"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."
Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.
Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.
Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.
Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.
Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.
"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 - Pergerakan Di Pulau Emberwind
Cahaya keemasan matahari berangsur pudar di ufuk barat, digantikan oleh langit jingga kemerahan yang perlahan melebur menjadi pekatnya malam.
Angin laut bertiup semakin dingin, menyapu pepohonan kuno yang menjulang di Pulau Emberwind. Gemerisik dedaunan terdengar mistis, seolah menyembunyikan rahasia besar di balik keindahan pulau ini.
Hari pun berganti malam, Thranduil bersama Magus Magnus dan Thorin berniat menemani Raja Eldrin dalam pertemuan dengan Pemimpin Dark Elf dan Wood Elf.
Namun saat cahaya bulan semakin terang menyinari Pulau Emberwind, Aleazea datang menemui salah satu Dewan Tetua yang bernama Talion.
"Ada apa kau memanggilku Tuan Aleazea?" Tetua Talion bertanya kepada Tetua Aleazea.
"Talion, ada tugas yang harus kita selesaikan! Kau harus membunuh Thorin dan Thranduil!" ujar Tetua Aleazea kepada Tetua Talion.
Kemudian Tetua Aleazea memberitahu jika dirinya memiliki rencana terakhir untuk memulai rencananya, demi membangkitkan Raja Iblis Astaroth.
"Aku akan memberikanmu ini. Gunakanlah dengan baik, Talion." Terlihat Aleazea memberikan pil berisi darah kepada Talion.
"Aku akan memastikan kematian mereka berdua, Tuan Aleazea," ucap Talion sebelum pergi.
Aleazea tersenyum dan memilih untuk kembali ke kediaman bersama Tetua yang lain.
Di waktu yang sama, Thranduil terlihat sedang bersama Magus Magnus membicarakan tujuan Raja Eldrin.
"Jadi Yang Mulia Eldrin berpikir ada seorang pengkhianat di kerajaan ya..." Magus Magnus menebak sosok yang dimaksud itu berada di Dewan Tetua.
Lalu Thranduil memberitahu jika sosok yang dicurigai Raja Eldrin adalah Aleazea. Sosok penyihir elf termuda yang menjadi anggota Dewan Tetua. Tidak seperti yang lain dan rata-rata berumur hampir 200 tahun, Aleazea masih berumur 90 tahun.
"Pantas saja dia terlihat lebih muda dibandingkan yang lainnya," ujar Magus Magnus sambil memandangi bulan yang ada diatas sana.
"Sebelum semuanya terlambat, aku ingin berbicara denganmu, Magus..."
"Aku ada satu permintaan untukmu," ucap Thranduil yang meminta Magus Magnus untuk menjaga cucunya, jika terjadi sesuatu yang tidak inginkan menimpa dirinya.
"Jika terjadi sesuatu kepadaku, aku ingin kau menyelamatkan cucuku. Aku ingin kau berjanji, Magus."
"Thranduil... Kau tidak perlu khawatir. Aku berjanji."
Malam yang tenang itu berubah menjadi gempar, suara auman dan kebisingan dari Hewan Buas terdengar di segala penjuru Pulau. Emberwind.
Beberapa Penjaga Hutan Emberwind yang terdiri dari elf muda itu memberitahu situasi yang terjadi kepada Thranduil.
Thranduil dan Magus Magnus terkejut melihat beberapa elf muda datang kepadanya dengan tubuh yang terluka.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Thranduil bertanya.
"Tuan Thranduil, Pangeran Thorin diserang oleh Tetua Talion! Kondisi beliau terluka parah karena melindungi kami Tetua Talion berniat membunuh kami!" Penjaga Elf menjelaskan dan membuat Thranduil heran.
"Tetua Talion menyerang kalian? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanpa menunggu lebih lama, Thranduil menanyakan keberadaan Thorin.
Magus Magnus pun langsung bergegas menuju ke tempat keberadaan Thorin bersama Thranduil.
Keduanya menuju bukit yang dimaksud dan mereka menemukan Thorin yang terluka parah, dengan perut yang terkena tusukan pedang.
"Thranduil, lebih baik kau memberitahu Yang Mulia Eldrin! Situasi ini menyulitkanku karena orang itu merupakan Dewan Tetua!" ujar Magus Magnus yang mengeluarkan mana dalam jumlah besar.
Thranduil mengerti dan langsung bergerak menuju kediaman Raja Eldrin.
"Ada yang tidak beres dengan aura yang dilepaskan Tetua Talion..." Thranduil mengerutkan keningnya dan mencoba mengingat sesuatu, karena mengenal aura tersebut.
"Ini seperti pada saat itu!" Thranduil mengingat hari dimana istrinya terbunuh, begitu juga dengan anak laki-laki dan menantunya.
Sementara Thranduil bergerak menuju kediaman Raja Eldrin, Thorin menghindari serangan Talion dan sebisa mungkin menghentikan pendarahan diperutnya.
Melihat Thorin yang terluka parah, Thranduil pun meminta pria tersebut untuk menjauh dari lokasi pertarungan.
"Thorin! Rawat lukamu dan biarkan aku yang menangkap bedebah ini!" ujar Magus Magnus yang bergerak kearahnya.
Terlihat mana dalam jumlah besar menyelimuti tubuh Magus Magnus, seperti sebuah jubah api yang membara dan membungkus tubuhnya.
"Magus Magnus? Inu justru lebih baik dan aku akan membunuh kalian berdua!" Talion menatap Magus Magnus dengan seringai senyumannya.
"Auramu itu terasa tidak asing..." Magus Magnus mengingat kekacauan yang terjadi Kerajaan Flameheart dan Kerajaan Slyph, dimana banyak orang-orang yang saling menyerang satu sama lain dan membunuh.
"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sebelum dirimu mengatakan siapa yang memberimu kekuatan itu!"
Magus Magnus menarik nafas panjang dalam satu kali tarikan nafasnya, terlihat dada Magus Magnus mengembang sebelum ia mengeluarkan nafas api kearah Tetua Talion.
Melihat itu, Talion nampak tersenyum tipis dan mengeluarkan mana disekitar tubuhnya.
"Seperti yang diharapkan dari orang yang pernah menjadi Raja Sihir Flameheart!" Tetua Talion mengibaskan tangannya, menyambut serangan yang dilepakan Magus Magnus.
Seketika api yang berhembus kearahnya terhempas oleh angin yang sangat kencang dan membakar pepohonan.
Magus Magnus menyadari kemampuan Tetua Talion berkembang pesat karena sesuatu, hingga akhirnya ia memilih untuk mempersingkat jarak dan melayangkan sejumlah serangan.
Tetua Talion menyambut serangan Magus Magnus, keduanya sama-sama kuat dan setiap kedua serangan bertemu, gelombang kejut tercipta mengeluarkan percikan api dan hembusan angin hitam.
"Kekuatan ini membuatku kuat dan kekuatan ini membuatku tidak tertandingi! Aku akan melakukan apapun demi memastikan misi ini berhasil!" ujar Tetua Talion kepada Magus Magnus.
Magus Magnus tidak bergeming saat melihat Tetua Talion merapal mantra.
Talion mengeluarkan jurus sihir terkuatnya, tanpa mempedulikan akibatnya.
Magus Magnus berteriak kearah Thorin untuk menjauh dari lokasi pertarungan, karena kekuatan yang akan dilepaskan Tetua Talion sangatlah berbahaya.
Sebuah pusaran angin hitam milik Tetua Talion bergerak kearah Magus Magnus dengan kecepatan tinggi, pusaran angin hitam terlihat seperti menghisap apa saja yang tersedot kedalamnya.
Magus Magnus menyeringai, ia tidak panik karena dirinya memiliki dua unsur sihir yaitu api dan angin. Sebuah kombinasi yang mematikan jika dipadukan secara bersamaan.
"Cukup sulit menahanmu! Sepertinya aku harus melawanmu dengan niat membunuh!" ujar Magus Magnus yang melepaskan sihir tingkat tinggi.
Pusaran angin hitam terlihat seperti menyedot tubuh Magus Magnus, namun apa yang terjadi selanjutnya diluar dugaan Tetua Talion karena api hitam miliknya berubah menjadi pusaran api yang membara.
"Aku adalah pusaran api itu sendiri! Kau terlalu meremehkanku!"
Kedua mata Tetua Talion melebar melihat pusaran api dihadapanku menelan pusaran angin hitam miliknya. Terlebih pusaran api itu seperti memiliki bentuk wajah dan suara Magus Magnus.
"Tamat riwayatmu!"
Apa yang terjadi selanjutnya adalah tubuh Tetua Talion yang terikat rantai api dan pusaran api milik Magus Magnus perlahan menghilang.
"Sekarang katakan padaku... Semua yang kau ketahui Talion!" ujar Magus Magnus tegas.
Tetua Talion tersenyum lebar dan memberontak, seketika rantai api membara dan terlihat menyala membakar tubuh Tetua Talion.
"Hentikan! Kau akan mati jika melawan!" ujar Magus Magnus memberitahu, tetapi Tetua Talion tidak peduli.
"Aku tidak peduli! Jika aku gagal menjalankan misiku, maka sama saja aku akan mati!"
Setelah itu cincin api membakar Tetua Talion hidup-hidup, namun Tetua Talion tidak kesakitan justru dia tertawa cekikikan seperti menertawakan Magus Magnus.
Hal ini membuat Magus Magnus cukup terpukul karena gagal menangkap Tetua Talion hidup-hidup.
"Dia sama sekali tidak takut mati! Aku seperti berurusan dengan anggota Organisasi Seven Deadly Sins!" ucap Magus Magnus sambil memijat keningnya, sebelum bergerak menuju Thorin untuk memberikan pertolongan.
"Bagaimana menurutmu Thorin?" Magus Magnus bertanya tentang kemampuan Tetua Talion.
"Ya, dia memiliki semacam kekuatan yang dapat membuatnya menjadi lebih kuat..." Thorin memberitahu Magus Magnus jika mereka harus bergegas ke kediaman Raja Eldrin.
"Aku merasakan firasat buruk!" Thorin terlihat cemas dan keduanya langsung bergegas.
Di waktu yang sama, Thranduil dihadang ratusan Hewan Buas yang mengamuk dan menyerangnya.
"Mengapa Hewan Buas ini tidak mengenaliku? Apa yang terjadi pada kalian?" Thranduil menghindari serangan yang datang dari segala arah.
Dihadapannya kini terlihat ratusan Rusa Putih Bertaring, Beruang Penjaga Kuno, Macan Kumbang Bayangan, Elang Paruh Belati dan Banteng Api Merah.
"Siapa yang mengendalikan kalian semua?!" teriak Thranduil yang melepaskan gelombang kejut dan membuat semua Hewan Buas berhenti bergerak.