NovelToon NovelToon
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin / Trauma masa lalu / Romantis / Slice of Life
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.

Dihina. Ditolak. Dilupakan.

Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.

Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.

Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.

Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?

Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:

Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.

Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Pindah Rumah

"Apaan, sih, Man? Bercanda kamu, ya?" Murni tertawa canggung, mengira Siman hanya sedang iseng. Ia melirik studio kecil Siman di pojok toko Pak Hartoko. Kecil begini dibilang studio. Ada-ada saja. Ia tersenyum getir, teringat dulu mereka hanya bisa membayangkan punya tempat layak.

"Enggak! Aku serius!" Siman melangkah mendekat, menggenggam kedua tangan Murni. Jemarinya yang kini lebih hangat itu terasa menenangkan. Ada rasa semangat yang menjalar. "Aku punya cukup uang, Mur. Aku mau menyewa rumah yang lebih bagus, yang bukan di pinggir rel lagi. Kita akan pindah dari sana."

Ekspresi Murni berubah tegang. Tawanya mereda, digantikan raut serius. Ia menatap Siman lekat-lekat, mencoba mencari jejak kebohongan yang biasa Siman sembunyikan. Namun kali ini, yang ia lihat hanya kejujuran dan keyakinan. Kejujuran Siman kembali terpampang di matanya. Kejujuran Siman yang sudah sangat ia tunggu.

"Kamu... kamu serius, Man?" Murni berbisik, matanya berkaca-kaca. Mimpi ini adalah mimpi mereka berdua sejak kecil. Sebuah rumah tanpa suara bising kereta yang menusuk telinga, tanpa ancaman penggusuran, dan tanpa aroma debu dan sampah yang selalu membalut kehidupan mereka. Air mata kebahagiaan membasahi pipinya.

"Serius! Aku sudah rencanakan ini sejak lama, Mur." Siman menanggapi, mengusap peluh di keningnya. Akik biru laut di jarinya terasa hangat, berdenyut pelan, seperti sebuah melodi yang menenangkan hati Siman. Kali ini, tidak ada pertanyaan, tidak ada keraguan tentang asal usul kebetulan itu. Ada kekuatan. Itu saja yang ia rasakan. Sebuah kekuatan dari diriku sendiri.

"Tapi... bagaimana dengan Ibu sama Bapakmu? Apa mereka setuju? Lagian rumah mereka kan baru saja dicat. Mana mungkin mereka mau pergi begitu saja? Itu kan kenangan." Murni memegang tangan Siman, menunjuk cincin akiknya yang berkilauan. "Ini bukan lagi sebuah kebetulan, Siman."

"Itu sudah aku pikirkan." Siman menghela napas, tersenyum kecil. "Nanti sore, setelah aku pulang dari tempat Pak Trisno. Aku akan ajak Bapak sama Ibu lihat rumahnya." Siman mengerling Murni, sebuah senyum penuh arti tersungging di bibirnya. Sebuah rumah, hadiah yang Siman persiapkan dari awal dia masuk ke perusahaan Bang Bimo.

"Rumahnya... memangnya sudah ada?" Murni mengerutkan kening. Antara senang dan sedikit tidak percaya.

"Iya. Aku kemarin... kemarin setelah bertemu Pak Trisno, aku iseng jalan-jalan di dekat komplek rumah sakit lama, dan… tak sengaja melihat sebuah rumah kosong yang disewakan," Siman memulai, nada suaranya sedikit melambat. Ia tak yakin bagaimana harus menceritakan "kebetulan" yang lain kepada Murni, terutama dengan kondisi mata Murni yang kembali memancarkan kekhawatiran itu.

Di suatu siang, saat Siman sedang sibuk menyusun ulang jadwal proyek Akik Creative Studio pasca kesepakatan besar dengan Bapak Trisno, terlintas sebuah gagasan gila di benaknya. Uang lima puluh juta yang didapatkan itu terasa begitu besar. Sebuah rumah layak untuk orang tua. Itulah hal pertama yang Siman pikirkan setelah membayar uang sekolah anaknya yang seringkali Murni lihat suka diolok-olok.

Keesokan harinya, tanpa direncanakan, setelah kursus dan kerja di bengkel, kakinya tiba-tiba terasa tertarik untuk menyusuri daerah yang belum pernah Siman kunjungi sebelumnya, dekat dengan area komplek rumah sakit yang jauh dari keramaian dan rel kereta. Akik di jarinya terasa hangat. Ada semacam intuisi kuat yang mendorongnya, sama seperti saat ia menemukan koin, atau bahan bangunan.

Siman tak ingin mencampuradukkan lagi akiknya. Ini sebuah kerja keras yang Murni juga lakukan. Itu bukan sekadar akik yang bisa memanggil hoki begitu saja. Karena akal yang Murni ajarkan kepadanya adalah segalanya. Semua ide-ide brilian itu adalah pemikiran rasionalnya yang ia tangkap. Keberaniannya untuk maju. Ini sebuah jejak, bukan sebuah keajaiban.

Matanya tak sengaja tertumbuk pada sebuah plang 'DISEWAKAN' yang lusuh, terpaku di pagar sebuah rumah kecil. Bukan mewah, tetapi bersih, terawat, dengan halaman depan yang ditanami bunga melati. Jauh dari kata 'pinggir rel'. Bahkan tidak ada satupun kata 'kumuh'. Hati Siman tergetar. Ada aura ketenangan di sana, seolah tempat itu memanggilnya.

Dia tak mau berharap banyak. "Apa ini cuma angan-angan kosong lagi?" bisiknya kala itu. Siman mencoba menghubungi nomor yang tertera. Pemiliknya, seorang wanita paruh baya ramah, Bu Darmi, menanggapi dengan sabar. Ia menjelaskan bahwa rumah itu memang disewakan murah karena butuh perbaikan kecil di beberapa bagian. Hanya cat. Apalagi Bu Darmi tahu Siman dari anaknya adalah seorang desainer terkenal dari kelas Bapak Harun. Semuanya terasa begitu manis.

Lima puluh juta itu tidak habis ia pakai begitu saja. Beberapa dipakai untuk sewa setahun, uang lainnya akan disimpan Siman, untuk bekal mereka membuka usaha kecil-kecilan. Tidak lagi menggantungkan kepada bos lain. Namun ia tetap tidak melupakan kebaikan Pak Hartoko.

"Bagus, Siman!" Suara Murni menginterupsi lamunan Siman, mengembalikan dirinya ke pagi ini. Murni menyeka air matanya, menarik napas dalam-dalam. "Aku... aku senang sekali dengarnya, Man. Pasti Bapak sama Ibu juga senang."

Rona wajah Siman sedikit sendu. Ada sedikit kegamangan. Dia ingat Ibu dan Bapaknya sering bertengkar. Pertengkaran-pertengkaran itu yang membuat Siman benci pada rumah reot mereka.

"Iya. Mudah-mudahan mereka... bahagia di sana." Siman berujar lirih. Kenangan akan perdebatan Bapak dan Ibu di tengah sempitnya rumah tepi rel dulu terlintas. Keributan kecil yang selalu Siman benci.

"Pasti, Man. Aku yakin," Murni menatapnya, ada sorot mata yang menenangkan. Murni menggenggam erat tangan Siman, tahu betul apa yang ada di pikiran Siman. "Ibu sama Bapakmu pasti bangga punya anak sepertimu. Nanti aku bantu juga untuk beres-beres ya!"

"Makasih ya, Mur." Siman tersenyum tulus. Murni adalah satu-satunya pilar terkuat di kehidupannya yang menyebalkan. Akik itu terasa sejuk kembali, memancarkan kedamaian, bukan lagi aura keberuntungan.

Sore itu, Siman mengendarai motor bebek Dedi, mengajak Bapak dan Ibunya untuk "jalan-jalan". Rona cemas dan tegang terlihat di wajah kedua orang tuanya. Ini bukan Siman yang biasa. Ia terlalu rapi. Tidak seperti kuli bangunan, pikir Siman. Ini jauh dari apa yang orang tua Siman tahu. Motor pinjaman itu membuatnya gagah, persis anak kantoran, tidak lagi kumuh dan bau oli.

"Mau ke mana, Man? Kok jauh sekali?" tanya Ibu Siman, mencoba memecah keheningan yang sedikit aneh. Mereka bertiga duduk berjejer di angkot yang Siman sewakan secara diam-diam. Ibu Siman sempat bertanya "Motor Dedi kenapa ada?" Siman hanya membalas, "Dipakai Pak Hartoko, Bu." Itulah kebohongan manis yang selalu Siman utarakan.

"Rahasia, Bu. Ini hadiah buat Ibu sama Bapak," jawab Siman dengan senyum tipis, mencoba meredakan kecemasan ibunya. Bapak Siman hanya diam, sesekali melirik Siman, entah menahan tawa atau kekaguman. Akhir-akhir ini, Bapak Siman memang jarang sekali mengeluarkan komentar miring, tidak seperti dulu. Itu perubahan yang jauh lebih baik, bahkan akiknya seolah memancarkan hal yang sama dengan perubahan di bapak Siman.

***

1
Roynaldi Ananda
gak jadi nerusin bacanya kurang sip kelihatannya
Roynaldi Ananda
kok seperti pemaksaan alur cerita ini thor? gak wajib murni menanyakan soal cincin itu kecuali mc nya bawa motor atau mobil baru bisa ditanyakan dari mana asalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!