"Perempuan Mandul!" cerca Loretta melotot tajam.
"Ibu...." Amira tergugu, sakit hati ia mendengar teriakan sang mertua.
"Kenapa? Kalian sudahenikah 10 tahun, tapi tak kunjung punya anak, kalau bukan mandul apa namanya, Hah?!"
Di sudut ruangan, Beni hanya tertunduk diam, tak berniat mendekati atau menghibur istrinya.
"Atau jangan-jangan kau sengaja minum pil ya, biar nggak hamil?" Loretta tak henti menyudutkan Amira, berdiri bersedekap membelakangi menantunya itu. "Pergi dari sini, Besok pagi Beni harus menikah dengan wanita lain pilihan ibu!"
........
Pernikahan bukan hanya tentang hidup bersama, tapi juga tentang bagaiman abertahanbbersama, setia sekata dalam menghadapi setiap ujian.
Loretta, mertua yang kejam, tak segan menjebak dan menjatuhkan Amira hanya untuk memisahkannya dengan Beni yang notabene adalah putranya sendiri.
Mampukah Amira pergi menanggung tuduhan yang menyakitkan? akankah ia kembali untuk membalas perlakuan keluarga suaminya?
happy reading ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WeGe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan
Amira tak bisa menahan perih di ulu hatinya, saat melihat pria yang telah hidup bersamanya 10 tahun, justru terlihat tak kehilangan dirinya. Amira pikir hanya ibu mertuanya saja yang tak menyukainya, tapi melihat Beni keluar dari rumah seraya merangkul seorang wanita, membuat Amira semakin hancur.
"Kenapa Mas Beni tampak bahagia mengecup kening wanita itu!" pekik Amira tertahan. Dadanya bergemuruh karena amarah, cemburu, kecewa, dan sakit yang datang bertubi-tubi menyerangnya.
"Pak, tolong ikuti mobil itu ya," pintanya pada sang sopir taksi setelah melihat Beni masuk ke mobilnya.
Air mata jatuh tanpa jeda, Amira merasa kehilangan segalanya. Tapi ia butuh penjelasan dari Beni, hanya itu tekadnya sekarang, membuatnya berani mengambil resiko mengikuti Beni, sampai ia menemukan momen yang tepat.
"Pak, tolong salip dan cegat mobil itu di depan ya," pintanya lagi saat memasuki jalanan sepi, agak jauh dari rumahnya. "Itu suami saya!" entah kenapa Amira merasa harus menegaskan hal itu.
"I-iya, Bu." sopir taksi menjawab dengan ekspresi kikuk. Bukan tugasnya untuk perlu tahu identitas dan hubungan itu, tapi setelah melihat potongan adegan dan betapa tangis Amira hampir pecah, sopir taksi itu merasa iba.
Sopir taksi menyalip mobil Beni hanya dengan sekali injakan gas, kemudian memblokirnya tepat di depan, membuat Beni pun mengerem mendadak.
"Hei! Apa kau sudah gila!" teriak Melani sembari melongokkan kepalanya.
Amira bergegas turun, dengan langkah cepat, ia tak peduli dengan madu-nya, ia hanya fokus menghampiri Beni. "Jelaskan padaku, jika yang kulihat ini salah, Mas!" gertak Amira, menahan bibir yang bergetar.
Kedua tangan Amira terkepal kuat-kuat, hingga buku-bukunya memutih, ia sedang berusaha terlihat kuat. "Jelaskan!" bentaknya lagi.
Beni gugup, tapi ia pun sedang marah. Ia keluar dan berdiri tanpa jarak, membalas tatapan Amira yang dingin, dengan tatapan yang lebih dingin.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Amira, membuatnya terhuyung beberapa langkah menjauh dari Beni.
"Bagus, Mas! kasih pelajaran buat istri murahan seperti dia!" Melani ikut turun lalu berdiri tepat di sisi Beni.
Pandangan Amira semakin buram, air mata menggenang, bibir tergigit menahan perih dan berbagai rasa sakit di tubuh dan juga hatinya. 'Aku nggak boleh kalah, aku nggak bersalah disini!' tekad Amira menguatkan dirinya sendiri.
"Mas, kita hidup sepuluh tahun bersama, inikah balasan yang ku terima? Aku melayanimu—"
Plak!
Mulut beni terkatup rapat, rahang-rahangnya mengeras, napasnya pun memburu, dengan tatapan mata memerah. Dua kali sudah ia mendaratkan tamparan keras di wajah Amira—istri sahnya.
Amira meremang, "Kau melakukan ini dengan sadar, Mas? Kau membuangku begitu saja!" tangis Amira pecah.
Melani maju, "Kau perempuan sundal yang tega menusuk suamimu dari belakang, kau harus tahu diri, Amira!" teriak Melani seolah menjadikan dirinya tameng, melindungi Beni dari amukan Amira.
"Diam kau, kau tak kalah murahannya, kau perebut suami orang!" balas teriak Amira menunjuk tepat ke wajah Melani, entah darimana Amira mendapatkan keberanian itu.
Amira berganti menatap tajam pada Beni yang masih berdiri diam. "Aku? Perempuan sundal? Ibumu yang membuatku jadi seperti ini, Mas!" teriak tegas Amira.
Beni mengangkat tangannya sekali lagi, ia tak terima saat Amira melempar tuduhan untuk ibunya. Beni sudah dibutakan oleh fitnah dari ibunya, membuatnya merasa jijik pada Amira. Namun langkah Beni terhenti, saat bunyi klakson rendah didengarnya, sebuah mobil melintas, terlihat sosok yang ia kenal duduk di kursi penumpang, menoleh sekejap ke arahnya.
"Kenapa? Kau mau menamparku lagi? Lakukan saja, Mas! lakukan sesukamu, bantu agar aku bisa membencimu!" tantang Amira yang semakin emosional. "Aku tahu kau hanya salah paham padaku karena ibumu, tapi bodohnya aku yang selalu percaya dan mengalah, sekarang tidak lagi, Mas! Aku akan menunjukkan padamu, bahwa aku akan tetap hidup walau tanpamu! Dan akan aku tunjukkan bahwa aku tak bersalah!"
Beni mengulum saliva, dadanya tak kalah bergemuruh kecewa, saat dalam ingatannya kembali terlintas gerakan-gerakan erotis yang dilakukan Amira bersama pria lain, yang ia lihat di ponsel ibunya. "Kau wanita menjijikkan! Enyahlah dari hidupku!" serunya dengan bibir yang tak kalah gemetar dan kedua tangan yang terkepal erat.
Amira mengusap air matanya, seluruh tubuhnya gemetar. Selama 10 tahun pernikahan, tak pernah sekalipun Beni membentaknya. Tapi hari ini, ia mendapat dua kali tamparan dan satu bentakan keras, 'Kau wanita menjijikkan!'
Satu kalimat yang menyadarkan Amira. Ia runtuh, jatuh merosot ke tanah, terduduk dalam tangis penyesalan. "Benar, aku benar-benar menjijikkan! Aku memang tak pantas lagi untukmu, Mas! A-aku—"
Amira tertunduk, tergugu seraya meremas kuat-kuat pakaiannya sendiri, menggunakannya untuk mengusap kasar wajahnya yang penuh air mata. Ia meraung dalam tangis, merasa sangat hancur se-hancur-hancurnya.
Beni masih berdiri dalam bimbang, ia tak menyangkal sisi hatinya juga pilu, ada sebersit rasa tak percaya pada kenyataan tentang istrinya, kakinya bergerak pelan ingin menghampiri Amira. Tapi bukti jelas ada, "Ah! Mphh!" ingatan suara Amira yang mendesah dan tawa kecil dalam kenikmatan bersama pria lain, membuat langkahnya kembali terhenti, tangan yang hampir terulur ia tarik kembali.
Beni berbalik, dengan langkah berat, ia kembali masuk ke mobilnya, diikuti Melani yang menyembunyikan senyum puas, merasa menang. "Tante Retta harus tahu hl ini, bagus tadi aku cepat-cepat merekam," gumamnya licik.
🍂🍂🍂🍂🍂
Di dalam mobil sedan milik Nolan,
"Haruskah kita menepi?" tanya Taya melirik pada bosnya yang duduk di kursi belakang.
"Nggak usah, terlalu kentara kalau kita sedang mengawasinya, jalanan ini terlalu sepi," jawab Nolan tetap menatap ke luar jendela. "Jelaskan bagaimana yang kau lihat di situasi tadi!" perintahnya kemudian.
"Yang terlihat lusuh, itu istri sahnya, dialah kelemahan Loretta. Yang seksi di samping Beni, itu istri kedua yang kurasa akan jadi kelemahan Beni nantinya."
"Kelemahan Loretta muncul sendiri, istri sah ya... ini menarik." Nolan berpikir sejenak. "Suruh orangmu untuk mengamankan istri sah itu, sambil menunggu kelemahan lainnya ditemukan!"
"Siap, Bos!"
"Jangan terlalu kentara kita sedang menargetkan ibu mertua dan suaminya, jangan sampai dia nanti justru akan menjadi kelemahan kita."
Nolan Wijaya menyandarkan punggungnya, seraya membuka file di ponselnya, "Balas dendam dimulai!' serunya dalam hati.
"Loretta bukan wanita yang mudah, di punya banyak tangan kotor dimana-mana, kau harus berhati-hati, Sobat." Taya mengingatkan sebagai sahabat Nolan.
"Ya, aku tahu itu. Tapi sahabatku juga memiliki banyak tangan yang bisa diandalkan!" puji Nolan terus terang.
"Entah kenapa pujianmu terdengar klise, rasanya seakan aku yang akan kau korbankan," seloroh Taya seraya menepikan mobilnya. "Baiklah, kurasa jarak aman untuk menepi sejenak, aku harus menghubungi seseorang agar membawa Nyonya Amira."
...🍂🍂🍂Bersambung🍂🍂🍂...