"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Bel istirahat berbunyi, membelah keheningan kelas yang sejak tadi terasa mencekam. Aku menutup buku, lalu berjalan menuju kantin dengan langkah pasti. Aku tidak berniat bersembunyi. Justru hari ini, aku ingin menunjukkan pada mereka bahwa kehadiranku tidak lagi bergantung pada eksistensi mereka.
Di sudut kantin yang ramai, pemandangan itu tersaji lagi. Ada Ayu, Kaila, Alif, Fita, dan Guntur. Mereka duduk di meja panjang yang biasa kami tempati dulu. Tampaknya mereka sedang berusaha bersikap "normal", tertawa canggung seolah-olah pengkhianatan kemarin hanyalah debu yang bisa dikibas begitu saja. Fita terlihat bicara antusias sambil sesekali melirik ke arah pintu masuk, dan Guntur hanya mengaduk minumannya dengan wajah keruh.
Aku melewati meja mereka tanpa menoleh sedikit pun, seolah mereka hanyalah dekorasi ruangan yang tidak penting. Aku memesan mi ayam dan memilih duduk di meja paling pojok, benar-benar sendirian, menghadap ke arah lapangan.
Baru saja aku menyuap sesendok makanan, sebuah bayangan menutupi mejaku. Aku mendongak, mengira itu salah satu dari "mantan" teman-temanku yang datang untuk memohon. Namun, yang berdiri di sana adalah Alan, teman sekelas Guntur dari XI IPS 2. Dia dikenal sebagai cowok yang cuek tapi cukup vokal.
"Boleh duduk di sini, Fis?" tanya Alan santai, tanpa menunggu jawaban dia sudah menarik kursi di hadapanku.
Aku mengernyitkan dahi. "Meja lain masih banyak yang kosong, Lan."
Alan terkekeh, lalu menoleh sekilas ke arah meja Guntur dan kawan-kawan sebelum kembali menatapku. "Meja lain nggak punya pemandangan menarik. Gue cuma mau bilang, akting teman-teman lo di sana payah banget. Kelihatan banget mereka lagi panik karena 'badut' utamanya mendadak jadi 'ratu' yang nggak tersentuh."
Aku meletakkan sendokku. "Gue nggak tertarik bahas mereka."
"Bagus," sahut Alan cepat. Dia menyodorkan sebuah brosur kecil ke atas meja. "Gue ke sini bukan mau jadi kurir permintaan maaf Guntur. Gue cuma mau nawarin lo join tim debat sekolah buat kompetisi bulan depan. Kita kurang satu orang, dan gue butuh orang yang punya tatapan sedingin lo buat bikin lawan mentalnya ciut."
Di kejauhan, aku bisa merasakan tatapan tajam Guntur dan wajah tidak suka Fita yang melihat Alan duduk bersamaku.
Aku menatap brosur itu, lalu melirik sekilas ke arah meja di tengah kantin. Di sana, Fita tampak membisikkan sesuatu ke telinga Guntur sambil terus melirik sinis ke arahku. Guntur sendiri hanya terdiam, rahangnya mengeras melihat Alan tertawa kecil di depanku.
Tiba-tiba, rasa ingin membuktikan diri melonjak di dadaku. Selama ini aku hanya dikenal sebagai "ekor" Guntur atau "sepupunya kaila . Sudah saatnya aku memiliki panggungku sendiri, tempat di mana namaku berdiri tanpa bayang-bayang mereka.
"Oke, Lan. Gue ikut," jawabku tegas sambil menarik brosur itu dari meja.
Alan menyeringai puas. "Pilihan cerdas, Fis. Latihan pertama mulai besok pulang sekolah di ruang OSIS. Jangan telat."
Begitu Alan pergi, aku kembali menikmati mi ayamku dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Dari sudut mata, aku bisa melihat mereka semua—Ayu, Kaila, bahkan Fita—tampak gelisah. Mereka tidak menyangka aku bisa secepat ini mendapatkan lingkaran baru, apalagi dengan orang seperti Alan yang selama ini mereka anggap saingan berat.
Aku beranjak dari kursi, merapikan brosur debat di tangan dan berjalan menuju kasir kantin. Aku merogoh saku, namun sebelum jemariku menyentuh lembaran uang, sebuah tangan kekar sudah lebih dulu menyodorkan uang pas ke arah ibu kantin.
"Gabung sama punya gue, Bu. Sama mi ayam cewek ini juga," ucap suara bariton yang asing di telingaku.
Aku menoleh dengan kening berkerut. Di sampingku berdiri Radit, kapten tim sepak bola sekolah sekaligus teman satu tim Guntur dari kelas XI IPA 1. Dia mengenakan jersey latihan yang sedikit lembap oleh keringat, memberikan kesan maskulin yang sangat kontras dengan Guntur yang biasanya rapi dan kaku.
"Gue bisa bayar sendiri, Dit," kataku datar, mencoba mengembalikan uangnya.
Radit hanya terkekeh, memasukkan kembali dompetnya ke saku celana tanpa niat menerima penolakanku. "Anggap aja ini salam kenal, Fis. Gue denger lo baru gabung tim debatnya Alan? Pilihan bagus. Lo terlalu 'mahal' buat terus-terusan duduk di meja yang isinya orang-orang palsu kayak di sana."
Ia mengedikkan dagunya ke arah meja Guntur. Ternyata, bukan cuma Alan yang menyadari situasi ini. Satu per satu orang-orang yang dulu tidak pernah bicara padaku mulai muncul, seolah-olah selama ini mereka hanya menunggu aku lepas dari jeratan Guntur dan Fita.
"Kenapa lo lakuin ini?" tanyaku menyelidik.
Radit mendekatkan wajahnya sedikit, berbicara cukup keras agar suaranya bisa sampai ke meja tengah yang sedang mengawasi kami dengan tegang. "Karena gue nggak suka liat pemain tim gue ngerasa paling hebat setelah nyakitin cewek kayak lo. See you around, Fis."
Radit menepuk pundakku sekilas sebelum berjalan keluar kantin dengan santai. Aku bisa merasakan atmosfir di meja Guntur mendidih. Guntur tampak hampir meledak, sementara Fita terlihat sangat tidak nyaman karena perhatian seluruh kantin kini tertuju padaku dan interaksiku dengan cowok-cowok populer seperti Alan dan Radit.
Aku tidak peduli apa motif Radit sebenarnya. Yang aku tahu, rasa puas yang menjalar di hatiku saat melihat wajah pucat Fita dan kepalan tangan Guntur jauh lebih nikmat daripada mi ayam yang baru saja kuhabiskan.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2