Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunangan Palsu - Chapter 10
HAPPY READING GUYS!
Wajah Kepala Toko itu langsung berubah.
Sedangkan Sophia melanjutkan dengan nada ringan seolah sedang mengobrol biasa.
"Ngomong-ngomong, minggu lalu ada juga yang izin mendadak, kan?" tanya Sophia tenang. "Kenapa cuma aku yang dipermasalahkan?"
Wanita itu langsung terdiam.
Jelas tidak menyangka Sophia akan membalas setenang itu.
Sophia sendiri tetap tersenyum sopan sebelum akhirnya mengambil beberapa barang dan berjalan menuju rak lain.
"Pamit dulu. Aku masih harus membereskan bagian sana."
Ia pergi begitu saja.
Sedangkan Kepala Toko tadi hanya bisa menatap punggung Sophia dengan wajah kesal.
Dalam hati ia semakin tidak suka.
Menurutnya, Sophia memang terlalu pintar mencari jawaban.
Padahal jelas-jelas wanita itu hanya ingin mempersulit tim toko dengan cuti mendadak.
Kalau benar sakit, kenapa wajahnya terlihat segar begitu? Tidak pucat. Tidak lemas. Malah masih bisa membalas ucapan orang dengan tenang.
"Dia itu memang merasa paling hebat karena sering dipuji supervisor," gumam teman se-Tokonya kesal pada kepala toko yang berdiri tidak jauh darinya. "Makanya jadi seenaknya sendiri."
Kepala toko tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru tertuju pada Sophia yang sedang berdiri di ujung lorong rak.
Wanita itu terlihat mengeluarkan handphone sebentar, entah untuk mengecek sesuatu.
Melihat itu, bibir kepala toko perlahan terangkat tipis. Tanpa banyak bicara, ia langsung mengangkat handphonenya sendiri lalu diam-diam memotret Sophia dari kejauhan.
Klik.
Beberapa detik kemudian foto itu langsung dikirim pada supervisor secara pribadi.
[Maaf, Pak. Bukannya saya mau mengadu domba, tapi Sophia sering bermain handphone saat tim toko lain sedang bekerja.]
Pesan berikutnya langsung menyusul.
[Anak-anak toko juga banyak mengeluh ke saya. Bapak bisa tanyakan langsung pada mereka.]
Setelah mengirim pesan itu, kepala toko tersenyum kecil sambil menyimpan kembali ponselnya.
Tatapannya kembali tertuju pada Sophia yang sama sekali belum menyadari dirinya baru saja dijebak diam-diam.
*****
“Saya sudah menyelesaikan semua pekerjaan minggu ini,” ucap Arkan tenang. “Saya berencana mengambil cuti lima hari.”
Ayunan stik golf Damian berhenti sesaat.
Namun hanya sesaat.
Buk.
Bola putih itu melesat jauh menembus lapangan hijau dengan kekuatan penuh, seolah menjadi pelampiasan suasana hatinya yang tiba-tiba terusik.
Damian berdiri santai sambil memperhatikan arah bola tersebut sebelum akhirnya menoleh pada Arkan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sulit ditebak artinya.
Di samping mereka, Jack yang sejak tadi setia membawa handuk dan botol minum segera melangkah mendekat. Damian menerima botol itu tanpa bicara, meminum sisa airnya perlahan, lalu meremas botol kosong tersebut sebelum melemparkannya tepat ke dalam tong sampah beberapa meter dari sana.
“Sangat disayangkan,” Damian mengusap sarung tangan golfnya pelan. “Beberapa minggu ke depan jadwalku cukup padat.”
Tatapannya kembali tertuju pada Arkan.
“Jadi aku harus mengandalkanmu untuk ini.”
Nada suaranya terdengar santai. Namun entah kenapa, justru terasa menekan.
Arkan terdiam beberapa detik. Rahangnya sedikit mengeras, seolah ada banyak kata yang tertahan di tenggorokannya.
Damian yang menyadari perubahan kecil itu melangkah mendekat lalu menepuk pundaknya pelan.
“Kalau kau merasa terlalu terbebani,” ucap lelaki itu penuh penekanan, “aku tidak keberatan membatalkan kerja sama kita kapan saja. Kau bisa memilih untuk menjalankan kembali usaha keluargamu.”
Tatapan Arkan langsung berubah.
Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab pelan, “Saya hanya ingin menemani istri saya kontrol kehamilan.”
Untuk pertama kalinya alis Damian sedikit terangkat.
“Istri? Ah, aku hampir lupa kau telah menikah.”
Tatapannya bergeser pada Jack.
“Apa kontrol kehamilan itu sesuatu yang mendesak?”
Jack yang mendadak diseret ke dalam percakapan langsung membungkuk kecil.
“Biasanya setiap suami memang akan menemani istrinya, Tuan,” jawabnya hati-hati. “Itu bentuk perhatian.”
Damian mengangguk pelan seolah memahami sesuatu.
“Begitu rupanya.”
Ia kembali menatap Arkan lalu tersenyum tipis.
“Kau boleh mengambil cuti, soal pekerjaan biar Jack yang mengambil alih.” Damian memutar stik golfnya pelan. “Kalau begitu kau tidak perlu menghadiri pertunangan kami minggu depan."
Arkan langsung menatap Damian.
Jelas sekali ia tidak mengetahui hal itu.
Damian menangkap perubahan kecil di wajah lelaki itu. Entah kenapa, ada rasa miris samar yang muncul dalam dirinya. Jadi Sophia benar-benar tidak membicarakan soal pertunangan itu?
Atau...
Wanita itu memang tidak menganggap pertemuan mereka sesuatu yang penting?
Beberapa detik kemudian Arkan akhirnya membuka suara.
“Saya turut bahagia. Akhirnya rencana Anda berjalan lancar."
Nada suaranya tetap tenang.
“Lagipula itu hanya hubungan sementara.” Tatapannya lurus pada Damian. “Saya akan meminta Sophia menjalankan perannya dengan baik.”
Senyum tipis Damian perlahan memudar.
Entah kenapa, ia tidak menyukai cara Arkan menyebut hubungan itu seolah tidak berarti apa-apa.
Padahal, kalau Damian benar-benar menganggap semua itu hanya akting, untuk apa ia repot mempertahankannya? Ia bukan aktor. Kenapa harus menjalankan peran selama itu.
“Tuan sendiri yang mengatakan hubungan itu hanya berlangsung satu tahun,” lanjut Arkan tenang. “Selama itu, saya akan memastikan Sophia tidak membuat kesalahan.”
Sudut bibir Arkan sedikit terangkat.
“Jadi Tuan tidak perlu khawatir.”
Untuk sesaat Damian kehilangan kata-kata.
Lelaki itu benar.
Awalnya Damian memang berpikir pertunangan itu hanya sementara. Ia hanya perlu mempertahankan Sophia di sisinya selama satu tahun demi menenangkan keluarganya.
Namun sekarang...
Entah sejak kapan pikirannya mulai berubah. Mungkin sejak wanita itu membuatnya tertidur tanpa obat untuk pertama kalinya.
Damian menarik napas pendek lalu melambaikan tangan malas.
“Kau boleh pergi.”
Arkan mengangguk kecil sebelum akhirnya pergi meninggalkan lapangan golf.
Jack yang sejak tadi diam akhirnya memberanikan diri membuka suara pelan.
“Tuan...” Ia ragu beberapa detik. “Apa Nona Sophia dan Tuan Arkan memiliki hubungan?”
Tatapan Damian langsung berubah dingin.
“Apa yang kau tahu?” balasnya tajam. “Jangan bicara sembarangan.”
Jack langsung menunduk cepat. Ia mulai paham hubungan antar ketiganya. Sepertinya hari-hari ke depannya akan sulit.
*****
Di ruangan lain.
“Belakangan ini banyak keluhan tentangmu,” katanya tajam. “Kamu dianggap tidak bisa bekerja sama dengan tim dan malah membebankan pekerjaan pada anak toko lain.”
Sophia langsung mengernyit. Tidak mengerti dengan perkataan Supervisornya.
“Apa maksud Bapak?”
Supervisor menatapnya dingin.
“Saya justru ingin bertanya, Sophia. Apa kamu masih mau bekerja di sini?”
Jantung Sophia sedikit mencelos. Namun ia tetap berusaha tenang.
“Saya tidak pernah membebankan pekerjaan pada siapa pun.”
Namun supervisor langsung mendorong ponselnya ke atas meja.
“Lalu ini apa?”
Sophia menunduk.
Di layar terlihat foto dirinya sedang memegang handphone di area toko, sementara pramuniaga lain tampak bekerja di belakangnya. Sophia tersenyum miris.
“Saya cuma melihat jam,” jawabnya tenang.
“Kalau sekadar bicara saya juga bisa.”
Sophia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Kalau begitu, saya meminta Bapak panggil Kepala Toko.”
Tak lama kemudian, Kepala Toko datang bersama salah satu pramuniaga yang bekerja satu shift dengannya.
Ruangan terasa semakin sesak.
Supervisor langsung bertanya pada pramuniaga itu, “Menurutmu Sophia bekerja dengan baik?”
Pramuniaga itu sempat diam. Tatapannya beralih pada Sophia yang sedang menatap lurus ke arahnya. Tidak ada lagi senyum lembut seperti biasanya. Sophia duduk tenang dengan kepala tegak, menatap mereka tanpa menghindar sedikit pun.
Sophia lalu membuka suara.
“Apa CCTV toko rusak, Pak?”
Supervisor mengernyit.
“Tidak.”
Sophia tersenyum tipis, lalu menoleh pada Kepala Toko. “Kalau begitu bagaimana, Bu?” tanyanya lembut. “Saya sedang dituduh di sini. Siapa tahu setelah melihat CCTV semuanya akan lebih jelas."
Bila mereka mau menyeretnya ke jurang. Ia akan dengan senang hati membawa mereka mati bersama. Sophia tersenyum simpul. Melihat kedua orang itu hanya bisa bergeming.
B e r s a m b u n g ....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah! Makasih (◕ᴗ◕✿)