NovelToon NovelToon
Istriku Seorang Putri

Istriku Seorang Putri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyelamat / Perperangan
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Sinopsis

Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.

Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.

Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Makan Malam dan Cincin Pusaka

Kabin kayu itu jauh lebih besar dari yang Viona bayangkan. Letaknya di ujung lembah luas, dikelilingi oleh pohon-pohon oak tua yang menjulang tinggi. Di depan kabin, ada sebuah kebun kecil yang ditanami rempah-rempah liar dan sayuran. Pagar kayu rendah mengelilingi area itu, dan di belakang kabin, terdengar suara aliran sungai kecil yang menenangkan.

Derek membantu Viona menurunkan beban dari punggung kuda. "Kita sudah sampai. Ini adalah tempat tinggalku selama beberapa tahun terakhir, sebelum aku pindah ke kabin di dekat sungai waktu aku menemukanmu."

Viona menatap kabin itu dengan mata berbinar. "Ini sangat indah, Derek. Jauh lebih nyaman dari yang kubayangkan."

Derek membuka pintu kayu, dan Viona melangkah masuk. Di dalam, ruangan itu terasa hangat meskipun belum ada api yang menyala. Ada rak-rak kayu berisi buku-buku tua, perapian batu besar di sudut ruangan, dan beberapa permadani wol yang tergantung di dinding untuk menahan dingin. Di atas meja kayu, terlihat setangkai bunga liar kering yang sudah lama dipajang.

"Ini... rumah yang nyata," bisik Viona.

"Aku sudah tinggal di sini cukup lama. Dan aku jarang mengundang tamu." Derek tersenyum kecil, lalu berjalan menuju perapian dan mulai menyalakan api dengan batu api. "Kau bisa beristirahat sebentar. Aku akan menyiapkan makan malam."

Viona duduk di kursi kayu dekat perapian, merasakan hangatnya api yang mulai menyala. Suara kayu berderak dan aroma asap kayu perlahan memenuhi ruangan. Ia menatap Derek yang kini sibuk di sudut dapur, mengambil beberapa bahan makanan dari lemari kayu.

"Apa aku bisa membantu?" tanya Viona.

"Kau bisa tetap duduk di sana dan menjadi istri yang cantik," jawab Derek tanpa menoleh, tetapi nada suaranya sedikit bercanda.

Viona tersipu. Meskipun mereka sudah menikah secara adat, masih ada rasa canggung di antara mereka. Namun, canggung itu perlahan mulai meleleh, digantikan oleh kehangatan yang semakin tumbuh.

Derek memasak dengan sangat terampil. Ia memotong daging rusa asap menjadi irisan tipis, menumisnya dengan bawang liar dan rempah-rempah yang ia petik dari kebun. Di panci kecil, ia merebus kentang dan wortel hingga empuk. Aroma masakan mulai menyebar ke seluruh kabin, membuat perut Viona keroncongan.

"Kau benar-benar bisa memasak," puji Viona. "Aku tidak menyangka pria yang tinggal di hutan bisa membuat hidangan seenak ini."

"Aku belajar dari ibuku," jawab Derek dengan suara yang sedikit lebih pelan. "Ia adalah koki terbaik yang pernah aku kenal."

Viona menangkap nada kesedihan di balik kata-kata itu. "Ibumu... sudah lama meninggal?"

Derek berhenti sejenak, menatap api di wajan. "Sudah. Sejak aku masih sangat muda. Tapi aku masih mengingat semua resepnya. Ia bilang, makanan yang dimasak dengan cinta tidak akan pernah terasa hambar."

Viona tidak bertanya lebih lanjut. Ia bisa merasakan bahwa masa lalu Derek adalah topik yang masih menyakitkan.

Tak lama kemudian, Derek menyajikan makanan di atas meja kayu. Dua piring kayu berisi daging panggang, kentang rebus, dan sayuran segar yang dicampur dengan sedikit mentega. Ia juga menuangkan dua gelas air rebusan madu yang masih hangat.

"Selamat makan, Viona," kata Derek, duduk di seberang Viona.

Mereka makan dalam keheningan yang hangat. Sesekali, mata mereka bertemu, dan keduanya tersenyum malu-malu. Suara angin di luar dan berderaknya api di perapian menjadi iringan sempurna untuk malam itu.

Setelah selesai makan, Derek membersihkan meja. Viona ingin membantu, tetapi Derek menyuruhnya tetap duduk.

"Ada satu hal yang ingin aku berikan padamu," kata Derek.

Ia berjalan ke sebuah lemari kayu tua di sudut kabin. Dari dalam laci paling atas, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil berwarna gelap, yang di permukaannya terukir pola daun dan bunga. Derek membawa kotak itu ke meja, lalu membuka tutupnya perlahan.

Di dalam kotak itu, tergeletak sebuah cincin emas tua. Bukan cincin yang besar dan mewah seperti yang biasa dipakai bangsawan, tetapi cincin yang sangat halus, dengan ukiran bunga mawar di bagian depannya. Batu di tengah cincin itu berwarna merah delima yang dalam, memantulkan cahaya api perapian dengan kilau yang sangat indah.

Viona menahan napas. "Ini... sangat cantik."

"Ini cincin ibuku," kata Derek, suaranya pelan namun penuh emosi. "Aku menyimpannya selama bertahun-tahun. Aku tidak pernah berpikir aku akan memberikannya pada siapa pun. Tapi sekarang..." Ia menatap Viona dengan tatapan yang sangat tulus. "Kau adalah istriku. Bukan hanya di atas kertas, bukan hanya karena paksaan desa. Aku ingin kau benar-benar menjadi istriku. Dan aku ingin kau memakai cincin ini sebagai tanda bahwa kau adalah keluarga."

Viona merasakan air mata menggenang di matanya. "Derek... aku tidak tahu harus berkata apa."

"Kau tidak perlu berkata apa-apa. Cukup terima saja." Derek mengulurkan tangannya, memegang tangan kiri Viona dengan lembut, lalu memasangkan cincin itu perlahan di jari manis Viona—di atas cincin anyaman serat kayu dari desa.

Cincin emas itu terasa sempurna di jarinya. Beratnya pas, dan ukiran bunga mawar di permukaannya terasa seperti menyatu dengan kulitnya.

"Aku akan menjaganya," bisik Viona. "Dan aku akan menjagamu, Derek. Selama aku hidup."

Derek tersenyum. Senyuman itu tidak dingin, tidak misterius. Itu adalah senyuman tulus dari seorang pria yang akhirnya menemukan seseorang yang ia percaya.

Malam itu, Viona tidur di ranjang kayu Derek—dengan selimut tebal, dengan perapian yang masih menyala, dan dengan cincin emas di jarinya yang memantulkan cahaya hangat.

Namun, di balik kehangatan itu, Derek masih terjaga. Ia duduk di kursi kayu di dekat jendela, menatap bulan sabit di langit. Pikirannya melayang pada masa lalu, pada ibunya yang tercinta, pada kerajaan yang ia tinggalkan, dan pada Neil—adiknya—yang kini menolak menikahi wanita yang sudah menjadi istrinya.

Jika Neil tahu kau menikah dengan kakaknya sendiri... batin Derek. Apa yang akan terjadi?

Cincin emas itu memang milik ibunya. Tetapi di balik cincin itu, ada rahasia yang belum ia ungkapkan kepada Viona. Ibunya adalah Ratu Kerajaan Timur. Dan cincin itu adalah lambang keluarga kerajaan yang sah.

Viona sekarang memakai cincin itu. Viona sekarang adalah bagian dari keluarganya. Dan suatu hari nanti—entah kapan—Viona harus tahu kebenaran tentang siapa dirinya.

Derek menutup matanya, menarik napas panjang.

Semoga saat itu tiba, kau masih mau tetap bersamaku, Viona.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!