NovelToon NovelToon
Pedang Tanpa Langit: Melampaui Takdir Abadi

Pedang Tanpa Langit: Melampaui Takdir Abadi

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Marcel ( rxel )

Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
​Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13: Penghuni Lembah

Lembah Racun Kematian bukanlah sekadar tempat yang dipenuhi kabut hijau. Di sini, udara memiliki rasa—rasa tembaga yang pahit dan panas yang membakar tenggorokan. Pepohonan di sini tidak memiliki daun, melainkan duri-duri hitam yang meneteskan cairan kental berwarna ungu.

​Li Chen duduk bersila di depan mulut gua, menghirup miasma beracun itu seolah-olah itu adalah udara pegunungan yang paling segar. Di dalam Dantiannya, Inti Hitam miliknya berputar dengan kecepatan yang menakutkan, mengubah partikel racun menjadi energi murni yang memperkuat meridiannya.

​"Hati-hati, Nak," suara Kaisar Pedang terdengar lebih waspada dari biasanya. "Lembah ini bukan sekadar kuburan alam. Ada napas kehidupan yang sangat tua di bawah sini. Napas yang berbau seperti alkimia kuno... dan kegilaan."

​Li Chen membuka matanya yang kini memiliki semburat ungu di tepian merahnya. "Aku merasakannya. Seseorang sedang mengawasi kita sejak kita mendarat."

​Tiba-tiba, sebuah suara tawa yang melengking, seperti gesekan logam, bergema dari balik kabut.

​"Hehe... Hehehe! Makan malam datang sendiri! Dan lihat... satu dari mereka adalah kuali kultivasi yang sangat cantik, dan satunya lagi... oh, apa ini? Seorang bocah yang memakan racun seperti memakan permen?"

​Dari balik pepohonan berduri, muncullah sesosok makhluk yang sulit disebut manusia. Tubuhnya bungkuk, tingginya tidak lebih dari satu setengah meter. Ia mengenakan jubah compang-camping yang terbuat dari kulit ular raksasa. Wajahnya dipenuhi bisul-bisul bercahaya, dan salah satu tangannya digantikan oleh cakar mekanik yang terbuat dari tulang binatang buas.

​Ia adalah Tabib Gila, Mo Gui. Seorang alkemis buangan dari Benua Tengah yang telah mengurung diri di lembah ini selama seratus tahun untuk menyempurnakan Pil Keabadian Berdarah.

​Pertemuan dengan Sang Alkemis Gila

​Li Chen berdiri, tangannya secara instingtif memegang gagang Penelan Surga. Yue Yin terbangun, wajahnya masih pucat, namun ia segera menyadari bahaya di depan mereka.

​"Senior," kata Li Chen, suaranya tenang namun penuh tekanan. "Kami hanya pengelana yang tersesat. Kami tidak berniat mengganggu wilayah Anda."

​Mo Gui melompat mendekat dengan gerakan yang sangat lincah, seperti serangga. Ia berhenti tepat satu meter di depan Li Chen, hidungnya yang besar mengendus-endus udara di sekitar tubuh pemuda itu.

​"Tersesat? Tidak ada yang tersesat ke Lembah Racun Kematian kecuali mereka yang dikejar oleh maut!" Mo Gui memicingkan mata. "Dan kau... kau membawa pedang yang sangat bau. Bau darah para dewa yang sudah busuk. Hehehe! Menarik! Sangat menarik!"

​Mo Gui beralih menatap Yue Yin. Matanya berkilat dengan keserakahan alkimia. "Dan wanita ini... ia terkena Racun Pemakan Jiwa dari Sekte Pedang Langit. Dalam tiga hari, jiwanya akan menjadi cair dan ia akan mati dalam penderitaan yang luar biasa. Hanya aku yang bisa menyembuhkannya di seluruh benua ini!"

​Li Chen mengerutkan kening. Ia tahu Yue Yin terluka parah, tapi ia tidak menyangka itu adalah racun khusus dari Sekte Pedang Langit. "Apa syaratmu untuk menyembuhkannya?"

​Mo Gui tertawa gila, memperlihatkan gigi-giginya yang hitam. "Syarat? Aku tidak butuh batu energi. Aku butuh bahan eksperimen! Berikan aku tiga tetes darah jantungmu, bocah. Aku bisa merasakan bahwa darahmu mengandung energi 'Penelan' yang sangat langka. Aku ingin tahu apakah darahmu bisa menstabilkan tungku alkimiaku!"

​Yue Yin menarik baju Li Chen. "Jangan, Li Chen! Darah jantung adalah esensi dari kultivasi. Jika kau memberikannya, pondasimu bisa runtuh!"

​Li Chen menatap Yue Yin, lalu beralih ke Mo Gui. Ia bisa merasakan bahwa Mo Gui adalah seorang ahli ranah Inti Emas Puncak, bahkan mungkin hampir menyentuh Jiwa Baru. Bertarung di sini, di wilayah yang dipenuhi jebakan racun Mo Gui, adalah langkah yang sangat bodoh.

​"Hanya tiga tetes?" tanya Li Chen.

​"Hanya tiga tetes! Dan sebagai gantinya, aku akan memberinya Pil Penolak Jiwa dan membiarkan kalian tinggal di pondokku sampai pengejar kalian pergi," jawab Mo Gui, liurnya hampir menetes.

​Li Chen mengangguk. Tanpa ragu, ia menusukkan jari telunjuknya ke arah dadanya sendiri. Dengan kendali Qi yang presisi, ia memaksa tiga tetes darah berwarna merah keemasan keluar dari jantungnya. Setiap tetesnya memancarkan cahaya redup dan tekanan energi yang luar biasa.

​Mo Gui segera mengeluarkan botol giok dan menangkap tetesan itu dengan tangan gemetar. "Indah... benar-benar indah! Ini adalah esensi dari kegelapan yang hidup!"

​Rahasia di Pondok Racun

​Mereka dibawa ke kedalaman lembah, di mana terdapat sebuah pondok yang dibangun di dalam kerangka raksasa seekor kura-kura purba. Di dalamnya, ratusan tungku alkimia mengepulkan asap dengan warna-warna yang aneh. Mayat-mayat binatang buas yang telah diawetkan digantung di langit-langit.

​Mo Gui memberikan sebuah pil berwarna hitam pekat kepada Yue Yin. "Makan ini, Nona kecil. Ini akan membekukan racun di jiwamu. Tapi ingat, ini hanya solusi sementara. Kau butuh 'Bunga Teratai Ungu' yang tumbuh di dasar lembah untuk sembuh total."

​Setelah Yue Yin tertidur karena efek pil tersebut, Mo Gui membawa Li Chen ke sudut ruangan.

​"Bocah, kau tahu kenapa kau bisa menyerap miasma di lembah ini tanpa meledak?" tanya Mo Gui, suaranya tiba-tiba menjadi serius, kehilangan nada gilanya sesaat.

​"Karena teknikku," jawab Li Chen singkat.

​"Bukan hanya teknikmu," Mo Gui menunjuk ke arah tato samar di lengan Li Chen yang baru muncul setelah ia menyerap energi di Lembah Kabut Abadi. "Kau memiliki Garis Keturunan Iblis Bintang. Lembah ini... ribuan tahun lalu, adalah tempat jatuhnya jantung dari Iblis Bintang purba. Miasma ini adalah sisa-sisa napasnya."

​Li Chen tertegun. Ia teringat kata-kata Kaisar Pedang tentang "anomali" yang ditakuti langit.

​"Namun," lanjut Mo Gui, "Garis keturunanmu masih tertidur. Kau butuh pemicu yang hebat untuk membangunkannya. Dan tebak apa? Para anjing dari Sekte Pedang Langit itu sedang menuju ke sini. Aku bisa merasakan getaran pedang cahaya mereka di perbatasan lembah."

​"Mereka berani masuk ke sini?" Li Chen berdiri, auranya langsung menajam.

​"Mereka membawa Cermin Matahari Suci, pusaka yang bisa mengusir kabut racunku untuk sementara," Mo Gui mendengus. "Bocah, aku punya tawaran kedua. Aku akan membantumu membangkitkan garis keturunanmu dalam satu malam dengan menggunakan darah jantungmu yang tadi dicampur dengan ramuan rahasiaku. Tapi prosesnya... delapan puluh persen kemungkinan kau akan mati karena rasa sakit."

​"Dia tidak berbohong, Nak," bisik Kaisar Pedang. "Itu adalah metode ekstrem. Tapi jika berhasil, kau akan memiliki kekuatan untuk bertarung melampaui ranahmu. Seorang Jiwa Baru bukan lagi ancaman yang mustahil."

​Li Chen menatap tungku alkimia raksasa di tengah ruangan. Ia memikirkan Penatua Ling yang meremehkannya, ia memikirkan Yue Yin yang terluka, dan ia memikirkan orang tuanya yang tewas tanpa keadilan.

​"Masukkan aku ke dalam tungku itu, Tua Bangka," kata Li Chen, matanya berkilat dengan tekad yang mengerikan.

​Transformasi Tubuh Iblis

​Malam itu, Lembah Racun Kematian berguncang. Li Chen berada di dalam tungku alkimia yang dipenuhi dengan cairan berwarna perak dan hijau. Mo Gui melemparkan berbagai bahan langka, termasuk darah jantung Li Chen yang telah dimurnikan kembali.

​"Seni Penelan Bintang! Jangan hanya menyerap cairannya, telan juga api alkimianya!" teriak Mo Gui dari luar.

​Li Chen meraung. Rasanya seperti setiap sel di tubuhnya sedang dihancurkan oleh palu godam dan kemudian dijahit kembali dengan kawat berduri yang membara. Suhu di dalam tungku mencapai ribuan derajat, namun Seni Penelan Bintang terus bekerja, memisahkan esensi manusia dari esensi Iblis Bintang di dalam darahnya.

​Di tengah rasa sakit itu, Li Chen melihat sebuah penglihatan. Seorang pria raksasa berdiri di atas jutaan bintang yang hancur. Pria itu menunjuk ke arah Li Chen dan berkata: "Kegelapan bukanlah ketiadaan cahaya, ia adalah asal usul segala cahaya. Telanlah semesta, dan kau akan menjadi keabadian."

​DUARRRR!

​Tungku alkimia itu meledak. Cairan perak di dalamnya terserap habis ke dalam kulit Li Chen.

​Li Chen berdiri di reruntuhan tungku. Rambutnya kini memiliki helai-helai perak, dan di dahi serta lengannya muncul pola sisik hitam yang halus dan elegan. Auranya kini tidak lagi liar; ia terasa sangat sunyi, namun kesunyian itu seperti kesunyian lubang hitam yang bisa menelan galaksi.

​Ranah Inti Emas Tahap Awal (Golden Core Initial Stage).

​Namun, ini bukan Inti Emas biasa. Inti Emas Li Chen berwarna hitam dengan sembilan cincin emas yang melingkarinya—Inti Emas Sembilan Cakra, sesuatu yang hanya ada dalam legenda.

​Tepat saat Li Chen melangkah keluar dari asap, Yue Yin terbangun dengan panik. "Li Chen! Mereka... mereka sudah sampai!"

​Di langit di atas lembah, cahaya emas yang menyilaukan mulai membelah kabut hijau. Penatua Ling berdiri di atas sebuah cermin raksasa yang memancarkan cahaya matahari buatan. Di belakangnya, terdapat dua ahli ranah Jiwa Baru lainnya dan puluhan ahli Inti Emas.

​"Mo Gui! Serahkan pelarian itu dan kami akan membiarkan lembahmu tetap utuh!" suara Penatua Ling menggelegar.

​Mo Gui mendongak, kembali ke mode gilanya. "Hehehe! Penatua Ling, kau ingin mengambil barang dari pondokku? Kau harus bertanya dulu pada 'karya seniku' yang baru saja keluar dari tungku!"

​Li Chen melompat ke atap kura-kura purba. Ia menatap ke langit dengan pandangan menghina. Ia tidak lagi menggunakan jimat pelarian. Ia menggenggam Penelan Surga, yang kini seolah menyatu dengan lengannya.

​"Penatua Ling," suara Li Chen terdengar bergetar di seluruh lembah, memadamkan suara guntur. "Terima kasih telah datang membawa begitu banyak Inti Emas dan Jiwa Baru untuk aku telan. Aku sedang sangat lapar."

​Penatua Ling tertegun sejenak melihat perubahan pada Li Chen. "Hanya dalam satu malam... bagaimana mungkin?!"

​"Di dunia ini, tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka yang sudah berjalan di jalur neraka!"

​Li Chen melesat ke langit. Kali ini, bukan ia yang dikejar, melainkan ia yang memburu. Cahaya matahari buatan dari cermin suci itu seketika meredup saat aura kegelapan Li Chen menyebar, menelan cahaya tersebut ke dalam kekosongan yang tak berujung.

​Pertempuran terbesar dalam hidup Li Chen baru saja dimulai.

1
Inyos Sape Sengga
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!