NovelToon NovelToon
Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mandul / Konflik etika
Popularitas:622
Nilai: 5
Nama Author: Vitamaya

Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.

Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.

Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vonis Dokter

"Maaf, Nyonya Zulfa... kemungkinan untuk hamil secara alami sangat kecil."

Kalimat itu jatuh seperti palu besi yang menghancurkan segalanya.

Ruangan terasa sesak. Suara dokter berikutnya terdengar jauh, seolah berasal dari tempat lain.

"Satu-satunya jalan... bayi tabung."

Zulfa menunduk. Jemarinya gemetar di atas pangkuan. Air matanya jatuh tanpa suara. Di sampingnya, Arslan menggenggam tangannya erat.

"Nggak apa-apa," bisiknya pelan, namun penuh keyakinan.

"Kita jalani sama-sama."

Zulfa ingin percaya. Sangat ingin percaya. Namun mereka berdua belum tahu... bahwa ujian terbesar bukanlah pada rahim Zulfa.

Melainkan pada orang terdekat...

yang diam-diam ingin menghancurkan mereka.

***

Delapan tahun kemudian ...

"Arslan masih belum bisa menuruti keinginan Mama!"

"Iya... Arslan tahu. Tolong beri kami waktu. Arslan tidak ingin melukai Zulfa."

"Ma... Arslan sangat mencintai Zulfa. Tolong jangan paksa Arslan melakukan hal itu. Arslan tidak mau selingkuh, apalagi sampai menikah lagi!"

Nampan kecil berisi secangkir kopi panas yang hendak Zulfa bawa ke ruang kerja suaminya nyaris terlepas dari genggamannya. Langkahnya terhenti seketika saat tanpa sengaja ia menangkap percakapan Arslan dengan ibunya melalui telepon.

Beruntung, ia masih sempat menahan nampan itu sebelum kopi tumpah membasahi lantai. Dengan napas tertahan, wanita berambut hitam panjang itu buru-buru menyingkir, menyembunyikan tubuh rampingnya di balik pintu. Dadanya terasa sesak, seolah ada beban berat yang menekan dari dalam. Air matanya luruh tanpa mampu ia bendung. 

Zulfa menutup mulutnya rapat-rapat, menahan isak tangis agar tak terdengar. Hatinya seperti disayat berulang kali, setiap kata yang ia dengar terasa begitu menyakitkan.

Ia tak pernah menyangka ... sosok ibu mertua yang selama ini ia hormati dan sayangi, justru tega menyuruh anaknya berselingkuh. Apalagi sampai menikah lagi.

Dengan langkah tergesa, ia menuju dapur. Ia tak ingin Arslan tahu bahwa dirinya telah mendengar semuanya. Tangannya masih bergetar saat meracik kopi baru sebab kopi sebelumnya telah berceceran akibat kegugupannya.

"Sayang ..."

Suara lembut Arslan membuatnya tersentak. Zulfa buru-buru menyeka sisa air matanya, lalu berpura-pura sibuk mengaduk kopi.

"Iya, sebentar ... kopinya baru aja selesai," ucapnya, berusaha terdengar biasa.

Arslan tersenyum tipis. Ia melangkah mendekat, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping istrinya.

"Nggak apa-apa, kok. Kenapa buru-buru begitu?" Ia memutar tubuh Zulfa hingga mereka saling berhadapan.

"Tiba-tiba aku nggak ingin kopi. Kita tidur aja, ya."

"Bukannya tadi kamu bilang masih banyak kerjaan?" tanya Zulfa lirih, pandangannya tertunduk.

Arslan mengangkat dagu istrinya perlahan, menatapnya penuh kelembutan.

"Masih bisa dilanjut besok. Malam ini ... aku cuma ingin istirahat."

Tanpa menunggu jawaban, Arslan menggenggam tangan Zulfa dan membawanya ke kamar utama di lantai atas. Kopi hangat yang baru tersaji diabaikan begitu saja.

Di atas ranjang, Zulfa yang telah berganti pakaian tidur berbaring di samping suaminya. Arslan segera merengkuhnya dalam pelukan erat, seolah takut kehilangan.

"Kenapa tiba-tiba meluk aku kayak gini? takut aku hilang, ya?" goda Zulfa pelan.

"Iya... takut banget," jawab Arslan jujur, sembari mengusap rambut istrinya dengan lembut.

Zulfa terdiam. Ada sesuatu yang berbeda dari sikap suaminya malam ini, lebih hangat, namun terasa ganjil.

"Kamu kenapa, sih? Kok beda dari biasanya?" tanyanya hati-hati.

"Nggak apa-apa. Cuma kangen. Beberapa hari ini aku sibuk lembur, kita jadi jarang punya waktu berdua."

"Maaf ya... aku sering ketiduran sebelum kamu pulang," ucap Zulfa, merasa bersalah.

"Nggak apa-apa. Aku juga nggak mau kamu memaksakan diri hanya untuk menungguku." Sejenak, keheningan menyelimuti.

"Zulfa... kamu percaya, kan, kalau aku sangat mencintaimu?"

Pertanyaan itu membuat hati Zulfa kembali bergetar.

"Sejak kapan aku nggak pernah percaya sama ucapanmu?" jawabnya dengan senyum tipis meski hatinya sedang rapuh.

"Janji ya... apa pun yang terjadi nanti, kamu nggak akan ninggalin aku."

Arslan mengulurkan jari kelingkingnya. Ada nada memohon... sekaligus tersirat kecemasan. Zulfa menatapnya sejenak, lalu mengaitkan jari kelingkingnya, seperti anak kecil.

"Iya... aku janji."

Dengan polos, ia mengikat janji itu tanpa tahu apa yang sedang menantinya.

"Ya sudah, sekarang kita tidur," ucap Zulfa, mencoba mengalihkan suasana.

"Yah... kok langsung tidur?" rengek Arslan manja.

"Loh, tadi kamu sendiri yang ngajak tidur."

"Iya... tapi maksudku bukan begitu," balasnya dengan senyum penuh arti.

 "Aku lagi dapet ..." Zulfa menghela napas pelan. Namun Arslan hanya tersenyum nakal, tetap berusaha membujuk dengan cara khasnya.

"Kan masih bisa pake cara lain, sayang..." bisiknya lembut, suaranya terdengar merayu. Lalu Arslan kembali melanjutkan ucapannya, "obat pereda nyerinya masih rutin kamu minum, kan?" Zulfa mengangguk pelan membuat Arslan tersenyum senang.

"Berarti nggak ada alasan kamu nolak aku," tutur Arslan sambil menarik lembut jemari Zulfa dan mengarahkan ke predator tumpulnya yang sudah berontak ingin di ajak bermain.

"Kamu itu... kalau sudah ada maunya, susah banget ditolak." Zulfa menggeleng kecil, menyerah.

"Ya habis mau gimana lagi? Satu-satunya obat stress ku cuma ini." Arslan tertawa dan Zulfa mulai mengikuti permintaan suaminya itu.

Malam itu pun berlalu dalam kehangatan yang tampak utuh di permukaan, meski diam-diam, hati Zulfa dipenuhi kegelisahan yang tak terucap.

***

Pagi hari menyapa.

Zulfa bangun lebih awal, seperti kebiasaannya sejak memutuskan menjadi ibu rumah tangga. Ia langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Dulu, hal seperti ini jarang ia lakukan saat masih sibuk mengejar karier. Padahal, rumah mereka memiliki beberapa pelayan. Namun Arslan  lebih menyukai masakan buatan istrinya sendiri.

Bakat terpendam Zulfa mulai muncul sejak mengikuti kursus memasak, hidangannya jadi terasa istimewa bahkan, menurut Arslan, tak kalah dari restoran mewah. Tak heran jika hampir setiap hari ia menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya, yang selalu enggan makan di luar. Banyak yang bilang bakat memasak Zulfa menurun dari sang ayah, seorang pembisnis kuliner.

Zulfa tersenyum kecil mengingat itu. Namun perlahan, senyum itu memudar.

Pikirannya kembali pada satu hal yang belum mampu ia berikan, yaitu seorang anak. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir perasaan itu.

Tidak. 

Pagi ini ia ingin fokus pada hal-hal baik.

Pada suaminya.

Pada cinta yang masih mereka miliki.

Bagi Zulfa, Arslan adalah pria yang nyaris sempurna. Arslan memiliki pribadi yang sabar, perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Bahkan, ia sering merasa... dirinya tidak cukup pantas untuk pria seperti itu.

Ia bahkan sering membandingkan Arslan dengan aktor  favoritnya. Wajah tampannya, postur tinggi tegap, bulu-bulu halus di area rahang yang terawat dan senyum yang memikat. 

Ah ... wanita mana yang tak tergoda dengan pria berwajah timur tengah seperti itu?

Arslan memang memiliki darah Turki dari Sang Ibu. Hal ini juga yang membuat Zulfa semakin menyukai drama Turki hingga membuatnya fasih berbahasa Turki. Bahasa yang juga digunakan Arslan untuk mengobrol bersama ibunya atau saudaranya yang masih tinggal di negara tersebut. Lamunannya buyar tatkala aroma masakan yang hampir gosong menyentaknya.

"Astaga..."

Ia buru-buru mengaduk. Tak lama, suara langkah sepatu Arslan terdengar mendekat. Pria itu sudah rapi, kemeja membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Zulfa menoleh dan tersenyum manis.

"Sarapan sudah siap, Tuan."

Arslan duduk sambil tersenyum puas melihat sang istri selalu memperlakukannya bak Raja.

"Nggak rugi ya, aku dapat istri seperti kamu. Serba bisa." 

"Serba bisa? memangnya bisa apa aja?" Goda Zulfa, mencoba memancing sesuatu.

Arslan mendekat, menghirup aroma masakan yang masih melekat di tubuh istrinya. Satu matanya berkedip nakal, tangannya meremas pinggang Zulfa dan membuat Zulfa meringis.

"Bisa memuaskan suami." 

"Dasar mesum!" Arslan hanya tersenyum, menikmati reaksi istrinya itu.

"Mesum sama istri sendiri kan nggak apa-apa,  yang nggak boleh tuh sama istri orang." Kata Arslan menyelingi ucapan dengan candaan.

"Awas aja berani mesum sama istri orang, ku potong angry bird-mu!!" ancam Zulfa sambil memperlihatkan pisau tajam di hadapan suaminya. Sontak kedua tangan Arslan langsung menutup benda tumpulnya di bawah sana.

"Jangan suka main-main sama benda tajam, nanti kalau ada setan lewat, gimana?" keluh Arslan masih terlihat takut kalau istrinya benar-benar memotong angry bird-nya.

"Ya habis kamu duluan yang ngomongnya sembarangan!!" Zulfa menimpali kemudian meletakkan pisau itu di tempat semula.

"Ya udah aku minta maaf, ayo kita sarapan!" ajak Arslan kemudian, berdebat dengan istrinya hanya akan menguras energinya.

 "Aku nggak mungkin macem-macem sama istri orang, kalau istri sendiri aja selalu menggoda." Rayu Arslan sambil menggandeng lembut tangan istrinya, hingga menciptakan rona merah di pipi Zulfa. Mereka pun duduk bersama. Zulfa mulai menyajikan makanan, percakapan ringan mengalir hangat. Namun suasana itu perlahan berubah saat Arslan tiba-tiba berkata,

"Sebenarnya... ada hal penting yang ingin aku bicarakan."

Jantung Zulfa berdegup lebih cepat.

"Soal apa?" tanyanya, berusaha tenang namun pikirannya kalut.

"Mama."

Perasaan Zulfa langsung tidak enak. Ia teringat kembali percakapan yang ia tangkap semalam.

"Kenapa dengan mama?" tanya Zulfa pura-pura tidak tau.

Arslan menelan ludah berusaha mengumpulkan keberaniannya. Tangannya terulur menggenggam kedua tangan istrinya.

"Seperti biasa mama selalu desak kita untuk cepat punya anak. Gimana kalau kita progam hamil lagi?"

Zulfa membalas genggaman tangan suaminya, bibirnya tersenyum lebar

"Selama kamu masih support aku, tentu aku masih mau." Di luar dugaan ternyata Zulfa menyambut hangat ajakan suaminya itu, padahal mulanya Arslan takut kalau istrinya belum siap melakukan progam itu lagi setelah beberapa kali mengalami kegagalan.

"Lalu kapan kamu siap untuk progam bayi tabung lagi?" tanya Arslan dengan wajah bahagianya melihat kegigihan sang istri.

"Besok aku akan coba konsultasi lagi dengan dokter."

"Aku tahu ini bukan hal yang mudah buat kamu tapi aku bangga karena kamu nggak pernah takut untuk mencoba lagi, meski hasil akhirnya belum tentu seperti yang kita harapkan." Ucap Arslan lembut

Tatapan sendu pria itu seketika menciptakan genangan haru di mata bulat Zulfa. Ada ketulusan yang begitu jelas terpancar dari sorot matanya, membuat hati Zulfa kembali menghangat di tengah segala luka yang mereka lalui. 

Arslan memang selalu seperti itu. Tak pernah lelah menemani istrinya berjuang demi mempertahankan rumah tangga mereka. Baginya, kebahagiaan Zulfa adalah hal yang paling berharga. Terlebih lagi, kehadiran seorang anak merupakan impian terbesar yang sejak lama ingin mereka wujudkan.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!