Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Senior itu mengangguk.
"Dulu hampir semua petinggi perusahaan yakin dia yang bakal jadi CEO masa depan."
Sementara itu Kanisha tetap berjalan tenang. Ia mendengar sebagian bisikan itu namun tidak memberikan reaksi apa pun dan hanya senyum kecil yang sesekali muncul di wajahnya. Karena jujur saja sudah lama sekali sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di tempat ini. Lima tahun, waktu yang sangat panjang. Lima tahun lalu ia memilih meninggalkan semuanya demi Arven. Meninggalkan pekerjaannya, meninggalkan posisinya, meninggalkan impian yang pernah ia bangun sejak muda demi menjadi istri, demi menjadi wanita yang dicintai Arven.
Dan sekarang ia kembali namun bukan sebagai wanita yang mengejar cinta melainkan sebagai Kanisha Rayya Shanika.
Seorang Winata, seseorang yang pernah membuat banyak orang kagum, seseorang yang pernah membuktikan kemampuannya di dunia bisnis. Mereka terus berjalan menuju area lift utama namun sebelum lift tertutup, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah koridor.
"Pak Rendra!"
Rendra menoleh. Beberapa pria dan wanita berusia paruh baya terlihat berjalan cepat menghampiri mereka. Mereka semua adalah para dewan direksi dan lara petinggi perusahaan, Orang-orang yang sudah bertahun-tahun bekerja bersama keluarga Winata. Begitu melihat Kanisha berdiri di sana, wajah mereka langsung berubah cerah.
"Nona Kanisha!"
"Ya ampun, Sudah lama sekali."
"Kami hampir tidak percaya anda kembali datang ke perusahaan ini."
Kanisha tersenyum sopan.
"Pagi semuanya."
Salah satu direktur bahkan tertawa kecil.
"Kami kira Anda sudah melupakan perusahaan ini."
Kanisha ikut tersenyum.
"Mana mungkin."
Pria itu langsung mengangguk puas.
"Bagus, bagus sekali."
Direktur lainnya ikut menimpali.
"Jujur saja, perusahaan ini kehilangan sesuatu sejak Anda pergi."
Kanisha hanya tersenyum tipis dan tidak menjawab karena ia tahu mereka tidak sedang berlebihan memujinya. Dulu memang banyak proyek besar yang berada di bawah pengawasannya dan banyak dari mereka yang pernah bekerja langsung bersamanya. Mereka tahu bagaimana caranya berpikir, bagaimana caranya mengambil keputusan, bagaimana caranya memimpin dan mereka tahu kemampuan itu tidak hilang begitu saja. Rendra yang sejak tadi memperhatikan akhirnya tersenyum kecil, ia lalu melangkah sedikit ke depan dan membuat perhatian semua orang tertuju padanya.
"Sekalian saja." Suasana langsung menjadi tenang, semua orang menatapnya. Rendra memasukkan satu tangannya ke dalam saku celananya. Kemudian ia berkata dengan suara tegas. "Karena kalian semua sudah berkumpul di sini..." Ia melirik Kanisha sekilas.
"Saya mau menyampaikan sesuatu."
Semua orang langsung memperhatikan termasuk Kanisha yang juga menoleh ke arah ayahnya. Rendra tersenyum tipis.
"Mulai hari ini..." Suasana menjadi semakin hening. "Kanisha akan kembali bekerja di Winata Group."
Deg, Beberapa orang langsung tersenyum lebar, beberapa lainnya terlihat sangat senang, namun Rendra belum selesai.
"Dan bukan hanya kembali bekerja." Tatapannya menyapu seluruh ruangan. "Mulai hari ini juga dia akan kembali memimpin perusahaan bersama saya."
Kalimat itu langsung disambut berbagai reaksi. Ada yang bertepuk tangan, ada yang bersorak kegirangan dan ada yang mengucapkan selamat atas kedatangan Kanisha yang kembali bekerja di perusahaan.
"Selamat datang kembali, Nona Kanisha. Kami senang Anda kembali."
"Akhirnya."
"Ini kabar terbaik minggu ini, Selamat datang kembali."
Kanisha sempat terdiam. Jujur saja ia tidak menyangka akan disambut seperti ini. Selama lima tahun terakhir ia hidup dalam dunia yang begitu berbeda. Dunia yang membuatnya merasa tidak cukup. Tidak dicintai, tidak dihargai, namun pagi ini, di tempat ini, Ia justru diingat, dihormati dan diterima. Bukan karena statusnya sebagai istri seseorang melainkan karena dirinya sendiri. Karena siapa dirinya, karena kemampuannya, karena kerja kerasnya. Dan untuk pertama kalinya sejak semalam, ada sesuatu yang terasa hangat di dadanya. Perasaan yang sudah lama hilang.
Rasa percaya diri, rasa memiliki tujuan, rasa bahwa dirinya masih berarti. Kanisha tersenyum.
"Terima kasih." Suara itu tidak keras namun cukup membuat semua orang mendengarnya.
"Terima kasih karena masih mengingat saya."
Salah satu direktur langsung tertawa.
"Mengingat Anda?" Pria itu menggeleng. "Mana mungkin kami lupa."
Yang lain ikut tertawa kecil.
"Betul."
"Anda terlalu hebat untuk dilupakan."
Kanisha sampai menundukkan kepalanya ke bawah karena merasa sedikit malu sementara Rendra hanya memperhatikan semuanya dengan senyum tipis. Jauh di dalam hatinya, Ia merasa sangat bangga karena pagi ini ia melihat sesuatu yang sempat hilang dari putrinya.
Cahaya itu, kepercayaan diri itu, dan aura itu.
Kanisha yang dulu perlahan mulai kembali dan itu lebih berharga daripada apa pun. Setelah suasana mulai tenang kembali, Rendra akhirnya melirik jam tangannya.
"Baik." Suara tegasnya langsung membuat semua orang kembali fokus. "Kita lanjut nanti."
Para direktur langsung mengangguk.
"Baik, Pak."
Rendra kemudian menoleh ke arah Kanisha.
"Ayo sayang."
Kanisha mengangguk.
"Iya, Pa."
Keduanya lalu berjalan menuju lift khusus direksi. Pintu lift terbuka perlahan dan membuat mereka masuk ke dalam. Sebelum pintu lift tertutup sepenuhnya, Kanisha sempat menoleh ke belakang untuk melihat para karyawan, melihat para direktur, melihat gedung yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Dan entah kenapa untuk pertama kalinya sejak semuanya hancur, Ia merasa sedang berjalan ke arah yang benar.
Pintu lift menutup perlahan. Lift mulai bergerak naik menuju lantai paling atas, menuju ruang kerja yang pernah menjadi tempatnya belajar memimpin. Tempat di mana dulu ia dan Rendra sering menghabiskan waktu bersama membahas strategi bisnis. Tempat yang sudah lima tahun tidak ia datangi. Dan tanpa disadari, sebuah babak baru dalam hidup Kanisha akhirnya benar-benar dimulai.
Sementara di sampingnya, Rendra tersenyum kecil karena ia tahu hari ini bukan sekadar hari pertama Kanisha kembali ke kantor. Hari ini adalah hari ketika putrinya mulai merebut kembali kehidupan yang pernah ia tinggalkan.
Lift terus bergerak naik melewati satu per satu lantai Winata Group. Di dalam lift, suasana terasa tenang. Tidak ada percakapan panjang, Rendra hanya berdiri dengan kedua tangan di dalam saku celana sambil memperhatikan angka digital yang terus bertambah di atas pintu lift. Sementara Kanisha berdiri di sampingnya. Tatapannya tertuju ke depan namun pikirannya melayang jauh.
Lima tahun, Sudah lima tahun sejak terakhir kali ia berada di gedung ini sebagai bagian dari manajemen perusahaan. Lima tahun sejak terakhir kali ia duduk di ruang rapat dan berdebat soal strategi bisnis. Lima tahun sejak terakhir kali ia menandatangani dokumen perusahaan dan sekarang semuanya terasa seperti mimpi.
Ting, Pintu lift akhirnya terbuka dan membuat mereka sampai di lantai paling atas. Lantai yang hanya bisa diakses oleh jajaran direksi dan petinggi perusahaan. Rendra melangkah keluar terlebih dahulu sementara Kanisha mengikuti dari belakang. Koridor lantai itu jauh lebih tenang dibandingkan lantai-lantai lainnya. Dindingnya didominasi warna abu-abu gelap dan hitam elegan. Lampu-lampu modern tertata rapi di sepanjang langit-langit. Beberapa lukisan abstrak menghiasi sisi koridor dan memberikan kesan mewah sekaligus profesional.
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️