NovelToon NovelToon
Sumpah Badai

Sumpah Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Fantasi
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: andre kurnia

11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi gelap

Langkah kaki Yuse, Brisa, dan Cindy perlahan memasuki kegelapan lorong Goa Tengkorak. Setiap langkah mereka menggema di dinding batu yang lembap, memantul berkali-kali hingga terdengar seperti bisikan ratusan arwah. Hawa dingin yang menusuk tulang disertai bau busuk yang pekat menyambut kehadiran mereka—bau darah kering, daging membusuk, dan sesuatu yang lebih tua, lebih busuk dari kematian itu sendiri.

Namun, baru beberapa belas langkah mereka menyusuri dinding batu yang basah oleh air merembes, atmosfer di dalam gua mendadak berubah menjadi sangat berat dan menekan. Udara seolah mengental, membuat dada terasa sesak dan napas menjadi berat.

Kehe...

Sebuah suara tawa yang sangat familier dan menggema di dinding-dinding gua membuat ketiganya langsung menghentikan langkah. Tawa itu rendah, serak, dan penuh ejekan. Suara itu merambat di tulang belakang mereka seperti es.

Dari balik kegelapan sebuah aula besar di dalam gua, sesosok pria perlahan melangkah maju. Langkah kakinya terdengar santai, seolah ia sedang berjalan di tamannya sendiri, namun setiap hentakan kakinya memancarkan aura kegelapan yang sangat pekat. Kabut hitam tipis berputar di sekitar tumitnya, seolah tanah menolak menyentuhnya.

Yuse terbelalak.

Pria itu mengenakan jubah hitam yang berkibar meski tidak ada angin, dan topeng iblis yang mengerikan menutupi wajahnya—sosok yang sama dengan pria bertopeng yang tempo hari menyerangnya dan Drugsana! Ternyata, pria bertopeng yang mereka kubur di hutan sebelumnya hanyalah seorang utusan atau bayangan, sementara sosok asli yang mengendalikan semuanya berdiri kokoh di depan mereka saat ini.

"Tanpa perlu dicari pun, kau ternyata datang menyerahkan dirimu sendiri, Gadis Bertanda Kumaliti," ujar pria bertopeng itu dingin. Suaranya bergema di seluruh aula, dingin seperti bilah pedang yang baru dicelupkan ke es. Tatapan matanya dari balik topeng tertuju lurus pada Yamaika Brisa, tajam dan lapar.

Brisa melangkah maju tanpa diperintah. Kakinya berat, tapi hatinya lebih berat lagi. Matanya menatap tajam penuh dendam, pupilnya menyempit hingga hanya menyisakan api kebencian. "Kau... kau adalah orang asing yang lima tahun lalu menghasut seluruh warga Desa Angin untuk mengorbankanku!" geram Brisa. Angin di sekeliling tubuhnya mulai berputar kasar, membawa debu dan kerikil kecil melayang di udara. Rambut peraknya berkibar liar meski tidak ada angin.

Pria bertopeng itu kembali tertawa, sebuah tawa keji yang memuakkan. Suara itu bergema seperti gergaji yang mengerat tulang. "Menghasut? Aku hanya memberikan apa yang warga bodoh itu inginkan. Mereka ingin selamat dari wabah, dan aku hanya membutuhkan darah suci dari pemilik tanda Kumaliti untuk membuka segel ilmu angin di dalam kitab Janma Manunggal."

Ia sengaja menjeda kalimatnya, menikmati raut kemarahan di wajah Brisa. Kepuasannya terlihat jelas meski wajahnya tertutup topeng. "Tapi tahu tidak, Brisa? Kau seharusnya tidak perlu sekecewa itu pada warga desamu. Pengorbanan seperti ini bukan hal baru bagimu. Dua puluh tahun yang lalu... ibumu juga mengalami nasib yang persis sama di tanganku."

Deg.

Waktu seolah berhenti berputar bagi Brisa. Pusaran angin di sekeliling tubuhnya mendadak lenyap, seolah alam sendiri tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Dunia menjadi sunyi.

"Apa... apa maksudmu?" bisik Brisa. Suaranya mendadak bergetar hebat, tidak lagi dingin, tidak lagi tajam. Hanya ada ketakutan dan penolakan dalam satu kata itu.

"Ibumu adalah pemilik tanda Kumaliti sebelum dirimu," tutur pria bertopeng itu tanpa belas kasihan. Suaranya datar, seolah ia sedang menceritakan cuaca hari ini. "Dia adalah korban tumbal pertamaku. Aku mengekstrak seluruh darah murninya demi menyempurnakan ilmu angin terlarangku. Aku masih ingat tangisannya. Menyedihkan. Tapi perlu."

Ia menghela napas pura-pura menyesal. "Sayangnya, kekuatannya saat itu belum cukup, karena itulah aku kembali lima tahun lalu untuk mengambil darahmu!"

Mendengar kebenaran yang teramat kelam itu, pertahanan emosi Brisa runtuh sepenuhnya. Selama lima tahun ia membakar dirinya dengan kebencian pada warga desanya, pada takdir, pada dunia. Tapi kenyataan ini... kenyataan ini lebih kejam dari segalanya.

Air mata mengalir deras membasahi pipinya, meninggalkan jejak basah di kulit pucatnya. Gadis berambut perak yang selama ini selalu bersikap kuat dan sedingin es, kini jatuh terduduk di atas lantai gua yang dingin. Lututnya lemas. Ia menangis histeris, terpukul oleh kenyataan bahwa ibunya tercinta tewas mengenaskan sebagai tumbal di tangan monster yang berdiri di depannya.

Melihat sahabat perjalanannya dihancurkan secara mental seperti itu, darah Yuse mendidih seketika. Kemarahan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya meledak hebat di dalam dadanya, membakar segala rasionalitas.

"DIAM KAU, KEPARAT!!!" raung Yuse murka. Suaranya menggema, membuat stalaktit di atas mereka bergetar.

Yuse langsung menghunus pedangnya. Aura merah membara menyelimuti seluruh bilah senjatanya akibat luapan emosi yang tak terkendali. Hawa panas dari pedang itu membuat udara di sekitarnya bergetar. Dengan satu hentakan kaki yang kuat hingga menghancurkan lantai batu gua, Yuse melesat secepat kilat menerjang maju, mengarahkan tebasan mautnya tepat ke arah leher pria bertopeng tersebut!

Tebasan pedang Yuse yang didorong oleh kemarahan buta membuat gerakannya menjadi tidak beraturan. Ia terlalu cepat, terlalu liar, terlalu dipenuhi amarah. Pria bertopeng itu dengan mudah membaca arah serangan Yuse. Sambil tertawa mengejek, ia mengibaskan tangannya, melepaskan gelombang angin hitam tajam yang mencabik-cabik udara.

Sreett! Crat!

Seketika, baju ksatria Yuse koyak dan belasan luka sayatan baru yang dalam muncul di sekujur tubuhnya. Darah segar kembali membanjiri pakaiannya, mengotori lantai batu yang sudah ternoda darah lain. Yuse terlempar hebat dan tersungkur di lantai gua yang dingin, terengah-engah menahan rasa sakit yang luar biasa. Tulang-tulangnya berderak, penglihatannya buram.

Melihat Yuse terluka parah, Cindy panik bukan main. "Yuse!" jeritnya histeris dengan air mata yang mengalir deras. Ia merangkak mendekat, mengabaikan bahaya, hanya ingin menggapai tangan Yuse.

Ia mencoba memanggil kembali aura Phoenix keemasan yang waktu itu menyelamatkan mereka. Ia memejamkan mata, menarik napas, membayangkan panas itu kembali. Namun, tidak ada apa pun yang terjadi. Api di dalam tubuhnya mendadak padam akibat jiwanya yang dipenuhi ketakutan. Dengan frustrasi dan tangis yang kian pecah, Cindy memukul dan menepuk-nepuk buku Janma Manunggal di pelukannya. "Kumohon... bantu aku! Tolong selamatkan Yuse!" ratapnya, namun semua usaha itu sia-sia. Buku kuno tersebut tetap diam tak bercahaya, seolah menunggu pemiliknya yang lebih siap.

Brisa yang baru saja terpukul oleh kenyataan tentang ibunya, mencoba memaksakan diri bangkit. Kuku-kukunya mencengkeram lantai batu hingga berdarah. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia menerjang pria bertopeng itu menggunakan badai angin peraknya. Tapi serangannya goyah, tidak terarah, penuh tangisan.

Pria bertopeng itu hanya perlu satu sentakan tangan untuk mementalkan Brisa hingga menabrak dinding gua. Tubuhnya terpental dan jatuh dengan bunyi keras, kepalanya terbentur batu.

Cindy hanya bisa terduduk lemas di samping Yuse yang tak berdaya, meratapi situasi yang kian buntu. Pria bertopeng itu berjalan mendekat perlahan, langkahnya santai, menikmati momen ini. Ia mengangkat tangannya, angin hitam mulai berkumpul di ujung jarinya, siap memberikan tebasan maut terakhirnya.

Namun, tepat di titik paling kritis itu, atmosfer di dalam Goa Tengkorak mendadak berdengung kencang. Udara di sekitar tubuh Yuse yang bersimbah darah menjadi sangat panas dan kering.

Zzztt... Ctar!

Secara mengejutkan, percikan-percikan petir kecil berwarna biru keunguan mulai meletup-letup keluar dari pori-pori kulit Yuse. Energi itu bergerak liar, merambat naik menyelimuti tubuhnya, lalu perlahan memadat dan membubung ke atas kepalanya. Petir-petir murni tersebut berputar hebat hingga membentuk siluet raksasa menyerupai kepala burung elang yang sedang memekik murka.

Itu adalah elemen Petir Pemutus Takdir, bagian rahasia dari Janma Manunggal yang selama ini tanpa sadar telah bangkit dari dalam darah Yuse berkat tempaan latihan keras fisik dan emosi murninya. Pria bertopeng itu mendadak menghentikan langkahnya, terbelalak menatap bangkitnya kekuatan baru yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Ctaarrr!

Suara gemuruh petir menyambar di dalam Goa Tengkorak saat Yuse melesat maju. Kecepatannya kini berada di luar nalar, melampaui batas kemampuan manusia biasa. Siluet kepala elang petir di atas tubuhnya memekik murka, membelah kegelapan gua menjadi kilatan biru yang menyilaukan mata. Tanah di bawah kakinya retak setiap kali ia berpijak.

Pria bertopeng itu tersentak. Ia segera menghentakkan kedua tangannya, menciptakan dinding badai angin hitam murni untuk menahan laju serangan Yuse. Namun, kecepatan Yuse sudah terlalu masif. Sabetan pedang berbalut petir Yuse mampu menembus dan mengoyak pertahanan badai tersebut.

Clang! Duuammm!

Pria bertopeng itu terpaksa mengerahkan seluruh sisa kekuatannya untuk menangkis. Meski ia masih mampu mengimbangi sedikit pergerakan Yuse, hantaman energi petir yang masif menciptakan gelombang kejut yang dahsyat. Tekanan udara yang begitu kuat berpusat tepat di wajah sang pembunuh.

Krakkk!

Topeng iblis yang mengerikan itu retak, lalu pecah berkeping-keping dan luruh ke lantai gua.

Seiring dengan jatuhnya topeng tersebut, seluruh ruangan mendadak menjadi sunyi senyap. Aura petir di tubuh Yuse meredup sesaat karena rasa terkejut yang luar biasa. Cindy menghentikan tangisnya, sementara Brisa terpaku di tempatnya berdiri dengan mata terbelalak lebar.

Di balik topeng yang hancur itu, tampak wajah seorang pria paruh baya yang sangat familier bagi Brisa. Rambutnya setengah memutih, garis rahangnya tajam, dan sorot matanya dingin—sama persis dengan garis wajah yang selalu Brisa lihat di cermin setiap hari.

"A... Ayah...?" bisik Brisa parau, suaranya tercekat di tenggorokan. Dunia di kepalanya runtuh untuk kedua kalinya dalam malam yang sama.

Pria itu menyeka sedikit darah di sudut bibirnya akibat tebasan Yuse tadi. Alih-alih merasa bersalah karena kedoknya terbongkar di hadapan putrinya, ia justru menyeringai kejam, menatap Brisa dengan pandangan dingin tanpa belas kasihan sedikit pun.

"Luar biasa, Yuse Yattama. Kamu bisa menghancurkan topengku," ujar pria itu, suaranya terdengar jauh lebih sinis tanpa penghalang maskernya. Ia lalu melirik ke arah Brisa yang sedang terguncang hebat. "Dan kau, Brisa... jangan menatapku dengan wajah bodoh seperti itu. Di dunia ksatria, darah dan keluarga tidak ada artinya di hadapan kekuatan mutlak!"

"Jangan samakan ksatria lain dengan dirimu, Bajingan!" teriak Yuse lantang, memotong kalimat pria itu dengan nada penuh kejutan dan kemarahan. Tubuhnya masih bergetar karena petir yang belum sepenuhnya mereda.

Suara Yuse bergema hebat di langit-langit Goa Tengkorak. Napasnya memburu, memercikkan kilatan-kilatan petir biru yang kian liar dari sekujur tubuhnya. "Menjadi ksatria adalah tentang melindungi, bukan mengorbankan keluarga demi ambisi busukmu sendiri! Kau tidak layak menyebut dirimu seorang ksatria!"

Mendengar teriakan sarat amarah dari pemuda di depannya, senyum sinis di wajah ayah Brisa mendadak memudar. Ia terpaku diam, menatap lekat ke dalam sepasang mata Yuse yang menyala terang oleh tekad murni yang bersih dari keserakahan.

Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah bayangan masa lalu mendadak melintas. Pria itu melihat sosok Yuse... dan entah mengapa, ingatan puluhan tahun lalu kembali berputar di benaknya.

‘Sorot mata itu...’ batin pria itu, dadanya sedikit berdesir.

Ia seperti sedang berkaca melihat dirinya sendiri di masa muda dulu. Dahulu sekali, sebelum ia disesatkan oleh ambisi buta dan haus akan kekuatan kitab Janma Manunggal, ia juga seorang pemuda polos yang penuh idealisme. Ia pernah berdiri tegap dengan tekad yang sama persis seperti Yuse: ingin menjadi ksatria sejati yang bisa menggenggam langit dan melindungi orang-orang yang dicintainya.

Namun, kerasnya dunia dan godaan kekuatan mutlak telah mengubahnya menjadi monster bertopeng tanpa hati. Melihat Yuse, ada secercah rasa muak sekaligus iri yang bergejolak di dalam dadanya karena pemuda itu masih memiliki apa yang telah lama hilang darinya: ketulusan.

"Hmph... omong kosong yang manis, Bocah," ujar pria itu pelan, mencoba menepis gejolak emosi di hatinya dan kembali memasang wajah dinginnya yang kejam. "Kita lihat seberapa lama idealisme bodohmu itu bisa bertahan di hadapan kematian yang nyata!"

Ia kembali mengangkat kedua tangannya, bersiap merilis badai angin hitam yang jauh lebih besar untuk menghancurkan cerminan masa lalunya tersebut.

Ctaaaarrrr!

Gemuruh petir murni memecah keheningan Goa Tengkorak hingga dinding-dinding batu di sekitarnya retak parah. Yuse tidak memberikan celah sedikit pun. Di bawah naungan siluet raksasa elang petir yang memekik murka, ia melesat maju dengan kecepatan yang kasat mata. Seluruh tekad, kemarahan, dan rasa keadilannya memadat di ujung bilah pedangnya.

Melihat Yuse menerjang, Brisa yang sempat terjebak dalam kehampaan batin perlahan mendongak. Di tengah kilatan cahaya biru yang menyilaukan, ia menatap punggung Yuse. Gadis berambut perak itu tersadar, teringat kembali akan sifat asli pemuda di depannya ini. Yuse adalah seseorang yang mampu menepis ego dan memakan habis perasaan ragunya. Yuse tidak pernah gentar demi menegakkan kebenaran, bahkan ketika ia harus bertaruh nyawa menghadapi musuh yang merupakan darah daging dari rekannya sendiri.

Kesadaran itu membakar sisa-sisa kehancuran mental di hati Brisa. Rasa sedihnya melebur menjadi amarah yang dingin. Bersamaan dengan detik di mana Yuse mengayunkan tebasan pemungkas elang petirnya, Brisa bangkit berdiri dan ikut menghentakkan seluruh energi angin murninya ke depan.

"Kalau begitu, matilah bersama keinginan konyolmu itu! Kau tidak akan pernah mendapatkannya sedikit pun, sedikit pun, sedikit pun!!!" jerit Brisa lantang. Suaranya pecah, tapi penuh tekad.

Suara teriakan Brisa bergaung hebat, berbarengan dengan melesatnya badai elemen angin tajam yang mengunci pergerakan ayahnya sendiri. Air mata Brisa menetes, luruh ke lantai gua bersamaan dengan hancurnya ikatan batin antara anak dan ayah yang telah rusak oleh keserakahan.

BOOOOOOMMMMM!

Sinergi antara patukan elang petir Yuse dan badai angin Brisa menghantam telak dada pria tersebut. Ledakan energi yang teramat masif itu mementalkan tubuh sang ayah hingga menabrak altar batu di ujung gua hingga hancur berkeping-keping. Debu dan batu beterbangan, menutupi seluruh aula.

Asap tebal perlahan menipis, menyisakan kesunyian yang mencekam. Di antara reruntuhan batu, pria paruh baya itu terkapar tak berdaya. Jubah hitamnya koyak, dan tubuhnya dipenuhi luka bakar akibat sengatan listrik serta sayatan angin. Ia terbatuk, memuntahkan darah hitam yang kental. Sosok monster yang tadi terlihat sangat perkasa kini telah tumbang dan berada dalam kondisi yang sekarat, sisa-sisa napasnya berembus putus-putus.

Yuse menurunkan pedangnya yang masih memercikkan listrik kecil, napasnya memburu parah saat ia berdiri membentengi Brisa dan Cindy. Sementara itu, Brisa melangkah perlahan mendekati tubuh ayahnya yang sudah di ambang maut, menatap pria yang telah menghancurkan hidup keluarganya dengan pandangan mata yang kosong namun dipenuhi sisa air mata.

 

1
broken home
semoga lebih diperbaiki kosakata dan penempatan katanya
andara
berikan saran kalian terhadap karya ini, pendapat kalian adalah kunci ku untuk terus maju agar lebih berkembang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!