NovelToon NovelToon
Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur / Roh Supernatural
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.

Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.

Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mata Bisnis Lan Xue

Sore harinya, mereka dipanggil ke ruang penilaian tingkat dalam.

Ruangan ini jauh berbeda dari yang pagi tadi.

Lebih sunyi.

Lebih bersih.

Lebih mahal.

Dindingnya berlapis kayu gelap, lantainya batu halus, dan di tengah ruangan hanya ada satu meja panjang dengan lampu kristal kecil di atasnya. Bukan kristal besar, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa tempat ini tidak dipakai untuk transaksi receh.

Penilai tua pagi tadi ada di sana, kali ini bersama pria berambut putih yang jauh lebih tua dan berwajah tajam seperti pahat. Di samping meja berdiri Lan Xue.

Hari ini jubahnya masih sederhana, tapi lebih resmi. Biru tua di luar, putih di dalam. Sikapnya sama dingin dan tertutup seperti sebelumnya. Tidak ada senyum basa-basi untuk pria mana pun di ruangan itu. Tidak ada gerak manis untuk membuat orang nyaman. Semua yang ia lakukan terasa seperti bagian dari bisnis.

Shou Wei langsung mengerti:

gadis ini memang bukan tipe yang bermain dengan tatapan atau kelembutan.

Ia lebih mirip pisau tipis yang disimpan dalam lengan sutra.

Penilai tua membuka pembicaraan. “Setelah pemeriksaan lebih lanjut, pelat logam hitam yang kalian bawa memang bagian dari old water-route array structure. Nilai persisnya sulit ditentukan tanpa pasangan atau marker aktif, tapi cukup jelas bahwa barang itu bukan sampah.”

Han Lu berdiri tenang. “Berapa nilainya?”

Pria berambut putih yang sejak tadi diam akhirnya bicara. “Kalau masuk lelang umum tanpa penjelasan, orang pasar akan menawar antara lima sampai delapan batu roh rendah, tergantung seberapa banyak pembeli formasi hadir.”

Han Lu tidak menunjukkan apa-apa.

Tapi Shou Wei tahu itu bukan angka kecil.

Lalu pria tua itu melanjutkan, “Kalau dijual lewat sesi private kepada pembeli tertentu yang mengerti, bisa lebih tinggi. Tapi juga lebih lambat.”

Han Lu menimbang cepat. “Dan kalau ada peta atau benda pendukung lain?”

Pertanyaan itu langsung membuat semua mata di ruangan sedikit lebih tajam.

Shou Wei tetap menunduk tenang. Han Lu tidak menyebut bahwa ia punya semua itu. Bagus.

Pria tua berambut putih menjawab hati-hati, “Kalau ada peta atau benda pendukung, nilai dan bahayanya sama-sama naik.”

Lan Xue menatap Han Lu beberapa detik. “Rumah lelang kami tidak memaksa klien membuka semua kartu mereka. Tapi untuk barang seperti ini, setengah informasi sering kali menghasilkan setengah harga.”

Han Lu berkata, “Aku akan pikirkan.”

Lan Xue mengangguk, seolah itu jawaban yang ia harapkan. Lalu, untuk pertama kalinya sejak mereka masuk, perhatiannya benar-benar berpindah ke Shou Wei.

“Wei Shou.”

Ia menyebut nama itu datar, tapi jelas.

“Ya.”

“Kau yang membaca segel peti dan melihat nilai pola pada pelat itu lebih dulu?”

Han Lu membuka mulut sedikit, mungkin hendak menjawab. Lan Xue menghentikannya hanya dengan satu gerakan jari kecil.

Shou Wei menjawab sendiri, “Aku melihat sebagian.”

“Sebagian yang cukup untuk membawamu ke ruangan ini.”

Itu bukan pujian. Itu fakta.

Lan Xue mendekat satu langkah ke meja, lalu mengambil tiga benda dari nampan kecil di sampingnya. Ia meletakkannya satu per satu:

satu utility plate biasa,satu pelat segel rusak,dan satu simpul pengunci kecil dari kotak obat“Kalau kau benar-benar punya mata untuk formasi,” katanya, “katakan mana yang paling cepat rusak dan mana yang masih punya nilai pakai.”

Ruangan jadi sunyi.

Han Lu tidak bergerak.

Penilai tua mengamati.

Pria berambut putih tampak tanpa ekspresi.

Ini ujian.

Dan Lan Xue jelas sengaja membuatnya seperti urusan bisnis, bukan perkenalan ringan.

Shou Wei memandang tiga benda itu satu per satu.

Utility plate pertama jelas murahan. Garisnya stabil tapi dangkal.

Pelat segel kedua rusak di bagian luar, tapi simpul inti masih bernapas.

Simpul pengunci ketiga tampak utuh, tapi ukiran dalamnya sudah mati karena salah aliran.

Ia menjawab tenang, “Yang paling cepat rusak itu yang ketiga.”

Penilai tua sedikit mengangkat alis.

Shou Wei melanjutkan, menunjuk simpul kecil itu. “Dari luar masih rapi, tapi aliran di dalamnya salah arah. Kalau dipakai lagi, akan pecah lebih dulu daripada dua yang lain.”

Lalu ia menunjuk pelat segel rusak. “Yang ini paling bernilai untuk diperbaiki. Cacatnya di luar, bukan di inti. Kalau jalur kanan dibersihkan dan simpul pengait diganti, masih bisa bekerja.”

Lan Xue menatapnya tanpa bicara.

Beberapa detik terasa panjang.

Lalu pria tua berambut putih itu tertawa pelan. “Jadi memang matanya benar.”

Penilai tua cepat menambahkan, “Jawabannya tepat, Young Miss.”

Lan Xue tidak terlihat terkejut, tapi tatapannya berubah sedikit. Bukan lebih hangat. Lebih fokus.

“Siapa gurumu?” tanyanya.

Shou Wei menjawab seperti biasa, “Tidak ada.”

“Lalu kau belajar dari?”

“Barang rusak. Potongan pola. Dan sedikit keberuntungan.”

Kalimat itu cukup jujur untuk tidak terasa palsu, tapi cukup tertutup untuk tidak membuka semua.

Lan Xue mengangguk pelan. “Keberuntungan yang terus berulang biasanya bukan keberuntungan.”

Ia lalu menoleh pada Han Lu. “Pelat sungai kalian akan kami simpan untuk penawaran private selama tiga hari. Kalau ada pembeli serius, kami kabari. Kalau tidak, kalian bisa tarik atau masukkan ke lelang umum.”

Han Lu membungkuk tipis. “Baik.”

Namun sebelum mereka selesai, Lan Xue menambahkan sesuatu yang mengubah arah hubungan mereka.

“Dan untuk Wei Shou...”

Ia berhenti sejenak, lalu memandang langsung ke mata Shou Wei.

“Blue River Auction House kadang menerima konsultan eksternal untuk mengidentifikasi utility arrays, broken plates, atau formation scraps yang terlalu kecil untuk ditangani para senior. Bukan posisi tinggi. Bukan juga posisi tetap. Hanya kerja per sesi.”

Han Lu menoleh cepat.

Penilai tua terlihat tidak terkejut—berarti ini bukan ucapan iseng.

Pria berambut putih hanya memejamkan satu mata seolah tertarik melihat hasilnya.

Lan Xue melanjutkan dengan nada yang sama terukurnya. “Kalau kau tinggal di Lanhe City beberapa waktu, kau bisa datang ke pintu samping paviliun timur setiap tiga hari. Jika ada pekerjaan yang cocok, orangku akan memanggil.”

Itu bukan bantuan cuma-cuma.

Itu penawaran bisnis.

Dan justru karena itulah terasa jauh lebih berbahaya sekaligus lebih berharga.

Shou Wei memahami satu hal saat itu:

Lan Xue melihat potensinya.

Bukan sebagai pria.

Bukan sebagai bocah malang.

Bukan sebagai alat hiburan.

Tapi sebagai orang dengan nilai di jalur formasi.

Dan bagi gadis seperti dia, itu sudah cukup untuk menjalin hubungan baik.

“Aku mengerti,” jawab Shou Wei.

Lan Xue menatapnya sepersekian detik lebih lama. Lalu ia mengangguk, seolah menandai bahwa jawaban itu memuaskan.

Tidak ada senyum.

Tidak ada basa-basi.

Tidak ada permainan halus seperti wanita yang ingin menggoda.

Semua murni bisnis.

Itu justru membuatnya lebih nyata.

Saat mereka keluar dari ruangan itu, Han Lu baru akhirnya mengembuskan napas lebih keras.

“Kau benar-benar tidak biasa,” gumamnya.

“Kenapa?”

Han Lu meliriknya. “Karena aku sudah beberapa kali ke Blue River Auction House, dan puteri pemiliknya tidak pernah bicara sepanjang itu pada bocah pembawa barang.”

Jadi benar.

Lan Xue memang puteri pemilik rumah lelang.

Shou Wei menyimpan fakta itu dalam hati tanpa menunjukkan apa pun.

Han Lu melanjutkan, “Dan percayalah, dia bukan gadis yang suka buang waktu pada pria. Kalau dia bicara, itu karena ada nilai.”

Itu juga sudah jelas.

Dan justru lebih aman begitu.

Shou Wei tidak membutuhkan perhatian kosong.

Ia membutuhkan pintu.

Dan Lan Xue barusan memberinya satu.

1
Muhammad Arsyad
ini...kapan saktinya...lama amat🤭🤭
Simon Semprul
nie cerita pendekar apa misterii si thor /Gosh/
Daryus Effendi
ada b.ingrisnya jadi gak enak bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!