjadi serius, melepaskan topeng komikalnya sejenak.
"Misi hari ini secara resmi dianggap sukses besar," ujar Guy sambil melipat tangannya. "Tenten, analisis jarak jauhmu sangat bagus, tetapi koordinasi waktu pelemparan gulunganmu harus lebih sinkron dengan pergerakan maju Neji. Neji, teknik Juken-mu sudah hampir sempurna untuk level Genin, namun kamu terlalu meremehkan lawan di awal sehingga membiarkan mereka mengambil inisiatif menyerang."
Neji menundukkan kepalanya sedikit, menahan egonya. "Baik, Guru."
"Dan untukmu, Lee..." Guy mengalihkan pandangan matanya yang tajam ke arah Lee. Keheningan sesaat terjadi di meja itu. Tenten bahkan menahan tusuk danggonya yang baru setengah masuk ke mulut. "Ketahananmu terhadap racun dan ilusi tadi... adalah sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya selama aku melatihmu. Apakah ada sesuatu yang terjadi pada tubuhmu saat kamu pingsan kemarin?"
Reymond tahu momen ini akan datang. Membohongi seorang Jounin elit seperti Guy tidak bisa dilakukan dengan alasan konyol seperti bawang putih lagi. Dia harus memberikan alasan yang selaras dengan prinsip dunia ini.
Lee menurunkan pandangannya ke arah tusuk dango di tangannya, memasang ekspresi yang terlihat sangat emosional. "Guru Guy... sebenarnya, saat aku berada di ambang batas kematian akibat latihan ekstrem tempo hari, aku mengalami sesuatu yang aneh. Di dalam ketidaksadaranku, aku merasa tubuhku hancur dan dibangun kembali berkali-kali. Rasanya seperti ada dinding di dalam tubuhku yang jebol."
Lee mengangkat kepalanya, menatap mata Guy dengan keyakinan yang dibuat-buat namun terdengar sangat meyakinkan. "Sejak saat itu, setiap kali aku terluka atau terkena energi asing, tubuhku merespons dengan sangat cepat untuk menyembuhkannya. Aku tidak tahu apa ini, tapi aku bersumpah... aku akan menggunakan kekuatan ini hanya untuk melindungi Konoha dan membuktikan jalan ninjaku!"
Guy menatap Lee dalam-diam selama beberapa detik. Sebagai seorang master Taijutsu, dia tahu ada beberapa kasus langka di mana seseorang yang mengalami trauma fisik ekstrem dapat memicu mutasi atau kebangkitan kondisi tubuh khusus secara tidak sengaja—semacam adaptasi biologis yang dipaksakan oleh keinginan kuat untuk bertahan hidup.
Plak!
Guy memukul meja kayu itu hingga dango di atas nampan melompat kecil. Air mata kembali mengalir deras di pipi maskulinnya. "Oh, Lee!!! Kamu benar-benar... keajaiban sejati! Keinginanmu yang luar biasa untuk terus berlatih telah memaksa tubuhmu untuk berevolusi! Ini adalah berkah dari dewa kerja keras!"
Lee bernapas lega dalam hati. Syukurlah, orang ini memang sangat mudah diyakinkan kalau sudah menyangkut soal semangat dan kerja keras.
Namun, berbeda dengan Guy, Neji yang duduk di seberang meja tetap diam dengan tatapan yang semakin dingin. Penjelasan Lee terdengar terlalu abstrak bagi pikirannya yang rasional. Di mata Neji, Lee kini bukan lagi sekadar lalat pengganggu yang bisa dia remehkan kapan saja. Lee telah berubah menjadi sebuah anomali... sebuah teka-teki yang mengancam filosofi takdir yang selama ini dia pegang teguh.