Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal mula
Pagi itu, mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan gerbang setinggi dua meter yang dihiasi ukiran emas. Di baliknya terbentang kediaman seluas puluhan hektar—seperti istana raksasa yang megah, dingin, dan terasa sangat jauh dari keramaian kota. Begitu turun, Annisa menatap takjub sekaligus cemas. Ini adalah tempat ia akan bekerja selama dua tahun ke depan, jauh dari tanah air dan keluarganya.
“Masuklah, Nona Annisa. Ikuti saya,” ucap seorang pria berpakaian rapi, asisten pribadi bernama Li Wei. Wajahnya cukup tampan, tetapi majikannya lebih tampan lagi.
Mereka melangkah melewati lorong panjang yang dipenuhi patung dan lukisan mahal. Banyak pelayan lain berjalan tergesa‑gesa, semuanya menunduk hormat, tidak berani mengangkat kepala terlalu tinggi. Suasana terasa kaku, seolah setiap sudut ruangan menyimpan perintah yang harus dipatuhi tanpa tanya.
Li Wei mengantarnya sampai di depan pintu kamar utama yang sangat luas. Ia berhenti, menatap Annisa dengan tatapan serius namun ramah.
“Ini kamar kerja dan istirahat Tuan Chensi. Mulai hari ini, tugasmu khusus mengurus kebersihan, menyiapkan pakaian, serta melayani keperluannya sehari‑hari. Tidak ada tugas lain selain itu.”
Annisa menelan ludah, suaranya sedikit bergetar. “Baik, Tuan Li. Saya mengerti.”
Belum sempat ia bertanya lebih lanjut, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Seorang lelaki tinggi besar, berwajah tegas dan dingin, melangkah masuk. Matanya yang tajam langsung menatap Annisa dari ujung kaki hingga kepala, seolah menilai sebuah benda yang tidak berharga. Itulah Chensi—pemilik semua kekayaan ini, penguasa yang namanya saja sudah cukup membuat orang segan.
“Siapa dia?” tanyanya dengan nada datar namun penuh tekanan.
Li Wei segera menjawab, “Ini Annisa, Tuan. Pelayan baru yang akan mengurus kamar dan keperluan pribadi Tuan.”
Chensi mendengus kasar, lalu melambaikan tangan seolah mengusir lalat. “Tidak perlu. Kirim dia ke bagian dapur saja. Aku tidak butuh pelayan baru di kamar.”
“Tuan, tolong dengarkan saya sebentar,” ujar Li Wei tenang namun tegas. “Dia orangnya sangat sopan, pendiam, dan tidak suka mencari perhatian. Saya sudah memeriksa latar belakangnya dengan teliti. Berbeda dengan pelayan‑pelayan sebelumnya yang terlalu genit dan berani mendekat tanpa izin. Wanita ini tahu batasnya.”
Chensi menatap Annisa lagi, kali ini lebih lama. Wajah gadis itu tertunduk, pandangannya tertuju ke lantai, tidak berani menatap balik, tidak tersenyum berlebihan, juga tidak berusaha menarik perhatian.
“Kamu dengar apa yang dikatakan asistenku?” tanya Chensi tiba‑tiba.
Annisa mengangguk pelan. “Saya dengar, Tuan. Saya hanya akan melakukan tugas yang diperintahkan. Tidak akan mengganggu, tidak akan berbicara lebih dari yang perlu, dan tidak akan melanggar batas.”
Chensi terdiam sejenak. Ia memang sudah muak dengan para pelayan yang selalu berusaha mendekatinya demi keuntungan. Jika gadis ini benar‑benar berbeda, mungkin ia tidak akan menjadi masalah.
“Baiklah,” jawabnya singkat. “Tetapi ingat satu hal: Jika aku melihat sedikit saja sikap yang tidak pantas, atau kamu berani melanggar aturanku, kau akan diusir keluar tanpa sepeser pun gaji. Mengerti?”
“Sangat mengerti, Tuan,” jawab Annisa mantap.
Chensi berbalik berjalan masuk ke dalam kamar, meninggalkan mereka. Li Wei menepuk bahu Annisa pelan.
“Kamu sudah mendengar sendiri. Jalankan tugas dengan baik, dan jangan pernah membuatnya kecewa. Semoga kamu bisa bertahan di sini.”
Annisa mengangguk, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang luas dan sunyi itu. Ia belum tahu, bahwa di balik sikap dingin dan kekuasaan Chensi, tersimpan bahaya yang kelak akan mengubah seluruh nasib hidupnya selamanya.
Hari‑hari pertama Annisa bekerja terasa seperti berjalan di atas telur. Setiap pagi, ia bangun jauh sebelum matahari terbit, memastikan kamar tidur dan ruang kerja Chensi sudah rapi sempurna sebelum lelaki itu membuka matanya. Ia menyapu, mengepel, melapisi meja dengan kain lembut, dan menata buku‑buku serta berkas dokumen sesuai urutan yang sudah ia hafalkan. Semua harus tepat, tidak boleh ada yang berantakan sedikit pun.
Chensi jarang bicara banyak. Kalau berbicara, suaranya selalu datar, tegas, dan sering kali terdengar ketus. Ia akan melirik sekilas ke segala sudut ruangan, dan jika ada hal yang sedikit saja tidak sesuai keinginannya, tatapannya akan langsung berubah tajam, membuat siapa pun yang melihatnya merasakan dingin yang menjalar hingga ke tulang sumsum.
Suatu pagi, setelah memastikan semuanya rapi, Annisa segera menyiapkan kopi hitam sesuai pesanan yang ia catat dari instruksi Li Wei. Ia mengira takaran gula dan airnya sudah pas, lalu membawanya ke meja kerja tempat Chensi sudah duduk sibuk membaca berkas.
“Tuan Chensi, ini kopinya,” ucap Annisa pelan sambil meletakkan cangkir itu dengan hati‑hati.
Chensi mengangkat cangkir itu, menyesap sedikit, lalu tiba‑tiba meletakkannya kembali dengan bunyi brak yang cukup keras hingga membuat Annisa terkejut dan mundur selangkah. Wajah lelaki itu berubah seketika, matanya menyala marah.
“Apa ini?” bentaknya dengan nada rendah namun menusuk. “Rasanya terlalu manis. Apakah aku pernah bilang suka kopi yang manis? Atau kamu sengaja melakukannya supaya aku cepat mengantuk dan tidak bisa bekerja?”
Annisa langsung menunduk dalam, jari‑jarinya menggenggam ujung rok seragamnya dengan kuat. Jantungnya berdegup kencang, rasa takut langsung menyelimuti sekujur tubuhnya.
“Maafkan saya, Tuan… Saya kira takarannya sudah pas. Saya akan buatkan yang baru segera, Tuan,” jawabnya dengan suara bergetar, berusaha menahan air mata yang ingin keluar.
“Sudah terlambat!” potong Chensi ketus. “Kopi yang salah itu sudah masuk ke mulutku. Ingat baik‑baik, Annisa. Di rumah ini, kesalahan kecil sekalipun bisa berakibat besar. Jangan biarkan aku mengulangi peringatan ini untuk hal yang sama. Sekarang pergi dan buang itu!”
Annisa segera mengambil cangkir itu dengan tangan gemetar, lalu berjalan keluar kamar secepat mungkin sambil menahan napas. Di luar, ia mengusap peluh dingin di dahinya. Baru sehari ia salah membuatkan kopi, dan ia sudah merasakan betapa dingin dan kerasnya hati majikannya itu.
Namun, kejadian itu belum seberapa dibandingkan apa yang ia dengar pada malam hari.
Malam itu, hujan turun deras disertai suara guntur yang menggelegar. Annisa sedang merapikan selimut dan menyiapkan air hangat di sudut ruangan, mengira Chensi sudah tertidur. Namun lelaki itu justru duduk di depan meja, memegang ponselnya dengan rahang yang mengeras. Suaranya terdengar rendah namun penuh amarah saat berbicara dengan seseorang di seberang sana.
“Dengar baik‑baik. Aku tidak mau mendengar alasan apa pun lagi. Bisnis di wilayah utara itu harus sepenuhnya dipegang olehku. Kalau dia tidak mau menjual sahamnya dengan harga yang aku tawarkan, cari jalan lain.”
Annisa berhenti bergerak, napasnya tertahan. Ia tidak berniat mendengarkan, tapi suara itu jelas terdengar di ruangan yang sunyi.
“Jangan berlebihan sopan padanya. Kalau perlu, buat dia mengerti bahwa melawanku berarti menghancurkan dirinya sendiri. Aku tidak peduli caranya, yang penting besok pagi dia sudah tidak ada lagi menghalangi jalanku. Paham?”
Chensi berhenti bicara sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih dingin dan tegas:
“Kalau dia masih keras kepala, selesaikan saja urusannya secara permanen. Pastikan tidak ada jejak yang tertinggal. Aku tidak mau namaku terlibat sedikit pun.”
Saat itu juga, tangan Annisa yang memegang kendi air terasa kaku. Darah di sekujur tubuhnya seolah berhenti mengalir. Ia baru sadar, bahwa ketus dan kekejaman Chensi bukan hanya sekadar sikap pemarah biasa. Lelaki ini benar‑benar memiliki kekuasaan yang luar biasa, dan bagi dia, nyawa orang lain seolah tidak ada harganya.
Dengan langkah pelan dan hati berdebar kencang, Annisa mundur perlahan menuju pintu, berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun. Ia merasa sangat terjebak. Di tempat ini, ia hanya seorang pendatang yang lemah, bekerja di bawah naungan orang yang bisa menghancurkan siapa saja tanpa rasa bersalah. Malam itu, ia berdoa dalam hati agar bisa menjalani hari‑hari ke depan dengan selamat, dan tidak pernah terlibat dalam urusan gelap yang melingkupi kekuasaan Chensi.
Namun, ia belum tahu, bahwa takdir telah menyiapkan ujian yang jauh lebih berat lagi untuknya—sebuah peristiwa yang akan mengubah nasibnya selamanya.
***
All, ini ceritanya mereka menggunakan bahasa Mandarin ya, karena Annisa yang sudah belajar terlebih dahulu sebelum berangkat ke luar negri, maka ia sudah bisa bicara dengan bahasa Mandarin.
Bersambung ....