Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 : Ujian Kelulusan dan Kepulangan
Waktu penempaan spiritual di dalam kesunyian Desa Pagedongan akhirnya mencapai puncaknya. Setelah berbulan-bulan lamanya Bagus digembleng tanpa ampun menembus batas ego manusianya, pada suatu pagi di waktu Dhuha yang berkah, Ki Ageng Buana memanggil Bagus untuk berdiri di tengah pelataran tanah merah depan Joglo. Suasana Tegal Pelosok pagi itu tampak sangat cerah, pancaran sinar matahari menyinari wajah Bagus yang kini tampak jauh lebih bersih, tenang, dan memancarkan aura kewibawaan spiritual yang matang.
Ki Ageng Buana berdiri dengan tubuh tegapnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata Bagus dengan seulas senyum bangga. "Bagus, hari ini masamu untuk menimba ilmu di tempat terasing ini resmi dinyatakan selesai. Wadah batinmu sudah penuh, dan jiwamu sudah menjelma menjadi benteng cahaya. Sekarang, saatnya kamu pulang kembali ke kerasnya kota untuk mengamalkan seluruh ilmu yang sudah kamu dapatkan di sini."
Bagus membungkukkan badannya rendah-rendah dengan penuh rasa takzim. "Terima kasih yang sebesar-besarnya, Ki. Tanpa bimbingan Ki Ageng, saya mungkin sudah hancur menjadi gila di jalanan kota."
Ki Ageng Buana menepuk kedua pundak Bagus dengan kuat, lalu memberikan petuah terakhirnya yang sangat sakral. "Ingat baik-baik esensi dari dua ajian tingkat tinggi yang sudah mendarah daging di dalam tubuhmu, Bagus. Pertama, Ilmu Tawakalan Ahadi yang kamu pegang itu merujuk langsung pada firman Allah: 'Faidza azamta fatawakkal 'alallah, innallaha yuhibbul mutawakilin'—Kira-kira jika kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal. Dengan ilmu kepasrahan mutlak ini, kamu tidak boleh lagi memelihara rasa takut sedikitpun saat kembali ke kerasnya kehidupan kota besar nanti. Kamu tidak boleh takut kelaparan, dan tidak boleh takut pada kejahatan manusia, karena hati dan jiwamu sudah pasrah sepenuhnya di bawah perlindungan Allah setelah kamu berusaha keras secara halal."
Bagus mendengarkan dengan khusyuk, meresapi setiap patah kata guru besarnya ke dalam relung hati.
"Dan yang kedua," lanjut Ki Ageng Buana dengan nada suara yang bergaung berat, "Ajian Benteng Neroko Jasad yang melapisimu adalah bentuk esensi nyata dari ayat: 'Quu anfusakum wa ahlikum naaro' Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Ilmu ini bukan sekadar tameng gaib untuk menahan jarum santet dukun hitam, melainkan sebuah benteng hati dan mental yang luar biasa kuat agar kamu tidak gampang goyah, tidak mudah silau, dan tidak roboh oleh bujuk rayu kemewahan, syahwat, serta kenikmatan dunia kota yang menipu. Tiga pilar utama yaitu Iman, Islam, dan Ihsan kini sudah mengalir bersama darahmu. Jadilah lentera di tengah kegelapan kota."
Malam itu juga, setelah mencium tangan Ki Ageng Buana dengan linangan air mata haru, Bagus melangkah pergi meninggalkan Desa Pagedongan. Ia kembali menumpang bus malam menuju Jakarta. Namun, Bagus yang pulang kali ini bukanlah Bagus kurir ojol yang dulu datang dengan dada yang hangus dibakar dendam dan sakit hati. Bagus yang sekarang adalah sosok ksatria spiritual jalur putih yang memiliki ketenangan jiwa tingkat tinggi.
Sesampainya di ibu kota, Bagus kembali memulai pekerjaannya dari bawah demi menyambung hidup yang berkah. Tanpa ada rasa takut atau minder sedikit pun, ia kembali mengenakan jaket hijau ojek online-nya dan mulai menarik orderan membelah kemacetan jalanan Sudirman. Berbekal Ilmu Tawakalan Ahadi, ia bekerja dengan senyuman tulus, melayani setiap pelanggan dengan hati yang pasrah penuh rasa syukur kepada Tuhan.
Hingga pada suatu siang yang terik di kawasan perkantoran elite Sudirman, sebuah garis takdir yang telah digariskan oleh Sang Arsitek Agung Semesta Alam akhirnya bekerja mempertemukan mereka kembali. Saat itu, Bagus baru saja selesai mengantarkan sebuah paket dokumen penting ke lobi sebuah gedung pencakar langit. Tepat saat ia berjalan keluar menuju area parkir motor bawah pohon palem, siluet seorang wanita yang berjalan tergesa-gesa keluar dari pintu kaca lobi membuat langkah kakinya terhenti.
Wanita itu adalah Sri.
Penampilan Sri saat ini tampak sangat anggun dan bersahaja. Namun, dari arah belakang Sri, tampak seorang pria asing berwajah beringas sedang berjalan cepat dengan langkah lebar, lalu dengan kasar menarik pergelangan tangan Sri hingga gadis itu meringis kesakitan. Pria itu rupanya adalah seorang penagih utang atau mantan rekan kerja yang sedang mencoba melakukan tindakan pelecehan di tempat umum.
"Lepaskan! Tolong jangan kasar!" pekik Sri dengan suara ketakutan, mencoba melepaskan cengkraman tangan pria bertubuh kekar tersebut.
Melihat ada wanita yang sedang dizalimi di depan matanya, insting kepahlawanan dan pilar Ihsan di dalam diri Bagus seketika bergetar hebat. Tanpa ada rasa takut sedikitpun terhadap ukuran tubuh pria kekar itu, Bagus melangkah maju dengan sangat tenang namun cepat, langsung menepis kasar tangan pria asing tersebut hingga cengkeramannya di pergelangan tangan Sri terlepas seketika.
"Jangan bertindak kasar pada wanita di tempat ini, Bung," ucap Bagus dengan nada suara yang sangat tenang, dingin, namun memancarkan aura tekanan mental yang luar biasa kuat menembus saraf pria tersebut.
Sri yang terbebas dari cengkeraman langsung mundur ke belakang tubuh Bagus. Dengan jantung yang berdebar kencang, ia menatap punggung tegap pemuda berjaket ojol di hadapannya. Anehnya, begitu berdiri di belakang punggung Bagus, Sri merasakan sebuah hawa sejuk yang luar biasa damai mengalir menenangkan debaran jantungnya sebuah rasa aman murni yang sangat akrab, namun kali ini lahir secara alami tanpa ada paksaan dari mantra sihir mana pun. Garis takdir telah membawa mereka kembali berhadapan, membuka lembaran baru di mana asmara kasih di antara mereka akan mulai diuji secara murni dari lubuk hati masing-masing.
“Ketika takdir mempertemukan kembali dua jiwa yang telah dibersihkan oleh cobaan, dinding kasta dan materi takkan lagi mampu menjadi penghalang. Kali ini, jalinan kasih itu tidak lagi lahir dari paksaan mantra hitam yang merusak, melainkan tumbuh murni dari kesucian hati yang dititipkan pada keridhaan Tuhan.”
— Sang Alifas Yang Merumput