Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.
Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Jalan Abu Abu
Tetua mo menghela nafas berat. "Kau ini... ayo ikut aku. Pelajaran berharga untukmu akan dimulai."
Huang segera menangkup kedua tangannya. "Baik guru."
Keduanya berjalan pergi meninggalkan kediaman tetua mo, lalu keluar dari wilayah Sekte Yunwu tanpa banyak bicara. Para murid luar yang melihat Tetua Mo hanya buru buru menundukkan kepala lalu menjauh.
Setelah melewati gerbang sekte, Tetua Mo mengibaskan lengan bajunya. Sebuah perahu spritual hitam kusam muncul di udara.
"Naik."
Huang melompat naik dengan hati hati. Perahu itu segera melesat ke udara begitu Tetua Mo duduk bersandar sambil meneguk araknya. Angin kencang menerpa wajah Huang. Di bawah mereka gunung dan hutan berubah kecil seperti lukisan.
Di geladak perahu Huang akhirnya memberanikan diri bertanya. "Kita pergi kemana guru?"
Tetua Mo tidak langsung menjawab. Ia meneguk araknya cukup lama, lalu menyeka sudut bibirnya dengan lengan baju.
"Latihan moralitas."
Huang tertegun mendengar jawaban itu. Ia memandang gurunya beberapa saat, namun tidak berani bertanya lebih lanjut. Perahu spritual terus melesat membelah langit pagi.
Sekitar dua jam kemudian, perahu itu berhenti di udara. Huang menunduk ke bawah dan melihat sebuah barak kayu besar berdiri di tengah hutan tandus. Banyak pria berpakaian hitam berjaga sambil membawa senjata. Beberapa kereta kayu terlihat diparkir di sisi belakang.
Tetua Mo berdiri perlahan. Wajahnya masih tampak malas, namun matanya berubah dingin.
"Kalian semua yang berada di barak Pasukan Serigala Hitam... keluarlah!"
Suaranya mengguncang udara. Gelombang tekanan menyebar ke seluruh area. Dalam beberapa tarikan napas, puluhan orang berlarian keluar dari barak. Wajah mereka tampak panik ketika melihat sosok Tetua Mo melayang di udara.
Seorang pria bertubuh besar segera melangkah maju lalu menangkup kedua tangan dengan hormat.
"Senior... apa yang membuat anda datang ke tempat rendahan seperti ini?"
Tetua Mo meneguk araknya sekali lagi sebelum menjawab datar. "Serahkan seribu batu roh tingkat rendah. Lima ratus tingkat menengah. Dua ratus tingkat tinggi."
Mendengar itu seluruh wajah anggota Pasukan Serigala Hitam berubah pucat. Bahkan Huang tanpa sadar mundur setengah langkah. Ia menatap gurunya dengan keterkejutan yang sulit disembunyikan.
Pemimpin pasukan memaksakan senyum.
"Senior ini..."
Namun sebelum ia selesai berbicara, Tetua Mo sudah mengangkat tangannya.
Wusss!
Puluhan pedang spritual muncul di belakang tubuhnya. Cahaya tajam memenuhi langit. Lalu salah satu pedang melesat turun.
Sangat Cepat. Menuju salah satu barak.
Duarrr!
Satu barak kecil langsung meledak menjadi serpihan kayu. Api berkobar sementara jeritan ketakutan terdengar di mana mana.
Huang membelalakkan matanya. Dadanya berdegup keras. Ini pertama kalinya ia melihat kekuatan sebesar itu digunakan untuk mengancam orang lain.
Pemimpin pasukan buru buru menundukkan kepala lebih rendah. "Baik... baiklah senior. Setelah ini mohon jangan menghancurkan apapun lagi."
Tetua Mo tidak menjawab.
Tak lama kemudian seseorang membawa tiga kantung besar. Pemimpin pasukan menerbangkannya ke udara dengan kedua tangan gemetar. Tetua Mo menangkap semuanya lalu memeriksa isi di dalamnya menggunakan indera spritual.
Ia mengangguk pelan lalu menyimpan semuanya ke cincin ruang miliknya.
"Sudah cukup senior?" tanya pemimpin pasukan hati hati.
Tetua Mo hanya melambaikan tangannya. Perahu spritual langsung melesat pergi tanpa sepatah kata lagi.
Angin kembali berhembus kencang. Huang berdiri diam cukup lama sebelum akhirnya menatap gurunya.
"Guru... kenapa anda merampok mereka?"
Tetua Mo meneguk araknya. Kali ini ia tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke depan, seakan memandang sesuatu yang jauh melampaui gunung dan langit.
"Tidak perlu terburu buru."
Huang mengepalkan tangannya pelan. Hatinya terasa kacau. Sejak kecil ayahnya selalu mengajarkan untuk hidup jujur dan tidak mengambil milik orang lain. Namun orang yang kini menjadi gurunya baru saja melakukan perampasan terang terangan.
Perahu terus melesat cepat.
Sekitar satu jam kemudian mereka tiba di sebuah desa kecil. Dari atas udara Huang langsung melihat banyak rumah rusak. Beberapa warga terluka duduk di tanah dengan wajah ketakutan. Di tengah desa terlihat anggota Pasukan Serigala Hitam sedang tertawa sambil menendang seorang pria tua.
Huang langsung membelalakkan matanya.
"Ini..."
Tetua Mo mengayunkan tangannya.
Wusss! Wusss! Wusss!
Puluhan pedang spritual melesat turun seperti hujan maut. Dalam satu tarikan napas seluruh anggota Pasukan Serigala Hitam tewas tanpa sempat bereaksi. Darah membasahi tanah desa.
Penduduk desa langsung berlutut sambil menangis.
"Terima kasih tuan abadi!"
"Terima kasih sudah menyelamatkan kami!"
Namun Tetua Mo bahkan tidak melihat mereka. Ia langsung menjalankan perahu spritual pergi meninggalkan desa.
Huang masih berdiri membatu. Pikirannya berusaha menyusun semua yang baru saja terjadi. Tetua Mo melirik muridnya sekilas lalu menghela nafas kecil.
"Aku akan menjelaskan sesederhana mungkin. Dengarkan baik baik."
Huang segera mengangguk. "Baik guru."
Tetua Mo menatap langit luas di depan mereka. Suaranya menjadi tenang dan berat.
"Anggap saja langit memberikan kehidupan untuk manusia."
Huang mengangguk pelan.
"Namun manusia... adalah makhluk yang selalu ingin mengambil lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Karena tamak, mereka saling membunuh. Karena takut kehilangan, mereka saling menusuk. Karena merasa benar, mereka mengangkat pedang."
Tetua Mo meneguk araknya sebelum melanjutkan.
"Terlepas musuhmu jahat atau tidak... sebenarnya tidak ada manusia yang pantas dibunuh. Bahkan langit yang memberi mereka kehidupan pun tidak pernah meminta nyawa mereka kembali dengan paksa."
Huang mendengarkan dengan diam.
"Tetapi dunia kultivasi berbeda." Mata Tetua Mo perlahan menyipit. "Sekte suci membunuh kultivator sesat sambil menyebut dirinya pembela keadilan. Kultivator sesat membantai kota sambil berkata mereka hanya mengikuti hati sendiri. Pahlawan dalam dongeng kuno membunuh ribuan orang demi satu nama besar."
Ia tertawa kecil, namun tawanya terasa dingin.
"Coba pikirkan dari sudut pandang manusia fana. Apa bedanya semua itu? Yang satu membunuh demi nama baik. Yang satu membunuh demi keinginan. Namun darah tetaplah darah."
Huang perlahan menundukkan kepala.
Tetua Mo melanjutkan dengan suara lebih rendah. "Karena itu... di dunia kultivasi tidak ada orang benar benar baik. Tetapi jangan pula sengaja menjadi jahat. Jika suatu hari kau terpaksa mengangkat pedang... pahami kenapa kau melakukannya. Jangan membunuh demi kesenangan. Jangan pula berpura pura suci setelah membunuh."
Huang memandang gurunya dengan mata rumit.
Tetua Mo mengangkat kendi araknya sedikit. "Pasukan Serigala Hitam tadi merampok desa selama bertahun tahun. Sekte kecil tidak peduli karena mereka menyuap. Kota tidak peduli karena mereka takut. Aku mengambil batu roh mereka, lalu membunuh mereka. Apakah aku orang baik?"
Huang terdiam.
Tetua Mo tersenyum tipis. "Tidak. Aku hanya memilih melakukan sesuatu yang menurutku perlu."
Setelah beberapa saat Huang akhirnya mengangguk pelan.
Tetua Mo langsung menjentik dahi Huang.
Tak!
"Bodoh. Kalau belum paham jangan asal mengangguk."
Huang buru buru memegang dahinya. "Maaf guru."
"Dan ingat..." Tetua Mo menatap tajam ke arah Huang. "Jangan berpikir merampok atau mencuri secara harfiah. Jangan pula nanti kau kembali ke sekte lalu merampok murid lemah. Yang kuajarkan ini jauh lebih dalam dari sekadar mengambil barang orang lain."
Huang kembali mendengarkan dengan serius.
"Ada kalanya kau harus mengambil sesuatu agar bisa bertahan hidup. Ada kalanya kau harus mengalah agar tetap hidup. Ada kalanya kau harus tampak jahat agar tidak diinjak. Dunia kultivasi bukan tempat untuk orang lurus dengan pikiran naif."
Huang kali ini benar benar memahami sebagian maknanya.
"Guru... saya mengerti sedikit."
Tetua Mo mendengus. "Sedikit lebih baik daripada kosong."
Perahu spritual terus melesat. Menjelang siang mereka akhirnya kembali ke kediaman Tetua Mo. Begitu turun, Tetua Mo langsung berjalan santai menuju dipan kayu di halaman lalu duduk malas sambil membuka salah satu kantung hasil rampasan tadi.
Kilauan batu roh memenuhi pandangan Huang.
Tetua Mo tertawa kecil. "Lumayan untuk membeli arak beberapa tahun."
Huang menelan ludah.
"Mulai latihan sendiri. Aku ingin menikmati hasil jarahan dulu."
"Baik guru."
Huang segera berjalan ke tengah halaman batu. Ia menarik pedang kayu miliknya lalu mulai mengulang gerakan dasar yang diajarkan kemarin. Keringat perlahan membasahi punggungnya.
Sementara di belakang, Tetua Mo duduk santai sambil menghitung batu roh hasil rampasan dengan wajah puas.