NovelToon NovelToon
Sang Legenda Telah Kembali

Sang Legenda Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.

Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.

Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.

Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

Ilwa menutup buku "Kronik Kegelapan" itu dengan dentuman yang menggema di seluruh sudut perpustakaan yang sunyi.

Tangannya yang mungil masih bergetar kecil karena amarah yang tertahan, namun ia segera menarik napas dalam-dalam, memaksa emosinya untuk kembali ke titik nol.

Sebagai seorang praktisi sihir agung, ia tahu bahwa kemarahan tanpa kendali hanya akan mengacaukan sirkulasi mana yang baru saja ia bangun.

"Membuang waktu," gumamnya dengan suara rendah, mengenyahkan buku sejarah penuh kebohongan itu ke tumpukan paling bawah.

"Sejarah ditulis oleh pemenang, dan si pecundang Julius tampaknya sangat menikmati perannya sebagai penulis fiksi."

Ia beralih ke rak lain, mencari buku-buku tentang geografi Benua Vera dan perkembangan sihir dalam lima puluh tahun terakhir.

Dengan kecepatan membaca yang luar biasa, Ilwa melahap informasi demi informasi.

Namun, setelah beberapa jam, ia menghela napas panjang dengan raut wajah yang tampak sangat kecewa.

"Lima puluh tahun... dan tidak ada kemajuan sama sekali?" Ilwa bergumam sambil menyandarkan punggungnya pada kaki meja jati yang besar.

Berdasarkan peta dan catatan wilayah, struktur benua ini masih sama persis dengan saat ia mati.

Batas-batas kerajaan, kota-kota dagang, hingga rute maritim—hampir tidak ada yang berubah.

Yang lebih menyedihkan baginya adalah buku-buku teori sihir yang ia temukan di rak ini.

Baginya, mantra-mantra yang tertulis di sana hanyalah sihir rendahan, teknik-teknik kasar yang bahkan tidak akan ia ajarkan pada pelayan magang di masa lalunya.

"Sihir penghancur tingkat 4? Mereka menyebut ini sihir penghancur? Ini hanyalah percikan api yang sedikit lebih besar dari korek kayu," batinnya dengan sinis.

Bagi Ilwa, perpustakaan megah milik Duke Eldersheath ini mendadak terasa seperti tumpukan kertas sampah.

Ia tidak membutuhkan buku-buku ini untuk belajar sihir.

Di dalam jiwanya, Albus masih menyimpan perpustakaan mantra tingkat tinggi yang sanggup meratakan pegunungan.

Masalah utamanya bukanlah pengetahuan, melainkan kualitas mana dalam tubuh bayinya. *Aura-Lock* masih menjadi pembatas yang menjengkelkan, meskipun ia mulai menemukan celah untuk meningkatkan kualitas mananya sedikit demi sedikit melalui meditasi yang lebih agresif.

---

Waktu merayap menuju sore.

Cahaya jingga yang menyelinap dari jendela tinggi mulai meredup, menciptakan bayangan panjang di antara rak-buku.

Ilwa berdiri, merasa bosan dengan segala literatur yang tidak berguna itu. Ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya sebelum Martha datang menjemput.

Saat berjalan menyusuri lorong perpustakaan yang dikelilingi oleh pilar-pilar batu, ia melewati sebuah cermin besar dengan bingkai emas berukir.

Ilwa berhenti tepat di depan cermin itu, menatap pantulan dirinya untuk pertama kalinya dengan benar-benar saksama sejak ia tumbuh menjadi anak laki-laki berusia tujuh tahun.

Ia tertegun.

"Penampilan ini..." Ilwa menyentuh wajahnya. "Sangat mirip dengan penampilanku yang dulu."

Di dalam cermin, berdiri seorang bocah laki-laki dengan fitur wajah yang tajam, kulit pucat, dan yang paling mencolok—rambut berwarna putih bersih seperti salju yang baru turun.

Albus di kehidupan sebelumnya juga dikenal dengan rambut putihnya yang ikonik.

Ilwa mengerutkan dahi.

Ia tahu bahwa keluarga Eldersheath didominasi oleh warna rambut cokelat gelap atau pirang kusam, seperti Elara dan Robert. Rambut putih ini jelas bukan berasal dari garis keturunan ibunya.

"Rovelt..." Ilwa menggumamkan nama ayahnya yang belum pernah ia temui. "Martha bilang dia sedang bertugas. Elara bilang dia seorang ksatria hebat. Tapi... siapa sebenarnya dia?"

Kecurigaan yang selama ini ia pendam kini kembali menyeruak.

Sebagai orang yang hidup hampir setengah abad di kehidupan sebelumnya, Albus tahu betul tentang anomali biologis.

Penyakit *Aura-Lock Syndicate* yang ia derita bukanlah penyakit yang bisa didapat dari udara atau air.

Itu adalah penyakit genetik yang timbul akibat ketidakharmonisan mana antara dua ras yang berbeda.

"Ibu adalah manusia murni, itu sudah pasti," pikir Ilwa sambil menyipitkan mata, menatap pantulan rambut putihnya yang berpendar samar di bawah cahaya temaram.

"Jika aku memiliki Aura-Lock, itu berarti ayahku bukanlah manusia. Atau setidaknya, dia bukan manusia biasa."

Rambut putih, kekuatan fisik yang berpotensi melampaui batas jika tidak dikunci, dan keberadaannya yang misterius di tengah keluarga Duke yang begitu menjunjung kemurnian darah.

Semakin Ilwa memikirkannya, semakin ia merasa bahwa Rovelt bukan sekadar "rakyat jelata" seperti yang dituduhkan Elisa.

"Apa kau seorang peri? Ras naga yang menyamar? Atau sesuatu yang lebih gelap dari itu, Rovelt?" tanya Ilwa pada pantulannya sendiri.

Suara langkah kaki Martha terdengar dari kejauhan, memanggil namanya dengan lembut.

Ilwa segera memalingkan wajah dari cermin, kembali memasang topeng anak kecil yang polos namun pendiam.

"Tuan Muda Ilwa? Anda di sana? Mari kembali ke kamar, udara sore ini mulai tidak baik untuk kesehatan Anda," seru Martha dari balik pintu perpustakaan.

"Aku datang, Martha," jawab Ilwa dengan nada datar.

Sambil berjalan keluar, pikirannya terus berputar.

Informasi sejarah yang palsu, ibunya yang diasingkan ke kota Veldora yang berbahaya, dan identitas ayahnya yang masih menjadi kabut gelap.

Ilwa menyadari bahwa hidupnya di kediaman Eldersheath selama tujuh tahun ini hanyalah masa tenang sebelum badai.

"Veldora..." Ilwa membatin saat ia melangkah di samping Martha. "Jika sejarah tidak memberiku jawaban, maka aku harus mencari jawaban itu langsung dari mulut ibuku. Dan mungkin... aku akan menemukan siapa sebenarnya 'Rovelt' di sana."

Langkah kaki bocah berambut putih itu kini terasa lebih berat bukan karena penyakitnya, melainkan karena beban rahasia yang mulai ia ungkap satu per satu.

Di bawah pengawasan para pelayan, sang legenda yang bangkit kembali itu sedang mempersiapkan langkah besarnya untuk keluar dari bayang-bayang kastil yang menyesakkan ini.

---

Waktu seolah-olah dipacu oleh angin musim gugur yang kencang.

Tahun 1500 Kalender Suci telah berlalu, meninggalkan jejak-jejak salju yang mencair dan berganti menjadi fajar tahun **1501**. Bagi dunia, ini hanyalah pergantian angka,

namun bagi Ilwa, setiap detik yang berlalu adalah langkah yang ia susun dengan teliti untuk memulihkan kejayaannya yang hilang.

Hari ini, suasana di paviliun kecil yang terpisah dari bangunan utama kediaman Eldersheath tampak berbeda.

Martha dan beberapa pelayan lainnya telah menghias ruang makan sederhana itu dengan pita-pita kain berwarna cerah.

Di tengah meja, sebuah kue tart buah beraroma mentega yang harum telah tersaji, lengkap dengan delapan lilin kecil yang apinya menari-nari ditiup angin sepoi dari jendela.

"Tuan Muda Ilwa, ayo! Buatlah satu permohonan dan tiup lilinnya!" seru Martha dengan wajah yang berseri-seri.

Ia bertepuk tangan kecil, matanya berkaca-kaca melihat bocah yang tujuh tahun lalu hampir mati itu kini tumbuh menjadi anak yang tampan dan terlihat jauh lebih sehat.

Ilwa duduk di kursinya, menatap api lilin itu dengan pandangan yang sulit diartikan.

Di dalam jiwanya, Albus sedang mendengus bosan. "Permohonan? Satu-satunya permohonanku adalah agar tubuh ini bisa memproses mana lebih cepat dan mengakhiri sandiwara keluarga ini," batinnya.

Namun, ia tahu ia harus menjaga peran sebagai "Ilwa si anak baik".

*Fuuuu...*

Lilin padam dalam satu tarikan napas. Sorak-sorai kecil meledak di ruangan itu.

"Selamat ulang tahun yang kedelapan, Tuan Muda!" seru para pelayan serempak.

"Terima kasih, Martha. Terima kasih semuanya," jawab Ilwa dengan senyum tipis yang ia paksakan.

Selama satu tahun terakhir, ia telah mencapai kemajuan yang cukup berarti.

Berkat meditasi tanpa henti setiap malam, kristal mananya tidak lagi berfluktuasi liar.

Ia sudah bisa melakukan manipulasi mana tingkat dasar secara diam-diam—seperti memanaskan air mandinya sendiri atau membuat cahaya kecil di kegelapan—tanpa memicu alarm sensor sihir di kastil utama.

---

Kebahagiaan sederhana itu tiba-tiba terputus oleh suara langkah kaki yang berat dan teratur.

Langkah itu bukan milik pelayan; itu adalah langkah sepatu bot militer yang dilapisi pelat besi.

*Braakk!*

Pintu ruang makan terbuka tanpa ketukan. Seorang pria bertubuh tegap dengan zirah perak yang berkilau di bawah sinar matahari pagi melangkah masuk.

Di dadanya terukir lambang pedang dan mawar—simbol ksatria elit keluarga Eldersheath. Wajahnya keras, dengan bekas luka kecil di dagunya.

Martha tersentak, wajahnya seketika memucat. Ia segera berdiri dan membungkuk hormat. "Tuan **Kael**... ada apa ksatria dari kediaman utama datang ke paviliun kecil ini secara mendadak?"

Kael, ksatria kepercayaan di bawah bimbingan langsung Patriak Robert, tidak segera menjawab.

Matanya yang tajam langsung tertuju pada Ilwa, menatap bocah itu dari ujung rambut putihnya hingga ujung kakinya seolah sedang memeriksa kualitas seekor kuda pacu.

"Martha," suara Kael terdengar berat dan tanpa basa-basi. "Aku tidak punya banyak waktu untuk basa-basi."

Ilwa tetap duduk dengan tenang, melanjutkan suapan kuenya seolah kehadiran ksatria tingkat tinggi itu tidak lebih menarik daripada rasa selai stroberi.

"Kael, ya? Aku ingat dia. Salah satu bawahan Robert yang paling setia. Kekuatan sword master yang dia pancarkan ada di tingkat 6. Cukup lumayan untuk seorang penjaga pintu," batin Ilwa sinis.

"Patriak Robert telah memberikan perintah," lanjut Kael, sambil mengeluarkan sebuah gulungan surat dengan segel lilin berwarna merah darah.

"Besok pagi, tepat saat matahari mencapai puncaknya, Tuan Muda Ilwa harus hadir di aula utama kediaman Eldersheath."

Martha menerima gulungan itu dengan tangan gemetar. "Untuk... untuk urusan apa, Tuan Kael?"

"Besok adalah hari perayaan **Upacara Aptitudo**," jawab Kael dengan nada dingin. "Setiap keturunan Eldersheath yang mencapai usia delapan tahun harus melalui upacara ini untuk menentukan bakat, kapasitas mana, dan jalur karir mereka—apakah mereka akan menjadi seorang penyihir, ksatria pedang, atau sekadar pengelola wilayah. Singkatnya, besok adalah hari di mana *Jobdesk* dan masa depan Tuan Muda ditentukan di hadapan Patriak dan Matriark."

Suasana di ruangan itu seketika menjadi mencekam.

Para pelayan yang tadi bergembira kini saling pandang dengan cemas.

Upacara Aptitudo adalah hari penghakiman bagi anak-anak bangsawan. Bagi Ilwa yang diketahui menderita *Aura-Lock*, upacara ini bisa menjadi bencana jika ia terbukti tidak memiliki bakat sama sekali.

"Tapi... tapi kondisi Tuan Muda belum sepenuhnya stabil," Martha mencoba membela dengan suara lemah.

"Itu bukan urusanku," Kael membalikkan badan, jubah perangnya berkibar. "Patriak tidak suka menunggu. Pastikan bocah itu berpakaian layak. Besok akan ditentukan apakah dia memiliki nilai untuk keluarga ini atau hanya akan menjadi beban selamanya. Sampai jumpa besok."

Kael melangkah keluar, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruang makan.

---

Martha menatap Ilwa dengan mata yang penuh ketakutan. "Tuan Muda... Upacara Aptitudo itu... mereka akan menggunakan Kristal Kebenaran untuk mengukur sirkuit mana Anda. Jika mereka melihat penyakit itu masih ada..."

Ilwa meletakkan garpunya dengan tenang.

Ia menatap kalung pemberian Elara yang selalu ia simpan di dekatnya. "Upacara Aptitudo, ya? Jadi besok adalah hari di mana Robert ingin melihat apakah aku masih sampah yang sama seperti tujuh tahun lalu," pikirnya.

"Jangan khawatir, Martha," ucap Ilwa, suaranya terdengar sangat stabil, bahkan cenderung dingin.

"Besok akan menjadi hari yang menarik. Aku juga ingin tahu... kejutan apa yang bisa diberikan oleh tubuh yang 'cacat' ini kepada para bangsawan sombong itu."

Martha tertegun melihat sorot mata Ilwa. Tidak ada ketakutan di sana. Sebaliknya,

ia melihat kilatan ambisi yang begitu besar, seolah-olah bocah delapan tahun ini sedang bersiap untuk pergi ke medan perang, bukan ke sebuah upacara keluarga.

Ilwa kembali menatap api lilin yang tersisa di atas kue. "Upacara penentuan bakat? Bagus. Aku akan memberikan mereka apa yang ingin mereka lihat, tapi dengan caraku sendiri. Robert, Elisa... kalian ingin melihat 'jobdesk'-ku? Maka bersiaplah untuk melihat kembalinya seseorang yang seharusnya tetap mati dalam buku sejarah kalian."

Malam itu, di bawah cahaya bulan tahun 1501, Ilwa tidak tidur.

Ia memusatkan seluruh mananya, mempersiapkan sebuah trik sihir yang akan memanipulasi hasil Upacara Aptitudo besok.

Panggung telah disiapkan, dan sang aktor utama siap untuk memberikan pertunjukan yang tidak akan pernah dilupakan oleh keluarga Eldersheath.

Bersambung....

1
Orimura Ichika
oke sih
Ilwa Nuryansyah
terimakasih banyak 😄😄
black_rose
Karyamu masterpiece teruskan dan semagattt(っ´▽`)っ
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!