Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman lama
Sesampainya di dalam rumah, suasana terasa jauh lebih hangat dibandingkan udara malam yang menusuk di luar. Aroma sabun cuci piring dan minyak kayu putih sisa menidurkan Ciara memenuhi ruangan. Bi Inah terlihat masih sibuk di dapur, mengelap piring-piring keramik yang sudah dicuci bersih.
"Sat, itu plastik sampahnya jangan lupa ditaruh di bak depan yang besar ya, besok pagi tukang sampah lewat jam enam," teriak Bi Inah dari dapur tanpa menoleh.
"Beres, Mak! Udah Satria buang tadi sekalian ngadem di depan," sahut Satria sambil nyengir. Ia mengikuti Xarena masuk ke ruang tengah. "Mbak Ren, tadi si Alan itu... beneran cuma temen lama?"
Xarena menghentikan langkahnya, lalu menghela napas panjang. "Temen lama banget, Sat. Udahlah, nggak usah dibahas lagi. Pusing kepalaku."
"Ya abisnya, dia ngelihatin Mbak kayak ngelihat hantu tapi pengin dipeluk. Aneh aja," gumam Satria sambil duduk di kursi kayu ruang tamu.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka pelan. Mommy Bela keluar dengan langkah perlahan, wajahnya nampak lelah namun matanya menunjukkan kasih sayang yang dalam. Ia baru saja memastikan cucu kesayangannya, Ciara, benar-benar terlelap.
"Ciara sudah tidur nyenyak, Ren. Tadi dia sempat tanya 'Om Ganteng' itu siapa, tapi Mommy bilang itu cuma teman Mommy yang mampir," ujar Mommy Bela sambil berjalan mendekati sofa tempat Xarena kini duduk termenung di depan televisi yang menyala tanpa suara.
Satria yang merasa pembicaraan ini mulai masuk ke ranah pribadi keluarga, segera bangkit. "Mak, ayo pulang. Udah malem, kasihan Mbak Xarena sama Mommy mau istirahat."
Bi Inah keluar dari dapur sambil mengeringkan tangannya pada celemek. "Iya, Nak. Non Xarena, Nyonya, saya sama Satria pamit dulu ya. Pekerjaan dapur sudah beres semua. Besok pagi saya datang lebih awal buat bikin bubur buat Ciara."
"Makasih ya, Bi. Makasih juga ya, Sat, sudah bantuin beresin genteng bocor tadi sore," ucap Xarena tulus.
"Santai aja, Mbak. Kayak sama siapa aja. Anggap saya adik sendiri, kan Mbak juga sudah sering bantu saya kalau lagi seret tarikan ojeknya," Satria tertawa, lalu mencium tangan Mommy Bela dengan hormat sebelum melangkah keluar bersama ibunya.
Sepeninggal Bi Inah dan Satria, rumah mungil itu mendadak sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang mengisi kekosongan. Mommy Bela duduk di samping Xarena, lalu menggenggam tangan putrinya yang terasa dingin.
"Maafkan Mommy ya, Sayang," bisik Mommy Bela tiba-tiba. Suaranya bergetar karena rasa bersalah yang dipendam bertahun-tahun. "Kalau saja waktu itu perusahaan Papi tidak bangkrut, kalau saja Mommy tidak memaksamu untuk pergi... kamu tidak perlu membesarkan Ciara dalam keadaan seperti ini. Kamu tidak perlu meninggalkan Alan lima tahun yang lalu."
Xarena tersenyum getir, meski matanya mulai berkaca-kaca. Ia menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu. "Sudahlah, Mommy. Kejadian itu sudah lewat. Lagian, semua kata-kata Mommy waktu itu kan atas permintaan Xarena juga."
"Tapi Mommy merasa jahat sekali, Ren. Alan sangat mencintaimu saat itu."
"Justru karena dia sangat mencintaiku, aku harus pergi, Mom," potong Xarena pelan. Setetes air mata jatuh ke pipinya. "Xarena nggak ingin Alan melihat keterpurukan kita. Papi dipenjara, semua aset disita, kita dihina semua orang... Xarena nggak mau jadi beban buat masa depan Alan yang saat itu baru mau merintis karier. Biarlah dia mengira Paman Hasan adalah suami Xarena waktu itu. Biarlah dia benci pada Xarena yang dianggap 'matre' dan memilih pria kaya lain, daripada dia harus menyaksikan kehancuranku."
Xarena memejamkan mata, bayangan Papi Suryo yang digiring petugas kepolisian kembali melintas. Pengkhianatan sahabat Papi adalah luka yang paling dalam. Papi dituduh menggelapkan dana investasi asing, padahal beliau hanya korban kambing hitam.
"Tapi sekarang dia kembali, Ren. Dan Ciara... wajahnya, matanya... itu semua adalah Alan," gumam Mommy Bela.
"Aku tahu, Mom. Tapi aku nggak bisa jujur. Alan yang sekarang sudah punya kehidupan sendiri. Dia sudah jadi orang hebat, jauh di atas kita. Aku cuma perempuan sekertaris kecil di perusahaannya. Kita beda kasta lagi, tapi posisinya terbalik."
Sementara itu, di pinggiran jalan yang tak jauh dari rumah Xarena, Satria dan Bi Inah berjalan kaki pulang menuju kontrakan mereka yang hanya berjarak beberapa blok.
"Sat," panggil Bi Inah pelan.
"Ya, Mak?"
"Kamu itu mbok ya jangan terlalu deket-deket banget sama Non Xarena. Bukan apa-apa, Emak cuma takut orang salah sangka. Kamu kan tahu, Non Xarena itu aslinya orang ningrat, meski sekarang lagi susah."
Satria tertawa renyah sambil merangkul bahu ibunya. "Halah, Mak. Mbak Xarena itu sudah kayak kakak kandung Satria sendiri. Dia yang bayarin cicilan motor Satria pas lagi macet dulu, dia juga yang sering kasih uang jajan lebih buat Mak. Satria cuma mau balas budi. Lagian, Satria tahu diri kok, Mak. Mana berani Satria naksir 'bidadari' kayak Mbak Ren."
"Tapi pria yang tadi sore datang itu... yang bawa mobil mewah... itu siapa, Sat?"
"Katanya sih temen lama, tapi feeling Satria bilang itu bapaknya Ciara, Mak. Tatapan matanya nggak bisa bohong. Serem tapi sedih."
Bi Inah menghela napas. "Dunia ini sempit ya, Sat. Sudah lima tahun Non Xarena sembunyi, akhirnya ketemu juga. Emak cuma berharap nggak ada keributan lagi. Kasihan Ciara, dia butuh ketenangan."
"Tenang aja, Mak. Selama ada Satria, nggak bakal ada yang boleh nyakitin Mbak Ren atau Ciara. Biar kata orang kaya sekalipun, kalau dia macam-macam, Satria hadapin!" seru Satria penuh semangat, mencoba menghibur ibunya.
Kembali ke dalam rumah pagar putih, Xarena masih terpaku menatap layar televisi yang kini menampilkan berita malam. Pikirannya melayang, khawatir jika satu saat tau kebenarannya jika Ciara adalah putrinya.
" Apakah Dia masih ingat hal-hal kecil," batin Xarena bertanya tanya mungkinkah Alan masih mencintai dirinya.
Ia teringat lima tahun lalu, saat mereka masih sering menghabiskan waktu di taman kampus. Alan selalu membawakannya susu stroberi setiap kali Xarena merasa sedih atau kelelahan belajar. Perhatian-perhatian kecil itu yang dulu membuatnya jatuh cinta setengah mati.
"Besok kalau Alan datang lagi, apa yang harus aku lakukan, Mom?" tanya Xarena lirih.
Mommy Bela mengusap rambut putrinya. "Ikuti kata hatimu, Ren. Tapi jangan membohongi diri sendiri terlalu lama. Ciara punya hak untuk tahu siapa ayahnya, dan Alan... dia punya hak untuk tahu bahwa dia tidak pernah dikhianati oleh cintamu, melainkan diselamatkan oleh pengorbananmu."
Xarena hanya terdiam. Di luar, angin malam makin kencang bertiup, seolah membawa pesan bahwa badai yang lebih besar akan segera datang menerjang kehidupan mereka yang selama ini tenang dalam kesederhanaan. Rahasia yang terkunci rapat selama lima tahun kini mulai retak, dan kuncinya ada pada seorang bocah kecil yang saat ini sedang bermimpi indah.
🥰🥰
Hai semuanya, author sangat senang karya ini dibaca kalian semuanya.
Tinggalkan like dan komennya yah, dukungan kalian sangat membantu. Terima kasih🙏🏻🙏🏻🥰🥰🥰