raina Larasati janda dengan 2 anak suaminya meninggal karna serangan jantung sekarang dia harus banting tulang untuk menghidupi anak anaknya, dari yang tidak biasa bekerja sekarang Raina harus mencari nafkah......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adca_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab
"Itu bibir jangan di monyong monyongin apa minta di sosor" Rania spontan memegang bibirnya
"apa apain sih pak siapa yang mau di sosor mesum"
Arsen terkekeh habis nya kamu menggerutu sambil memonyongkan bibirmu, baru kali ini Rania melihat Arsen tertawa biasnya Rania Meliah nya Arsen yang datar Arsen yang dingin seperti kutub es
"udah jangan mesum sana bapak pulang saja sambil tidur membelakangi Arsen"
lah kok merajuk Arsen keluar sebentar karna hp nya berbunyi.
Kenapa dia jadi seperti itu Rania buru buru memejamkan matanya karna Rania tidak ingin memikirkan nya.
Rania diperbolehkan pulang sebenarnya pekerjaan Arsen sudah selesai mereka harusnya kembali ke jakarta hari ini karna Rania baru pulang dari rumah sakit jadi Adi pulang duluan.
"pak kenapa gak pulang hari ini saja? "
"Kamu baru sembuh Rania besok saja biar kamu jauh lebih sehat dan gak pura pura lagi di depan ibumu
"maaf gara gara saya bapak jadi tertahan disini"
"gapapa jangan terlalu dipikirkan, apa kamu mau jalan jalan sebentar mencari udara segar?"
"Kalau bapak gak keberatan boleh"
Arsen membawa Rania ke taman kota suasana yang sejuk Arsen dan Rania duduk bersebelahan di taman kota.
"Rania berapa lama lagi masa Iddah kamu?"
"Kenapa emang nya pak mungkin dua mingguan lagi"
"Tidak papa hanya bertanya saja apa kamu masih ingat dengan suamimu" Rania terdiam menatap kedepan
"Maaf jika saya salah bicara"
"jujur saya masih suka mengingat nya karna tidak ada celah untuk melupakannya dia suami yang baik bertanggung jawab selalu berusaha membahagiakan saya"
Meskipun kami hidup sederhana tapi mas Arman selalu mencukupi kebutuhan saya dia sosok suami dan ayah yang hangat tidak pernah meninggikan suaranya didepan saya sambil berkaca kaca Rania menceritakan semua kenangan nya kepada Arsen.
Arsen hanya terdiam mendengarkan Rania ada sedikit rasa yang mengganjal dalam hatinya ketika Rania menceritakan suaminya entah perasaan apa tapi asa rasa cemburu yang Arsen rasakan.
"Sudah jika kamu tidak ingin membahasnya sudah"
Rania terdiam dan mengusap air matanya, maaf saya terlalu emosional kalua mengingat nya.
Rania rindu anak anak, pak apa boleh ke pusat oleh oleh sebentar saya mau membelikan oleh oleh untuk anak anak.
"Boleh ayo saya antar, kamu beli apa yang kamu Rania saya tunggu disini. Rania memilih oleh oleh apa saja yang mungkin anak anak suka tidak lupa juga untuk Aya dan ibunya.
Setelah selesai Rania pergi ke kasir untuk membayar belanjaan nya,tapi Arsen sudah ada disampingnya
"kamu duduk saja disana nanti kamu pusing berdiri terlalu lama" Yasudah pak ini uang nya
"simpan saja biar saya saja yang bayar"
"tapi pak kan itu belanjaan saya"
"Sudah Rania apa kamu tidak bisa tidak membantah saya sudah biar saya saja yang bayar kamu duduk saja"
Rania tidak enak karna terlalu banyak merepotkan Arsen, setelah beres semuanya Rania dan Arsen pulang ke hotel.pak saya ganti aja ya uang nya saya tidak enak merepotkan bapak terus
"Rania bisa gak kalau lagi berdua kamu jangan panggil saya bapak kesan nya saya tua banget"
"tapi kan bapak atasan saya masa saya harus panggil nama"
"Iya saya ngerti kalau berdua jangan panggil pak apalagi kalau lagi di luar seperti ini"
"terus saya harus panggil apa pak kalau panggil nama aja saya tidak mau berasa gak sopan"