Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.
Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Suka?
Shanum memekik pelan, tangannya refleks mengalung erat di leher Abi saat tubuhnya tiba-tiba melayang dari sofa. Tanpa peringatan atau aba-aba, Abi mengangkat tubuh mungil istrinya itu dalam gendongan bridal style.
"Ma-Mas! Turunin, aku bisa jalan sendiri!" ucap Shanum pelan.
Abi tidak menggubris, langkah kakinya lebar, ia membawa beban yang terasa begitu ringan baginya menuju kamar utama. "Tadi siang kamu lemas karena belum makan, sekarang biarkan saya yang memastikan kamu sampai ke tempat tidur tanpa perlu mengeluarkan tenaga lagi," jawab Abi dengan nada datar namun otoriter, tipikal dosen yang tidak menerima bantahan.
Begitu memasuki kamar, aroma kayu cendana yang menenangkan langsung menyambut mereka. Abi merebahkan Shanum di atas kasur king size yang empuk dengan sangat hati-hati. Namun, bukannya langsung menjauh, Abi justru ikut memposisikan dirinya di samping Shanum dan menyangga kepalanya dengan satu tangan sambil menatap Shanum lekat-lekat.
"Mas Abi... nggak tidur di sofa?" tanya Shanum pelan, jemarinya meremas pinggiran selimut.
"Ma-Mas Abi nggak tidur?" tanya Shanum gugup.
"Iya, ini mau tidur," jawab Abi.
Abi menarik selimut tebal itu hingga menutupi sebatas dada mereka, lalu lengannya kembali melingkar posesif di pinggang Shanum. Shanum hanya bisa mematung da. merasakan napas hangat Abi yang berembus di puncak kepalanya.
Malam semakin larut, namun kesadaran Shanum justru semakin tajam. Di dalam kamar apartemen yang kedap suara itu, hanya terdengar deru halus pendingin ruangan dan detak jantung yang saling bersahutan. Shanum merasa seolah tubuhnya tenggelam dalam kasur yang terlalu empuk, sementara lengan Abi yang melingkar di pinggangnya terasa seperti jangkar yang mengunci pergerakannya.
"Mas... Mas Abi sudah tidur?" tanya Shanum pelan, hampir tak terdengar.
Abi tidak mengatakan apapun, namun sebagai respon, Abi justru semakin merapatkan pelukannya. Kepala pria itu kini bersandar di bantal yang sama, sangat dekat dengan telinga Shanum, sehingga ia bisa merasakan helaan napas Abi yang teratur.
Shanum menatap langit-langit kamar yang gelap, pikirannya melayang pada kejadian seharian ini. Dari ketakutannya, hingga cara Abi menyuapinya dengan telaten, ada rasa hangat yang asing menjalar di hatinya
‘Apa ini rasanya punya suami?’ batin Shanum bertanya-tanya.
Perlahan, rasa kantuk mulai menyerang. Kehangatan tubuh Abi seolah menjadi obat penenang yang paling ampuh, Shanum akhirnya memejamkan mata dan membiarkan dirinya terhanyut dalam aroma kayu cendana yang kini menjadi wangi favoritnya.
.
Setelah menunaikan salat subuh bersama, Abi menatap Shanum yang sedang melipat mukena.
"Siapkan pakaian hangat, Shanum. Kita akan ke daerah utara, udaranya jauh lebih dingin dari sini," ucap Abi sambil merapikan sajadahnya.
"Utara? Ke Lembang, Mas?" tanya Shanum polos.
Abi hanya tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang kini lebih sering ia tunjukkan hanya pada Shanum. "Lebih jauh sedikit dari itu, pakai jaket tebal," ucap Abi.
Pukul 05.30 pagi, Mercedes Benz hitam itu sudah membelah jalanan Setiabudi yang masih berkabut. Jalanan menanjak dan berkelok menjadi tantangan, namun Abi mengemudi dengan sangat tenang. Shanum menempelkan wajahnya ke kaca jendela, takjub melihat hamparan kebun teh yang mulai terlihat di balik kabut putih yang tebal.
"Kita mau ke mana sebenarnya, Mas?" tanya Shanum lagi, rasa penasarannya membuncah.
"Tangkuban Perahu, saya ingin kamu melihat kawah sebelum matahari terlalu tinggi, udaranya bagus untuk paru-paru," jawab Abi.
Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam lebih. Begitu memasuki gerbang wisata, aroma belerang yang khas mulai menyengat indra penciuman. Mobil berhenti di area parkir yang paling atas, tepat di bibir Kawah Ratu.
Begitu pintu mobil dibuka, hembusan angin gunung yang menusuk tulang langsung menyambut. Shanum menggigil seketika, ia merapatkan jaket rajutnya yang sederhana. Abi yang melihat hal itu segera mendekat, ia melepaskan syal wol hitam miliknya dan melilitkannya ke leher Shanum hingga menutupi separuh wajah istrinya.
"Dingin ya?" tanya Abi lembut, tangannya kini merangkul bahu Shanum dan menariknya agar berjalan lebih dekat dengannya.
"Iya, Mas. Tapi... masya Allah, bagus banget," jawab Shanum takjub.
"Dingin kayak gini kamu sudah nggak kuat, apalagi kalau ke negara yang ada saljunya, bisa-bisa kamu beku di sana," ucap Abi, Shanum yang mendengar perkataan Abi pun tersenyum tipis laku menundukkan kepalanya.
Di depan mereka, kawah raksasa menganga dengan asap putih yang mengepul dari celah-celah bebatuan abu-abu. Pemandangan itu begitu megah, seolah mereka sedang berdiri di atas awan, Shanum berdiri terpaku di pagar pembatas dan matanya berbinar menatap keindahan alam yang selama ini hanya ia lihat di kalender usang di balai desa.
"Kamu suka?" tanya Abi.
"Suka banget, Mas. Terima kasih sudah ajak aku ke sini," jawab Shanum tulus.
Abi terdiam sejenak, ia menatap wajah istrinya dari yang tampak sangat manis di bawah cahaya matahari pagi yang keemasan. Tanpa sadar, Abi mengeluarkan ponselnya dan mengarahkan kamera ke arah Shanum.
Shanum menoleh kaget, "Mas Abi foto aku?" tanya Shanum.
"Bukan, saya foto pemandangan, kamu saja yang menghalangi," dusta Abi dengan wajah datar andalannya, meski sebenarnya di galeri ponselnya kini tersimpan foto Shanum yang sedang tersenyum menatap kawah.
Setelah puas berfoto dan menikmati udara dingin, Abi mengajak Shanum turun ke area yang lebih rendah menuju sebuah pemandian air panas alami di daerah Ciater.
"Kita akan merendam kaki sebentar di sana, biar pegal-pegalmu hilang," ucap Abi.
Mereka pun duduk di pinggiran kolam batu dengan uap air yang mengepul hangat, Shanum menyingsingkan sedikit gamisnya dan membiarkan kakinya tercelup ke dalam air hangat yang kaya mineral. Rasa nyaman menjalar ke seluruh tubuhnya, menghilangkan sisa kelelahan perjalanan jauh beberapa hari terakhir.
Matahari mulai merangkak naik menuju puncaknya dan mengusir kabut tebal yang tadi menyelimuti kawah, hawa dingin yang menusuk perlahan berganti dengan kehangatan yang menyengat. Abi melirik jam tangannya, lalu beralih menatap Shanum yang wajahnya mulai memerah karena paparan sinar ultraviolet pegunungan.
"Ayo, kita turun. Di sini mulai panas dan ramai juga" ajak Abi sambil mengulurkan tangan.
Shanum menyambut uluran tangan kokoh itu, mereka berjalan kembali menuju parkiran, melewati deretan penjual tanaman hias dan kerajinan kayu.
Sepanjang jalan menurun menuju arah kota, jendela mobil dibuka sedikit dan membiarkan aroma pohon pinus masuk menggantikan bau belerang.
"Mas... kita mau ke mana lagi?" tanya Shanum.
Shanum sudah melepas jaketnya dan menyisakan gamis cokelat susu yang kini terasa pas dengan suhu yang mulai menghangat.
"Ke sebuah tempat di daerah Dago Atas, ada satu kafe yang pemandangannya bagus dan suasananya juga lebih tenang, amu pasti suka," jawab Abi fokus pada kemudi.
Mobil Mercedes Benz itu membelah jalanan yang semakin ramai. Benar saja, saat mereka tiba di area tujuan, suhu udara terasa jauh lebih bersahabat, sejuk namun tidak membuat Shanum menggigil. Abi memarkirkan mobilnya di sebuah kafe bergaya glass house minimalis yang bertengger di tepi tebing.
.
.
.
Bersambung.....
pasti keduanya akan merasa kecanduan setelah merasakan nikmatnya Sorga Dunia😊