Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Malam di Mayfair selalu terasa lebih sunyi daripada di distrik London lainnya. Setelah sambungan telepon dengan Nikolas terputus, Salene masih menggenggam ponselnya di atas dada.
Jantungnya berdegup dengan irama yang tidak biasa—seperti mesin motor yang baru saja dipanaskan.
Ia menatap langit-langit kamarnya yang putih bersih, namun pikirannya masih tertinggal pada suara rendah Nikolas yang menjelaskan tentang atmosfer Mars.
Suara yang biasanya ia anggap sebagai kebisingan jalanan, ternyata bisa terdengar seperti melodi yang menenangkan saat hanya ada mereka berdua di ujung telepon.
Dengan gerakan ragu, jempol Salene bergerak membuka aplikasi Instagram.
Selama ini, akunnya hanya berisi kurasi foto artistik tentang galeri seni, arsitektur klasik, atau foto profil dirinya yang diambil oleh fotografer profesional—semuanya serba kaku dan terkontrol.
Di kolom pencarian, ia mengetik nama: Nikolas Martinez.
Jantungnya berpacu lebih cepat saat profil itu muncul.
Foto profilnya memperlihatkan Nikolas yang sedang menatap ke samping, mengenakan helm yang kaca depannya terbuka, dengan latar belakang sirkuit balap yang kabur. Salene sedikit terkejut saat melihat profil itu tidak dikunci.
"Dia benar-benar tidak peduli dengan privasi," gumam Salene pelan.
Ia mulai menggulir layar, masuk ke dalam galeri kehidupan Nikolas yang selama ini ia anggap sebagai "dunia sampah". Namun, apa yang ia temukan justru membuatnya terpaku.
Foto-foto di akun Nikolas didominasi oleh foto Narsis Dengan Motornya. Ada foto close-up mesin motor yang dibongkar, memperlihatkan kerumitan piston dan kabel yang menurut Salene terlihat seperti anatomi tubuh manusia yang terbuat dari besi.
Ada juga foto-foto koleksi motornya; mulai dari Triumph yang gagah, Ducati merah yang tajam, hingga Honda Cross Cub kuning yang membawanya berkeliling London hari Minggu lalu.
Salene berhenti pada sebuah foto yang diambil di sebuah bengkel tua. Nikolas sedang duduk di lantai beton, bersandar pada ban mobil klasik, tangannya hitam karena oli, dan ia sedang tertawa bersama Kent dan Dion.
Di foto itu, Nikolas tidak menatap kamera. Ekspresinya lepas, sangat jauh dari citra "anak nakal" yang ditakuti di sekolah.
Lalu, ada foto lainnya. Sebuah foto portrait hitam putih. Nikolas sedang berdiri di pinggir jembatan, menatap sungai Thames saat senja. Di sana, wajahnya tampak sangat keras. Garis rahangnya tegas, matanya menatap tajam ke depan dengan dingin yang menghujam.
"Rupanya mukamu cukup dingin ya, Nik," bisik Salene pada layar ponselnya. Senyum tipis muncul di bibirnya tanpa ia sadari. "Sangat berbeda dengan wajahmu di depan toilet tadi pagi. Di sana, kau terlihat... sangat khawatir."
Salene teringat bagaimana Nikolas berlari terengah-engah hanya untuk membawakannya seragam baru. Ia mengingat mata Nikolas yang tidak melepaskannya sampai ia benar-benar merasa aman.
Dingin yang ada di foto-foto ini hanyalah pelindung, sama seperti keangkuhan yang selama ini ia gunakan.
Ia terus menggulir ke bawah. Ada video singkat saat Nikolas sedang melakukan freestyle dengan motornya di sebuah lahan kosong. Salene menahan napas melihat motor itu terangkat satu ban, menantang gravitasi dengan keberanian yang gila.
Bagaimana rasanya memiliki keberanian seperti itu? batin Salene. Keberanian untuk tidak peduli pada apa yang dikatakan dunia, keberanian untuk menjadi berantakan dan tetap merasa bangga?
Tanpa sadar, Salene menghabiskan waktu hampir satu jam hanya untuk mempelajari setiap detail foto di akun Nik. Ia melihat foto masa kecil Nik bersama ayahnya di depan sebuah mobil tua, ia melihat foto kelompok The Vultures yang sedang memanggang daging di halaman markas dengan tawa yang seolah bisa terdengar dari layar.
Dunia Nikolas penuh dengan warna-warna primer yang berani: hitam aspal, perak logam, merah api, dan kuning matahari. Sangat kontras dengan dunianya yang serba pastel, putih, dan transparan seperti kristal yang mudah pecah.
Salene baru saja akan menutup aplikasi itu saat ia melihat sebuah unggahan di Instastory Nikolas yang baru saja diunggah satu menit yang lalu. Hanya sebuah foto langit malam London dari balkon markas, dengan tulisan kecil di pojok bawah:
"Atmosfernya mungkin tipis, tapi setidaknya bintangnya masih terlihat."
Salene tersentak. Itu adalah referensi dari percakapan mereka di telepon tadi tentang Mars. Nikolas sedang mengirimkan sinyal rahasia yang hanya bisa dimengerti olehnya.
Pipi Salene memanas. Ia segera mematikan ponselnya dan meletakkannya di meja samping tempat tidur. Ia menarik selimut sutranya hingga ke dagu, mencoba memejamkan mata.
Namun, bayangan wajah dingin Nikolas di Instagram dan wajah hangat Nikolas di kehidupan nyata terus menari di benaknya.
Ia mulai penasaran. Bukan lagi rasa penasaran yang meremehkan, melainkan rasa ingin tahu yang mendalam tentang bagaimana rasanya hidup di dunia Nikolas.
Dunia di mana kau bisa tertawa meski tanganmu kotor, dunia di mana kau bisa makan mie instan di tengah malam, dan dunia di mana seseorang akan menjagamu bukan karena kau sempurna, tapi karena kau adalah kau.
"Besok adalah pengumuman kenaikan kelas," bisik Salene pada kegelapan kamarnya. "Dan aku ingin tahu... apakah namaku akan tetap bersanding dengan namanya di kelas 12 nanti."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Salene Lumiere tidur tanpa memikirkan dietnya, tanpa memikirkan tekanan Madame, dan tanpa memikirkan korset yang menyesakkan. Ia tidur dengan bayangan sebuah motor kuning yang menantang angin, membawanya pergi menjauh dari sangkar emasnya.
🌷🌷🌷🌷