NovelToon NovelToon
Jodohku Gadis BAR-BAR

Jodohku Gadis BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Romansa Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Fey

Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Suasana di ruang keluarga rumah Kanza Arumi berubah menjadi sangat khidmat setelah sesi makan bersama usai.

Seluruh anggota keluarga duduk dengan rapi dan tertata untuk memulai prosesi sungkeman, momen paling emosional yang menandai transisi kehidupan seorang anak.

Kanza, dalam balutan gaun pengantinnya yang megah, melangkah maju dengan perlahan menghampiri Umi, ibunya.

Dengan nada bicara yang diusahakan tetap sopan namun tidak bisa menyembunyikan sisi absurdnya, ia berbisik sambil tersenyum simpul,

“Umi, terima kasih banyak ya sudah sangat sabar mengurusi Kanza dari zaman bocah rempong sampai sekarang resmi jadi istri orang. Kalau nanti Kanza jadi istri yang bawelnya melebihi sirine ambulans, tolong jangan dicabut nyawanya ya, Mi. Cukup didoakan saja biar tobat.”

Umi terkekeh pelan di sela isak harunya, matanya berkaca-kaca menatap putri bungsunya yang tetap saja jenaka di saat serius.

“Nak, Umi selalu mendoakan agar kamu dan Hanan Arkan menjadi pasangan yang bahagia, sakinah, dan langgeng sampai surga.”

Kanza kemudian bergeser ke arah Abi dan membungkuk hormat dengan penuh ketulusan.

“Abi, terima kasih banget sudah jadi mentor hidup Kanza, walaupun Kanza lebih sering bikin Abi pusing tujuh keliling daripada bikin bangga. Doakan ya, Abi, semoga Kanza tidak jadi istri yang bikin Mas Hanan stres, apalagi sampai bikin dia mau resign jadi dosen karena pusing menghadapi istrinya.”

Abi tersenyum bangga, mengusap kepala putrinya dengan sayang.

“Insya Allah, Nak. Kamu adalah kebanggaan Abi.”

Saat maju ke hadapan Umah, ibu dari Hanan, Kanza sempat merasa agak canggung, namun ia tetap menjaga kesopanannya.

“Umah, terima kasih banyak sudah mau menerima Kanza yang berisik ini di keluarga besar Umah. Semoga Kanza tidak membuat Umah pusing juga, ya. Tapi kalau suatu saat nanti memang bikin pusing... ya... anggap saja itu bumbu penyedap rumah tangga biar tidak hambar.”

Umah tersenyum hangat, memeluk Kanza dengan penuh kasih.

“Selamat datang di keluarga kami, Kanza.”

Giliran kepada Abah, ayah dari Hanan, Kanza menunduk hormat dengan takzim.

“Abah, doakan ya biar Kanza bisa jadi istri yang sabar dan tidak sering mengeselin. Kalau sesekali kumat mengeselinkannya, tolong dimaafkan ya, Bah. Anggap saja hiburan gratis.”

Abah tertawa kecil dan mengangguk mantap.

“Semoga Allah meridai perjalanan kalian berdua.”

Hanan Arkan yang duduk tepat di sampingnya sampai harus menahan tawa sekuat tenaga sambil menggenggam erat tangan istrinya, merasa gemas sekaligus takjub dengan keberanian Kanza.

Kini giliran Hanan membalas sungkeman dengan penuh wibawa dan rasa hormat yang mendalam.

“Kanza, terima kasih atas kesabaran dan cinta yang kau berikan kepadaku. Saya berjanji di hadapan Allah dan saksi yang ada, akan menjaga, melindungi, dan menghormatimu seumur hidupku.”

Kepada orang tua Kanza, Hanan berkata dengan nada bicara yang sangat sopan,

“Umi, Abi, terima kasih telah membesarkan Kanza dengan penuh kasih sayang dan didikan yang luar biasa. Saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami yang layak dan imam yang baik bagi putri tercinta kalian.”

Kepada orang tua kandungnya sendiri, ia menambahkan dengan penuh haru,

“Umah, Abah, terima kasih atas didikan dan doa yang selalu kalian panjatkan tanpa henti. Semoga keluarga kecil yang kami bangun ini menjadi keluarga yang diberkahi dan selalu dalam lindungan-Nya.”

Suasana berubah menjadi sangat mengharukan, namun Kanza tiba-tiba menyengir lebar sambil menyeka air matanya.

“Ya Allah, ternyata nikah itu bikin hati adem, tapi juga bikin mata gue kayak kebanjiran bandang begini.”

Bella, kakaknya yang tengah hamil dan selalu menjadi penengah yang sabar, tersenyum sambil berujar lembut,

“Nikah itu memang paket komplit, Kanza: ada bahagia, sedih, dan tentu saja drama-drama yang akan mendewasakan kalian.”

Yuma, sahabat setia Kanza, menimpali dengan gaya santainya,

“Yang penting nanti kalau sudah di kamar jangan sampai kaki pegal dan minta dipijit gara-gara heels tadi pagi ya, Za! Kasihan Mas Hanan baru juga sah sudah jadi tukang urut!”

Semua orang di ruangan itu tertawa lepas. Suasana yang tadinya penuh air mata seketika berubah menjadi hangat dan penuh cinta, mengisi setiap sudut rumah baru mereka dengan energi positif yang indah.

Resepsi pernikahan di kediaman Kanza Arumi akhirnya usai dengan penuh suka cita dan limpahan doa restu dari keluarga besar.

Kini, saatnya keluarga besar Hanan Arkan bersiap untuk bertolak kembali ke kota seberang, membawa Kanza sebagai anggota keluarga baru mereka.

Umi dan Abi sibuk membereskan sisa perlengkapan, sesekali mereka saling bertukar pandang penuh haru yang tak terlukiskan.

Kanza sendiri berdiri mematung di ambang pintu, matanya berkaca-kaca menatap setiap sudut rumah yang telah membesarkannya.

Kakaknya, Bella, yang sejak tadi setia mendampingi sambil mengelus perutnya yang kian membuncit, mencoba mendekat untuk memberikan kekuatan.

“Kanza, jangan terlalu sedih ya. Ini adalah awal dari perjalanan ibadah yang panjang. Kita harus kuat dan saling mendoakan,” bisik Bella lembut sembari merangkul pundak adiknya.

Kanza mengangguk perlahan, meski hatinya terasa begitu berat seolah ada beban ribuan ton yang menghimpit.

Perasaan asing antara bahagia karena telah sah menjadi istri dan sedih karena harus meninggalkan zona nyamannya berkecamuk menjadi satu.

Saat mobil mulai bergerak menjauhi pagar rumah, Kanza melihat lambaian tangan Umi dan Abi yang semakin mengecil di kejauhan.

Sepanjang perjalanan menuju kota sebelah, gadis yang biasanya tak bisa diam itu memilih untuk membisu.

Ia menyandarkan kepalanya ke jendela mobil, membiarkan pikirannya berkelana menembus kegelapan malam.

Di sampingnya, Hanan Arkan tetap setia menjaga keheningan, sesekali melirik istrinya dengan tatapan teduh, seolah memberi ruang bagi Kanza untuk berdamai dengan rindu yang bahkan sudah muncul sebelum ia benar-benar pergi.

“Mas akan pastikan, Kota itu juga akan menjadi rumah yang hangat untukmu,” bisik Hanan pelan, hampir tak terdengar, namun cukup untuk membuat Kanza sedikit lebih tenang di tengah kegamangannya.

Sesampainya di kompleks pesantren keluarga Hanan Arkan, suasana berubah total.

Suasana yang rindang dan asri itu menyambut kedatangan rombongan besar keluarga Hanan, mulai dari bude, bibi, tante, nenek, hingga adik-adiknya.

Pohon-pohon sawo yang besar membuat halaman terasa sejuk, namun tidak bagi hati Kanza Arumi.

Para santri yang sedang berkumpul di koridor asrama langsung mencuri pandang. Bisik-bisik dan gosip ringan mulai menjalar cepat seperti api di atas jerami kering.

“Gus Hanan bawa rombongan besar sekali, ya?”

“Eh, itu istrinya, kan? Cantik sekali, baru pertama kali lihat.”

Dari kerumunan di ruang tamu, muncul sosok perempuan ceria bernama Aisya, adik Hanan yang baru saja menyelesaikan studinya. Dengan langkah ringan dan ramah, ia menghampiri Kanza.

“Assalamu’alaikum, Mbak Kanza! Senang sekali bisa bertemu langsung!”

Kanza tersenyum kaku.

“Wa’alaikumussalam... kamu siapa, ya?”

Aisya tertawa renyah.

“Emm, aku Aisya, adiknya Mas Hanan, Mbak. Maaf ya, kemarin aku tidak bisa ikut ke kota saat acara pernikahan kalian.”

Seketika Kanza merasa dunianya seolah berhenti berputar.

"Anjir, ini adiknya sendiri? Salah ngomong gue!" batinnya panik.

“Ohhh... hehehe, kirain siapa... rupanya adiknya Mas Hanan... hehe,” ucapnya dengan nada suara yang mengecil.

“Tidak apa-apa, Mbak, santai saja,” balas Aisya maklum.

Hanan kemudian menambahkan.

“Aisya memang baru lulus kuliah dan sekarang tinggal di sini. Adik kami yang lain sedang menempuh pendidikan di Kairo dan sedang sibuk sekali, jadi belum bisa pulang. Tapi mereka selalu mengirim doa.”

“Ohh... sudah selesai kuliah? Kirain masih sekolah. Berarti tuaan Mbak Aisya dong, ya?” celetuk Kanza tanpa filter.

Aisya mengangguk, begitu pun Hanan. Tak lama, Umah mengajak Kanza masuk ke dalam rumah. Suasana canggung mulai menghantui benak Kanza.

"Deg-degan banget, Umi... Kanza mau pulang sekarang juga." batinya gelisah.

Hanan pamit sebentar untuk membersihkan diri ke kamar mandi, meninggalkan Kanza yang kini sangat gugup karena ditinggal berdua dengan adik iparnya.

Kanza melirik Aisya sesekali yang sedang menatapnya penuh rasa ingin tahu.

"Jangan tanya-tanya, plis jangan tanya-tanya gue!" Kanza merapalkan mantra dalam hati.

“Oiya Mbak, Mbak Kanza rencananya mau lanjut kuliah di mana?” tanya Aisya memecah keheningan.

"TUHKAN! APA GUE BILANG!"

“Emmm... belum tahu, Mbek... eh!! Mbak! Iya, maaf!” jawab Kanza gelagapan.

"Anjir, mulut gue jahanam banget! Malu-maluin ini mah!"

Aisya tertawa melihat kegugupan Kanza yang begitu nyata. Ia pun mendekat dan memegang tangan Kanza yang ada di paha.

“Jangan takut, Mbak. Di sini semuanya tidak ada yang jahat. Mbak bisa bebas melakukan apa saja,” ujar Aisya menenangkan.

"Bebas ngapain aja? Kalau gue konser rock di sini, pada struk berjamaah nggak sih? " batin Kanza lagi.

“Hehe iya Mbak, emmm... lama banget lagi si Paklek,” gumamnya pelan.

Aisya mengernyitkan dahi.

“Paklek? Mbak sedang menunggu Paklek siapa?”

Kanza langsung gelagapan, wajahnya memerah.

“Ehh... itu haha.... Shhhhh maksudnya Mas Hanan... iya, Mas Hanan Arkan.”

“Ohh, Mas Hanan.”

Entah apa yang membuat Kanza begitu gugup, suasananya terasa sangat asing. Ia merasa seperti alien yang baru mendarat di planet yang penuh dengan tata krama tinggi.

“Aisya.... ajak Mbakmu ke sini, kita makan dulu,” panggil Umah dari arah dapur.

Aisya menggenggam tangan Kanza dan membawanya menuju dapur. Langkah Kanza terasa kaku, seolah ia sedang berjalan menuju ruang wawancara kerja yang menentukan hidup dan mati.

“Umah, ini Mbakku sudah aku ajak,” seru Aisya ceria.

Kanza berhenti tepat di ambang pintu. Tatapannya menyapu dapur sederhana namun sangat bersih itu.

Aroma masakan rumah dan kehangatan keluarga justru membuat perutnya mual karena tegang.

Umah menoleh, lalu tersenyum sangat ramah.

“Loh, Kanza. Masuk, Nak. Ayo duduk dulu, Umah ambilkan teh hangat.”

Kanza tersenyum kikuk, menunduk sedikit seperti siswa baru yang dipanggil kepala sekolah karena melanggar aturan.

“Hehe, iya Umah... Saya... eh... Kanza maksudnya. Saya tuh masih kagok... maksudnya bukan sayanya saya, tapi saya-nya saya... ehehe... ya gitu deh...”

"Astaghfirullah. Kanza, tolong. Kamu mau ngomong atau mau beatbox?"

Aisya menepuk pelan kursi di sampingnya.

“Mbak duduk di sini yuk. Santai saja, tidak usah tegang begitu.”

Kanza menurut, tapi ia hanya menempelkan separuh badannya di ujung kursi, seolah siap untuk meluncur kabur kapan saja.

“Nah, begitu dong,” ujar Aisya tersenyum, lalu berbisik pelan.

“Aku tahu kok Mbak, kamu sedang deg-degan sekali.”

“Hehe... Iya, Mbak Aisya. Aku tuh merasa seperti di ruang interogasi. Apalagi saat Umah melihat tadi, rasanya seperti disorot CCTV batin.”

Aisya tertawa lepas. “Ya Allah, Mbak tidak kuat. Kamu lucu sekali.”

Baru saja Kanza hendak merespons, suara langkah berat terdengar. Hanan Arkan muncul dengan sarung yang tersampir rapi dan wajah segar khas pria yang baru selesai membersihkan diri.

“Oh, sudah pada berkumpul di sini?” sapanya lembut.

Melihat Hanan datang, Kanza langsung berdiri secara refleks, hingga menjatuhkan sendok kecil yang baru saja ia pegang.

Ting!

Bunyi logam yang beradu dengan lantai keramik terdengar nyaring.

“Eh! Aduh, maaf! Sumpah, bukan disengaja! Kanza tidak sabar nunggu kamu... maksudnya, eh, bukan sabar, maksudnya aku tuh... ya... kamu mengerti kan, Mas?!” katanya sambil menunduk panik.

Hanan menahan tawa, kemudian membungkuk untuk mengambilkan sendok itu.

“Tenang, Kanza. Rumah ini tidak ada kamera tersembunyi, kok.”

Kanza langsung menoleh cepat.

“Serius? Tapi rasanya mata Umah tuh... hmm... kualitasnya sudah Ultra HD, Mas!”

Umah yang baru saja membawa teh nyaris tersedak mendengar celetukan jujur menantunya itu.

“Hahaha... Ya Allah, Kanza ini... benar-benar menghibur ya.”

Kanza hanya bisa memberikan senyum lebar yang kaku, meski dalam hatinya ia menjerit sejadi-jadinya.

"Ya Allah, ambil saja gue sekarang. Malu banget ini!"

~~~NEXT~~~

Salam Hangat Dari Penuliss....

1
partini
tau agama tapi hati penuh iblis no good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!